Aku membuka mata lebar-lebar. Langsung kutarik oksigen masuk ke relung paru-paru. Mencoba tenang dengan deguban jantung yang terus menggebu.
Penglihatanku segera disambut dengan penampakan seorang gadis. Dia menatapku dengan keadaan mata yang berkaca-kaca. Ada satu hal yang menarik perhatianku, kenapa gadis itu mengenakan pakaian hanfu layaknya dalam drama sejarah China.
Tunggu! aku pun sedang mengenakan jenis pakaian yang sama dengannya. Namun bedanya pakaian yang aku kenakan adalah versi untuk lelaki. Berwarna gelap tanpa adanya motif bunga tertentu.
"Hongli Zhao, ini aku Yueyin?" ujar gadis itu sambil mengusap cairan bening disudut matanya.
Hongli? Yueyin? Kepalaku mendadak terasa nyeri. Sebuah kilatan memori menghantam bayanganku. Aku bisa melihat Yueyin memelukku dengan hangat. Dalam memori itu aku juga melihat seorang lelaki tua yang tersenyum, memberikan sebuah cincin giok kepada Yueyin. Aku bisa dengan jelas mendengar bahwa, Yueyin adalah istriku.
Tunggu, ini berarti aku adalah...
Aku mendadak berdiri, meski dalam keadaan sempoyongan. Aku berniat mencari cermin untuk memastikan dugaan yang terasa mustahil terjadi. Sebab aku sangat ingat, kalau namaku yang sebenarnya adalah Fengying Tao. Aku adalah seorang pawang harimau yang bekerja di sebuah sirkus ternama di Beijing. Tepat di abad-21.
"Hongli, tenanglah!" Yueyin memegangi badanku yang hampir terjatuh. Dengan tubuh kurusnya itu dia mampu menopang badanku yang ukurannya lebih besar.
Seolah tergesak-gesak, aku menjauhkan begitu saja Yueyin dariku. Yueyin hanya menundukkan kepala saat mendapat penolakanku.
Jujur, aku masih belum bisa mencerna apa yang telah terjadi kepadaku. Apakah ini yang dinamakan time travel?
Setelah mengedarkan pandangan ke berbagai sudut ruangan, akhirnya aku menemukan cermin. Mataku langsung membulat sempurna tatkala bukan wajahku yang terlihat, melainkan sesosok lelaki lain. Aku begitu kaget hingga reflek melangkah mundur. Alhasil aku terjatuh dengan kikuk. Yueyin yang merasa cemas, segera menghampiriku.
"Hongli, apa kamu mau aku ambilkan air?" tawar Yueyin lembut. Aku lantas mengangguk pelan.
Dug! Dug! Dug!
"HONGLI ZHAO!"
Suara gedoran pintu beserta pekikan terdengar dari luar. Sepertinya seseorang tengah tergesak-gesak untuk memberitahukan sesuatu.
"Itu Shen! Pasti ada sesuatu yang terjadi di lembah naga!" ucap Yueyin yang mengurungkan niatnya untuk mengambil air. Kemudian bergegas membukakan pintu.
Aku yang mendengar hanya bisa mengerutkan dahi, sembari mencelingak-celingukan kepala seperti orang bodoh.
Setelah pintu dibuka, Shen langsung berlari menghampiriku. Nafasnya terdengar tersengal-sengal. "Hongli? Kau tidak apa-apa? bisakah kau pergi ke lembah naga? Aku rasa kau bisa menemui naga Lizhu sekarang!" ujarnya serius.
Aku hanya terdiam. Sebab kilatan memori kembali muncul dalam kepala. Ternyata pemilik tubuh yang sekarang aku tempati adalah salah satu orang terpilih. Dia ditakdirkan menjadi penjaga naga terakhir. Nasib Hongli membuatku teringat dengan pekerjaanku. Apakah ini adalah salah satu alasan aku masuk ke dalam raga Hongli? apakah nasibku dan Hongli saling terkoneksi?
Ingatan terakhirku sebelum terbangun di tubuh Hongli, hanyalah tentang kematian harimau yang aku jaga selama bertahun-tahun. Namanya adalah Wenhua. Aku dan binatang loreng tersebut sangat dekat layaknya sahabat sejati.
