Pada asal muasalnya, seluruh makhluk yang ada di tanah Nemfhim sangat hidup dalam kedamaian baik itu ras manusia maupun ras iblis.
Namun di suatu ketika muncul sebuah perselisihan di antara keduanya. Perselisihan itu di mulai ketika ras manusia mulai mempermasalahkan bentuk dari ras iblis yang bermacan macam dan sering membanding bandingkan kesempurnaan tubuh mereka dengan kesempurnaan tubuh milik para iblis.
Pada awal awal itu, para iblis hanya membiarkan hinaan itu dan menganggapnya angin lalu. Namun disaat tahun terus berganti, Ras manusia mulai menganggap bahwa ras iblis itu adalah monster yang harus di musnahkan karena bentuk yang tidak enak untuk di pandang serta di anggap membahayakan ras manusia.
Hingga di suatu masa, ras manusia mulai menyerang ras iblis atas sebuah kesalah pahaman.
Merasa bahwa manusia sudah melewati batasannya, ras iblis pun mengangkat senjatanya dan menyatakan perang atas ras manusia.
Pertempuran antara manusia dan iblis terus berkecamuk selama lebih dari lima puluh ribu tahun dan telah mengakibatkan banyaknya nyawa melayang. Lamanya pertempuran mengakibatkan beberapa iblis dan manusia melakukan hubungan terlarang yang mengakibatkan munculnya ras baru berupa ras manusia setengah iblis atau bisa di sebut demi human.
Selama lima puluh ribu tahun peperangan itu para ras demi human tidak memiliki tempat yang layak untuk di sebut rumah karena ras mereka di anggap sebagai ras yang hina dan bahkan mereka di anggap benda untuk di jual belikan bahkan di jadikan menjadi alat percobaan maupun menjadi bahan makanan.
Merasa kasihan atas nasib dari ras demi human, dewa pun mengirimkan seorang manusia sebagai utusan mereka untuk mendamaikan seluruh ras yang ada di daratan Nemfhim serta memberikan sebuah tempat dimana para demi human dapat hidup dengan damai.
Manusia yang di kirimkan oleh dewa untuk mendamaikan ketiga ras tadi bukanlah manusia pada umumnya. Manusia itu memiliki kekuatan maha dasyat hingga di kenal dengan sososk sang penghancur. Sang penghancur selalu mencoba untuk mendamaikan seluruh ras itu dengan caranya sendiri. Hampir selama lima ratus ribu tahun perjuangannya, Sang penghancur tidak pernah lelah dalam mengobarkan perdamaian ke seluruh daratan Nemfhim.
Hingga di suatu masa, seorang raja dari ras manusia membuat kesalahan hingga membuat sangat penghancur marah besar dan pada akhirnya sang penghancur pun memilih untuk menghancurkan seluruh ras manusia tanpa terkecuali.
Dalam pertempuran antara ketiga ras tadi, pihak dari ras iblis ikut menyebar rumor bahwa sang penghancur merupakan keturunan dari ras iblis dan ditugaskan untuk membasmi manusia. Dengan rumor itu, seluruh ras iblis pun berhasil menipu banyak ras manusia dan menyatakan kembali perang denga nama sang penghancur.
Pertempuran yang awalnya hanya sepihak, kini mulai menyambar ke pihak lain dan membuat ras manusia, ras iblis dan ras demi human terus berperang tanpa tahu asal muasal mereka berperang.
Berbeda dari kedua Ras tadi. Ras demi human justru tahu kenapa asal muasal perang tersebut berkobar.
Ras demi human yang di pimpin oleh sang penghancur ikut berperang karena sang penghancur tidak ingin bahwa seluruh demi human yang ada di atas tanah Nemfhim harus kembali mengalami penderitaan seperti beribu tahun yang lalu.
Pertempuran ketiga Ras tadi pada akhirnya di menangkan oleh sang penghancur setelah bertahan selama lebih dari sembilan ratus lima puluh ribu tahun.
Disaat kemenangannya atas perang ketiga ras, sang penghancur mengeluarkan sebuah lamda perdamaian
Lamda Perdamaian dibuat oleh sang penghancur dengan menarik beberapa perwakilan dari ketiga ras yang dulu berperang. Dari ras demi human, diwakilkan oleh Falencia yang merupakan anak angkat dari sang penghancur. Sementara ras iblis, diwakilkan oleh Igris yang merupakan keturunan terakhir dari raja iblis Aragous. Dan untuk Ras manusia diwakili oleh enam penyihir yang masing masing dari mereka memiliki penguasaan enam elemen dasar tanah Nemfhim.
Naraku Sang penyihir tanah, Shofia Sang penyihir air, Maxim Sang penyihir api, Luna Sang penyihir kegelapan, Calestia Sang penyihir Cahaya, Argust Sang penyihir angin.
