"Kenapa kau suka sekali cidera?" Gadis itu mendengus kesal. Ia lantas merapikan peralatannya kemudian menyimpannya.
Choi Jungkook, pria itu tersenyum singkat. Sejak dirinya menjalani wajib militer semua terkesan monoton baginya. Tapi tidak saat bertemu dokter cantik, Shin Zoeya atau Zoe. Jungkook jadi semangat, terkadang sengaja memilih jalan yang memutar agar bisa lewat di depan klinik pelatihan untuk sekedar melihat Zoe tengah sibuk duduk di kursi kerja nya.
"Tentu saja untuk bertemu dengan mu." Jungkook terkekeh seperti tidak bersalah. Ia menatap gadis di depannya. "Habisnya kau cantik sekali, aku jadi semangat cidera nya." Ujar Jungkook lagi. Gadis itu membulatkan matanya.
Pria di depannya ini aneh, semangat sekali kalau cidera ataupun sakit sedikit saja. Bahkan setiap Minggu terhitung Jungkook adalah pasien setia yang selalu rutin datang ke klinik. Aneh, Biasanya pria itu akan datang dengan ucapan-ucapan manis nya.
"Masa wajib militer mu hampir selesai ya?" Dokter itu membelakangi Jungkook.
Jungkook yang awalnya tersenyum kini terdiam. Jika menghitung waktu memang sudah hampir selesai masa wajib militernya, sebentar lagi ia harus pulang dan menjalani kegiatan normalnya, menjadi seorang idol.
"Iya, Lima hari dari sekarang." Ujar Jungkook dengan nada rendah. Tapi kemudian tersenyum cerah. "Kenapa Noona, kau takut merindukan ku ya?" Zoe menarik napas dalam-dalam. Entah kenapa setiap Jungkook memanggilnya Noona selalu memberikan efek sengatan hangat yang langsung membuat pipi nya memanas.
"Sudahlah lupakan saja." Ujar Zoe kemudian.
"Tapi Noona aku tidak mungkin bisa melupakan mu." Zoe langsung memandang tajam ke arah Jungkook membuat pria itu langsung terkekeh.
Hari terus berganti, tak terasa hari ini adalah hari terakhir Jungkook menjalani wajib militernya. Hari ini agenda yang akan mereka lakukan adalah Hiking menaiki gunung.
Sebelum berangkat, Jungkook sempat-sempatnya datang ke klinik. Melihat Zoe yang sudah duduk manis di kursinya.
"pstttt, Noona..... psttt." Ujar Jungkook pelan-pelan. Takut ada pelatih yang melihat, bisa-bisa Jungkook dihukum naik turun gunung berkali-kali. Tak lama kemudian Zoe menoleh, Jungkook lantas melambai agar Zoe mendekat. Zoe menghela napasnya. Ada-ada saja yang anak ini lakukan. Out of the box. Ia tahu Jungkook pasti diam-diam datang kemari.
"Apa?" Tanya Zoe tanpa basa-basi. "Sttt, Noona pelan-pelan bicaranya, nanti ada yang mendengar." Ucap Jungkook dengan jari telunjuk berada di depan mulut. "Yasudah kau mau apa?" Tanya Zoe dengan tangan melipat di depan dada.
"Noona, aku nanti naik ke gunung. Kau ingin dibawakan sesuatu tidak?" Ucap Jungkook dengan mata membulat, gemas. Sementara Zoe mengerjap berulang kali. Ini maksudnya Jungkook bagaimana sih, dia kan pergi ke gunung bukan ke pasar.
"Terserah, cepatlah pergi nanti ada yang melihat." Ujar Zoe akhirnya. Jungkook sempat terdiam tapi kemudian tersenyum cerah. "Permintaan yang bagus Noona, baiklah Jungkook mu ini akan mencarikan mu 'Terserah' itu." Jungkook langsung berlari secepat kilat meninggalkan Zoe yang terdiam bingung.
Jungkook kembali dalam barisan dengan senyum mengembang. Tak lama setelahnya pelatih mengintruksikan mereka untuk segera melakukan Hiking. Mereka bebas menikmati pemandangan, karena ini hari terakhir, jadi mereka dibebaskan asal tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
Jungkook pun paling semangat, berjalan di depan dengan gagah. Tak lupa membayangkan wajah Zoe yang tersenyum ketika nanti Jungkook membawakannya sesuatu. Tapi sesaat kemudian senyumnya luntur. Ini dia masalahnya, ia harus mencarikan apa untuk Zoe? tidak mungkin ia memburu rusa kan? Atau menebang pohon lalu ia berikan pada Zoe. Sangat tidak romantis.
Ia menoleh ke samping, tepat pada teman sekamarnya, Kim Daehyun. "Hyung!" Panggil Jungkook. Daehyun menoleh ke arah Jungkook. "kenapa?" Tanya Daehyun.
"Kau pernah berkencan tidak?" Daehyun sebenarnya sama seperti Jungkook, publik figur bedanya Daehyun adalah seorang aktor. "Pernah." Ujar Daehyun. Ia memang pernah sekali berhubungan dengan sesama publik figur itupun tak lama, sebab susah sekali berkencan ketika popularitas sedang di puncak. "Memangnya kenapa?"
