🌱🌱🌱
"Haechan tunggu!!!"
"ayo cepatlah!! kamu lama!!!"
Ana terus berlari mengejar Haechan teman barunya yang ia temui di taman. Mereka bermain kejar-kejaran, awalnya mengejar capung, tapi karena Haechan mengganggu Ana alhasil capungnya yang sudah ia tangkap lepas. Dan Haechan berniat menghibur Ana untuk bermain ayunan di taman yang lain.
"Wah aku baru tau ada taman bermain disini!" Ucap Ana setelah mereka sampai di taman bermain yang Haechan maksud.
"Lihat kita punya kuda-kudaan!" Ucap Haechan semangat sembari menunjuk sebuah Komidi Putar.
"Apa bisa berputar?" Tanya Ana antusias lalu dirinya menyusul Haechan yang sudah naik kudanya di Komidi Putar.
"Tentu saja!" Ucap Haechan, dan Ana pun tertawa kala Komidi Putar itu berjalan berputar.
Entahlah, tapi Ana merasa putaran Komidi Putar itu makin kencang, sampai-sampai dia tidak bisa melihat bayangan Haechan.
"Haechan aku takut!!!!" Ana berteriak sembari memegang tiang kudanya, sampai tangannya berkeringat dan pengangannya menjadi licin, alhasil—
GDUBRAK!!!
Ana menangis kencang kala ia terlempar jatuh, untung dia jatuh di pasir, tapi tetap saja dia luka parah, banyak darah yang mengalir, terutama bagian kepala, siku dan lutut nya.
Ana benar-benar menangis kencang sembari memanggil Haechan.
"Haechaan huwaaaaa sakiittt!"
"Ana! Ana! Ana!" Terdengar suara Papanya memanggilnya khawatir dan terkejut luar biasa.
"Papaaa!!"
Papa Ana segera menggendong Ana.
Ana memeluk leher Papanya sembari menangis. Dan Ana melihat Haechan melambai padanya di depan Komidi Putar.
"Mian—"
Kata yang Ana tangkap ketika dirinya melihat Haechan mengatakan sesuatu.
🌱🌱🌱
"Naaah pintar, makannya habis ... Ana sekarang mau makan apa lagi??" Tanya seorang babysitter yang sekarang sedang merawat Ana.
"Ana mau es krim!!!" Ucap Ana semangat.
"Tapi disini tidak ada yang jualan es krim sayang—"
"Huwaaaaa!!! Ana mau es krim!!! Gak mau tau!!! Ana mau es krim! Ana mau es krim!!!"
"Aduh iya, iya bibi carikan! Ayo!"
"Tidak mau! Ana mau disini main ayunan! Bibi yang cari es krim nya!"
"Janji?! Ana harus tunggu disini, mainan ayunan?! Jangan kemana-mana ya! Ingat kata Papa bulan lalu? Ana gak boleh main jauh-jauh, jika Ana hilang lagi Papa tidak akan bolehin Ana keluar lagi!"
"Iya iyaaaa janji!"
Ana pun kembali mengayunkan ayunannya dan sesekali menghentakkan pasir putih dibawahnya dengan kaki saat dirinya berayun.
Ana memelankan kecepatan ayunannya saat ia mendengar ada tawa.
Ana menghentikan ayunannya lalu berdiri. Ana hanya melihat beberapa teman-teman sebayanya yang bermain prosotan dibagian lain, Ana memang tidak bisa berbaur karena larangan orangtuanya yang tidak membolehkannya main sembarangan diluar, Ana memang sering di kurung, sehingga membuat Ana tidak punya teman dan hanya bisa menatap teman-teman sebayanya bermain.
Tapi itu sudah lebih dari cukup, perbedaan sosial dan kasta menjadi alasan mengapa Ana menjadi seperti ini.
kembali lagi mencari tawa seseorang, yang pasti itu bukan tawa dari teman-teman sebayanya, tawa ini dekat dengannya. Tepat dibalik semak.
"Hah?! Haechan?!"
"Ana!"
"Dia siapa??" Ana bertanya antusias sekaligus senang, akhirnya dia bertemu lagi dengan temannya ini.
"Ini Mark! Temanku!"
"Hai Mark! Aku Ana!!"
"Hai! Aku Mark!"
"Ana mau semangka?" Tanya Mark sembari menyodorkan potongan buah semangka.
"Mau!!!"
"Ini ambilah!" Ucap Mark sembari tersenyum. Mereka bertiga tak lama menjadi teman akrab.
Ana menoleh karena mendengar jeritan teman-teman sebaya nya yang histeris.
"Mereka kenapa?"
"Tadi ada yang jatuh!" Ucap Haechan.
"Kita mau apa nih??" Tanya Ana
"Main Komidi Putar??" Tawar Haechan. Ana menggeleng cepat.
"Tidak mau!!"
"Kalau begitu main ke rumah Mickey Mouse??" Tawar Mark. Ana tampak berbinar lalu mengangguk.
"Kalau begitu ayo! Disana juga ada semangka lagi loh!" Ucap Mark senang. Ana pun mengangguk dan berjalan mengikuti Haechan dan Mark.
