Alice, seorang wanita yang baru saja menginjak umur 25 tahun. Memiliki sifat ceroboh, keras kepala, dan kepo yang tinggi.
Gadis berdarah Amerika yang maniak dengan hal-hal berbau fantasi. Ia sangat percaya jika di dunia ini tak hanya manusia yang tinggal tapi ada juga makhluk lain yang hidup bersama namun tak dapat kita sadari.
Alice saat ini sedang berkemas, memasukan beberapa pakaian dan keperluan pribadinya ke dalam koper yang cukup besar. Ia akan pergi ke rumah neneknya yang berada di Kota Forks selama satu bulan.
"Alice, ayo kita berangkat!" teriak mom dari luar rumah.
"Yes mom!" jawab Alice. Ia tergesa-gesa turun dari tangga sambil membawa kopernya. Gadis itu membuka kap bagasi mobil lalu menaruh kopernya setelah itu ia duduk di di kursi depan.
Dari Kota Seattle menuju Forks membutuhkan waktu empat jam menggunakan mobil. Alice sampai di rumah neneknya saat sore hari.
" Oh tuhan Alice, cucuku kau tumbuh menjadi wanita yang cantik" sapa nenek sambil memelukku erat.
" Aku merindukan nenek"
Alice, mom, dan nenek sekarang berada di ruang tamu.
" Alice, kau harus jaga nenek. Mom akan pulang karena pekerjaan yang mendesak"
" Emily, Kau pulang sekarang? Hari mulai gelap. Aku harap kau menginap" ucap nenek pada mom.
" Benar kata nenek, mom"
" Maafkan aku mom, alice. Aku harus bertemu klien besok pagi"
"Yasudah kalau begitu, aku harap kau hati-hati dijalan" putus nenek.
Mom memeluk ku dan nenek bergantian sebagai tanda perpisahan. Ya.. pada akhirnya mom memutuskan untuk pulang dan sekarang tinggalah aku dan nenek.
Saat ini aku sedang berada dikamar, tiduran dipangkuan nenek. Oh, aku merindukan masa ketika nenek mengelus kepalaku sambil menceritakan sebuah dongeng atau kisah fantasi.
" Nek, apakah disini ada cerita legenda? " tanyaku. Nenek mengelus kepalaku berulang kali.
"Tentu saja Alice, kau mau nenek beritahu? Tapi ini rahasia" Ujarnya yang membuat ku penasaran.
"Mau! please tell me the story" pintaku sambil menatap nenek penuh harap.
" Once upon a time....." cerita nenek terus mengalir membuat ku harus fokus menyimak dengan tenang.
"Nek, apakah hutan yang dimaksud ada di kota ini?" tanyaku penasaran setelah mendengar ceritanya.
"Sure! hutan tak terjamah yang terkenal misterius itu bahkan ada di belakang perkampungan ini " ucapnya yang membuat ku membelalakan kedua mataku.
"Alice, nenek tahu kau punya rasa penasaran yang tinggi. Tapi, nenek harap kau tak akan pergi ke hutan itu. Karena, siapapun yang pernah masuk dia tak akan pernah kembali" Peringat nya serius yang membuat bulu kudukku merinding.
🧚🧚
Hari ini, hari ketiga ku menginap di rumah nenek. Aku berjalan menyusuri halaman belakang milik nenek. Atensi ku menatap penuh minat pada sebuah bangunan tua yang kata nenek itu gudang. Saat masih kecil, aku dilarang keras untuk masuk ke dalam bangunan itu, entahlah apa alasannya nenek tak pernah memberitahuku.
Sekarang aku sudah dewasa, jiwa penasaran ku memberontak membuat ku ingin masuk kesana. Dengan langkah perlahan aku mulai mendekat ke bangunan itu. Handle pintu coba ku buka dan ternyata tidak terkunci! Aku melihat sekitar, saat dirasa sudah aman tak ada nenek aku masuk ke dalam bangunan tua itu.
Bangunan tua itu dalamnya sangat berantakan, banyak sekali rak buku yang berjejer, sarang laba-laba ada dimana-mana, dan debu yang membuat ku batuk berkali-kali.
Perhatianku terfokus pada sebuah ruangan kecil disudut, aku mengambil satu-satunya buku yang ada disana.
" Secret Land and The Castle" gumamku saat membaca judul buku tersebut.
Tunggu dulu!
Bukankah cerita ini yang dibacakan nenek beberapa hari yang lalu? Aku kembali membaca buku tersebut sampai habis! di lembar terakhir perhatian ku tertuju pada sebuah kertas usang yang bentuknya seperti peta!
"Ouh..ini benar-benar gila! membuatku ingin kesana" ucapku semangat.
Brak...
" Alice! apa yang kau lakukan disini? " Sial! nenek memergokiku masuk kedalam gudang, dengan spontan aku menyembunyikan peta dibalik bajuku.