Kedamaian pun mulai dirasakan seluruh ras setelah seribu tahun di tetapkanya Lamda perdamaian. Selama seribu tahun itu pula sang penghancur terus berusaha membangun tali tali persaudaraan antar seluruh ras dangan mengadakan pertemuan rutin setiap lima puluh tahun sekali yang bertempat di negara bergerak tanpa sihir "Flaying Floresst "yang merupakan tanah para demi human dan kerajaan dari Sang penghancur.
"Kirng.... Kring..... Kring.... " Suara bell berbunyi yang menandakan berakhirnya waktu istirahat dan dimulainya jam pelajaran selanjutnya.
Mendengar suara bel yang berbunyi, Farra langsung menutup buku mitologi kuno mengenai sejarah peperangan tiga ras lalu mengembalikannya ke tempat semula.
Saat ini Farra adalah seorang murid tingkat akhir di sekolah perdamaian Arcane Magic School. Farra adalah salah satu keturunan dari enam perwakilan penyihir di daratan Nemfhim. Tepatnya Farra adalah keturunan ke sebelas dari penyihir cahaya Calestia.
Farra memiliki kulit putih dan terlihat seperti bercahaya. Ia juga memiliki tubuh setinggi 180 cm serta memiliki wajah cantik dan berambut putih ke perakkan. Farra mempunyai sifat yang baik dan ramah serta suka menolong tanpa membedakan ras.
" Selamat siang Putri Farra " Sapa murid murid dari Arcane Magic School setiap kali mereka berpapasan dengan Farra.
" Iya. Selamat pagi. " Menyapa mereka kembali adalah kegiatan rutin bagi Farra di setiap ada murid yang menyapanya.
Farra bukanlah satu satunya perwakilan penyihir yang bersekolah di Arcane Magic School. Namun semua perwakilan dari ras manusia, ras iblis dan ras demi human bersekolah di sini.
" Brak...!! " Farra menabrak seorang yang sedang membawa tumpukan buku mengenai ilmu bintang.
" Eh, Laila. Maaf...maaf aku benar benar tidak sengaja menabrakmu " Farra langsung meminta maaf kepada Laila.
Laila adalah keturunan dari penyihir kegelapan Luna yang juga menjadi salah satu perwakilan dari ras manusia.
Laila memiliki kulit tubuh seperti Calestia namun memiliki tinggi badan 170 cm dan memiliki rambut hitam keputihan dengan model potongan setengah bahu.
" Ah... Tidak apa Farra. Ini juga salahku karna membawa terlalu banyak buku " Laila menolak halus permintaan maaf Farra karna ini bukan salahnya.
" Ya ampun, Laila... Sini aku bantu " Seorang menawarkan bantuan.
" Itu tidak perlu, Abel. Saat ini Farra juga sedang membantu " Laila menolak bantuan dari Abel.
Abel adalah keturunan dari penyihir angin Argust. Abel miliki tinggi tubuh 175 cm dan memiliki kulit putih kecoklatan serta memiliki rambut pirang sebatas bahu yang membuatnya terlihat manis.
" Tidak apa Laila. Aku akan membantumu membawa buku ini dengan cepat. Karena kelas kita sama dan pelajaran pun akan segera di mulai aku akan membawa sebanyak yang aku bisa." Abel membawa seluruh buku Laila menggunakan sihir angin miliknya.
" Maaf ya Farra, kami sedang terburu buru jadi sampai jumpa lagi nanti " Setelah mengucapkan permintaan maafnya, Laila langsung berlari menyusul Abel yang telah pergi ke kelas selanjutnya.
" Ya ampun... Mereka berdua terlihat sangat sibuk... Akh iya, kelas selanjutnya... Aku harus bergegas " Setelah melihat Laila dan Abel pergi terburu buru, Farra teringat mengenai kelas yang akan ia ikuti.
Farra berlari melewati deretan kelas menengah untuk sampai ke kelas yang akan ia ikuti. Kelas sihir penguasaan tothem adalah kelas yang akan Farra ikuti.
" Brak...!! " Farra membuka pintu kelas tothem sihir
Suara keras itu membuat murid murid lain langsung melihat ke arah Farra.
"Ah... Syukurlah masih sempat. " Farra terduduk lemas di depan pintu masik kelas totem sihir.
" Farra, apa yang sedang kamu lakukan di sini? " Tanya seorang di belakang Farra.
" Eh.. Sylvi... Apa yang kamu lakukan di sini? " Tanya Farra kepada Sylvia.
Sylvia adalah keturunan dari penyihir air Shofia. Ia memiliki yang ideal dengan tinggi tubuh 165 cm serta memiliki kulit putih kecoklatan seperti Abel. Sylvia memiliki warna rambut biru keputihan serta memiliki wajah cantik yang sedikit cubby.
" Maaf Farra, sepertinya kamu salah memasuki ruang kelas lagi " Sylvia tersenyum didepan Farra.
