"Di mana ini?" Pertanyaan yang terlintas dalam hati. "Ternyata, begini rasanya ketika aku mati. Gelap gulita di setiap pandangan. Pendengaran tidak berfungsi, tubuh mati rasa yang seakan-akan kamu tak berawak, dan aku tidak tau di mana sekarang aku berada?" Kata hati yang aku rasakan.
Tiba-tiba terjadi sebuah getaran. Getaran yang mengguncang, membuatku takut dalam gelap ini.
"Kenapa ini, apa aku akan mati lagi setelah mati?" Pertanyaan aneh terlintas lagi di hatiku.
Suatu hal aneh terjadi, terasa aku tersedot sesuatu. Bagaikan asap yang tersedot lubang asap.
Ketakutan masih terasa dan kebingungan juga menyertai.
Getaran kembali terasa, sekarang lebih besar. Rasa yang aneh aku alami lagi, seakan-akan kau masuk dalam lemari yang pengap.
'Yang lebih keras lagi!' Kata yang samar-samar mulai terasa di telingaku.
Tubuh mulai terasa kembali, detak jantung terasa, kepalaku terasa berat, dan pipiku bergetar.
"Coba lagi, kalo sekarang gak bisa kasih nafas aja," kata seseorang yang terdengar.
Plak!
Yang benar saja, aku seketika membuka mataku. Aku merasa seperti bangkitnya Vampir yang tidur 10 Ribu Tahun. Pipi yang perih dan panas terasa sekali saat ini.
Pandanganku kembali lagi, 2 bola mata ini menatap 2 orang yang duduk di sampingku berbaring.
"Udah sadarkah dia?" Tanya Bronis kepada Raka. "Udah seharusnya ini, liat aja dah terbuka matanya" ucap Raka. Aku sudah jelas sekali mendengarnya saat ini.
"Apa kalian juga ikut aku mati?" Ucapku dengan aneh.
Mereka bingung dengan kataku, bisa di bilang mereka mengucapkan 'Apakah dia sudah gila?'.
"Ini masih si Lepan, bukan?" Ucap Bronis. "Iya jelas akulah, siapa lagi. Tapi ini dunia nyatakah?" Pertanyaan aneh aku ucapkan. Terasa kamu bertanya tanpa berpikir. Mereka cuma membalas dengan senyuman.
"Mungkin dia sudah bodoh, gara-gara tamparanmu Bronis," ucap Raka yang melihat Bronis. "Jangan nakutin oranglah, bahaya lo anak orang. Tapi, tadikan cuma 10 kali aja dan gal keras kok ... hehe," jawab Bronis.
"Ape, sepuluh kali je. macam tak puas ye...." Ucapku yang mulai lupa akan pertanyaan tadi.
"Sabar, jangan marah. Tadi kau pingsan lama sekali. Kalo gak di tampar mana mungkin bisa sadar," ucap Bronis membela dirinya.
Aku tersadar kembali setelah kata 'Pingsan' itu. Ingatan mulai kembali perlahan. Kecuali ingatan saat membuka pintu terahir itu.
"Udah lupakan saja, walau sakit pipiku. Tapi terimakasih sudah membangunkan ku," ucapku.
Aku duduk bersama mereka, wajah mereka berubah seketika. Dalam hatiku merasa mereka bertanya 'Apa yang kau lihat di sana?'. Tapi walau di tanya juga gak bisa aku jawab.
"Berapa lama aku pingsan?" Tanyaku. "Cuma 30 Menit aja, lamanya saat membawa kau keluar itu aja." Jelas Raka padaku.
Waktu 30 Menit bukan waktu yang sebentar, tapi itu sudah cukup untuk masak mei instan 10 bungkus. Aku senang punya teman yang mau menjaga dan membantu saat aku kesusahan.
"Apa kalian melihat apa di balik pintu itu?" Tanyaku penasaran.
"Tidak, kami langsung membawamu keluar setelah jatuh itu. Pintunya tertutup sendiri juga, membuat aku takut juga," kata Bronis.
Mereka juga tidak melihatnya, aku juga tak ingat apa yang ada di sana. Seakan-akan ingatanmu itu lenyap seketika.
