Namaku Vera Anandita, teman-teman biasa memanggilku Vey. Aku duduk di kelas XI. Di sekolah, aku ini merupakan ketua ekskul Mading. Selain itu, aku juga terkenal sebagai duta cinta di sekolah. So, yang mau dicomblangin boleh lah hubungin aku.
Siang itu, Selly dan Dita masuk ke dalam sekretariat Mading. Selly dan Dita adalah sahabatku juga partner di ekskul Mading.
" Pasti habis pacaran, makanya baru datang " keluhku.
Dita dan Selly hanya tersenyum lalu memberikan cemilan sebagai sogokan agar aku tak menceramahi mereka.
" Tumben, bawa-bawa yang beginian... Pasti ada maunya deh " tebakku.
Dita menyengir lalu mendekatiku.
" Ada job baru buat kamu " ucapnya diikuti anggukan dari Selly.
Aku menghentikan kegiatanku menyusun Mading, lalu dengan semangat aku bertanya.
" Kali ini siapa targetnya ? "
" Joy " jawab mereka serempak.
Kali ini aku terdiam, pikiranku berkelana.
" Kenapa harus dia sih ? Cakep sih, keren plus tajir pula. Ketua tim hoki sekolah yang merupakan idola anak-anak cewek sekolah. Tapi sumpah deh, jutek dan dingin banget. Kemarin minta wawancara buat profil ekskul hoki yang mau dimuat di Mading aja cuma seperlunya ngomong " aku bermonolog dalam hati.
" Kok malah diem sih, mau terima ga ?" tanya Selly.
" Pikir-pikir dulu deh " jawabku.
" Yaelah, ini beneran Vera bukan sih? Vera yang aku kenal pasti langsung terima " ucap Dita lagi.
" Langsung diterima kalo bukan tuh cowok balok es" aku angkat bicara.
" Please, tolongin temen gue ! " seru Danang yang muncul dari balik pintu diikuti Ardi.
" Temen Lo nekad juga ya, penasaran siapa sih orangnya " tukasku.
" Adalah, Lo juga kenal. Tapi dia mau dirahasiakan dulu " sahut Ardi.
Dengan segala bujuk rayu, keempat orang itu akhirnya bisa meyakinkan aku untuk menerima pekerjaan sebagai duta cinta. Itupun dengan syarat agar mereka membantuku. Untunglah mereka mau membantu. Aku mulai menyusun rencana agar bisa dekat dengan Joy dulu. Ya Tuhan... Mudahkanlah urusan hambamu ini.
Dan disinilah aku sekarang, terdampar di lapangan tempat latihan anak-anak tim hoki. Aku sangat bersyukur karena Dita dan Selly bersedia menemaniku, eh ralat aku yang menemani mereka menunggu kekasihnya. Dita yang merupakan pacar dari Danang dan Selly pacarnya Ardi. Mereka berdua juga anggota tim hoki dan Joy adalah kapten tim hoki mereka.
Akhirnya latihan selesai jam 5 sore, semua bersiap untuk pulang. Dita dan Selly sudah kabur duluan meninggalkanku yang tinggal berdua dengan Joy.
" Ada perlu sama gue ? " tanyanya melihatku sambil membereskan peralatan hokinya.
" Ng... itu... Anu.. " Aku tak bisa berkata apapun, entahlah rasanya jadi salah tingkah dihadapannya.
Joy memicingkan matanya, kemudian ia berlalu dari hadapanku. Menyadari ia berlalu, aku mengikuti Joy yang berjalan menuju tempat parkir. Langkah kakinya yang panjang membuatku sedikit berlari agar tak ketinggalan.
" Dasar kalian berempat sialan, katanya mau bantuin eh malah pada kabur " aku mengumpat Dita, Selly, Danang juga Ardi dalam hati.
Joy berhenti di depan mobilnya, lalu memasukkan peralatan hokinya ke bagasi. Sekilas kulihat ia melirik ke arahku.
" Ada yang mau Lo omongin ? " tanyanya datar.
" Atau Lo mau nyomblangin gue ? " tebaknya to the point tanpa basa-basi.
Aku membulatkan mataku,
"Boleh ? " pertanyaan bodoh yang seharusnya tak kuucapkan keluar dari mulutku begitu saja.