" Tidak Sylvi. Kalih ini aku sudah masuk ke kelas yang benar. Lihat kan, ini adalah ruang untuk penguasaan sihir tothem. " Farra membela dirinya.
" Farra...! Apa yang kamu lakukan di sini! Ayo cepat ikut aku " Seorang memarahi Farra dan menarik nya menjauh dari kelas sihirnya secara paksa.
" Marlin... Tolong jangan terlalu keras terhadap Farra. " Kata Sylvia kepada Marlin sebelum ia menghilang bersama Farra.
Marlin juga salah satu keturunan dari penyihir yang mewakili ras manusia. Tepatnya Marlin adalah keturunan dari penyihir api Maxim. Ia memiliki tinggi tubuh 180 cm dengan warna kulit coklat eksotis dan memiliki tubuh atletis. Ia memiliki wajah cantik dengan warna rambut merah tebal bergelombang.
" Marlin.....!!! Apa yang kamu lakukan. Seharusnya saat ini aku masuk ke ruang penguasaan tothem sihir..! " Farra mencoba melepaskan Marlin yang menariknya.
" Ya ampun Farra, penguasaan thotem sihir itu dilaksanakan dua hari lalu. Dan sekarang kita akan mengikuti kelas praktik untuk berlatih sihir pertarungan." Marlin menasehati Farra.
" Yah... Aku salah lagi ya, hari ini... " Farra terlihat sedih
" Iya, kamu salah lagi hari ini dan membuatku kerepotan lagi " Marlin menegaskan.
Farra terus beralasan mengenai kesibukan palsunya kepada Marlin sepanjang jalan menuju kelas praktik sihir pertarungan. Marlin yang sudah paham mengenai kebiasaan Farra yang selalu menghabiskan waktu istirahatnya untuk membaca buku kuno di perpustakaan hanya diam dan mengabaikan Farra.
" Rekor baru hari ini, Farra datang setelah sepuluh menit pelajaran di mulai. " Seorang menyapa Marlin dan Farra dari bangku atas ruang latihan.
" Aku tidak perlu catatan waktu seperti itu Nara " Farra menunjukkan ekspresi kesalnya.
" Hehehe... Jangan seperti itu, lagi pula itu bagus untukmu kan? Dari sebelum sebelumnya kamu terlambat dua sampai tiga puluh menit setelah pelajaran di mulai " Nara melompat dari bangku atas ruang pelatihan ke tempat Farra dan Marlin berada
" Jika dipikir lagi. Itu memang bagus " Farra mengacungkan ibu jarinya ke arah Nara.
Nara adalah keturunan dari penyihir tanah Naraku. Dia memiliki tinggi badan sama seperti Slyvia dengan rambut berwarna coklat bergelombang serta memiliki wajah cuby dengan warna kulit putih kecoklatan.
" Ya, itu bagus. Tapi akan lebih bagus lagi jika kamu tidak salah masuk kelas lagi!! Mengerti!! " Marlin memarahi Farra.
" Iya, maaf " Farra menundukkan kepalanya.
* Brruu.....ssh.... * Hempasan angin cukup kuat menerjang mereka bertiga.
" Untuk sekian lama menunggu, inilah saatnya aku menghancurkanmu " Teriak semangat dari salah seorang murid yang sedang melakukan praktik.
" Heh... Itu tidak akan pernah terjadi. Justru, kamulah yang akan aku hancurkan " Jawab lawan dari murid yang melakukan praktik.
" Wah mereka semangat sekali " Farra mendekat ke arah tembok pengaman.
" Ya, setidaknya mereka sudah mulai serius setelah pemanasan tadi. " Kata Nindya sambil menepuk pundak Farra.
" Dari 250x pelatihan, setidaknya 100x kemenangan untuk Irna dan 100x kemenangan untuk Vallea serta 50x pelatihan yang berakhir seimbang " Marlin mendekap kedua tanganya sambil melihat ke arah area pelatihan.
Irna dan Vallea adah dua keturunan dari ras iblis dan ras demi human. Irna adalah keturunan dari raja iblis Igris. Sementara untuk Vallea adalah salah seorang keturunan dari Falencia.
Irna memiliki tinggi 210 cm dengan rambut merah menyala serta memiliki dua tanduk melengkung di atas dahinya. Ia memiliki kulit putih dengan beberapa corak sisik di tubuhnya. Wajahnya garang akan berubah sangat manis ketika ia dalam kondisi yang baik.
Sementara Vallea memiliki tinggi 205 cm dengan rambut pirang bergelombang dangan telinga sedikit runcing, berkulit putih susu dengan wajah yang bulat dan sedikit tembam.
" Menangislah dalam keputusan asaan... Cambuk Hitam!!! " Irna mulai menyerang dangan cambuk berwarna hitam bengan duri merah berapi.
