POV Zenny
Namaku Zenni Amanda. Usiaku 20 tahun. Sejak keluar sekolah SMA, aku bekerja disebuah Toko Olshop yang jaraknya agak lumayan jauh dari tempat tinggalku.
Aku bekerja demi untuk menghidupi diri sendiri dan tak ingin menyusahkan orang tuaku. Kisah percintaanku selalu berakhir menyakitkan, hingga aku malas lagi untuk kembali memulai suatu hubungan. Takut terluka lagi. Itu pikirku.
Hubungan pertemanankupun begitu mengecewakan, mereka seakan hanya memanfaatkan kebaikanku diatas kebodohanku. Saat mereka butuh bantuan dalam masalah keuangan, mereka datang mendekatiku. Tapi setelah semuanya didapatkan, mereka entah kemana.
Tidak adakah teman yang tulus dimuka bumi ini? Tapi untuk mencari teman yang sempurna, sampai kapanpun tidak akan pernah kau dapatkan. Dan sampai kapanpun kau takan pernah mempunyai teman.
Aku selalu berusaha ada saat orang lain membutuhkan. Tapi disaat aku yang butuh pertolongan, mereka seakan tutup mata dan pura-pura tidak melihat. Rasanya aku kesal dan ingin memaki-maki mereka. Tapi pada akhirnya aku akan tetap mengalah demi menjaga sebuah hubungan pertemanan tak perduli walaupun tahu aku hanya dimanfaatkan🤧
Demi meminimalisir rasa kecewaku terhadap teman, aku mencoba membuka sebuah Aplikasi Novel Online yang dituduhkan salah satu teman lamaku yang memberitahukan kalau dia selalu baca Novel disela-sela waktu senggangnya sepulang bekerja.
Akupun mengikuti sarannya. Novel demi Novel aku baca, akupun jadi terlupakan akan masalah-masalaku karena sibuk dengan bacaan Novel Favoritku. Tapi setelah beberapa lama keinginanku untuk menulis itu muncul. Akupun coba mempelajari bagaimana cara menulis di Aplikasi tersebut. Setelah sedikit mengerti, aku coba menerbitkan satu buah Novel yang tulisannya masih acak-acakan karena belum terlalu paham PUEBI dan cara penulisan yang benar.
Lewat sebuah Grup Chat aku mengenal beberapa Author lain, mereka sangat baik menurutku. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa ingin punya sahabat dekat di dunia maya, dengan orang jauh yang tidak aku kenal mungkin aku akan bisa lebih bebas bercerita, menumpahkan segala beban keluh kesahku daripada ke teman-teman di dunia nyataku yang malah membuatku sangat-sangat kecewa.
Aku mengenal beberapa orang diantaranya yang menurutku cukup baik dan ramah. Kak Mitha, Vini dan Hera. Tiga orang yang ku kenal bersamaan.
Selama ini aku tidak pernah mengenal orang-orang asing, aku hanya punya sosial media Facebook dan itupun hanya dengan orang-orang yang ku kenal pertemanannya. Aku tak sembarangan mengkonfirmasi orang. Kalaupun aku terima orang yang belum ku kenal, itu orang-orang yang masih satu wilayah juga denganku. Apalagi orang-orang yang mengetahui nomor HandPhoneku hanya orang terdekat saja dan keluarga.
Mungkin ini menjadi pengalaman pertama bagiku berteman dengan orang-orang jauh di dunia maya. Aku senang bisa bercanda-canda dan saling menyapa dengan mereka semua di sebuah grup chat aplikasi tersebut.
