Nara arya mimpi itu adalah nama ku, orang-orang biasa memanggil ku dengan sebutan nami(yang berarti nara arya mimpi) singkatan dari nama ku sendiri. aku adalah anak kedua dari pak genta adi wibowo dan ibu lilis amelia. aku akan menceritakan sekelumit dari kisah masa lalu ku. aku percaya 99,99% dari kalian tidak akan percaya dengan apa yang aku ceritakan. Dan 0,1% dari kalian yang percaya akan hal yang tidak rasional yang pernah aku alami ini.
baiklah, tanpa memperpanjang orientasi, aku akan membawa kalian pada narasi yang tidak rasional ini.
19 juni 2019, pukul 14:00 (2 tahun lalu)
Hari ini nami pergi ke perpustakaan, entah apa yang membawa nami untuk pergi ke perpustakaan. nami naik bus umum, ia duduk di atas kursi paling belakang disamping jendela. terlihat di samping kanan nami ada seorang kakek-kakek lusuh tangah membawa tas selempang bermotif batik.
Bus pun berhenti tepat di depan perpustakaan odin, gudangnya ilmu pengetahuan dari kota athenan. nami pun berjalan keluar, Ketika sedang berjalan, kaki nami terasa sedang menendang suatu benda. Nami tidak memperdulikan hal itu, ia terus berjalan keluar menuju pintu bus. Tiba-tiba Langkah nya terhenti “hey.. nak apakah ini barang mu?” tanya seorang perempuan paruh baya yang duduk di sebrang kanan kakek tua itu.
Nami melihat benda yang di pegang ibu itu, seperti arloji tua karatan yang telah usang. Tiba-tiba kakek yang berada di samping kanan nami tadi langsung mengambil arloji yang berada di tangan ibu itu “ini arlogi saya” kata kakek itu dingin dan berjalan keluar bus. Kakek itu berjalan membelakangi nami, terlihat dari jalannya pasti umur kakek itu telah menginjak usia 70 tahun.
Tepat di depan gerbang perpustakaan odin, kakek itu memutar balik badannya, ia menatap ke arah nami sembari tersenyum. “aneh” pikir nami. nami pun membalas senyuman dari kakek itu. terlihat pandangan kakek itu tajam menatap nami, seraya berkata “totebagmu, ketinggalan” .
Seketika nami langsung teringat dengan totebag hitam nya, nami langsung bergagas masuk kedalam bus yang di naiki nya tadi. terlihat totebag nami masih ada dan bersandar di atas kursi yang di duduki nya tadi. nami melirik ke luar jendela bus, tampak kakek tua tadi telah menghilang. “Dengan umur nya yang tua, jalan kakek itu cepat juga” pikir nami.
***
Di dalam perpustakaan odin, nami mulai berkeliling untuk mencari buku. “tidak ada yang menarik” pikirnya. Akhirnya nami pun duduk di atas meja perpus. dari atas meja itu, nami melihat buku yang berjudul jalaludin rumi. “siapa rumi?” tanya nami dalam hati. nami membaca sipnosis di bagian belakang buku itu dan tertulis “rumi seorang manusia yang di lahirkan untuk seluruh umat manusia..”. nami pun langsung terpana dengan sipnosis dari buku itu. ia lalu membuka dan membaca buku itu.
Halaman demi halaman telah nami baca, sampai di tengah buku ada sebuah syair yang memberhentikan nami untuk melanjuti ke halaman selanjutnya “sekalipun cinta telah ku uraikan dan ku jelaskan panjang lebar, namun jika cinta ku datangi, aku jadi malu pada keterangan ku sendiri. meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan perang, namun tanpa lidah cinta ternyata lebih perang, sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskan mu. kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai pada cinta, dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya bagaikan keledai terbaring dalam lumbung hina. cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan kisah cinta” saat membaca syair itu nami langsung teringat akan sosok perempuan yang bernama nela rahma kurnia itulah namanya. Nela adalah sosok perempuan paling di kagumi di sekolah nami. perempuan yang sangat cantik, pintar, dan menjadi rebutan para lelaki. hal yang selalu nami ingat dari nela adalah kepeduliannya, ia selalu memberi nami catatan, jawaban dari soal-soal, dan mengajari nami mtk, pelajaran yang paling nami benci. Kala itu nami sangat terpana akan etika dan estetika dari nela.
