Entah sejak kapan dia memiliki keinginan untuk mati. Sejak lahir? sejak dia bisa berbicara? atau sejak dia beranjak dewasa? tidak! dia bahkan pernah berpikir untuk mati saat SD dan dia terus memikirkannya selalu, setiap saat, setiap waktu selama dia hidup. Dia bisa saja melakukannya lagi tapi kenapa tidak dilakukannya? karena dia takut. saat jarinya teriris pisau saja dia menangis sepanjang malam karena kesakitan bagaimana dia bisa membunuh dirinya sendiri dengan kedua tangannya itu. dia hanya bisa melakukan itu didalam kepalanya saat malam tiba. begitu dia memejamkan matanya dia mulai membayangkan bagaimana dia menusuk dirinya sendiri dengan sebilah pisau tajam. perut kiri, perut kanan, dada, hingga leher. dia menusuk titik-titik vital anggota tubuhnya sehingga dia mati dapat mati dengan cepat. dia dapat merasakan tubuhnya basah diatas genangan darahnya yang mengalir dari luka tusuk. nafasnya beradu cepat dengan detak jantungnya yang perlahan mulai melambat dan pandangannya mulai buram. matanya perlahan mulai terpejam dan sebuah senyuman terukir di bibirnya 'apakah akhirnya aku bisa mati?'.
Tidak! suara alarm dari ponselnya membuat kedua
mata yang tadi terpejam tenang terbuka lebar. lagi-lagi dia hanya bermimpi. punggungnya basah karena keringat yang menembus hingga sprei tempat tidurnya dengan malas dia melepas spreinya dan meletakkan kedalam ember didekat kamar mandi. dia membersihkan badannya yang lengket dan berganti baju kaos oversize dan celana jeans kesayangannya. karena dia belum mati jadi dia harus melakukan aktivitasnya.
sepanjang perjalanan ke tempat kerjanya dia melihat orang-orang yang menikmati waktu mereka. bercengkrama, tertawa, berpelukan, berpegang tangan, bertelponan, semua orang terlihat sangat bahagia sehingga dia bertanya pada dirinya sendiri apakah diantara orang-orang ini ada yang sama dengan dirinya? apakah ada orang yang berpikir sama seperti dirinya? ingin mati?. Tiiinnn!!!! suara klakson mobil itu berbunyi panjang yang membuat orang-orang sekitar menoleh keasal suara. pengemudi mobil membuka kaca jendela dan meneriakinya yang hampir saja menjadi korban tabrakan. sedikitpun tidak ada rasa takut dalam matanya yang ada hanya kekecewaan karena mobil itu tidak menabraknya hingga terpental jauh yang dapat memecahkan kepalanya. setelah meminta maaf dengan setengah hati dia melanjutkan jalannya.
sama seperti hari-hari sebelumnya dia melakukan pekerjaannya sebagai pelayan di sebuah restoran di tengah kota. menyambut tamu, menerima pesanan, mengantar pesanan, mengambil piring kotor dan membersihkan meja. tidak ada yang spesial dan penuh arti. dia hanya menjalankan hidupnya yang seperti robot. bangun,makan, bekerja, tidur, dan bangun lagi.
Prangg!! terdengar bunyi pecahan piring. seorang pelayan yang tidak sengaja menjatuhkan pesanan dan menumpahkan kebaju pelanggan itu segera menundukkan kepalanya dan mengucapkan maaf berkali-kali. pelanggan yang tidak terima menampar pelayan tersebut hingga terjatuh. dia segera berjalan dan menahan tangan besar dan kuat itu agar tidak memukul pelayan yang menyedihkan itu. bertindak kebaikan untuk menolong sesama? tidak. dia melakukan itu untuk menyulut emosi pelanggan yang terlihat sangat kasar sehingga dia akan mendapat pukulan yang cukup untuk membuatnya koma dan mati otak. tapi tentu saja itu tidak dapat terjadi karena seorang pria yang bertubuh sama besar datang dan menghentikan pertikaian yang terjadi. perdamaian itu terjadi dengan pihak restoran yang ganti rugi terhadap pelanggannya dan skors bagi kedua pelayannya yang terlibat. dan usahanya untuk mengakhiri hidupnya gagal lagi. apa keberuntungan sedang berpihak padanya atau dia hanya sial karena dia tidak mati sesuai keinginannya?. kalau saja dia tidak takut untuk melakukannya sendiri dia pasti sudah berbaring dengan tenang. dasar pengecut.
diskors selama 2 minggu membuatnya tambah gila. dia bekerja untuk menghabiskan waktunya tapi sekarang apa? dia bahkan sudah membersihkan kamar kostnya untuk kelima kalinya dan waktu masih menunjukkan pukul 1 siang. dia mengecek ponselnya dan mendapatkan sms voucher diskon bermain di warnet dekat kostnya. tanpa berpikir dia menarik jaket yang tergantung dan pergi kewarnet.
