"Makanlah dulu sebelum berangkat!" Saran Iyan pada Nur yang duduk sendiri.
"Aku tak biasa makan selarut ini!" Jawabnya.
"Makanlah sedikit saja supaya kau tidak pingsan saat kedinginan dan dalam keadaan perut kosong. Apalagi saat ada kabut yang datang tiba - tiba datang!" Rayu Iyan lagi, pasalnya Iyan tak ingin direpotkan oleh seniornya yang kesurupan atau pingsan di dalam hutan, apalagi malam hari.
"Aku tak mau tambah gemuk! Sanggah Nur. Bukan hanya tak ingin gemuk, Iya tak ingin Heru jatuh cinta pada Nisa.
Betul sekali, Nur jatuh cinta pada Heru. Namun Heru tak menanggapinya. Heru berteman dengan Nur karena ia ingin mendekati Nisa.
Sementara Nisa sedang makan bersama Rendra dan Heru.
"Apa kamu tidak bisa makan lebih banyak?" Tanya Rendra memperhatikan Nisa.
"Aku mengidap Mag Akut. Tak bisa makan terlalu banyak, namun perutku juga tidak boleh kosong!" Jawabnya. Sementara Heru menyimak jawaban Nisa.
"Nur, Aku kebelet pipis nih! Antar Aku ke kamar mandi yuk!" Ajak Nisa usai makan.
"Ga mau ah, Aku takut!" Tolak Nur karena ia sedang asyik mengobrol dengan Heru.
Mendengar penolakan Nur, Nisa langsung berbalik dan berjalan sendiri menuju kamar mandi yang berjarak sepuluh meter di samping Villa.
"Aku antar ya, Nis?" Tawar Rendra serta menyamakan langkah dengan Nisa.
"Boleh saja!" Sahut Nisa tetap melangkah.
"Kamu tunggu di sini ya!" Pinta Nisa, padahal jarak kamar mandi masih lima meter dari tempat mereka berdiri. Rendra mengiyakan permintaan Nisa dan duduk di sebuah batu besar.
Nisa masuk ke kamar mandi. Saat membersihkan alat vitalnya, Darah segar mengalir di bawah Nisa menuju saluran air. Seketika Nisa teringat bahwa waktu datang bulannya yang berakhir dua hari yang lalu.
"Jangan menggangguku! Aku datang ke sini hanya untuk ikut Diklat teater. Aku manusia dengan kehidupanku sendiri dan jangan pernah ganggu aku, karena Aku takkan mengganggumu!" Nisa mengatakannya seolah sedang berbicara dengan manusia.
Cairan yang tadi berwarna merah seketika berubah menjadi jernih. Nisa menyelesaikan kegiatannya dan keluar dengan santai dari kamar mandi.
Mungkin itulah alasannya mengapa ia menyuruh Rendra menunggunya di jarak yang jauh.
"Nisa!" Panggil Iyan setengah berlari menghampiri Nisa dan Rendra.
"Ikut kakak yuk!" Ajaknya setelah berada di depan mereka.
"Kemana, Kak?" Tanya mereka berdua serempak.
Iyan mengajak Rendra dan Nisa ke warung yang berada di kaki gunung. Iyan memesan kopi untuk dirinya dan Rendra. "Dek, kamu mau minum apa?"
"Minuman Jahe panas aja, Kak!" Jawab Nisa.
Sementara di depan Villa, yang lain sedang mempersiapkan acara jelajah alam yang akan dilaksanakan pada pukul sepuluh hingga sebelum pukul dua belas tengah malam.
~~~
Waktu menunjukkan pukul 21:30. Nisa, Rendra dan Iyan kembali ke halaman depan Villa dan bergabung dengan yang lain.
"Kak, tolong....
"Kak!
Terdengar suara orang minta tolong dari kamar mandi di samping Villa. Dengan sigap Nisa berlari mencari asal suara diikuti Iyan dan senior yang lain. Benar saja, Heru sedang berteriak minta tolong.
"Ada apa?" Tanya Nisa panik.
"Nu - Nur ada di dalam, Sejak tiga puluh menit yang lalu dia di kamar mandi dan sampai saat ini belum keluar. Aku gedor pintunya, ga ada jawaban!" Jawab Heru.