"Aduh!" Ana tersandung dan mengaduh kecil.
"Ana are you okay??" Tanya Mark yang langsung membantu Ana.
"Ana tidak papa??" Tanya Haechan juga.
"Tidak papa ... " ucap Ana lirih. Ana menoleh ke belakang, dia ingin es krim sepertinya dia mendengar suara bibi nya.
"Aku mau mengambil es krim ku bisa??"
"Mau aku ambilkan saja?" Tawar Haechan.
"Tapi cuma satu!"
"Aku punya es krim rasa semangka!" Ucap Mark kemudian membuat Ana kembali berbinar.
"Mau!!!"
"Kalau gitu ayo!"
🌱🌱🌱
Setelah makan es krim semangka, mereka pun bermain ayunan lagi. Mereka bermain bergantian, walau lebih sering Mark yang membantu mengayunkan.
"Hahahaha Mark yang kencang lagi!!!" Jerit Ana kesenangan, ia duduk disamping Haechan sembari saling memeluk.
"Yang kencang lagi Mark!! Yang kencang!!" Ucap Haechan juga.
Mark berucap 'oke' dan ayunan pun diayunkan kencang. Ana tertawa keras bersama Haechan, hingga menangis saking kerasnya Ana tertawa, dan matanya menyipit sampai tak bisa melihat apapun.
🌱🌱🌱
ayunan berhenti dan Ana sudah merasa lelah, Ana berdiri di hadapan Mark dan Haechan.
"Yaaahh nggak jadi ke rumah Mickey Mouse!" Ucap Ana sedih.
"Masih bisa kok! Ayo!" Ucap Haechan bersemangat.
"Tapi ini udah sore ... " ucap Ana lagi sedih.
"Pasti aku di cari sama—ITU PAPA!!!" Ana berucap antusias kala melihat Papa nya bersama orang banyak datang.
"Aku pulang dulu ya Haechan! Mark!" Ucap Ana lalu melambai.
"Jangan pulang ... " ucap Haechan sembari memegang tangan Ana.
"Aku harus pulang Haechan ... " Ucap Ana memberi tau lagi.
"Kami gak punya temen perempuan selain kamu ... " Ucap Haechan sedih.
"Iya ... kamu disini aja, kita bisa masuk ke rumah Micky Mouse dimalam hari, lebih seru kalau malam!" Ucap Mark ikut sedih dan menahan Ana.
"Lebih bagus waktu malam??"
"Iya!!! Dan kamu tau?! Kita juga punya bianglala loh! Ucap Haechan bersemangat.
"Bianglala?!"
"Iya!!! Makanya kamu disini aja! Kita ada teman yang lain kok! Tambah ramai!"
"Kok kalian gak bilang kalau punya temen lagi??"
"Iya, mereka masih asyik bermain di taman yang lain, ini kan masih di ujung taman belum masuk taman bermain yang didalam, yang lebih luas!"
"Rumah Micky Mouse disana??"
"Iya!!"
"Yaudah ayo!!!"
Haechan dan Mark tersenyum lalu menggandeng kedua tangan Ana.
"Ana mian—kamu udah mau jadi temen kami,"
"Iya sama-sama! Gak perlu minta maaf, harusnya tuh berterimakasih!" Ucap Ana sembari tersenyum.
Ana berjalan ikut dengan Haechan dan Mark, ia pun menoleh ke belakang melihat Papanya yang menangis meraung-raung di ayunan tempat dirinya, Haechan dan Mark bermain tadi.
"Papa jangan nangis, Ana cuma mau lihat rumah Mickey Mouse, nanti pulang deh!" Ucap Ana sembari terus melangkah tetapi menoleh ke belakang.
"Papa kok gak pernah bilang kalau Papa punya teman polisi sih? Kenapa juga gak pernah bilang punya teman dokter? Kenapa dokternya banyak banget?? Yang pakai baju putih itu dokter kan Mark??"
"Itu petugas medis Ana,"
"Bibi aku juga sedih! Sampai es krim pesananku jatuh!"
"Nanti kita makan es krim semangka punya Mark!"
Ana mengangguk tersenyum, lalu kembali menatap kedepan menuju rumah Mickey Mouse bersama Haechan dan Mark.
"Ana mianhee—" Ucap Haechan dan Mark, dan Ana hanya mengangguk dan tersenyum.
🌱🌱🌱
Sementara Papah Ana, tampak streess.
Bayangan jasad putri kecilnya dengan banyak darah disekujur tubuhnya masih menghantui.
Leher yang terikat dirantai ayunan, area mulut yang penuh darah mengingatkan dirinya pada Ana kecil yang selalu makan belepotan terlebih jika makan es krim atau buah semangka, hanya saja lebih parah karena hampir semua wajahnya terkena belepotan darah itu.
"AAAAAAAARRRGGGHHHH!!!"
DOR!
Papah Ana menembakkan peluru pistolnya setelah berteriak.
Tubuh babysitter Ana perlahan jatuh ke lantai karena kepalanya yang pecah tertembak.
Baru setelahnya Papa Ana tersenyum, menangis, lalu tertawa kencang.
stresss!!!
~END
🌱🌱🌱