" Itu tidak akan terjadi... Bangkitlah anak anak kesayanganku... Twins Mountain Golem!! " Vallea menghentakkan tanah yang ia pijak dan setelahnya dua golem raksaksa langsung melindungi tubuh dari Vallea.
" Buuuummm.......!!!" Kertasnya benturan membuat ruang pelatihan tertutup oleh debu yang berterbangan.
Di atas arena pelatihan, Farra melihat telinga Irna dan Vallea sedang di tarik oleh seorang pria dewasa dengan serangan guru.
" Irna, Vallea. Bukankah bapak sudah mengatakan kepada kalian berdua untuk menahan diri?! " Kata pria dewasa itu.
Irna dan Vallea hanya terdiam
" Untuk hukuman kalih ini, akan bapak serahkan kepada Ibu Floria sebagai wakil kepala sekolah mengeti!! " Setelah guru itu memarahi Irna dan Vallea, guru itu langsung lenyap kedalam sebuah bayangan.
" Hu...uh... Mengerikan sekali aura dari Pak Dryan. " Kata Irna setelah Pak Dryan pergi.
"Hust... jangan keras keras. Nanti jika dia kembali bagai mana " Kata Vallea agar Irna berhenti membicarakan gurunya.
" Baiklah semua, pelajaran hari ini cukup sampai di sini. Karna untuk yang kesekian kalinya Irna dan Vallea kembali merusak ruangan ini. " Guru pengawas ruang pelatihan memberikan pengumuman.
" Baik Bu Laura " Jawab semua murid yang sedang menunggu giliran pelatihan.
" Nah. Skarang, untuk kalian berdua segeralah melakukan perjalanan baikan seperti biasa ya. " Bu Laura menatap Irna dan Vallea dengan wajah mengerikan.
Setelah Bu Laura mengatakan hal tadi dengan wajah yang mengerikan, ia kembali merubah wajahnya menjadi lebih cantik dan damai. Bu Laura dan Vallea merupakan ras demi human tipe high elf. Sementara untuk Pak Dryan adalah ras iblis dengan tipe shadow demon.
" Irna, Vallea. Tadi itu sangat luar biasa " Farra mengacungkan kedua ibu jari tangannya ke arah Irna dan Vallea
" Ya, Farra benar. Dan untuk pelatihan hari ini sepertinya kalian kembali seri" Marlin mencoba membantu Irna dan Vallea kembali berdiri.
" Jadi untuk pelatihan hari ini, kita kembali seri ya. " Vallea terlihat murung.
" Tidak perlu murung begitu Valle, cerialah sedikit. Karena tadi itu, kamu sudah melakukan hal yang lebih hebat dari sebelum sebelumnya " Irna merangkul Vallea dan mencoba menghiburnya.
" Eh iya, Nara, biskah kamu membantu kami lagi hari ini? " Irna melambaikan tangannya ke arah Nara yang sedang berjalan mengendap endap untuk keluar dari ruang pelatihan.
* Plak * Nara menepuk dahinya sendiri.
"Seharusnya tadi aku langsung berlari saja. "Nara bergumam
" Ya, baiklah. Tapi kalian harus ikut membantu. " Tanya Nara kepada Irna.
" E.... Maafkan kami Nara. Bukankah kamu tadi dengar apa yang Bu Laura katakan? " Irna mencari alasan.
" Memangnya apa yang beliau katakan? " Tanya Nara.
" Yah, kata beliau. Aku dan Valle harus segera menemui Bu Floria " Jawab Irna.
" Ya sudah... Pergilah. Sebagai ganti Irna dan Vallea, kalian berdua harusnya tidak sibukkan? " Nara membalikkan tubuhnya dan mencoba untuk mengajak Farra dan Marlin untuk membantu.
" Maaf Nara, katanya Farra sedang ada urusan dengan komite guru. " Marlin mendorong Farra pergi dari ruang pelatihan.
" Ya ampun... Aku lagi yang kena tugas membersihkan kekacauan " Nara terduduk murung.
Setelah semua orang pergi meninggalkan ruangan pelatihan. Nara mulai meluapkan seluruh emosinya di dalam ruangan itu.
* Dbuuuum..... dbuuummm..... dbuuuummmm..... !!! " Nara berkali kali menghentakkan kakinya ke lantai ruang pelatihan sambil berkata bahwa ia membenci mereka.
Merasa bahwa ada yang aneh dengan ruang pelatihan, Sylvia yang sedang berjalan menuju kantin mulai berhenti dan mencoba melihat apa yang sedang terjadi.
" Aku benci....!!! Aku benci....!!! Aku benci mereka semua!!! " Nara terus meluapkan emosinya.
Melihat Nara dalam kondisi seperti itu, Sylvia mulai mendekati Nara dengan tujuan untuk membuat Nara bisa lebih tenang.
" Nara? " Sylvia memanggil Nara yang sedang marah.
" Akh... Iya, Sylvi. Ada apa? " Nara mencoba menutupi kemarahannya.
