💖💖💖💖💖💖
POV PUTRI
Jam dinding kini menunjukan pukul sepuluh siang. Aku menghempaskan tubuhku di sofa, rasa lelah membuatku ingin segela merebahkan badan untuk bersantai sejenak memanjakan diri setelah berkutat dengan beraneka ragam pekerjaan rumah yang kumulai sejak bangun subuh tadi.
Dimulai dari cuci piring, menyediakan sarapan, beres-beres rumah seginclong mungkin hingga berasa nyaman untuk dipijak dan dilihat. Walaupun sejam kemudian, rumahku akan kembali acak-acakan oleh anakku bila sudah membawa bala tentaranya datang kerumah. Tapi ya ... mau bagaimana lagi sudah resikonya punya anak kecil dirumah, rumah berantakan ditambah teriakan-teriakan mereka yang terkadang membuat kepala tiba-tiba berdenyut hebat 😄 Membuat suara lembutku yang biasanya merengek dan merajuk manja berubah jadi suara nenek sihir yang melebihi seramnya mak lampir😂
Aku menggapai ponselku diatas meja tanpa bangkit dari posisi rebahanku karena kebetulan ponsel itu terletak disamping sofa yang kini menjadi tempatku merebahkan badan.
Sejenak bersantai ria sambil membuka-buka ponsel adalah salah satu media hiburanku melepas kepenatan dan rasa jenuh yang sesekali melanda.
Sejak statusku berubah menjadi pengangguran dan ibu rumah tangga sejati, aku lebih banyak mempunyai waktu luang dirumah. Malas bertetangga yang ujung-ujungnya hanya bergibah ria membicarakan gosip terkini yang menjadi topik terhangat dikampungku, dengar mereka nyerocos ini-itu mengalahkan pembawa acara SILET di Televisi😂
Aku lebih memilih mencari hiburan lewat sosial media, walau ujung-ujungnya tetap bisa berghibah juga dengan teman di dunia maya😂 Sesekali saja aku bermain ke tetangga demi tujuan mempererat tali silaturahmi saja, baik buruknya tetangga tetaplah mereka saudara kita. Gak mungkin kan saat aku sakit terus minta tolong anterin ke teman dunia maya yang entah rumahnyapun berada dimana😂 maka dari itu tetap jagalah hubungan baik dengan para tetangga terdekat kita walaupun mulutnya terkadang lebih pedas dari ucapan para netizen di sosial media😂
Aku tersenyum, setengah tertawa saat melihat postingan seseakun yang sangat lucu menurutku. Aku hanya menyimak tanpa berani koment karena sang pemilik hati sudah memberi ultimatum untuk tidak terlalu eksis di sosial media apalagi mengunggah photo-photo yang berpose bak artis Syahrini yang lagi imut-imutnya, padahal aku dan Syahrini gak ada sedikitpun mirip-miripnya😂 bahkan jempol kakikupun tetap sangat jauh sekali kemiripannya😄
Aku hanya sekedar melihat status dan komentar-komentar lucu diberanda yang membuatku seketika tertawa terbahak bergembira. Rasa lelah sedikit sirna setelah sibuk berpeluh menghadapi wajan dan penggorengan diatas kompor, mematangkan sayur dan lauk yang tadinya mentah menjadi lauk matang yang layak untuk dimakan walaupun tak seenak masakan para Chef ternama tapi masih mending ada rasanya, kalau gak keasinan ya kemanisan😂 Alhamdulilah masakanku selalu habis dimakan keluarga, karena kalau gak dimakan mereka pasti takut dengan ancaman saya😂 ups🙊
Sebuah massangger masuk saat aku scroll terus beranda FB hingga ku lihat semua status-status teman sosial mediaku yang beraneka ragam, macam, warna, rupa dan bentuknya. Seiring waktu aku jadi masa bodoan dengan status orang-orang, mau begini mau begitu itu hak mereka, yang penting tidak mengusik dan menyenggol namaku disana.
Inboknya perlahan ku buka dari sebuah akun laki-laki yang namanya mirip artis luar negeri. Entah laki-laki jadi-jadian ataupun laki-laki beneran mana ku tahu😄
'Hai cantik, kenalan dong. Kamu orang mana? boleh minta no Hp-nya'
Begitu bunyi pesan inbok tersebut. Aku menutup mulut untuk menahan tawaku.
