Namaku Zahra, Zahra Alfathunisa nama lengkapnya. Usiaku baru menginjak 27 tahun. Sudah beberapa tahun ini, aku bekerja disebuah butik ternama dikotaku, seorang teman lama mempercayakan Toko Butiknya untuk aku kelola.
Meski pemilik Butik itu teman dekatku, aku tetap menghormatinya sebagai Bos pemilik tempatku bekerja, tetap ada batasan-batasan untuku agar aku lebih menghargainya sebagai atasanku. Kesibukannya juga membuat kami jarang bertemu, Toko yang ia punya bukan hanya satu.
Dalam sebulan, paling dua kali dia datang mengunjungi tempatku bekerja untuk mengambil uang setoran hasil penjualan selama beberapa pekan. Dia benar-benar mempercayakan semuanya kepadaku.
Akupun berusaha untuk tetap amanah dalam menjalankan kepercayaan yang dia berikan, walaupun peluang untuk curang itu sangat besar. Tegakah aku mengkhianati orang yang sudah begitu percayanya kepadaku? aku bukan tipe orang yang sepicik itu.
Perkenalan kami terbilang unik dulu. Sejak Sekolah SMP, aku sangat hobi menulis dan membuat sebuah cerita Novel. Aku bukan orang kaya yang punya komputer dirumah, hanya bermodalkan buku dan sebuah pulpen, aku tuangkan imajinasiku melalui sebuah tulisan tangan. Tulisan tangan yang tidak begitu rapih, dengan bahasa yang masih acak-acakan, belum paham apq itu PUEBI dan tata cara menulis yang benar.
Setiap libur sekolah, aku lebih suka menyendiri dan menulis. Hari-hari biasapun saat tak begitu banyak tugas Sekolah, maka aku akan menulis. Selain menulis, aku sangat hobi membaca Novel, dari sisa uang jajanku aku sisihkan untuk menyewa beberapa Novel dari beberapa Penulis Favoritku, yakni Fredy Siswanto, Tara Zagita dan Hilman.
Sampai akhirnya beberapa Novel berhasil aku buat. Aku iseng membawa hasil karyaku itu ke Sekolah, dan memperlihatkan Novel karanganku itu ke beberapa teman-teman dekatku. Mereka penasaran dan meminjam buku itu. Aku senang mereka mau membaca tulisanku yang sangat jauh dari kata sempurna. Sampai Novel itu dipinjam dari tangan ke tangan bahkan dipinjam beberapa siswi yang tidak aku kenal. Sejak itu teman-teman tahu aku suka menulis.
Seorang temanku Winda yang berbeda sekolah denganku, meminjam Novel buatanku itu untuk dibawa ke Sekolahnya setelah dua Novel itu kembali ditanganku. Setelah seminggu kemudian, Winda datang kerumah dan membawa dua buah surat beramplop ungu dan pink kepadaku. Aku terkaget, surat apa itu?
"Ini ada titipan surat dari dua adik kelasku yang membaca tulisanmu," ucap Winda yang jujur hal itu begitu membuatku terkejut dan terharu. Ternyata ada orang yang menghargai tulisanku, gumamku.
"Ya ampun, malu sekali Win. Tulisanku sangat acak-acakan begitu dan dipinjam teman-temanmu juga," jawabku sambil menerima surat itu dan kemudian membacanya satu persatu.
Satu surat berasal dari teman Winda yang bernama Dewi Pratiwi, dari isi suratnya dia ingin mengenalku lebih dekat dan mengagumi cerita tulisanku. Diapun meminta agar aku melanjutkan cerita yang memang salah satu Novelnya belum sempat aku tamatkan. Karena kesibukan tugas sekolah membuatku kini tak bisa melanjutkan untuk menulis cerita lagi.
Satu surat lainnya berasal dari perempuan yang bernama Bening Claudia. Dia ingin lebih kenal dekat denganku dan jika diperkenankan dia ingin berkunjung ke rumahku dan berkenalan secara langsung.