" Kamu tidak apa apa? " Tanya Sylvia khawatir.
" Ak....aku aku tidak apa apa. Oh iya, Sylvi. Apakah ada yang bisa aku bantu? " Nara mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
" Seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu Nara. Dan jangan bilang bahwa kamu tidak apa apa. Karena kamu terlihat kesal jadi aku diam diam memperhatikanmu tadi. " Jawab Sylvia.
" Iya... Itu.... Aku...aku tidak apa apa Sylvi. Mungkin itu tadi cuma perasaanmu saja " Jawab Nara mengelak.
" Ya sudah kalau memang kamu masih berbohong. Memorial Miror " Sylvia menggunakan sihir cermin ingatan untuk membuktikan kepada Nara, bahwa Ia melihat seluruh kekesalan Nara terhadap sesuatu.
" Apakah kamu masih mau berbohong kepadaku? " Sylvia kembali bertanya
" Sylvi.... Maafkan aku.... Ak...aku... aku sempat kesal kepada Farra, Marlin, Irna dan Vallea " Merasa bahwa dia tidak bisa lagi menutupi kesalahannya, Nara pun memeluk Sylvi untuk menenangkan amarahnya.
" Cup....cup....cup.... Sudahlah Nara... Jangan menagis lagi. Jika kamu mau menceritakan masalahmu, mungkin nanti aku bisa menemukan solusinya " Sylvia mencoba menenangkan Nara yang sedang menangis.
Setelah Nara cukup tenang, Ia pun mulai bercerita kepada Sylvia mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Nara bercerita bahwa ia sangat kesal kepada Irna dan Vallea yang selalu menyuruhnya memperbaiki ruang pelatihan di setiap kali mereka berdua menghancurkannya.
Nara menjelaskan bahwa ia sangat kesal karena dari semua kerusakan yang mereka berdua sebabkan setidaknya hampir semuanya ia yang memperbaiki. Oleh karna itu ia selalu mencoba memperkecil daya rusak mereka berdua dengan cara memberikan mereka berdua sihir gravitasi menengah secara diam diam agar mereka berdua mendapatkan hasil pertarungan yang seimbang.
Mendengar hal itu dari Nara, Sylvia terkejut dan mencoba mencari sebuah cara agar ia mampu menghilangkan amarahnya kepada Irna dan Vallea.
" Mengenai masalah ini, akan aku bantu untuk mencari solusinya. Untuk sekarang mari kita makan dulu. Lagi pula kan waktu istirahanya masih tersisa sepuluh menit. " Sylvia mengajak Nara untuk makan siang di kantin sekolah.
Ketika hari berakhir, seperti biasanya Farra, Nara, Marlin, Laila, Abel, Sylvia, Irna dan Vallea selalu pulang bersama. Mereka mulai melakukan itu ketika mereka baru saling mengenal ketika masih menjadi murid tingkat dasar di Arcane Magic School. Ketika itu mereka mulai mencari tahu mengenai siapa saja yang menjadi perwakilan dari pelindung perdamaian secara tidak sengaja mereka bertemu dan pada akhirnya memutuskan untuk saling menjaga satu sama lain.
" Kya.... Benar benar hari yang melelahkan. " Irna merenggangkan otot otot tanganya
" Iya... Itu benar.. Ini memang hari yang berat. Terlebih lagi mengenai hukuman dari bu wakil ketua. Heeeeeree... Benar benar membuatku merinding " Vallea menambahkan.
" Tenanglah kalian berdua, mungkin itu cuma gertakan seperti yang sebelum sebelumnya " Marlin mencoba menghibur mereka
" Memang apa yang beliau katakan? " Tanya Abel mencari tahu.
" Katanya untuk hukuman kalih ini, bukan hanya kami yang akan di hukum tapi kita semua " Jawab Irna sambil menyenderksn kepalanya pada Vallea
" Apa?! Kenapa bisa seperti itu? Setehuku hanya kalian berdua yang membuat masalah. Kenapa kami kena imbasnya " Nara meluapkan emosinya
" Heeeeetrrrmmmmm " Irna mencubit pipi Nara dengan gemas.
" Hentikan itu Irna, nanti pipi Nara bisa semakin tembam jika kamu terus mencubit nya seperti itu " Sylvia mencoba untuk menengahi mereka berdua sebelum hal buruk terjadi.
" Iya, baiklah. Maafkan aku ya Nara. Kamu memang menggemaskan " Setelah Irna berhenti mencubit Nara, Irna langsung mengangkat Irna dan memeluknya serta menggosokkan pipinya ke pipi Irna karna gemas.
" Oh iya, mengenai hukuman tadi, bisakah kamu jelaskan lebih mendetail Vallea " Farra bertanya kepada Vallea karena Irna sedang sibuk meengadu pipi dengan Nara.
" Ya, baiklah. " Vallea mencoba mengingat apa yang di katakan oleh bu wakil kepala sekolah.
