Aku dan gadis dingin.
Aku sakit, aku ingin berbohong padamu saat kemarin aku sengaja menemuimu. Saat kau tanyakan apakah aku sakit? Aku berpura-pura tak terjadi apa pun padaku agar aku terlihat kuat tanpa dirimu.
Dua hari yang lalu...
"Aku kangen sama kamu." Ucapku.
"Kamu sakit?" Tanya gadis itu.
"Kenapa?" Jawabku
"Kamu aneh."
"Aneh kenapa ?"
"Ya aneh banget."
"Aku sakit jiwa."
"Yang bener sih." Tegas gadis itu dengan wajah malasnya.
"Emangnya kenapa kalau aku sakit ?"
"Ah sudahlah." Jawabnya ketus.
Kami berbincang dengan banyak jeda, mungkin karena dia sudah tak ingin lagi melihatku atau pun mendengar kata-kataku.
Sepertinya dia memang sudah tak pernah merindukanku sedikitpun. Mengapa hanya aku yang tersiksa menahan gejolak rasa? sungguh kasihan diriku ini.
Hari ini aku ingin menemuimu lagi sebentar saja seperti kemarin. Aku takut tidak akan ada hari lagi untuk bertegur sapa denganmu, tapi kau tak membukakan pintu rumahmu untukku.
Aku memang bodoh tak bisa berpaling darimu meskipun aku dikelilingi banyak teman yang menyayangiku.
Aku berjalan menapaki tempat-tempat penuh kenangan bersama gadis itu, kini aku duduk di atap rumahku, sendiri menatap bintang dilangit yang semakin membuatku merindukannya. Kulirik smartphone ku berharap dia menjawab pesanku.
"Bangsat."
Kulemparkan handphone ku yang tak bersalah hingga berserakan. Ku sesap rokok sebagai penghilang stress lalu kuteguk kopi hitamku mencoba menenangkan diri.
....
Di duniaku kini hari-hariku hanya berteman dengan kopi hitam dan batangan rokok yang sangat setia kepadaku.
Andai kau tau dunia ku serasa gelap tanpamu, telah kucari cahaya penggantimu namun tak pernah bisa menerangi dan pada akhirnya rinduku padamu semakin menggunung hingga aku harus tertatih kembali menemuimu seseorang yang tak menginginkanku. Hanya agar aku bisa bernafas dalam redupnya cinta yang telah hilang.
Cinta, mengapa kau menyakitiku? Padahal aku sangat memujamu.
Kini aku terbaring menunggu mati.
_