Aku sangat nyaman dengan ka Mitha yang menurutku begitu dewasa pemikirannya walaupun ia sangat senang sekali bercanda. Tanpa sadar, aku berharap lebih padannya dan ingin menjadikannya sahabat dekatku. Karena aku merasa nyaman, setiap kali aku bercerita permasalahanku kepadanya. Dia seperti buku diary untukku. Setiap kesedihan, kekesalanku aku curahkan semuanya, tanpa mengingat mungkin saja dia risih dengan semua ceritaku yang menganggu kesibukan juga ketenangannya ... Betapa bodohnya aku🤧
Ka Vini juga sangat baik dan dewasa, aku senang bisa mengenalnya. Santun dan begitu menghargai semua temannya. Begitupun dengan Ka Hera, dia begitu supel dan ramah. Dalam beberapa kali obrolan saja, kami cepat terasa akrab. Dari sekian banyak orang, tiga orang itulah yang paling berkesan dan aku berharap semoga kami bisa bersahabat dekat.
Tapi ... entah kenapa, ka Mitha seperti marah padakku, apakah aku membuat kesalahan sehingga dia menjauhiku? Dia keluar dari beberapa Grup yang sama denganku ... aku panik, kenapa dengan kak Mitha, ada apa ini? Aku membombardirnya dengan banyak pertanyaan lewat chat privasinya. Tapi tak ada satupun balasan ...
Aku menangis sambil mencoba mengingat ngingat apa yang telah aku perbuat hingga dia semarah itu terhadapku ... Aku hanya bisa menduga-duga, sikap dan ucapan mana yang mungkin tanpa sengaja aku malah menyakitinya ...
Masih dalam keadaan panik dan menangis, aku coba menghubungi ka Vini yang juga mengenal ka Mitha, untuk coba mempertanyakan ada apa dengan kak Mitha sampai bisa semarah itu terhadapku, aku minta maaf bila aku punya salah.
Aku terus menangis. Tapi Ka Vini malah mentertawakan aku "kamu seperti diputuskan pacar saja," balasnya tak seperti keinginanku. Padahal aku sangat berharap kak Vini bisa membantuku. Mendamaikan aku dengan Ka Mitha yang aku sendiripun masih bingung ada apa dan kenapa ... Tapi ka Vini malah mengeluarkan aku dari Grupnya ...
Akupun coba meminta tolong pada ka Hera, agar mau membantu mendamaikanku dengan ka Mitha, dan menceritakan tentang rasa sedihku dijauhi ka Mitha dan ka Vini yang ikutan berubah dan malah mengeluarkan aku dari Grupnya. Ka Hera belum mengenal ka Vini saat itu, entah bagaimana Ka Hera menanggapi ceritaku ... tapi dia hanya bilang "maaf aku tak bisa membantu apa-apa, aku tak ingin ikut campur" jawaban itu tentu saja membuat aku sangat kecewa.
Aku tidak tahu apa yang terjadi dibelakangku, setelah ka Mitha blokir aku, dan ka Vini ikutan menjauh. Aku hanya bisa berkeluh kesah pada ka Hera, walaupun aku tahu dia tak perduli sama sekali dengan masalahku.
Sampai pada akhirnya aku tahu, ka Hera malah tiba-tiba dekat dengan ka Vini, padahal mereka sebelumnya tidak saling mengenal. Itu hak mereka untuk berteman, yang ku harapkan mereka bisa membantu masalahku dengan kak Mitha, tapi mereka berdua malah menjalin pertemanan dan sama-sama menjauhiku😭
Aku hanya bisa menangis, menyesali dan meratapi kebodohanku. Aku kehilangan semuanya ... Aku mundur dan coba menenangkan diri sesaat. Mencoba melupakan luka dan kecewa yang aku rasa. Pertemanan dunia halu ternyata tak seindah yang ku bayangkan.
Meski begitu aku tetap menganggap mereka teman yang pernah aku kenal. Walaupun aku tau mereka sudah tak mengingatku, aku akan tetap mengingat mereka. Aku sesekali menyapa Ka Vini dan ka Hera walaupun aku tahu mereka enggan menanggapinya.
Melalui sebuah tulisan, aku coba membuat sebuah Novel atas nama kita bersama. Aku ingin mengabadikannya dalam sebuah cerita karangan sebagai sebuah kenangan untuk masa nanti bila suatu saat nanti aku membacanya.