Joy melihatku dengan sinis, kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Harusnya aku gak terima aja tawaran ini, aku merutuki diri sendiri. Untuk pertama kalinya, aku merasa kalah sebelum berperang. Aku melepaskan ikatan rambutku, membiarkan rambutku tergerai tertiup angin. Tiiit... tiiit... Suara klakson mobil, membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arah mobil Joy.
" Masuk " serunya sambil membuka pintu mobil di sampingnya. Aku masih terdiam tak percaya dengan apa yang ku dengar.
" Kalau masih mau disini, gue tinggal " tambahnya ketus.
Cepat-cepat aku masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu, ia segera menjalankan mobilnya. Selama di perjalanan ia hanya mendengarkan penjelasan panjang lebar yang ku ceritakan tanpa menanggapi sampai akhirnya ia mendadak mengerem mobilnya.
" Aw... Hati-hati dong Joy, gue masih mau hidup tau" kesalku karena tiba-tiba Joy mengerem mobilnya.
" Lo gila apa ? Bisa-bisanya Lo nyomblangin tapi gak tahu orangnya " gerutu Joy.
" Gak usah lebay gitu deh, banyak kok orang yang kencan buta tapi baik-baik aja " ucapku asal. Joy melirikku tajam.
" Eh, maksudnya... Lo cobain aja jalan sekali kalo Lo ga suka, udah the end " kelakarku.
" Mau ya, please ! " aku memohon padanya dengan menangkup kedua telapak tanganku di depan dada.
" Enggak " tegasnya lalu melajukan kembali mobilnya.
Segala jurus bujuk rayu aku keluarkan agar ia mau menerima tawaranku. Tetap saja dia pada pendiriannya, menolak keras. Sampai akhirnya ia memberhentikan kembali mobilnya.
" Nih minum, dari tadi nyeroscos terus pasti haus " titahnya sambil memberikan sebotol air mineral padaku. Aku mengambil botol itu dan segera meminumnya.
" Gara-gara kamu sih, coba mau kan gak bakalan kehausan begini. Ngeselin " ocehku kesal. Joy hanya memperhatikanku.
" Kalo udah selesai buruan turun, berisik " ucapnya ketus.
Aku melihat ke luar mobil, dan ternyata sudah ada di depan rumahku. Belum sempat aku bertanya, dia sudah menjelaskan.
" Gak usah heran kenapa gue tahu rumah Lo. Rumah gue cuma beda 2 blok aja dari sini " ucapnya datar.
" Cepetan turun !" usirnya lagi.
" Gak sebelum Lo bilang mau " aku tak mau beranjak.
" Maksa banget sih Lo " ketus Joy.
" Biarin, asalkan Lo mau jalan sekali aja Joy, please... Gue janji gak bakalan maksa-maksa lagi. Please !! " aku memasang tampang memelas. Joy menghela nafasnya.
" Ok... ok... dengan satu syarat "
" Apa ? " tanyaku semangat.
" Lo harus ada sama gue selama jalan sama cewek itu. Deal ? " tanyanya.
" Gak mungkin lah... Masa... "
" Deal or never ? " tanyanya menegaskan.
" Ok, asalkan kamu mau. Gak apa-apa, gue ngalah " jawabku lalu turun dari mobilnya.
" Lo atur aja, entar kabarin " ucapnya lalu meninggalkanku.
Untuk pertama kalinya, i feel like a stupid person. Bayangin aja deh, aku harus jadi kambing congek selama kencan buta ini. Ah... apa masih kurang selama ini aku jadi kambing congek diantara Dita dan Danang atau Selly dan Ardi. Kalau begini rasanya aku juga mau punya pacar. Hiks... hiks...
By the way, aku harus profesional. Aku tak akan menyerah, ini perjuangan berat dan pasti kemenangannya nanti akan sangat manis. Aku harus berjuang, chayo Vera...
Strategi sudah disusun dengan rapi, aku tinggal memberitahu kepada Joy perihal hari H. Karena ingin cepat selesai, aku mengatur jadwal kencan buta hari Minggu ini. Dan Joy nampak tak keberatan sama sekali, mungkin karena ia pun ingin segera bebas. Apapun alasannya, yang penting dia mau.