Setelah beberapa pekan saling balas membalas surat, tiba saatnya libur sekolah. Dan mereka berdua benar-benar datang ke rumah. Membawa beraneka ragam buah tangan juga banyak buku dan pulpen untuk aku melanjutkan cerita Novelku. Akupun terharu merasa mendapat teman baru yang tepatnya ku anggap adik karena usia mereka berada dibawahku.
Mereka sering berkunjung bila ada waktu luang. Sesekali mereka nelpon dan curhat masalah percintaan mereka yang baru mengenal cinta.
Disela waktu senggangku aku membuat beberapa cerpen-cerpen dan ku kirim ke beberapa Redaksi Majalah Remaja kala itu. Tapi sayang belum pernah dapat lomba apalagi juara.
Sampai akhirnya aku mengenal seorang lelaki yang menjadi cinta pertamaku. Dia orang yang sangat mendukungku untuk menulis. Bahkan dia yang mengetik setiap naskah cerpenku bila aku berniat mengirimkannya untuk mengikuti beberapa lomba. Aku semakin semangat untuk belajar menulis lebih baik lagi. Walaupun memang belum dan tidak membuahkan hasil apa-apa.
Sampai akhirnya hubungan kami berdua kandas ditengah jalan. Banyak hal yang membuat kami terpaksa mengakhiri hubungan kami, walau jujur itu begitu sangat menyakitkanku, bahkan sampai membuatku merasa kehilangan semangat hidup.
Dalam keadaan frustasi, aku bakar beberapa buku Novel tulisanku yang aku punya, yang banyak sekali tertulis nama kita berdua disana sebagai pasangan kekasih yang saling mencinta. Bahkan banyak tulisan huruf kaligrafi yang ia selingkan ditiap Bab Novel yang ku tulis.
Diawal dan diakhir cerita banyak sekali nama kami terukir, yang membuat aku ingin cepat memusnahkannya juga. Hanya beberapa Novel awal yang ku buat sebelum mengenal dia yang tidak aku bakar, dan entah berada ditangan siapa yang saat itu meminjamnya.
Sejak saat itu, aku tak ingin lagi menulis. Aku memutuskan untuk tidak pernah lagi menulis. Menulis hanya mengingatkanku akan kisahku dengannya yang bila diingat akan membuat luka itu kembali menganga.
Aku dan Dewi juga Bening hilang komunikasi setelah aku menikah, meski banyak drama yang harus ku lalui sampai hari pernikahan itu tiba.
Dan kini setelah beberapa tahun lamanya, lewat sosial media. Aku kembali bertemu dengan Bening yang kini telah tumbuh dewasa dan menjadi ibu muda yang sukses. Suaminya orang kaya juga kegigihannya berusaha membuat ia sesukses sekarang.
Mungkin inilah hikmahnya karena dulu aku menulis walau tidak menghasilkan apa-apa. Kalau dulu aku tidak menulis mungkin aku tidak akan mengenal Bening karena pertemuan kami berawal dari tulisanku.
Selama setahun, Bening mengajak aku berbisnis dari rumah dengan memasarkan secara Online pakaian-pakaian di Butiknya. Akupun cukup berhasil dan bisa meraup keuntungan. Setelah lama, Bening menyerahkan satu cabang Butik miliknya untuk aku kelola. Satu penghargaan untuku, orang kecil sepertiku yang diberi kepercayaan sebesar itu.
Aku tersenyum. Mungkin inilah hikmah dari sebuah tulisanku yang aku dapatkan setelah beberapa tahun kemudian. Dan aku percaya baik buruknya setiap kejadian yang kita lalui, mungkin ada hikmah yang belum kita ketahui. Dan baru kita menyadarinya dikemudian hari. Ternyata skenario Maha Pencipta itu Indah meski harus dilalui dengan deraian air mata sebelumnya.
💖 Terimakasih untuk yang bersedia membaca, yang meninggalkan jejak dukungan aku pasti mampir kembali ke karya hebat kalian. Terimakasih💖