"Dobrak saja, Kak!" Pinta Indah.
Refleks Iyan mendobrak pintu tersebut. Nur sedang duduk di lantai dengan tertawa cekikikan melihat ke arah Nisa.
Menyadari hal itu, Iyan menarik Nisa untuk menjauhi Nur. Tapi Nisa malah menghampirinya. "Nur!" Panggil Nisa
"Pergi, Aku benci kamu!" Nur berteriak membulatkan mata menatap tajam Nisa.
"Menjauhlah, Nis!" Ucap Rendra.
"Tidak! Tak mungkin aku menjauhinya. Dia sahabatku. Saat ini dia sedang dikendalikan oleh cewek cantik penunggu kamar mandi ini!" Nisa menolak sekaligus memberikan penjelasan.
Nisa meminta mereka untuk membopong Nur keluar dari kamar mandi.
Setelah berada di luar, Nisa memegang tangan Nur. Berbekal segelas Air mineral, Nisa komat kamit baca doa kemudian meniup air dan mengusapkan sedikit air tersebut ke ubun - ubun Nur.
Nur terdiam dan perlahan menutup mata. Badannya terasa lemas. Beberapa menit kemudian, Nur sadar. Dia langsung memeluk Heru yang sedari tadi duduk memegangi tangannya yang hendak mencakar Nisa.
"Heru... Aku takut!" Tangis Nur pecah karena ketakutan. Melihat hal itu, Nisa pergi menjauhi mereka berdua diikuti senior yang ikut membantu memegangi Nur.
~~~
Semua orang berkumpul sejenak untuk menetralkan ketegangan pikiran masing - masing.
"Nur, kenapa kamu membenci Nisa?" Tanya Heru.
"Siapa yang benci Nisa?" Nur menutupi kebenciannya pada Nisa.
"Jujur sama aku, Nur!" Pinta Heru.
Nur mengatakan tentang penyebab kebenciannya pada Nisa, meski tak dapat dipungkiri Nisa adalah sahabat terbaiknya.
Mendengar penuturan Nur, Heru merasa bersalah karena mencintai Nisa sehingga menciptakan sebuah kebencian di hati Nur untuk Nisa.
"Apa yang terjadi denganmu di kamar mandi?" Tanya Heru lagi.
Nur menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya, sama persis dengan apa yang Nisa alami namun sayangnya Nur tidak bisa mengendalikan rada takutnya sehingga ia pingsan di kamar mandi.
"Apa kamu tau, siapa yang membantumu terbebas dari wanita itu?" Heru.
"Tentu kamulah yang membantuku, karena saat aku sadar, kamulah yang berada di sampingku!" Jawab Nur. "Kok masih nanyak?" Lanjutnya mengerutkan kening.
"Karena kamu harus tau sesuatu!" Jawab Rendra yang sudah berdiri di belakang Nur dengan memutar rekaman video saat Nisa membantu Nur.
Nur menutup mulut saat mengetahui orang yang telah menyelamatkannya. "Dimana Nisa?"
"Nisa sedang di rawat di kamar Villa wanita oleh Mbak Wulan dan Kak Iyan." Tegas Rendra.
"Ada apa dengan Nisa, Kak?" Tanya Nur khawatir.
"Tak apa, hanya kehabisan energi!" Sahut Iyan.
"Nisa!" Nur berlari dan memeluk Nisa. "Maafkan Aku yang selama ini cemburu padamu!" Nisa bingung dengan kata - kata yang diucapkan Nur.
Nur berbicara panjang lebar tentang penyebab kebenciannya pada Nisa.
Setelah paham dengan cerita Nur, Nisa pun berkata bahwa sekalipun Heru menyatakan perasaannya, Nisa tak mungkin menerima cinta Heru karena Nisa memiliki kekasih yang tak diketahui oleh Nur.
"Apa dia Rendra?" Tebak Nur.
"Bukan, Nur! Kami hanya sahabat. Rendra punya kekasih yang berada jauh dari kota ini. Pun dengan Aku. Maka dari itu, Aku dan Rendra terlihat begitu dekat karena kita memiliki cerita cinta yang sama!"