"Berlari, melompat, mengaum. Berlari, melompat, mengaum... Roarrr!" kalimat yang sering aku lantunkan untuk melatih Wenhua menjadi delusi ditelingaku. Aku harap Wenhua sudah bahagia di surga.
Aku perlahan menundukkan kepala dan menunjukkan raut wajah sendu. Aku mendadak merasa berkabung saat mengingat kematian Wenhua.
"Hongli? apa kamu mendengarku?" Shen menyentuh pelan pundakku. Hingga aku seketika tersadar dan membalas tatapannya.
"Jika kamu merasa tidak sanggup dan yakin, tidak apa-apa. Kamu bisa melakukannya lain kali," tutur Yueyin. Tangannya yang lembut sehalus kapas menyentuh pelan jari-jemariku. Tatapan gadis itu sangat teduh dan menenangkan.
Shen yang mendengar ucapan Yueyin, langsung menatap tajam. Dia lantas mendekatkan mulut ke telinga Yueyin. "Apa yang kamu lakukan? Kamu tahu sendiri kan kalau lembah naga hanya akan bercahaya satu kali setiap lima puluh tahun. Apalagi cahayanya akan terjadi maksimal selama tiga hari, dan sekarang sudah hari ketiga. Hongli sudah kehabisan waktu untuk menemui naga Lizhu!" bisik Shen, yang mana ucapannya itu dapat terdengar jelas di telingaku.
Aku segera berdiri dan setuju untuk pergi. Lagi pula aku juga penasaran dengan lembah bercahaya yang sedari tadi dibicarakan. Aku juga beranggapan kalau naga yang mereka bicarakan pasti hanya mitos. Begitulah pemikiranku sebagai manusia yang berasal dari zaman modern.
Yueyin dan Shen terlihat sangat senang dengan pilihanku. Bahkan sebelum pergi, Yueyin memberikan bekal untukku.
"Baiklah, aku akan menunggu diluar terlebih dahulu!" ucap Shen, lalu berlari keluar dari rumah. Mataku yang sempat terpaku menatap punggung Shen, perlahan dialihkan ke arah Yueyin yang berderap mendekat.
"Ini untukmu, dan ingat! buah-buahannya untuk Lizhu. Berhati-hatilah, jangan bersikap macam-macam dengan Lizhu. Jika kamu menghormatinya, maka dia tidak akan menyakitimu," tutur Yueyin. Kemudian membawaku masuk ke dalam pelukannya. Semuanya terasa canggung bagiku, karena aku belum pernah memeluk seorang gadis selain ibuku sebelumnya.
Yueyin mengantarku keluar dari rumah. Pupil mataku seketika membesar, tatkala menyaksikan warga desa berkumpul untuk menemuiku. Rupanya kepergian Shen tadi bertujuan untuk memberitahu mereka.
Semua orang terlihat sumringah. Mereka juga memberikanku banyak bekal. Baik makanan, pakaian dan barang penting lainnya.
Ingatan Hongli tidak selalu bisa dijadikan kunci jawaban, karena sekarang aku tidak tahu mengenai alasan dibalik kebahagiaan yang ditunjukkan semua orang. Mereka bertindak seakan pilihanku adalah sesuatu yang sangat berharga.
⚔️⚔️⚔️
Sekarang aku dan Shen dalam perjalanan menuju lembah naga. Sebenarnya dari desa pun sudah dapat terlihat penampakan cahaya dari lembah tersebut. Persis seperti aurora berwarna pelangi, tetapi lebih cerah dan gemerlapan seperti ada serbuk bintang dalam partikelnya. Pemandangan itu membuatku terpukau. Bahkan sejak awal perjalanan aku terus menatap cahayanya.
Menurutku, cahaya itu hanya fenomena alam biasa.
"Indah bukan? Sepertinya kamu sudah tidak takut lagi," ujar Shen yang mengembangkan senyuman tipis melalui mulutnya.