Setelah Vallea menjelaskan semua yang ia ingat, mereka ber delapan sampai di asrama tempat mereka tinggal. Disana mereka mencoba mendiskusikan tentang apa yang akan mereka lakukan untuk menghadapi hukuman mereka.
" Jadi Floria, apakah kamu sudah yakin bahwa ini adalah saatnya mengirim mereka ke sana? " Tanya seorang kepada Floria
" Sebenarnya, aku merasa tidak yakin mengenai mereka. Tapi mau bagaimana lagi. Saat kita semua pergi ke sana pun kita masih di usia lebih muda dari mereka. Jadi, mungkin beliau akan marah karna kita harus membuatnya menunggu lebih dari tiga tahun. " Floria menjawab pertanyaan Laura sambil mengintip keluar jendela untuk melihat langit jingga.
" Mungkin beliau akan marah jika kita mengatakan bahwa mereka belum siap. " Seorang memberikan sanggahan.
" Apakah kalian tidak ingat tentang apa yang terjadi ketika beliau marah? " Floria menanyakan kejadian yang mereka alami di waktu yang telah lalu.
" Tentu aku ingat. Beliau dengan mudahnya melenyapkan Mura, Nindya, Azgar dan Carl " Laura menunjukan kesedihannya.
" Jadi apakah kamu sudah mengingatnya, Dryan? " Tanya Floria kepada Drayan yang tadi menyangkalnya.
" Maaf. Seharusnya aku lebih mengingat hal itu." Drayan menyndukan kepalanya sambil meminta maaf.
" Tapi, Floria. Memang apa yang membuat beliau semarah itu? " Laura bertanya tentang kejadian pelenyapan itu
" Mengenai itu, aku tidak bisa menceritakannya Laura. Karena aku pun tidak tahu. " Floria menjawab.
" Jadi siapa yang mengetahui asal dari kemarahan itu? " Drayan bertanya
" Sudah aku bilang. Aku tidak tahu. Tapi mungkin..... Sarah mengetahui tentang hal itu. " Floria menduga duga
" Sarah? Bagaimana mungkin? Bukankah! " Dryan terkejut.
" Itu benar, Dryan. " Jawab Floria
" Jadi, selain beliau dan Sarah. Tidak ada yang tahu mengenai asal kejadian itu " Laura menyimpulkan.
" Itu mungkin benar, Laura. Aku tidak mengetahui apa yang pasti. Jadi, kita hanya hanya bisa berharap tentang keberhasilan anak anak itu menjalankan ujiannya dan kembali dengan selamat tanpa kehilangan apapaun " Floria kembali duduk di tempatnya.
" Apakah kita harus memberi tahu kan hal ini kepada mereka? " Tanya Dryan kepada Laura dan Floria.
" Tentang hal ini, aku akan memberi tahukannya besok kepada mereka. " Jawab Floria.
" Karna pembahasan hari ini sudah selesai. Maka aku nyatakan bahwa rapat ini telah berakhir. " Floria menambahkan.
Malam itu, Floria datang mengunjungi Sylvia untuk memberitahukan beberapa hal mengenai hukuman yang akan mereka jalani serta sesuatu yang berhubungan dengan Sarah.
"Swarp" Sebuah portal terbuka di sebelah tempat tidur Sylvia.
" Sylvia, apakah kamu sudah tidur? " Floria keluar dari portal itu dan mengusap kepala Sylvia yang sedang tertidur.
Merasa bahwa ada usapan tangan yang tidak asing baginya, , Sylvia pun mulai membuka matanya.
" Wah, Nenek. Apa yang nenek lakukan malam malam begini? " Sylvia bertanya sambil mengusap kedua matanya.
" Maaf ya, mengganggu kamu tidur. Nenek mau membicarakan sesuatu yang penting denganmu. " Floria membantu Sylvia merapikan rambutnya.
Setelah itu, Floria menjelaskan kepada Sylvia mengenai hukuman yang akan mereka lakukan sekaligus menjelaskan mengenai adanya sebuah ujian akhir bagi mereka. Floria menjelaskan bahwa Sylvia dan teman temannya akan pergi ke tempat yang di sebut Flaying Florest dan di sana mereka juga akan bertemu dengan sosok yang di kenal dengan sebutan Sang Penghancur.
" Benarkah itu, Nek? Jika Farra mengetahui hal ini pasti dia akan sangat senang" Sylvia sangat bersemangat.
" Itu benar, sayang. Tapi kamu jangan memberi tahu kan hal ini kepada teman temanmu. " Floria menempelkan jari telunjuknya ke mulut Sylvia untuk berhenti bicara sejenak dan memelankan suaranya.
" Baik, Nek. " Sylvia berkata lirih sambil tersenyum senang.