akhirnya nami pun mulai memberanikan diri untuk menanyai apa maksut dari kepedulian nela itu. “nel, apa yang membuat mu begitu baik terhadapku? Apakah karena aku seorang yang hina di sekolah ini, hingga rasa iba mu menuntun pada rasa kemanusiaan mu terhadap ku. semua orang menganggap ku sampah. Jika kau berada di dekat ku, maka kau akan menjadi bagian dari sampah itu” nami berkata seperti itu karena selama di sma ia selalu di bully oleh teman-teman nya. alasan teman-teman nya membully nami sangat tidak etis, mereka beranggapan nami ini adalah sosok lelaki yang sangat berbeda dari standar kehidupan remaja sebaya nya. bodoh, menyendiri, lusuh, dan miskin.
setelah mendengar perkataan dari nami, nela tersenyum sembari berkata “nami.. nela bantu nami bukan karena iba. Tetapi karena sifat kemanusiaan nami. nela tahu setiap pagi nami tidak lupa membantu menyebrangi nenek-nenek di tepi jalan, memberi makan kucing di belakang sekolah, menyirami tanaman yang sudah layu di belakang gudang sekolah. sifat itu yang nela suka dari nami”.
Setelah mendengar perkataan dari nela, seketika nami pun terdiam, kata-kata nya pecah, dan lidah nya seakan membisu. “ternyata perkataan rumi memang benar, kata-kata pecah berkeping-keping dan akal terbaring tak berdaya”.
05 mei 2018, hari itu adalah hari ulang tahun nela yang ke-18 tahun. Bertepatan dengan hari sepesial nela, nami ingin menyampaikan perasaan cinta nya terhadap nela. Nami menyatakan perasaan nya itu lewat sebuah novel karya nya sendiri, di dalam novel itu nami menyampaikan semua perasaan nya terhadap nela.
Hari itu Tiga jam nami menunggu nela di depan gerbang sekolahnya. wajah demi wajah nami perhatikan tetapi wajah nela belum ada lewat di hadapan nami. nami masih menunggu, menunggu dan menunggu. sampai pada akhirnya nami pun tahu bahwa nela telah pindah negara. Kata wali kelas nami, nela pindah ke negara palestin nami tidak tahu apa yang melatar belakangi nela dan kelaurganya pindah kesana. “andai saja aku bisa memutar balik waktu, pasti jauh sebelum ulang tahunnya aku telah menyatakan rasa yang masih menjanggal ini” begitulah kata nami kala itu.
***
Setelah mengingat sosok nela, hasrat membaca nami pun menjadi hilang. nami mulai meletakkan kembali barang-barang nya ke dalam totebag hitam yang di bawanya tadi. Tiba-tiba Pandangan nami pun terhenti dengan benda bulat aneh di dalam totebag nya. nami mengambil benda itu. itu adalah sebuah arloji, Tetapi arloji itu sangat berbeda dari arloji yang di pegang ibu-ibu di dalam bus tadi. di belakang arloji itu tersemat kertas yang bertuliskan “kamu adalah orang yang terpilih. Putar waktu arloji searah jarum jam, maka kau akan ke masa depan dan jika kau memutar waktu arloji berlawanan arah jarum jam, maka kau akan ke masa lalu”. Nami merasa tulisan itu tidak realistis dan tidak dapat di terima dengan akal. Tetapi rasa penasaran nya begitu tinggi. Nami pun memutar arloji itu searah jarum jam
19 juni 2019, pukul 19:10
Dari luar jendela tampak hari sudah gelap. Suasana tempat pun berubah dari perpustakaan menjadi kamar nami. nami melihat ke arah jam dinding di dalam kamarnya, terlihat waktu jam dinding sama dengan waktu arloji yang berada di tangannya.