"Hyung, kau biasanya memberikan apa pada kekasihmu?" Tanya Jungkook, terlihat polos. Daehyun saja sampai gemas ingin menggelindingkan Jungkook ke jurang. Tapi tidak tega, kasihan adik kecil ini. "Aku memberikannya tas, pakaian, perhiasan, dia suka yang mahal-mahal." Ujar Daehyun. Jungkook seketika memicing. Di gunung ini di bagian mana Jungkook bisa membeli tas, pakaian, perhiasan? Ia kemudian menggeleng kepalanya. "Hyung, jawaban mu tidak membantu sama sekali." Ucap Jungkook.
Daehyun sontak menautkan alisnya, tapi tak lama kemudian tertawa cukup keras. "Wah Jungkookie, Kau masih mengincar dokter Shin ya?" Tanya Daehyun, hampir dua tahun menjalani wajib militer membuat mereka dekat. Hingga Daehyun tau jika Jungkook menyimpan rasa untuk Zoe.
"Hyung, aku sedang bingung, jangan diajak bicara." Ucap Jungkook kesal. Matanya terus berpendar mencari sesuatu yang bisa ia bawa untuk menyatakan cintanya pada Zoe. Sepanjang perjalanan Jungkook hanya melihat pohon Pinus dan juga Beberapa pohon lainnya. Semak belukar dan juga batu. Ah, Jungkook rasanya bingung.
Mengamati ke bawah, tepat pada kakinya Jungkook melihat buah Pinus. Tapi tidak mungkin juga ia membawa buah Pinus untuk ia berikan pada Zoe, untuk apa? Jadi Jungkook lantas menendangnya hingga mengenai semak-semak. Jungkook menatap lama, mengamati semak-semak tersebut terlihat berbeda.
"Hyung, apa itu?" Daehyun lantas menoleh menuju arah pandang Jungkook. "Bunga matahari, masa kau tidak tahu sih?" Jungkook mengamati lagi ke arah yang sama, setelah Daehyun berbicara kenapa terlihat jelas jika itu bunga matahari, padahal tadi yang jungkook lihat hanyalah warna kuning diantara hijau. Mungkin Jungkook harus memeriksakan mata nya setelah ini.
Tapi kembali lagi pada bunga matahari, Jungkook jadi punya ide. Bawa itu saja, bagus kok bunga nya besar berwarna kuning. Setidaknya lebih baik dari sekedar buah Pinus. Jungkook menjentikkan jarinya.
"Ah Hyung, kali ini jawaban mu membantu."
.
.
.
.
.
Zoe melepas kacamatanya, hari ini sibuk sekali. Ia kemudian melepas jas putih miliknya. Meregangkan tubuhnya lantas keluar.
"Noona!"
"Oh, astaga."
"Jungkook, kau mengagetkan ku." Ujar Zoe kesal. Jungkook hanya terkekeh kecil. Lalu menyodorkan tangannya yang membawa satu tangkai bunga matahari berukuran besar lengkap dari daun, batang, sampai akar. "Ini untuk Noona, dariku. Ayo ucapkan terimakasih kepadaku." Ujar Jungkook dengan senyum lebar yang menyebalkan, tapi juga menggemaskan.
"Terimakasih." Ucap Zoe menurut agar cepat.
Tak disangka setelannya Jungkook berlutut. Menengadah memandang Zoe dengan tangan masih memegang bunga matahari. Tatapannya dalam, serius sangat berbeda dengan Jungkook si bocah nakal yang suka menggoda.
"Noona, besok aku akan pulang ke rumah. Awalnya aku memang ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Tapi tidak setelah aku menemukan rumahku disini. Noona, mungkin aku memang jarang serius. Tapi hari ini, dengan bunga matahari yang baru saja ku cabut dari atas gunung tadi, aku ingin mengatakan perasaan ku." Jungkook menjeda kalimatnya, Ia tersenyum kecil.
"Noona, aku mencintaimu." Ucap Jungkook dengan pandangan teduh. Tersirat tulus yang mendalam hingga Zoe terdiam beberapa saat. Terpaku pada netra coklat pria di depannya ini.
Setelahnya hening beberapa saat sampai Zoe tersenyum, ia bahkan menyeka ujung matanya yang berair. Entah kenapa suasananya jadi begini. Ia kemudian menuntun Jungkook untuk berdiri. "Bocah ini sudah besar ternyata." Ujar Zoe dengan kekehan. Jungkook mendengus. "Noona, aku serius!"
Zoe menatap Jungkook cukup lama. Jungkook terkejut ketika Zoe memeluknya teramat erat. "Jangan terlalu manis, nanti aku rindunya semakin berat." Ucap Zoe, ia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Jungkook. sesaat Jungkook merasa basah pada bagian dadanya, Zoe menangis membasahi bajunya. Tapi itu bukan masalah besar sebab Jungkook sekarang terdiam tengah mencerna maksud dari perkataan Zoe.
"Apa itu artinya kau juga mencintai ku?" Tanya Jungkook.Zoe menggigit bibir bawahnya, astaga memalukan sekali, bisa-bisanya pria di depannya ini tidak peka sama sekali. Zoe mengangguk perlahan walaupun ragu. Tapi hal tersebut langsung membuat Jungkook tersenyum sangat lebar. Bersorak, lalu membalas pelukan Zoe tak kalah erat.
"Terimakasih, Noona."