Di saat Floria akan kembali ke tempatnya, Sylvia tiba tiba bertanya tentang kebenaran atas berita meninggalnya ibunya. Sylvia berkata bahwa ia sempat menemukan sebuah surat lusuh yang baru ia temukan beberapa minggu lalu di ruangan Floria.
Merasa bahwa sudah waktunya ia mengungkapkan sebuah kebenaran, Floria pun mulai mengeluarkan sebuah sihir ingatan untuk membantunya dalam menjelaskan kebenaran tentang ibunya.
" Memorial Pixsi " Floria merapal sebuah mantra sihir untuk membuat bayangan mengenai ingatan miliknya bersama kelompoknya.
" Nah, Sylvi. Ini adalah kebenaran yang ingin kamu ketahui. " Floria menunjukan sebuah bayangan dimana sebuah kelompok kecil berisi delapan orang yang terdiri dari lima orang perempuan dan tiga orang laki laki.
" Nenek, apakah nenek bisa menjelaskan siapa mereka? " Sylvia bertanya kepada Floria.
" Dengarkan nenek baik baik ya. Sylvi. " Floria mengusap kepala Sylvia dan setelahnya mulai menjelaskan.
" Tiga orang yang berada di depan ini adalah nenek, Drayan dan Laura. " Floria mulai menjelaskan.
" E.... Yang benar. Anak laki laki ini adalah Pak Dryan? " Sylvia menunjuk ke arah bayangan seorang anak laki laki berkacamata dengan rambut hitam dibelah tengah dan terlihat lemah.
" Hehehe.... Benar sayang. Itu adalah Dryan. " Floria menegaskan jawabanya.
" Ya ampun... Terlihat berbeda sekali dengan Pak Drayan saat ini.... Biar Sylvi tebak, ini pasti Nenek. Dan yang ini pasti Bu Laura. " Dengan semangatnya Sylvia menunjuk seorang perempuan ber rambut biru kecoklatan yang di ikat kuncir kuda sebagai Floria dan menunjuk seorang wanita berambut pirang bergelombang adalah Laura.
" Kamu benar Sylvi. Itu adalah nenek ketika masih muda dulu." Floria mengusap kepala Sylvia dan memujinya
" Lalu lima orang yang di belakang itu siapa? " Sylvia penasaran.
" Dia yang ber rambut merah kecoklatan adalah Mura. Dia adalah perempuan yang cukup baik dan merupakan dambaan banyak pria." Floria menunjuk ke arah bayangan di sisi kanan.
"Lalu sampingnya ada Azgar. Dia adalah laki laki yang kuat yang selalu membuat masalah. " Floria melanjutkan.
" Lalu yang ini adalah Nindya. Dia adalah seorang perempuan yang sulit di atur dan selalu membuat kami kerepotan." Floria menunjuk ke arah bayangan perempuan di sisi kiri
"Dan di sampingnya ada Carl. Seorang pria tampan berambut putih mengkilap yang baik, pengertian dan di sukai oleh banyak perempuan di sekolah kalau itu. " Floria menambahkan.
" Lalu yang berada di tengah ini? Apa mungkin ini ibuku? Nek? " Sylvia bertanya sambil menunjuk ke arah bayangan seorang wanita berambut biru muda yang memakai topi khas pelaut.
" Benar, Sylvia. Dia adalah ibumu, Sarah. Dia adalah perempuan yang hebat seperti kamu. " Floria menunjuk ke arah bayangan yang sama seperti yang di tunjuk Sylvia.
Saat Sylvia mulai bertanya mengenai apa yang terjadi kepada ibunya, Floria hanya mencoba mengalihkan pertanyaan itu dengan topik lainnya.
Karna Sylvia terus saja bertanya hal yang sama, Floria akhirnya mulai menjelaskan apa yang ia tahu. Merasa tidak puas atas penjelasan dari Floria, Sylvia mulai marah dan berusaha mengusir Floria dari kamarnya.
Floria yang merasa bersalah dan tak mampu berbuat apapun atas ketidak tahu annya mengenai masalah yang sebenarnya pada akhirnya meninggalkan Sylvia larut dalam kesedihan.
Beberapa hari sebelumnya, Sylvia sempat sibuk untuk mempersiapkan barang barang yang akan di bawanya untuk menghadapi hukuman yang di beritahukan oleh Vallea. Bukan hanya Sylvia saja yang sibuk. Namun Farra, Lili dan Nara pun ikut sibuk mempersiapkan keperluannya masing masing.
Di sisi lain Abel, Irna, Marin dan Vallea justru hanya bermain main dan menganggap bahwa hukuman itu hanya gertakan dan tidak mungkin benar benar di lakukan karna status mereka yang merupakan perwakilan dari ras manusia, ras ibils, dan ras demi human untuk Lamda perdamaian.
