Hujan deras mengguyur desa liangbumi sore ini. Sebuah Desa tepencil yang terdapat di sebelah kiri pinggiran Danau Poco Ndeki. Sebagian orang menganggap hujan adalah rahmat. Tetapi tidak dengan penduduk desa nan jauh dari modern ini. Bagi kami hujan adalah bencana, sebuah pertanda akan adanya petaka. Bagaimana tidak? Setelah hujan turun akan selalu ada korban, baik itu ternak maupun manusia. Dan uniknya setiap korban ditemukan mati didekat danau. Mengerihkan bukan?? Orang-orang modern akan menertawai ketakutan kami, menganggap kami sebagai lelucon yang tertinggal jauh dari globalisasi yang membludak. Yang mereka katakan memang benar, desa kami sangat jauh dari apa yang mereka sebut dengan modern itu. Setidaknya Kami tidak perlu memusingkan diri dengan jalanan yang macet atau insecure hanya karena like instagram sedikit. Bagi kami masih hidup setelah hujan itu sudah cukup.
Aku mengintip dari balik celah kecil didinding rumah hendak mengamati keadaan diluar.
Rupanya hujan sudah redah, dan digantikan dengan kabut tebal yang mencapai tanah. Aku tidak bisa meihat apa-apa ,,hanya putih pekat. Suara kodok yang berasal dari danau terdengar jelas, bernyanyi riah menyambut hujan yang didambahnya. Berbeda dengan kami yang selalu bersembunyi dibalik atap , memeluk diri masing-masing sebagai bentuk perlindungan.
"apakah hujannya sudah redah??" Ibu yang sedang sibuk dengan masakannya beralih menatapku.
" Sudah bu, hanya gerimis ditambah lagi dengan kabut pekat nan tebal mencapai tanah" aku mencoba menerangkan keadaan yang kulihat diluar.
"syukurlah,,jangan coba-coba keluar rumah. Kabut diluar berbahaya" aku hanya mengangguk mengiyahkan.
" sebenarnya apa yang terjadi dengan ternak dan orang-orang yang ditemukan tewas di pinggir danau itu?" aku beralih menatap ibu, rasa penasaran mulai memenuhiku.
"jangan sekali-kali mencari tahu. Ibu tidak mau kamu dalam bahaya" Ibu menatapku garang.
Bukan hal baru lagi, setiap kali ditanya mengenai masalah ini jawaban yang kudapat selalu seperti itu. Bagi remaja seusiaku, mempertanyakan masalah korban-korban ditepi danau seperti tabu didesa ini. Hanya orang-orang dewasa yang tahu kisah dibalik itu. Sebenarnya aku sudah muak dengan semua ini, bagaimana tidak? kami anak-anak dan remaja dianggap tidak boleh tahu padahal ini tentang hidup dan mati. Huftt,,,aku tidak begitu paham dengan pemikiran orang dewasa di desa Poco ndeki ini.
--------------------
Pagi sekali aku terbangun, membantu ibu menimbah air dipancuran dekat rumah. Aku sengaja bangun pagi karena yang menimbah air dipancuran itu bukan cuman aku tetapi hampir sebagian warga. Didesa ini yang jumlah penduduknya hampir 300an orang , terdapat tiga pancuran. Bayangkan, betapa betapa panjangnya antrian menimbah air disetiap harinya. Sesampai dipancuran ternyata aku bukan orang pertama yang datang, sudah ada dua ibu-ibu disana. Aku bergabung dan menyusun jerigen 5 liter berjumlah 10 buah di sebelah jerigen milik ibu dengan antrian kedua.
" katanya kemarin kerbau pak RT. ditemukan tewas dipinggir danau" aku melihat mereka berbincang serius dan tak sadar ikut nimbrung dalam obrolan panas itu.
" syukurlah,,setidaknya kali ini bukan manusia" Ibu yang disebelahnya yang kuketahui bernama ibu Marta meletakan tangannya didada sebagai bentuk rasa sukurnya.
" tapi kerbau itu mahal,,,rugi besar pak RT" Ibu Sana menimpali.
" terus bagaimana kerbaunya? Disembelikah??" Ibu Marta menanyakan hal yang juga kupikirkan.
" katanya kerbau itu lansung dibuang ke danau. Takut makan daging begituan" Ibu sana mendelikan bahunya yang juga diikuti oleh ibu Marta.
Setelah selesai menimbah air, aku menghampiri ibu yang sedang merapikan kayu bakar didapur. Aku mulai menceritakan apa yang aku dengar tadi dipancuran dan hanya dijawab "ohh" oleh ibu. Rupanya ia sudah mengetahui kabar itu terlebih dahulu.