"Tak apa nek! Aku hanya penasaran.. hehe.." ucapku diakhiri kekehan.
"Cepat kembali!"
🧚🧚
Sudah empat hari sejak nenek memergokiku masuk ke dalam gudang. Saat ini aku memasukan beberapa pakaian dan kebutuhan untuk survive di alam liar ke dalam tas ransel. Aku bertekad akan menjelajahi hutan misterius itu hari ini.
Aku meninggalkan sebuah surat di meja kamarku, pesan untuk nenek.
Pagi-pagi buta aku mengendarai sepeda tua untuk menuju hutan misterius. Perjalanan membutuhkan waktu 30 menit dan akhirnya aku sampai di sebuah perbatasan perkampungan dan hutan.
Aku sudah memasuki wilayah hutan yang basah, hawa dingin menembus kulit putihku, suara gesekan antar pohon membuat ku merinding.
Aku membaca peta dan kompas bergantian untuk menentukan arah jalan agar tak tersesat. Semakin lama aku berjalan, semakin dalam hutan yang ku susuri. sampai-sampai sinar matahari tak banyak masuk saking lebatnya pohon yang membuat hutan agak gelap.
"Kenapa kompasnya tak berfungsi?" ucapku takut. Karena saat aku lihat jarum kompas bergerak tak beraturan.
Aku berjalan tak memperhatikan medan, aku fokus dengan kompas yang tiba-tiba rusak.
"AAAAAAAA!!!!!!" Teriakku. Aku terpeleset jatuh kedalam jurang dan aku terguling.
BUGH, tubuhku menatap sebuah bongkahan batu besar.
"Sebaiknya aku mendengar kan kata-kata nenek. Aku tak ingin mati! Siapapun tolong lah aku" ucapku lirih sebelum kesadaran ku menghilang.
🧚🧚
Silau cahaya membuatku tersadar dan mengerjap kan mata berulang-kali. Mataku bergerilya menatap sebuah ruangan besar yang terkesan klasik namun megah.
"AAAAA!!!! AKU DIMANA??"
"Hei, cantik. Syukurlah kau sudah sadar"
Aku mengedarkan mata mencari sumber suara yang memanggil ku.
Tink!
"Aku disini cantik"
"AAA....PERIIIII" teriakku kaget saat tiba-tiba ada peri kecil tepat di depan wajahku. Sepertinya aku sudah berhalusinasi! dan kesadaran ku menghilang lagi.
Aku merasakan deru nafas hangat yang menerpa leherku. Aku mengerjap kan mata berulang-kali oh sial ternyata aku masih diruangan ini. Mataku menangkap sebuah tangan yang melingkar di perutku. Aku menoleh ke samping kanan dan mataku membola seketika.
"SS-SIAPA K-KAU?!" Tanyaku kaget pada pria yang sialnya berwajah tampan.
"Uugh..Aku pangeran Arthur yang menyelamatkan mu" jawab pria bernama Arthur.
"Lepaskan aku!" geramku sambil menggeliat melepaskan pelukan.
"Alice! diamlah sebentar. Aku akan bangun"
"B-bagaimana kau tahu namaku?"
"Nanti akan ku jelaskan, sekarang kau segera mandi. Pelayan akan memberimu pakaian" jelasnya setelah itu dia meninggalkanku sendiri.
Ting!
"Hai Putri Alice" sapa peri kecil yang membuat ku kaget. "No no no! jangan pingsan lagi!" serunya membuat kesadaran ku kembali lagi.
"Perkenalkan namaku peri Lin Lin, senang bertemu denganmu putri! sekian tahun menunggu akhirnya kau datang juga"
"Apakah ini halusinasi? imajinasi? fantasi?" tanyaku sambil mencubit pipiku." Dan siapa pangeran Arthur?"
"Ouch! itu pasti sakit putri. Aku nyata dan dunia ini nyata!" ucapnya, " Pangeran Arthur adalah calon raja negeri fanaland " tambahnya.
"Fanaland?" gumam ku tak percaya.
Ceklek...pandanganku teralih pada pintu terbuka. Tampak sekali beberapa manusia kecil yang membawa pakaian,sepatu heels, dan makanan.
"Kurcaci?" gumamku tak percaya.
Peri Lin Lin menyuruhku untuk segera mandi dan berganti pakaian yang khas dengan negeri ini.
🧚🧚
Rasanya aku masih tak percaya hingga saat ini. Dan saat ini Pangeran Arthur mengajakku berkeliling negeri menggunakan kuda terbang!
"Alice, selamat datang di negeri Fanaland. Negeri yang memiliki tingkat kemakmuran tinggi. Dihuni oleh para peri, kurcaci, elf, katai, dan berbagai macam makhluk yang duniamu menyebut nya sebagai makhluk mitologi."
"Negeri ini nyata?" tanyaku sambil memperhatikan aktivitas para makhluk di daratan.