Pintu kamar nami terbuka “nami makan malam sudah siap, ayo kita makan bersama” kata ibu menyuruh.
nami masih tidak percaya akan hal yang berada di luar logika ini. nami pun memejamkan matanya “ini pasti mimpi” dan ketika nami membuka matanya, terlihat dengan jelas sosok ibu yang masih berada hadapannya. “sakit mata?” tanya ibu bingung.
“ga buk, entar nami nyusul kebawah” kata nami.
Nami langsung mengambil kertas dan pena, ia mulai menghitung “berarti aku harus memutar arloji ini sebanyak 395 putaran untuk menuju ke masa itu” satu jam berselang “391, 392, 393, 394,”. Pintu kamar nami terbuka lagi, terlihat ibu kembali masuk ke dalam kamarnya “395”.
03 mei 2018, pukul 10:30 (2 hari menjelang nela ulang tahun)
Dari dalam kamar, sekarang Nami berada di dalam kelas. ia melihat kembali arloji itu. Terlihat waktu di arloji sama dengan waktu jam tanganya. Ia lalu melihat ke papan tulis. “tanggal 3 mei 2018”.
Nami melihat sekelilingnya, tampak kosong dan tidak ada orang. Nami melirik ke arah meja nela. Terlihat tas nela masih bersandar di atas tempat duduknya “berarti hari ini nela belum pergi ke palestin” pikir nami.
nami mengambil novel karya nya dari dalam tas nya. ia lalu mencari nela ke luar kelas. dari sekian lama nami berkeliling, akhirnya nami menemukan nela. Ia tengah duduk di belakang kelas bersama naura teman sebangkunya. Ketika nami ingin menghampiri nela, dari kejauhan nami melihat air mata mengalir di pelupuk mata nela. Nami masih ragu untuk menghampiri nela, nami pun hanya bisa sembunyi di samping pohon yang jarak nya hanya sekitar 2 meter dari nela dan naura. Dari balik pohon itu keraguan menghampiri nami, tiba-tiba kakinya terasa berat untuk berjalan menghampiri nela.
“nela harap nela akan menemukan sosok sahabat seperti naura nantinya di sana” kata nela tersedu.
Naura tersenyum “naura yakin, itu adalah keputusan terbaik dari ayah nela untuk membantu saudara-saudara kita yang berada di palestin. sebelum nela berangkat, apakah nela tidak mau menyampaikan perasaan nela terhadap nami? Bukankah sedari dulu nela suka nami?” tanya naura.
“ga. Perasaan nela cukup menjadi rahasia ilahi. Jika jodoh, pasti nela akan bertemu nami kembai” lanjut nela.
“udah, jangan sedih. Hari ini naura akan teraktir nela di kantin bu tio” kata naura menghibur. mereka pun pergi dari tempat duduk mereka.
Nami shock mendengar dialog antara nela dan naura tadi, ternyata selama ini nela menyukainya tetapi ia baru mengetahuinya sekarang. Akhirnya nami berlari lagi ke dalam kelasnya. Nami memasukkan novel karya nya ke dalam tas nela dengan tersemat secarik kertas “selamat ulang tahun nela”.
Setelah nami selesai memasukkan novel nya tadi ke dalam tas nela, ia langsung terkejut dengan sosok yang tengah berada di hadapannya sekarang. “kakek..” kata nami terkejut. Itu adalah kakek-kakek aneh yang tersenyum dengan nya kala itu.
“akhirnya perasaanmu telah tersampaikan” kata kakek itu. tampak di tangan kanan kakek itu, tengah memegang arloji yang sama persis dengan punya nami.
Nami langsung meraba kantong celana nya “arloji itu menghilang” pikir nami terkejut.
“arloji ini bisa membawamu ke masa depan dan juga bisa membawamu ke masa lalu. Apapun yang kau buat di masa lalu ini maka itu akan mengubah masa depan mu sekarang. Dan apapun yang kau buat di masa depan, maka akan mengubah masa lalu mu” kata kakek itu. “hanya satu yang tidak bisa di ubah dari arloji ini, yaitu kematian seseorang” lanjut kakek itu. kakek itu pun menghempaskan arlogi itu ke lantai hingga hancur.