Buaya bukan hanya ada dimuara dan rawa-rawa saja tapi di sosial media ternyata lebih banyak😄 itu ucapan ayank mbeb yang sering mengingatkanku untuk tak terpancing gombalan para buaya yang tengah mencari mangsa.
Timbul niat isengku untuk balik membalas sebelum pada akhirnya pasti aku blokir akun sesebuaya itu😂. Tapi niatku tertahan saat teringat ucapan sang Imam sholatku walau cuma sesekali, karena seseringnya kami solat masing-masing🤭.
Jangan pernah macam-macam, awas! ancamnya suatu waktu karena pernah sekali ketahuan ada inbok sesemantan yang ku balas, yang sempat jadi huru-hara eh bukan huru-hara tepatnya tapi jadi ajang lomba saling kunci mulut diem-dieman paling lama. Dan tentu saja aku sang ratu rumah tetap jadi juaranya, karena pada akhirnya sang raja tetap akan selalu kalah tepatnya mengalah, karena sang ratu tak mau melayani segara keperluan siang malamnya.
Facebook ku tutup beralih membuka aplikasi si pesan biru, yang ternyata sudah banyak pesan-pesan yang belum sempat aku buka. Akupun mulai membuka satu persatu dan membalasnya. Menghargai perhatian mereka yang sudah meluangkan waktunya mengirim pesan untukku, walaupun sekedar bertanya 'Masak apa Jeng, hari ini'😄 ... panggilan 'Jeng' itu mendadak membuatku merasa menjadi emak-emak sosialita yang hobynya kumpul-kumpul reuni sama teman-teman seangkatannya.
Aku tersenyum-senyum membalas satu persatu chat yang kebanyakan justru dari teman dunia maya. Ada yang curhat berkeluh kesah, akupun akan sigap membalas bak wanita dewasa yang arif menyikapi setiap masalahnya, memberi masukan dan nasihat dengan begitu bijaksananya, padahal aku sendiri nangis guling-guling bila ada masalah kecil sedikitpun yang menimpa. Bukan berpura-pura tapi menasihati itu memang mudah beda dengan saat kita menjalankannya. Siapa tahu ada nasihat yang mereka ambil dan membantu memecahkan masalah mereka.
Ada yang cuma ngajak ngobrol ngaler-ngidul tentang sesuatu hal yang tak berfaedah, biarlah itung-itung ngisi waktu sambil melepas lelah. Menghibur diri setidaknya hati ini bisa senang dan bergembira diantara tumpukan masalah didunia nyata.
Tapi tentu saja, kali ini aku membatasi diri. Cukup hanya sekedar saling mengenal teman-teman dunia maya, tanpa melibatkan perasaan dan berharap ingin lebih dekat menjadi sahabat. Belajar dari kesalahan sebelumnya yang pernah aku lakukan diawal, saat aku baru membuka diri di dunia maya dengan orang-orang asing yang tinggal jauh diluar kota dan sama sekali tak ku kenal. Pernah terlalu berharap, hingga pada akhirnya aku terluka saat harapan mempunyai sahabat dekat itu sirna ... menyisakan kesedihan dan kekecewaan yang membuatku jadi trauma dan takut mengalami kejadian hal yang serupa.
Ketika ku rasa sudah bosan, aku lebih baik memejamkan mata dan mengistirahatkan badan. Melupakan segala beban realita yang bila terlalu dipikirkan hanya akan membuat isi kepala ini cenat-cenut tak karuan.
Baru juga mata ini akan terpejam, ketika jiwa baru melayang menuju mimpi ke alam khayangan, aku terkaget saat tiba-tiba seseorang menindihku yang kini masih berbaring terlentang di sofa kesayangan. Ingin aku memaki karena membuatku tersentak kaget.
Namun saat ku buka mata, ku lihat wajah anaku yang menatapku tersenyum tanpa merasa berdosa. Padahal selain badanku sakit karena ditindih, mimpiku bertemu pangeran berkuda pun menjadi sirna. Ia baru pulang dari sekolah.
"Makan, Mah ...," rengeknya.
"Baru juga Mamah mau tidur, Dek ...," keluhku dengan nada malas. Tapi akupun segera beranjak bangun, menyiapkan makan dan segala keperluan si kecil. Nikmatnya jadi ibu rumah tangga sejati karena pekerjaan rumah rasanya tak pernah ada hentinya, tapi Insya Allah semua berpahala asalkan kita ikhlas menjalankannya.
🙄🙄 Cerpen macam apa inih🙄🙄🙄😂😂🤣