"Seratus persen nyata! berabad-abad yang lalu kami dan manusia tinggal di dunia yang sama! Namun, kami dan manusia mengalami perbedaan visi dalam pemerintahan. Akhirnya para leluhur membuat dunia kita berbeda dengan memberikan sebuah segel perbatasan dan hanya orang-orang tertentu yang dapat memasuki dunia kami. salah satunya,kamu Alice."
"Kenapa harus aku?"
"Karena kau keturunan leluhur dari bangsa manusia yang ditakdir akan menjadi istri ku."
"Ii-istriii?" ucapku terbata-bata, "tapi kau termasuk makhluk apa?"
Pangeran Arthur mendarat kan kuda terbang di sebuah tebing perbukitan. Tangannya ia ulurkan untuk membantuku turun.
"Pejamkan matamu Alice!" titahnya yang membuat ku menurutinya. " Sekarang bukalah matamu perlahan" titahnya lagi.
Mataku berbinar, perlahan aku melangkah mendekati nya, memegang kedua sayapnya yang bewarnah putih ke emasan.
"K-kau adalah ras polip" tebakku.
"Benar sekali Alice" jawabnya, setelah itu ia meraih pinggang ku dari belakang, membawaku ke dekapan nya.
"Sekarang kita akan kembali ke kastil" tubuhku tersentak saat ia mengepakkan sayapnya, membawaku terbang bersamanya. Sedangkan kuda terbang tadi ikut terbang disampingnya.
🧚🧚
Aku mengusap kedua mataku yang tak gatal, memastikan wanita tua yang berdiri di depanku ini nenek.
"Ini nenek? Nenek Agatha kan?"
"Alice! sudah ku peringatkan untuk tidak masuk ke hutan itu!"
"HWAA...Nenek. Alice kangen bagaimana nenek bisa kesini?" tanyaku disela tangisan.
"Salam hormat Pangeran Arthur" ucap nenek setelah melepaskan pelukanku.
"Salam hormat nyonya Agatha." jawabnya
"Meskipun kau menyembunyikan cucu mu, pada akhirnya dia sendiri yang menemuiku." Ucapnya.
Nenek berdesis. Sedangkan diriku menatap nenek dan Pangeran Arthur bergantian. Sungguh aku tidak paham dengan situasi ini.
"Cepat restui diriku untuk menikahi cucumu!"
"Baiklah! tapi sebelum itu aku mengajukan sebuah syarat"
"Baiklah, cepat bilang syaratmu."
"Aku ingin kau biarkan cucuku bebas dalam di duniamu maupun di duniaku"
Pangeran Arthur tampak berpikir sebentar.
"Baiklah aku akan mengabulkan nya".
"Ada apa ini?" tanyaku heran
Nenek membawaku ke kamar ku tadi. Saat ia bersisian dengan para kurcaci ia menyapanya hal itu membuatku terheran.
Tink, peri Lin Lin datang tiba-tiba.
"Agatha aku sangat merindukan mu" ucap peri lin lin pada nenek.
"Lin lin! aku sangat merindukan mu juga" ucap nenek. Mereka saling berpelukan
"Jadi, sebenarnya nenek sudah tau tentang negeri Fanaland dan takdir yang membuat mu harus menikah dengan Pangeran Arthur. Takdir itu mengikat keturunan keluarga kita, mom mu juga tau tentang ini tapi ia merahasiakan nya."
"Jadi, dongen yang nenek ceritakan itu nyata?"
"Nyata Alice. Sejak kecil nenek sudah memberi mu dongeng tentang makhluk-makhluk itu agar kelak saat takdir sudah menjemput kau tak akan kaget melihat mereka. Nenek sudah mempersiapkan nya"
Dan aku hanya diam terpaku mendengar penjelasan nenek.
🧚🧚
Sudah seminggu semenjak kejadian nenek menemuiku. Dan hari ini adalah hari dimana aku akan melepas status single menjadi istri pangeran Arthur.
Semuanya serba mendadak, membuatku kadang sulit untuk mencerna situasinya.
Aku sekarang berdiri di depan Arthur yang tampan, ia berlutut di depanku sambil mengambil salah satu tanganku.
"Alice, Will you Marry me?"
"I Will" jawabku. Ia menyematkan sebuah cincin kristal di jari manisku. Suara tepukan menggema di ruangan besar ini.
Ya, dan pada akhirnya sesuai takdir aku menikah dengan Pangeran Arthur yang sekarang gelar nya berubah menjadi Raja Arthur.
Mom dan nenek memberiku pelukan tulus dan mereka menyelamatiku.
5 tahun kemudian
Usia pernikahan ku dengan Arthur sudah menginjak lima tahun. Kami hidup bahagia dan dikaruniai sepasang anak kembar. Anak pertama bernama James dan anak kedua bernama Bella.
" Terimakasih sudah mau menikah denganku sayang"
" Sama-sama, aku harap kita akan bahagia selamanya"
🧚END🧚
MAKASIH readers 🤗