Dan hari yang dinanti akhirnya tiba. Aku sudah meminta Danang untuk memberi tahu temannya agar datang ke mall dan menonton di bioskop.Hari Minggu yang cerah, Joy datang menjemputku ke rumah jam 11 pas. Ia mengenakan celana jeans biru dan kaos warna biru dipadu sweater berwarna putih yang tangannya ditarik hingga 7/8. Tak lupa ia memakai topi putih dan sepatu sneaker favoritnya membuatnya nampak semakin mempesona. Pantaslah banyak yang menggilainya. Kulihat ia asyik mengobrol dengan papaku di luar. Percakapan mereka terhenti saat melihatku ke luar dari rumah bersama mamaku.
" Papa udah kenal sama Joy ? " tanyaku saat melihat keakraban papa dengan Joy.
" Joy ini kan anaknya Om Wira" terang papa, aku hanya mengangguk mengerti.
"Ish anaknya papa, udah cantik mau kemana nih ? " tanya papaku.
" Mau main " jawabku singkat.
" Berdua ? " tanya papa lagi.
" Enggak om, sama temen-temen" jawab Joy.
Papaku mengangguk-angguk.
" Ya sudah, hati-hati ya. Sering-sering main kemari ya nak " ucap mama membuat Joy tersenyum.
" Pergi dulu ma... pa... " pamitku sambil mencium tangan mama dan papa diikuti juga oleh Joy yang ikut menyalami tangan mama dan papaku.
Tak ada percakapan sepanjang perjalanan. Kami berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Sejujurnya, aku khawatir tentang perempuan ini, aku tak menampik jika aku pun takut jika ia tak seperti dugaanku.
Kami sampai juga di mall tempat nonton. Kami naik ke lantai 5, tempat bioskop berada. Joy segera membeli tiket. Saat Joy antri membeli tiket, dari kejauhan nampak seorang gadis berbadan besar memakai cardigan berwarna pink berjalan menghampiriku.
" Astaga... Gak mungkin dia orangnya kan. Gue gak bakalan maafin kalian berempat kalo nipu gue " gumamku dalam hati.
Aku tak menyadari jika Joy sudah ada di sampingku. Melihat tingkahku yang aneh, sepertinya Joy curiga. Tapi aku coba terlihat tenang walaupun keringat dingin sudah mengucur di pelipisku. Apalagi ketika gadis itu semakin mendekati ku dan juga Joy. Aku tutupi wajahku dengan kipas yang kubawa, sesekali kukipaskan ke arah wajahku . Gadis itu tersenyum saat telah sampai di hadapan kami. Joy terus melihat ke arahku penuh tanda tanya.
" Maaf, kalau toko buku sebelah mana ya ? Tadi saya kebawa lift sampai di lantai ini " tanyanya ramah.
" Oh... Toko buku ada di lantai 3. Kamu pake aja eskalator turun di sebelah sana " jelas Joy sambil menunjuk ke arah eskalator turun.
" Terima kasih, maaf mengganggu " ucapnya kemudian berlalu.
Ah... lega rasanya, padahal udah panas dingin. Aku menghela nafas panjang.
" Kenapa ? " tanya Joy curiga.
" Gak apa-apa. Cuma heran aja kok orangnya belum datang juga " jawabku
" Gimana bisa tahu, orangnya yang mana aja kamu gak tahu " cibir Joy. Aku mencebikkan bibirku.
Sudah lebih dari 20 menit, tapi tanda-tanda penampakan gadis itu tak ada. Joy nampak kesal, ia melihat ke arah jamnya. Pintu teater sudah dibuka sejak 10 menit yang lalu.
Derrt... derrt... Ponselku bergetar. Ternyata Danang memberi pesan bahwa temannya itu tidak bisa datang karena mendadak ada acara keluarga. Lunglai rasanya,
" Kenapa lagi ? " tanya Joy
" Dia ga jadi datang. Maaf ya Joy " ucapku merasa bersalah.
" Ya udahlah, kita aja yang nonton. Lagian sayang udah beli tiket juga. Yah rugi satu tiket gak apa-apa lah dibanding tiga " sahut Joy, lalu menggengam tanganku untuk mengikutinya.
