"Hari-hari yang terus berganti terasa seperti kutukan. Lembaran kertas yang menumpuk dimana-mana membuat kamarku terlihat seperti diterjang badai. Aku belum bisa disebut sebagai penulis. Setiap tulisan yang aku tulis terasa seperti sampah. Entah sudah berapa lembar atau berapa banyak file yang ditulis dan dibuang.
Kenapa aku kesulitan ya? Apakah karena aku memang tidak berguna? Atau seperti penulis kebanyakan dimana mereka terkena "Writer-block" dan tidak bisa menulis apa-apa. Bertanya pada orang lain pun percuma. Karena pada dasarnya yang bermasalah itu bukan tulisanku, tapi aku.
Bagaimana jika kukatakan bahwa aku sudah tidak bisa membedakan khayalan, kenangan, mimpi dan imajinasi? Apa ada yang akan percaya? Aku tau bagaimana ceritaku berjalan. Aku tau bagaimana dunia cerita itu bergerak. Aku tau sejarah, ekonomi, politik, dan geografi yang ada dalam cerita. Aku tau setiap detail yang terjadi.
Lalu apa masalahnya? Bukankah seharusnya semua lancar saja?
"Hey, mau sampai kapan kamu mau diam?" suara di kepalaku terdengar bergema. Siapa? Kenapa? Apa alasannya aku menulis sampai begini? Bahkan aku lebih terlihat seperti pengangguran yang jadi beban di rumah ketimbang penulis yang bahkan belum bisa disebut sebagai penulis.
Harus berapa lama agar semua ini berakhir?"
Tokoh itu akhirnya menggantung dirinya sendiri di tengah ruangan.