------------
hari ini pukul 06.30 aku dan ibu bergegas meninggkaln rumah menuju pasar yang jaraknya lumayan jauh dari desa. Sesampai dipasar kami beristirahat dulu sebelum mulai membeli barang yang kami butuhkan. Bagaimana tidak? perjalanan dari desa menuju pasar membutuhkan waktu sekitar satu jam. Dan ini membutuhkan tenaga yang lumayan banyak, belum lagi liku-liku naik turunnya,huftt ,,,memikirkannya saja membuatku lelah. Yang pertama kali ibu hampiri untuk dibeli adalah perlengkapan dapur. Periuk yang digunakan untuk memasak dirumah sudah bocor dibagian pinggirnya.Jadi, kami membutuhkan yang baru sebagai pengganti. Setelah itu berlanjut ke sembako dan beberapa keperluan rumah lainnya.
Proses tawar menawar berjalan lancar, bagaimanapun juga ibu adalah yang paling handal mengenai itu. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 15.00 WITA, tandanya sebentar lagi sore. Aku dan ibu bergegas pulang meninggalkan pasar. Kami berdoa dalam hati masing-masing supaya tidak terjadi hujan dikampung.
Setelah menempuh waktu yang cukup lama, akhirnya kampung kami sudah mulai keliatan meskipun jaraknya belum terhitung dekat. Aku dan ibu kembali menjajaki jalan dengan langkah yang lumayan cepat, dan apesnya hujan turun sore ini.
Aku gemetar ketakutan, sedang ibu menenangkanku menghibur bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tibalah kami disebuah pondok dekat danau dan kami memutuskan untuk beristirahat disana sampai hujan redah.
Aku menggesekan kedua tanganku, memberi kehangatan pada tubuhku yang sudah basah kuyup itu. Ibu juga melakukan hal yang sama. Untung saja barang belanjaan dibungkus plastik jadinya air tidak bisa masuk.
Cukup lama aku dan ibu berteduh disitu, terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba saja suara seseorang meminta tolong terdengar ditelingaku dan rupanya ibu juga mendengar hal yang sama.
" siapa itu bu?? Ibu mendengarnya?" aku berbisik pelan pada ibu, memastikan bahwa bukan hanya aku yang mendengarnya. Ibu hanya menggangguk kecil mengiyahkan. Kelihatan sedikit panik diwajah yang sebentar lagi keriput itu.
" Tolonggggg!!" lagi-lagi aku mendengar suara yang sama. Meskipun kedengaran agak samar-samar tapi aku yakin itu suara orang yang sedang meminta tolong.
" Kamu tunggu disini,,biar ibu yang memeriksa" ibu memperingatkanku. Belum sempat aku menjawab iya ibu sudah keluar dengan batang kayu di genggamannya.
Aku mengikutinya dari belakang, bagaimanapun juga aku tidak mau terjadi apa-apa dengannya. Semakin dekat kami dengan danau, semakin terdengar jelas suara minta tolong itu. Aku mengabaikan tanganku yang bergetar. Mengusir semua ketakutan yang ada dalam tubuh dan pikiran. Hari ini akan kupastikan menjawab semua misteri-misteri sembunyi di balik hujan yang katanya berdarah itu. Aku dan ibu bersembunyi dibalik semak-semak mengintip kejadian menyeramkan didepan kami.
" jangan pak,,saya mohon. Bebaskan saya. Kasian anak dan istri saya dirumah. Kalau saya mati siapa yang memberi mereka makan" terlihat seorang bapak yang kaki dan tanganya terikat dipohon beringin dekat danau. Ketika aku melihat wajahnya aku terperanjat kaget,,dia adalah tetanggaku pak Burhan. Ibu yang berada didepanku juga sama kagetnya.
" Maafkan saya Burhan,,ini tidak akan terjadi kalau seandainya kamu mematuhi aturan. Semua penduduk desa tahu, keluar rumah disaat hujan adalah bahaya, tetapi kamu tetap nekad.Hampir saja kamu menggagalkan ritual pemujaan saya. "
seorang lelaki yang berada di samping pak Burhan berujar, dan disaat ia membalikan badannya aku terperanjat kaget. Bagaimana tidak?? dia adalah pak RT yang kemarin kerbaunya mati itu. Ini diluar dugaan. Jadi selama ini, kami benar-benar dibodohi oleh pak tuah itu. Ia menyebarkan rumor untuk tidak keluar rumah disaat hujan supaya tidak ada yang menggagalkan ritual pemujaannya.