Sehari sebelum di mulainya hukuman, Abel, Irna, Marlin dan Vallea mulai sibuk menata keperluan mereka. Irna dan Vallea sibuk dengan berbagai macam potion yang akan mereka bawa. Sementara Abel dan Marlin sibuk membeli beberapa makanan kaleng untuk di bawa dan di makan serta beberapa lagi untuk di jadikan sebagai cadangan agar mereka bisa bertahan hidup di tempat yang akan di tuju.
Mengingat isi surat yang telah di bagikan, tidak heran bagi mereka berdua untuk membawa makanan sebanyak-banyaknya karna di jelaskan dalam surat itu bahwa tempat yang menjadi tujuan mereka tidak memiliki akses jalan dan toko toko seperti kota maupun desa desa di penjuru negri.
Di saat Abel dan yang lain masih sibuk menata barang mereka, Sylvia, Nara, Farra dan Laila justru bertanya tanya mengenai tempat yang akan mereka tuju. Laila yang paranoid membayangkan bahwa tempat itu adalah tempat yang mengerikan karena tidak ada sihir dan mungkin terdapat banyak monster pemakan manusia.
Sementara Farra yang berfikiran positif sangat berharap bahwa tempat yang mereka tuju adalah tempat legendaris Flaying Florest. Mendengar harapan Farra, Sylvia yang sebenarnya tahu mengenai tempat tujuan itu hanya tertawa dan mencoba membohongi Farra.
Nara yang bersikap netral justru berharap bahwa di tempat itu, ia tidak harus berurusan dengan masalah yang di sebabkan oleh Irna dan Vallea.
Mendengar harapan dari Nara, Farra, Laila dan Sylvia justru meledek Nara dan mencoba membuatnya lebih ruileks dan dapat menikmati setiap alur yang akan mereka hadapi.
Di sisi lain Sylvia merasa bersalah karna menutupi kebenaran yang ia ketahui. Tapi mengingat bahwa itu adalah janji yang ia buat bersama Floria. Maka Sylvia hanya bisa berpura pura tidak mengetahui kebenaran itu.
Pada akhirnya, hari dimulainya hukuman pun datang. Di hadapan anak anak dari perwakilan ketiga ras itu berhadapan dengan empat belas orang asing dari ketiga ras dalam tipe yang bermacam macam. Mereka ber delapan yang semula sangat yakin bisa menghadapi hukuman mereka, kini mulai kehilangan keyakinan itu.
Semakin lama mereka menatap ke arah ke empat belas orang asing itu, pengelihatan mereka mulai memburam yang pada akhirnya kesadaran diri mereka pun menghilang bersamaan dengan kegelapan yang menyelimuti merek.
Tidak lama setelahnya kesadaran mereka kembali. Namun mereka terkejut karna sudah berada di tempat yang berbeda dengan dua orang asing yang sedang berdiri dihadapan mereka. Salah satu dari mereka terlihat jelas adalah seorang perempuan cantik dengan sebuah sayap berkilau serta memakai baju sutra berwarna hijau yang serasi dengan ikat kepala dari akar tumbuhan. Sementara satu orang lagi terlihat begitu mengerikan dengan sebuah mata merah yang menatap mereka serta sebuah aura api berwarna hitam di seluruh tubuhnya.
" Selamat datang di tempat ujian kalian " Seorang yang bermata merah itu mengangkat kedua tangan hitamnya sembari menyambut mereka.
Mereka yang masih dalam posisi lemah hanya bisa diam seolah terkena efek dari orang itu.
Tidak lama setelah orang itu menyambut mereka, orang itu langsung menjelaskan aturan yang harus mereka patuhi serta perjanjian ala yang akan mereka pilih. Setelah selesai menjelaskan, orang itu membakar seluruh area di sekitar mereka dan setelahnya orang itu berkata
" Selamat memulai ujian pertama kalian ! " Kata orang itu dan setelahnya ia menghilang bersama seorang perempuan tadi.
Setelah orang itu pergi, tubuh mereka kembali ambruk dan ingatan mereka seolah terhapus tanpa sisa.
Dari kedelapan anak anak tadi, hanya Sylvia yang masih mengingat seluruh kejadian yang menimpanya dan juga teman temannya. Namun ketika Sylvia mulai menjelaskan, teman temannya yang kehilangan ingatan justru mulai berpencar dan menghilang dalam hutan yang terbakar.
Sylvia yang bingung pada akhirnya terduduk lemas sambil mencari buku mengenai sihir pengembali ingatan. Namun yang ia temukan adalah sebuah surat berisikan bertuliskan bahwa " Untuk mengembalikan ingatan mereka, engkau yang masih tersadar harus membangun ulang ikatan batin melalui kepercayaan dan keyakinan satu sama lain. "
Setelah cukup lama mencoba memahami isi pesan itu, Sylvia pun mulai bangkit memulai petualangannya dengan tujuan untuk menyatukan kembali seluruh sahabatnya sekaligus menyatukan kembali ke delapan perwakilan dari Lamda Perdamaian.