“hehhh...” tarikan nafas panjang. Nami langsung tersadar, nafas nya terengah-engah, keringatnya bercucuran keluar. Terlihat seseorang perempuan yang berada di hadapannya terkejut melihatnya. “mas baik-baik saja?” tanya perempuan itu yang merupakan penjaga dari perpustakaan odin.
Nami menganggukkan kepalanya, tanda ia tidak kenapa-kenapa.
“perpustakaan nya sudah mau tutup mas, silahkan datang lagi besok” lanjut perempuan itu tersenyum.
“hanya mimpi” kata nami dalam hati.
19 juni 2019, pukul 19:08
Nami duduk di atas kasur kamarnya, ia masih memikirkan mimpi yang sangat tidak masuk akal itu. selang beberapa menit, pintu kamar nami terbuka. terlihat itu adalah ibu yang menyuruh nya untuk makan malam.
Nami terkejut, ia lalu menoleh ke arah jam dinding kamarnya, terlihat jam dindingnya menepatkan pukul 19:10. “Persis dengan kejadian di mimpi itu” pikir nami.
Nami duduk di atas meja makan dengan perasaan ampur adul “apakah ini hanya kebetulan?” pikirnya. Tak lama ibu memberi nami sebuah amplop putih kecil yang telah usang “sore tadi ibu ngecek kotak surat di depan rumah kita, dan ibu menemukan surat ini”.
Nami melihat amplop itu, terlihat tulisan di depan amplop itu adalah “dari nela untuk nami”. Nami pun membuka amplop itu. “5 agustus 2018, nela telah tamat membaca novel dari nami, terimakasih atas karya nya, selama beberapa minggu terakhir novel nami adalah pengantar nela sebelum teransit ke alam mimpi. Novelnya sedih, seorang lelaki mencintai perempuan tetapi hanya dalam diam. tetapi yang membuat nela bingung kreakter cowok dalam novel nami itu adalah nama nami sendiri, sedang kreakter cewek nya adalah nama nela. Nela tidak mau menyimpulkan bahwa ini adalah sebuah pengungkapan rasa nami ke nela, tetapi jika ini benar pengungkapan, maka nela sebagai nama yang serupa dari kreakter cewe nya mau bilang bahwa nela juga menyukai nami. jika cinta seorang nami di dalam novel itu rela menunggu cintanya kapanpun. maka tunggu nela pulang nami”.
“tok..tok..” bunyi ketukan pintu.
“nami buka pintunya sebentar nak” kata ibu yang tampak tengah sibuk menyiapi lauk pauk.
Nami membuka pintu, terlihat ada sebuah koran usang yang tergeletak di depan pintu. Nami mengambil koran itu, ia membaca isi dari koran itu. “tidak mungkin” pikir nami.
Nami langsung berlari ke jalan raya di depan rumahnya. ia mencari, siapa sosok yang mengantar koran usang itu kerumahnya. Rumah demi rumah nami lewati. Sampai sosok kakek-kakek yang tidak asing itu memberhentikannya. kakek itu berada di sebrang jalan sembari tersenyum menatap nami. tampak air mata mengalir dari pipi kakek itu. ketika nami ingin menghampiri kakek itu
“bush...” mobil sedan lewat dan kakek itu pun menghilang. “siapa sebenarnya kakek itu” pikir nami. nami pun melihat lagi koran usang itu
“50 rakyat palestin menjadi korban atas roket yang di luncurkan oleh israel, salah satu dari korban merupakan relawan yang berasal dari athenan. Setelah di identifikasi ada seorang relawan yang masih berumur 19 tahun, ia syahid bersama keluarganya. Pemerintah athenan sangat mengecam aksi dari negara israel ini” isi koran. “kau sudah tenang di alam sana. surga sudah menanti mu nela” kata nami dengan air mata yang terus membanjir di pipinya.