Tapi ternyata semua itu malah tambah memperkeruh suasana. Akibat kesalah pahaman yang malah membuat semua menjadi runyam. Awalnya aku sudah ragu saat mulai mempublish cerita itu. Sampai aku cerita pada ka Hera dan ka Vini kalau aku memakai nama mereka.
Akupun sempat mengeluhkan pada ka Hera, saat melihat rate Novelku turun, apa ada yang iseng dan tidak suka ya? Aku hanya mengeluh tanpa bermaksud menuduh siapapun. Ka Hera masih mensuportku. Tapi keesokan harinya, ka Mitha marah terhadapku, entah apa yang ka Hera sampaikan sampai ka Mitha semarah itu padaku.
Aku hanya bisa menangis dan merutuki kebodohanku. Bego bodoh, kenapa juga aku harus buat novel itu?! Akupun langsung menghapus Novel tersebut dan mencoba melupakan semua rasa sakit dan kecewa.
Apalagi mengingat pesan terahir yang ka Mitha titipkan pada salah satu temanku, agar aku tak melibatkan namanya dalam bentuk apapun. Aku sempat menangis dan merasa begitu bencikah ka Mitha terhadapku sampai tak ingin namanya aku pakai di Novelku, padahal sebelumnya ada beberapa teman kami yang memakai nama kami semua dan ka Mitha sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Tapi saat aku yang memakai namanya, dia malah melarangku ...
Aku semakin merasa rendah dan merasa diriku begitu tak berharga ...
Salahkan aku bila terluka. Salahkah aku yang kecewa saat kehilangan semuanya ... Aku mengakui kesalahan dan kebodohanku, tapi apakah harus seperti ini juga balasannya ... Tak akan ada yang mengerti perasaanku saat itu yang hanya menganggap semua ini adalah drama ...
Allah maha mengetahui dan maha membolak balikan hati hamba-hambaNYA ... semoga suatu saat nanti, mana yang tulus dan tidak akan terlihat dengan sendirinya.
Akupun menghilangkan diri dari dunia literasi yang rasanya sudah membuatku sangat kecewa, memutuskan semua akses komunikasi dengan semua yang berhubungan dengan dunia itu ... namun aku juga tak mudah untuk lupa begitu saja.
Hampir dua bulan aku menghilang dan mencoba menormalkan kembali keadaanku yang sempat kacau. Aku mencoba kembali setelah keadaanku jauh lebih baik dari sebelumnya. Walaupun tak bisa ku pungkiri, rasa sakit itu masih terasa bila kembali mengingat mereka dan semuanya.
Aku sama sekali tak membenci mereka ... bahkan sesekali aku tetap bertanya kabar walau ka Hera terlihat enggan menanggapinya. Apalagi ka Mitha sama sekali tak pernah merespon pesan maafku yang coba ku titipkan pada teman terdekat kami berdua ...
Aku tak menyalahkan mereka, hak mereka membenciku dan tak ingin berteman denganku yang banyak sekali kekurangannya. Namun hak-ku juga untuk tetap menganggap mereka ada sampai waktu mungkin akan membuatku lelah dengan sendirinya ...
Sementara ka Vini, tiba-tiba dia hadir dan menyapaku kembali. Entah apa itu jawaban Tuhan untukku untuk yang pernah meminta agar Allah memperlihatkan mana yang tulus dan tidak. Atau entah apa hanya karena rasa iba dan kasihan ...aku tak perduli, dan tetap berterimakasih atas waktu dan keperduliannya kepadaku, entah itu tulus atau sekedar terpaksa.
Aku percaya ... biarlah waktu yang akan menyembuhkan setiap luka. Aku hanya ingin menulis dan mencurahkan imajinasiku tanpa ingin lagi terluka untuk kedua kalinya. Cukup belajar dari pengalaman dan kesalahan. Semua tidak ada yang kebetulan. Skenario ini sudah dirancang Tuhan sebegitu indahnya untuk membuat aku berpikir dan semoga tak lagi mengulangi kesalahan yang sama.
25 Agustus 2021 pukul 00.00
Pojokan kamar
Diruang hati yang hampa