Waktu.
Kesia-siaan terbesar telah ia lakukan tanpa sadar. Bermain bebas tanpa rasa tanggung jawab terhadap hidupnya sendiri.
Nestapa tanpa bisa ditarik kembali, penyesalan yang tiada memiliki arti.
Kilat tajam matanya menyiratkan kesedihan dan kecewa takala melihat pasangan itu memadu kasih di kamarnya. Pria tampan itu, Elmar dan wanita itu Zamira. Mereka adalah tunangan dan sahabat baiknya.
Tunggu, lebih tepatnya mantan tunangan dan mantan sahabat baik.
Saat ini keduanya sedang menjalani masa bulan madu, setelah bersanding dalam ikatan pernikahan. Akhirnya, setelah melalui perjuangan panjang, mereka bersama.
Apakah mereka menghianatinya? Jawabannya, tidak!
Elmar dan Zamira berhak memiliki kebahagiaan itu. Mereka bersama karena mereka saling mencintai satu sama lain.
Di sini, dialah yang bersalah. Karena keegoisannya, dia memisahkan sepasang kekasih itu. Tanpa memperdulikan perasaan mereka sedikit pun.
"El, Zaza,... maafkan aku. Seharusnya aku tak memisahkan kalian berdua. Karena keegoisanku kalian harus melewati masa-masa sulit. Jika saja waktu dapat berputar kembali, aku tidak akan membuat keadaan menjadi sulit untuk kalian berdua. Jika aku dapat kembali ke masa itu, aku akan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kalian. Jika aku bisa mengulang waktu,..."
Dengan penyesalan memenuhi hatinya Verena memejamkan mata.
****
"Ve, kau mau pesan apa?"
Pertanyaan itu terlontar dengan lembut dan juga ringan, seperti angin menepuk wajah. Namun bagi Verena, kalimat singkat itu bagaikan mantra ajaib yang mampu menyihir dirinya.
Jiwa Verena yang melayang- layang dalam dunia kehampaan terguncang oleh mantra tersebut. Selanjutnya, tangan tak kasat mata hadir entah dari mana, dan mencengkram pergelangan tangan kanannya.
Verena belum bertanya apa- apa saat dirinya ditarik lembut,..
Satu detik kemudian matanya yang terpejam terbuka lebar.
Suara itu, seperti suara,...
"Hei!Bumi memanggil Verena untuk kembali. Bisakah kau mendengarku Halo,.. halo!"
Pupil kelabu Verena melebar melihat telapak tangan besar tiba- tiba ada di depan matanya. Begitu dekat sehingga ia dapat merasakan angin darinya.
Kebisuan Verena sepertinya telah membuat seseorang kehilangan kesabarannya. Dia bermaksud mengembalikan jiwanya yang tersesat entah ke mana dengan melambai- lambaikan tangannya.
Yang tidak diketahui pria itu adalah saat ini Verena tengah syok dengan situasi dirinya sendiri.
Kejadiannya begitu cepat dan tanpa pemberitahuan apa- apa.
Dada Verena mengalun konstan. Meski sedikit lebih cepat dan lebih keras.
Irama itu berasal dari jantungnya. Ya, saat ini fokus Verena masih kepada suara jantungnya yang berfungsi baik.
Bagaimana jantungnya bisa berdetak kembali?Apakah dia tidak salah dengar?
Apa yang sebenarnya sedang terjadi,...
Ketidakpedulian Verena awalnya membuat pria itu kesal, namun sikap diamnya terus berlanjut membuat pria itu menjadi kuatir.
"Ve, kau tidak apa-apa?"Pria bernama Elmar itu merasa kesunyian Verena sedikit menjadi aneh.
Karena dia tidak dapat memahami apa yang tengah bergejolak dalam benak Verena.
Keheranannya dapat dimaklumi karena perubahan Verena terjadi tiba- tiba persis di depan matanya.
Sepuluh menit yang lalu Verena begitu galak dan memaksanya duduk di dalam cafe. Tapi setelah duduk, gadis itu berubah 180 derajat menjadi pendiam seperti orang linglung.
Apa mungkin Verena bertemu dengan hantu di dalam cafe dan menjadi takut karenanya?
Gila! Elgar tak percaya hal- hal berbau mistis seperti itu.
Karena pergantian suasana hati Verena yang mendadak, kekesalan yang dirasakan Elgar untuk gadis itu sedikit demi sedikit berkurang.
Meja yang saat ini mereka tempati khusus tersedia untuk pasangan dan berada di lantai kedua cafe. Elgar mengeser kursinya lebih dekat ke Verena.
Verena masih memperlihatkan ekspresi kosong sehingga tidak memperhatikan kedekatan Elgar.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan Verena?
Itu adalah pertanyaan sederhana, tapi memiliki rasa kecemasan yang murni datang dari hatinya. Terhadap gadis itu sebenarnya Elgar tidak memiliki sedikit pun perasaan baik atau positif.
Hanya saja, kali ini berbeda.
Dengan tatapan masih melekat, Elgar mengulurkan kedua tangannya. Dia menempelkan telapak tangannya di pipi kiri kanan Verena, mengangkat wajah gadis itu untuk menghadap ke arahnya.
"Apakah kau sakit?" Tanya Elgar pelan,"Jika kau sakit, ayo pergi ke rumah sakit."
Manik hitam itu berkilat tajam nyaris menusuk. Benak Verena masih seperti benang kusut yang belum dapat terurai. Namun ditatap oleh manik hitam pria itu, perhatian Verena segera teralihkan.
"Elmar, kau,..." Lidah Verena seakan kelu, berhenti bersuara setelah dua kata keluar dari bibirnya.
Ia bahkan mendapatkan suaranya lagi. Nadanya persis seperti miliknya selama ini.
Ya, Tuhan. Ini bukan mimpi! Ini benar- benar nyata!
Aku hidup! Aku kembali hidup!!!
Lalu Verena menangis keras.
"Ve,.." Elgar yang sedang menunggu respon Verena jelas menjadi panik melihat gadis itu meledak dalam tangis. Telapak tangannya menjadi basah oleh air mata yang mengalir deras seperti air terjun.
Tanpa pikir panjang Elgar segera meraih tubuh langsing Verena ke dalam pelukannya.
****
****