"Baiklah, biarkan saja berlalu. Tapi apa kalian tidak penasaran?" Tanyaku kembali. Mereka menatapku yang selesai bertanya.
"Sebenarnya kami penasaran, tapi kami panik saat itu jadi kami tidak membukanya. Maunya bertanya pada mu, tapi kamu juga gak ingat. Ya biar aja jadi rahasia yang gak jelas," ucap Raka.
Saat kami sedang bercakap-cakap. Terdengar suara 'Bag!', dari dalam rumah kosong itu. Kami bertiga seketika terdiam. Kami bingung, siapa yang ada di dalam. Perasaan tidak ada orang yang mengikuti saat masuk ke sana.
Bukannya kami berdiri dan berlari tapi sebaliknya kami masuk lagi ke dalam rumah itu.
"Ayo masuk bersama-sama sekarang," ucapku dengan yang lain.
Kami mulai masuk, suasana sepi dan sangat sepi membuat kami jadi merasa aneh, tapi kami tetap maju. Perasaan masih sama seperti pertama kali masuk. Bau pengap, ruangan kotor, dan atap bocor.
"Gak ada orang loh, tikus mungkin kah?" Ucap Bronis yang mulai aneh.
"Hm.. angin gak sih. Bisa buka pintu sendiri, nyuci sendiri, dan semua sendiri." Ucap Raka dengan suara mengejek.
Aku dan Bronis cuma tersenyum saja. Ruangan yang tidak terlalu cerah membuat pandangan kami sedikit tergangu.
"Udah gak ada apa-apa." Ucapku setelah keliling di sana kecuali ruangan itu.
"Hm.. ya juga, tapi masih ada satu ruangan. Gimana mau lihat gak?" Ucap Raka. Aku menganggukkan kepala yang berarti 'Ya'.
Akhirnya, ruangan rahasia ini kami hampiri bertiga. Semua rasa penasaran kami berkumpul. Kami tidak takut walau sudah membuatku pingsan tadi.
"Ayo, pasti bisa. Apa yang sebenarnya ada di dalam." Ucapku dengan Dua orang di sampingku.
Krett!
Tidak ada yang aneh, berbeda dengan saat aku yang membukanya. Saat aku yang membukanya, terasa aliran angin dingin menyapa tubuhku. Kenapa anginnya tidak ada lagi? Yang membuat sedikit ingatan terlintas lagi.
Kami melihat sekeliling ruangan itu. Yang ada cuma kasur, lemari, meja, kursi, dan jendela. Semua sudah dalam keadaan rusak dan bau di dalam lebih menyengat lagi. Tapi yang aku rasakan pribadi, rasanya ada yang tinggal di sana tapi tidak dapat aku lihat.
Setelah sekian lama melihat sampai puas. Tidak ada yang aneh, semua normal untuk rumah kosong yang sudah di tinggalkan ini. Kami keluar dengan rasa tidak puas, kenapa tidak puas? Karena kami juga berharap menemukan sesuatu yang aneh.
"Ayo keluar aja. Udah gak ada apa-apa lagi, aku lapar lagi nih," ucap Bronis memegang perutnya.
Kami keluar dengan membiarkan pintu itu terbuka. Sampainya kami di luar masih tidak ada yang aneh kembali.
"Kenapa aku merasa seperti ada yang mengawasi?" Batinku.
Kami langsung pergi pulang ke rumah. Tidak ada 50 Meter dari depan rumah kosong itu. Suara pintu tertutup terdengar keras. Tapi kami tidak peduli lagi, yang kami bayangkan 'Mungkin itu angin aja'.
Sampai jarak lebih dari 100 Meter aku dan yang lain diam. Kami ingin menoleh seketika ke belakang. Bayangkan kalian dalam posisiku, dari kejauhan nampak sosok seseorang di dalam rumah itu.
Sosok itu melihat ke arah kami. Tapi kami tidak merespon dengan takut, kami hanya diam saja. Satu kedipan mata, sosok itu lenyap dalam pandanganku. Dia menghilang dan tidak terlihat lagi. Sambil melanjutkan perjalanan dengan yang lain aku berkata 'Mungkin dari Dimensi lain....
Tamat.
Kasih like dan komen bile suke ye...😁