dia menunjukkan voucher yang didapat kepada penjaga warnet dan mengambil tempat duduk paling pojok. dia mulai membuka-buka situs bunuh diri yang dia tahu dan melihat status-status yang tertera. kebanyakan mereka menggantung diri mereka atau menyayat pergelangan tangan dan melompat dari gedung. membacanya saja sudah membuat bulu kuduk merinding apalagi jika dia benar-benar melakukannya. setelah membaca begitu banyak cerita, matanya terhenti pada tulisan JUAL ORGAN di kolom komentar. dia membuka link yang tertera dan muncul halaman yang seram pada layar komputernya. melihatnya saja sudah pasti ini dark web yang berkedok iklan-iklan tidak berguna. tiba-tiba saja dia tersenyum seperti psycopath. kenapa dia tidak pernah berpikir kalau dia bisa mengakhiri hidupnya dengan operasi? dia tidak perlu kesakitan karena akan dibius dan dapat dipastikan dia akan mati dengan tenang. dia mencatat kontak yang tertera dan segera keluar dari wanet.
dia mencoba menelpon nomor yang di catatnya tadi tetapi di tolak. satu kali dua kali hingga 10 kali telponnya di tolak. apa dia salah mencatat nomor?. dia melempar ponselnya ke atas kasur dan berbaring. apa benar-benar tidak ada cara lain untuknya mengakhiri hidup tanpa kesakitan?.
Tring!! ponselnya berbunyi dan sebuah pesan masuk dari nomor yang tadi di telponnya. pesan yang berisikan alamat itu membuatnya berdiri dan segera pergi. begitu sampai dititik alamat yang diberikan dia disuguhi oleh pintu tua yang bertuliskan 'restoran nenek'. dia ini sedang dipermainkan atau bagaimana? sekali lagi dia memastikan alamat yang diberikan sama dengan tempat dia berada sekarang. dia melangkahkan kakinya masuk dan tidak menemukan satupun pengunjung. hanya ada satu orang laki-laki yang sedang duduk di meja kasir. dia menunjukkan sms yang diterima nya dan laki-laki itu berdiri mengisyaratkannya untuk ikut ke belakang. laki-laki itu membukakan pintu besi yang tersembunyi dan mempersilahkannya masuk ke dalam ruangan dengan pencahayaan yang remang. diujung ruangan ada beberapa orang yang sedang merokok. laki-laki yang tadi datang bersamanya berbisik ke seorang pria berwajah sangar.
"kau yang menelpon 10 kali itu?" tanya pria itu dengan suara yang serak.
"ya." jawabnya singkat.
"kenapa kau ingin jual organ? butuh uang?" tanya pria itu lagi.
"tidak. aku ingin mati" jawabannya membuat semua orang dalam ruangan itu terdiam. mereka terlihat bingung karena jawabannya begitu singkat, padat, dan jelas.
"kenapa tidak bunuh diri? ada banyak cara untuk bunuh dirikan?" kata pria itu menghisap rokoknya.
"aku takut karena itu menyakiti ku." dia sama sekali tidak bergeming menjawab pertanyaan dari pria yang berada di depannya.
"kalau kau mati kau tidak akan terima uangnya."
"aku tidak peduli" untuk kedua kalinya mereka terdiam dan merasa kagum pada kegigihannya untuk mati.
setelah wawancara kematian itu akhirnya dia berada diruang operasi dengan gaun yang telah di siapkan. dia menatap sekeliling ruangan yang penuh dengan alat-alat medis dan plastik yang menutupi dinding dan lantai. mungkin bagi sebagian orang tempat ini menyeramkan tapi bagi nya ini adalah tempat paling menarik didunia. dia dapat membayangkan hal-hal yang akan terjadi diruangan ini. dia tersenyum seperti anak kecil yang mendapat permen. akhirnya, setelah sekian lama keinginannya akan terwujud. keinginan untuk meninggalkan dunia ini tanpa rasa sakit sedikitpun.
beberapa orang berpakaian operasi lengkap masuk dan mengambil posisi masing-masing. dia membaringkan badannya di atas tempat tidur yang dingin itu dan menyiapkan dirinya. sebuah masker dipasang ke hidungnya, dia menghirup gas tersebut sesuai perintah dan perlahan kesadarannya mulai menurun. dia mulai merasa mengantuk dan mengedipkan matanya pelan. dia masih sempat melihat orang-orang itu menyiapkan peralatan untuk operasi dan mendengar organ-organ yang akan diambil.
"hati, ginjal, jantung, kor--".
dia tidak dapat mendengar lagi suara atau melihat apapun setelah obat bius itu masuk kedalam tubuhnya. dan kehidupannya sudah berakhir. akhirnya dia menemukan cara untuk mati tanpa merasakan sakit.