Aku mengikuti langkah kaki Joy tanpa bertanya film apa yang ditonton. Baru saja aku duduk, sudah terasa hawa-hawa genre film apa yang Joy tonton. Film horor yang paling tak kusukai. Karena rasa bersalah, aku tak menolak. Tapi semakin lama, aku makin tak kuat. Ku tutup mata dan telingaku selama menonton, rasanya sudah tidak ada tenaga lagi saking takutnya.
" Kamu gak perlu takut, aku ada disini " ucap Joy lembut menyenderkan kepalaku di dadanya.
" Aku takut Joy... Aku paling ga suka nonton film horor " lirihku. Joy memelukku, ada perasaan berbeda saat dalam pelukannya. Hangat dan nyaman.
Joy langsung membawaku keluar, lalu menuju parkiran mobilnya. Kami masuk ke dalam mobil, Joy memberikan sebotol air kepadaku. Dengan tangan masih bergetar aku menerimanya lalu meminumnya.
" Maaf, harusnya aku tanya dulu mau nonton film apa " ucapnya khawatir melihat ke arahku.
" Harusnya aku yang minta maaf, aku udah maksa kamu, nyatanya just wasting time " sahutku lirih penuh penyesalan .
" Semua yang aku lakuin sama kamu itu gak sia-sia. Aku bahagia bisa jalan sama kamu " ucap Joy menatapku dengan lembut.
Aku tak tahu perasaan apa yang ada di hatiku, tapi aku suka melihatnya menatapku seperti itu. Kami pun segera pulang.
" Perasaan apa ini ? Aku gak mungkin suka sama Joy kan ? Ini gak bisa... ini gak boleh terjadi... " batinku.
Aku harus akhiri ini, aku gak mau terbawa perasaan. Aku gak mau khianati orang yang udah percaya sama aku.
Keesokan harinya sepulang sekolah, seperti biasa aku ada di ruang Mading. Tak lama Dita dan Danang datang diikuti Selly dan Ardi.
" Kemarin gimana ? " tanya Dita.
" Tanya aja sama cowok Lo itu " jawabku malas.
Dita melihat ke arah Danang, Danang menjawab dengan menggunakan kode.
" Gue nyerah, gue gak bisa terusin lagi " ucapku membuat mereka berempat kaget.
" Tapi kenapa Vey, dikit lagi berhasil " sahut Sely mendekatiku.
" Maaf, gue gak bisa... "
" Kenapa gak bisa ? Bukannya kemarin kamu yang paling semangat kalau kamu pasti berhasil " potong Joy yang tiba-tiba muncul.
" Joy... A... Aku... "
" Kamu takut suka sama aku kan ? " tanya Joy menatap mataku. Aku mengalihkan pandanganku menghindar dari tatapan mata Joy.
" Jawab aku " Joy menggenggam jemariku, membuatku kembali melihat ke arahnya.
" Aku gak tahu... " aku mengelak, menundukkan wajahku
Joy menghela nafasnya tanpa melepaskan genggaman tangannya.
" Sekarang jawab aku, apa kamu mau jadi pacar aku ? " tanya Joy lagi membuatku mengangkat wajahku menatapnya.
Joy tersenyum, senyum paling manis yang pernah kulihat. " Kamu mau kan jadi pacar aku ? " tanyanya lagi.
" Tapi... cewek itu " aku tak melanjutkan ucapannya karena mendengar kedua pasangan itu tertawa.
" Jadi ini akal-akalan kalian " Aku menebak-nebak melihat ke arah mereka berempat.
" Begitulah kira-kira, sukses kan " celetuk Ardi.
" Ini rencana kamu juga ?" tanyaku pada Joy.
" Kalau gak gini, kamu gak akan pernah deketin aku. Aku suka sama kamu sejak lihat kamu pertama kali. Tapi aku gak punya keberanian dan terlalu gengsi buat deketin kamu. Aku harus berterima kasih sama mereka karena udah bantu aku dapetin perhatian kamu " jelas Joy.
" Jadi kamu mau nerima aku kan ? " tanya Joy sekali lagi.
" Iya... Aku mau " jawabku tegas membuat Joy memelukku.
Hmm ternyata comblang juga perlu dicomblangin. He... he... he...
TAMAT