" Berlarilah kedesa meminta bantuan. Ibu akan menolong pak Burhan disana. Yakinkan masyarakat desa. Nyawa ibu dan pak Burhan ada ditanganmu " aku menggeleng. Baimana jika aku terlambat? aku akan menjadi anak piatu.
" cepatlah nak,,kamu bisa" ibu mengelus rambutku lembut, raut wajahnya campur aduk antara cemas dan takut.
" baik bu,, berjanjilah padaku ibu tetap bertahan sampai aku kembali"
" iya nak, ibu janji. Cepat lari!!"
Aku berlari secepat kilat menuju desa,,kaki kecilku membelah hujan yang tak kunjung redah itu. Tak ku hiraukan lagi kaki yang letih, nyawa dua orang ada ditanganku.
" semuanya tolong,,tolong,,,wahai penduduk desa Liangbumi, selama ini kita sudah dibodohi oleh tahkayul hujan berdarah yang disebarkan pak RT. Sekarang aku berdiri disini mengatakan kebenaran pada kalian semua, tidak ada hujan berdarah, kita ditipu bebepara tahun ini supaya tidak ada yang berani keluar rumah dan mengganggu ritual pemujaan pak RT pada saat hujan "
Aku berteriak kencang dihalaman desa ini memastikan suaraku sampai didalam rumah-rumah yang tertutup rapat itu. Satu persatu membuka pintu, keluar menyaksikan apa yang tengah terjadi. Ada beberapa yang menatapku enteng seolah-olah aku baru saja melakukan hal konyol dan tidak percaya untuk apa yang aku katakan.
" aku saksi yang melihat dengan mata kepalaku sendiri,pak RT ditepi danau mencoba membunuh pak Burhan. Ibuku juga ada disana untuk menolong. Mohon kepercayaan masyarakat semuanya"
Istri pak Burhan menangis terisak-isak mendengar perkataanku, begitu juga dengan anak-anaknya.
" Untuk siapa saja masyarakat yang percaya akan apa yang aku katakan mohon ikut aku ke danau. Dua nyawa bergantung pada kita sekarang"
Aku melangkah kembali berlari menuju danau yang juga diikuti oleh istri dan anak anak pak Burhan. Bodoh amat soal mereka percaya atau tidak yang penting aku harus kembali memastikan ibu tidak kenapa- napa. Beberapa bapak-bapak mulai berlari mengikutiku meskipun ada yang masih membawah wajah keragu-raguannya. Kami berlari kencang menuju danau memastikan kami tidak terlambat.
Dan rupanya semesta sedang berpihak pada kami, sesampainya didanau ibu masih dalam keadaan utuh meskipun ada beberapa lebam dimukanya. Sedangkan pak Burhan darah bercucuran di sudut bibir dan pelipis. Tali pengikat masih setia berada di tangan dan kakinya. Pak RT tertegun kaget melihat kedatangan warga. Wajah angkuhnya sudah berubah menjadi ketakutan. Aku berlari memeluk ibu. Beberapa warga membawah pak Burhan untuk segera diobati dan beberapanya lagi menghampiri pak RT dengan wajah tidak percayanya.
" jadi, kau yang menjadi dalang dibalik semua ini??
kau membunuh mereka semua yang melihatmu melakukan ritual pemujaan ketika hujan. Lalu, setelahnya kamu menyebarkan rumor bahwa hantu-hantu penunggu danau ini akan bangkit setelah hujan dan membunuh ternak maupun manusia sebagai makanan"
Pak RT memilih tidak menjawabnya. Tangannya gemetar ketakutan.
Seseorang bapak yang istrinya terbunuh bulan lalu memberikan bogem mentah dan menghajar pak RT habis- habisan.
" tenang Broto, kita perjelas dulu semuanya baru nanti kita diskusikan mau diapakan orang ini" Bapak Damas yang dikenal paling berwibawah didesa ini mengambil alih.
" jadi, apa maksud dari kerbaumu yang meninggal kemarin" Tatapan interogasi tak lepas dari matah nan wibawah itu.
" Jawab atau kupotong lidahmu" Pak Agus yang lumayan agresif mengancam.
" maafkan saya semuanya,,mengenai hewan-hewan yang mati disini, saya sengaja membunuhnya untuk membenarkan rumor yang saya sebarkan. Saya salah saya minta maaf"
" Dasar bajing** kau...."
" penjahat.."
"pembunuh"
Berbagai makian terlontar jelas ke arah pak RT.
" karena dia sudah mengaku, jadi bagaimana, apa yang harus kita lakukan dengan orang inj?? Pak Damas kembali mengambil alih
" Bakar dia,, "
" iya,,,bakar dia"
"Bakar,bakar,bakar,bakar"
end