"Takut?" Aku mengerutkan dahi bingung. Sekarang aku menduga, kalau Hongli adalah seorang pecundang yang takut dengan lembah naga. Lagi-lagi, tidak ada memori yang menjawab perihal ketakutan Hongli.
"Lupakanlah, yang penting kau sudah siap menemui Lizhu!" sahut Shen yang terus melangkahkan kaki.
"Bolehkah aku tahu, kenapa semua orang sangat bahagia atas pilihanku untuk menemui Lizhu?" aku tidak punya pilihan lain selain bertanya.
Shen menghentikan pergerakan kakinya, kemudian menoleh ke arahku. "Tentu saja kami bahagia, bagi semua orang di dunia ini, pertemuan dengan naga adalah berkat. Apalagi Lizhu adalah satu-satunya naga terakhir sekarang. Eh tunggu..." Shen melakukan tatapan menyelidik. "Kenapa kau mendadak bertanya? Bukankah pengetahuanmu lebih banyak dariku?"
Aku segera mengalihkan pandanganku dan berucap, "A-aku hanya memastikan." Secara tidak sadar aku mengusap tengkuk tanpa alasan.
Perjalanan dari desa ke lembah naga tidak terlalu jauh. Toh lembah naga juga adalah bagian dari desa. Shen hanya mengantarkanku di depan goa yang menjadi tempat Lizhu berada. Shen terus berdiri di tempatnya sampai aku menghilang dari penglihatannya.
⚔️⚔️⚔️
Aku sudah masuk lebih dalam ke goa. Terus melangkah sambil mengedarkan penglihatan. Kata Shen, aku hanya perlu menemukan air terjun kecil yang ada di goa.
Perlahan telingaku sudah dapat mendengar suara gemercik air. Pertanda keberadaanku dengan air terjun sudah semakin dekat. Hingga akhirnya aku bisa melihat dengan mata dan kepala penampakan air terjun tersebut.
"Lizhu?" panggilku, berusaha mencari naga yang seharusnya ada. Sudah kuduga, omongan mereka hanyalah omong kosong. Inilah salah satu alasan aku setuju untuk menemui naga yang mereka beri nama Lizhu.
Aku istirahat di atas sebuah batu besar dekat sungai kecil di tengah goa. Mataku terpejam sejenak. Aku sempat tertidur dalam beberapa saat.
"Berlari, melompat, mengaum. Berlari, melompat, mengaum. Berlari, melompat, mengaum... Berlari, melompat..." suara gumaman yang terdengar tidak asing membatku terbangun dari tidur. Bukan suaranya yang menjadi daya tarik, akan tetapi kalimat yang diucapkan oleh suara itu. Aku sangat yakin, kalau itulah kalimat yang sering aku lantunkan untuk melatih Wenhua.
Aku lantas membuka mata, dan aku dapat melihat seekor naga. Warnanya hijau keemasan. Tampak indah, berharga dan mempesona. Ini tidak bisa dipercaya ternyata keberadaan naga-nya memanglah nyata. Aku merasa warga desa telah menampar wajahku dengan kenyataan.
Naga itu tampak sedang gelisah. Dia terus berulangkali mengucapkan kalimat yang sama. Aku sangat yakin, kalau kalimat yang diucapkannya sama persis dengan ucapanku. Mungkinkah naga ini Wenhua? apakah mungkin Wenhua bereinkarnasi menjadi naga?
Aku berjalan mendekati posisi naga. "Lizhu?" aku memanggilnya dengan nama yang seharusnya, akan tetapi naga itu sama sekali tidak hirau. Dia mengabaikanku.
"Wenhua?" kali ini aku mencoba memanggil sang naga dengan nama harimau yang kulatih. Naga tersebut langsung menatap ke arahku. Seolah menyadari kalau namanya baru saja disebut. Benar dugaanku, dia adalah Wenhua. Sekarang aku paham, kenapa aku masuk ke dalam raga milik Hongli.
Eh tunggu dulu, naga ini dapat berbicara. Wenhua bisa bicara!
~SELESAI~
*Maaf kalau jelek. Ini pertama kalinya aku bikin cerita berlatar china klasik 🙃