"Dasar ... Anak sialan! sekali lagi kamu berani membantah, maka jangan harap! Kamu bisa makan hari ini."
Ibu tiriku lagi-lagi memarahiku karena hari ini uang yang kudapatkan dari hasil minta-minta sangat sedikit.
Namaku Rika, umurku baru 9 tahun. Pekerjaanku memang meminta-minta, bukan keinginanku untuk melakukan pekerjaan hina itu, semua kulakukan karena paksaan dari Ibu tiriku.
Ibu kandungku sudah meninggal sejak aku berusia 6 tahun. Bapakku menikah lagi dengan Meli, janda satu anak dua tahun yang lalu. Sejak menikah, Ibu tiriku memang tidak pernah sayang padaku. Sikapnya selalu baik padaku hanya saat ada bapak di dekatku, tapi saat bapak bekerja, kata-kata kasar bahkan siksaan sudah menjadi makananku.
Siksaannya semakin menjadi selama enam bulan terakhir, sejak Bapak mengalami kecelakaan kerja di pabrik. Kakinya harus diamputasi, sehingga bapak tidak bisa bekerja lagi.
"Bu, sudah ... jangan marahin Rika lagi, hiks ... hiks." Air mata bapak mengalir tak kuasa melihatku yang dimarahin ibu.
"Kenapa? Kamu kasihan sama dia, kalau gitu kenapa Kamu tidak ngemis aja sama dia. Pasti banyak orang-orang kaya yang bakal kasihan sama kamu, lihat Kamu cacat. Pasti bakalan banyak dapet duit," ucap Ibu tiriku sambil tertawa, kemudian berlalu meninggalkanku dan Bapak di gudang.
Gudang yang kini menjadi tempatku bersama bapak beristirahat. Sebenarnya, dulu rumah kami besar tetapi semenjak Bapak sakit, Ibu tiriku menjual rumah dan uangnya ia habiskan untuk berfoya-foya bersama Tika, anak kandungnya.
Malam ini kami tidur dengar perut lapar. Ibu benar-benar tidak memberi kami makan. Aku kasihan melihat Bapak, sebenarnya Bapak punya sakit asma. Jika, dalam keadaan dingin seperti ini penyakit bapak sering kumat, sedangkan obatnya sudah habis sejak seminggu yang lalu.
Hujan malam ini begitu deras, embusan angin masuk melalui celah-celah jendela yang terbuka, benar-benar dingin karena kami tidur di lantai dan hanya beralaskan kasur yang tipis.
"Ani ... ani ...." Ayah meracau memanggil nama Ibu.
Aku terbangun melihat tubuh Ayah menggigil, suaranya berat, aku menyentuh keningnya, dan benar-benar panas. Napasnya sesak, keringat mengucur hebat di seluruh tubuhnya.
"Pak ... Bapak ... kenapa Pak!" Aku menggoyang-goyangkan badannya.
Karena kebingungan, aku berlari keluar meninggalkan bapak. Aku menuju kamar Ibu tiriku, kuketuk berkali-kali, Aku memanggil nama Ibu dengan keras berharap Ibu dapat bangun dan mendengar teriakkanku.
"Ada apa sih, teriak-teriak! Gak tau apa orang lagi tidur," ucap bu Meli sesaat setelah membuka pintu.
"Bu, Bapak ... Bu, badannya menggigil, tolongin Bapak Bu." Aku mengatupkan kedua tanganku berharap ibu mau berbelas kasihan.
"Ada apa sih sayang?" Seorang lelaki datang dari dalam kamar dan memeluk ibu tiriku dari belakang.
"Gak pa-pa sayang, cuma parasit. Ayok kita lanjutkan permainan kita." ibu tiriku menutup rapat pintu kamar, tak memperdulikan tangisanku.
Aku tak terkejut melihat ibu dengan laki-laki itu di dalam kamar, karena dulu sebelum ayah sakit aku sering memergokinya berkencan di luar.
Aku kebingungan memilih kembali ke kamar menemani bapak. Saat aku kembali, tubuh bapak sudah tidak mengigil, wajahnya juga terlihat pucat. Aku berjalan mendekat, tubuhnya yang tadinya panas berubah menjadi dingin.
"Pak ... Bapak ...," lirihku tapi bapak diam tak bergeming.
Aku diam sesaat, kulihat ibu kandungku tersenyum berdiri melihatku. Apakah aku sedang berhalusinasi, tapi ibu terasa nyata, dia mengajakku tidur di samping bapak. Aku mengikutinya, jadilah aku tidur terlelap di tengah-tengah ibu dan bapakku, hatiku benar-benar bahagia.
****
Esok pagi aku bangun, tak pernah aku merasa tidur senyenyak ini. Namun, ada hal aneh saat aku membuka mata.
"mengapa langit-langit rumahku terasa asing," ucapku dalam hati.
"Tuan Putri, Anda sudah bangun." Ada dua orang pelayan perempuan yang masuk ke kamarku, pakaian mereka aneh, tapi mengapa mereka bisa masuk ke sini.
Aku masih berkutat dengan pikiranku, tiba-tiba mereka menarikku dari ranjang dan membawaku ke dalam sebuah kolam yang penuh dengan bunga dan wewangian aromatherapy. Mereka melepas pakaianku dan mulai menyiram tubuhku dengan air dan juga memijat seluruh tubuhku.
Selesai mandi mereka membawaku ke dalam ruangan, banyak sekali gaun indah di sini tapi gaun ini sepertinya kelihatan kuno tapi tetap cantik.
"Tuan Putri, anda ingin memakai pakaian yang mana?" ucap salah satu dari pelayan itu.
Aku kebingungan tak bisa menjawab karena aku benar tidak mengerti apa yang terjadi.
"Maaf, Aku tidak tahu. Bisa kalian jelaskan Aku berada di mana?"
Kedua pelayan saling bertatapan sepertinya mereka juga bingung dengan pertanyaanku.
"Tuan Putri, kami tidak tahu apa yang tuan Putri maksud."
Aku menghela napas, benar-benar bingung lalu aku berkata pada pelayan itu, "Kalau begitu kalian keluar saja, kalian terlalu berlebihan. Aku bisa sendiri."
"Tuan Putri, maafkan kami. Apa tuan Putri marah, tolong jangan usir kami. Kami tak ingin dihukum."
Aku heran mengapa mereka harus dihukum, apa yang mereka lakukan? Lalu, apa hubungannya denganku mengapa mereka sepertinya ketakutan.
Aku membiarkan mereka memakaikan baju untukku, baju yang sangat indah sekaligus aneh untukku. Baju berwarna cerah dengan motif renda, bagian pinggang sangat ketat. Mereka menyisir rambutku dan mengepangnya menjadi dua.
Setelah selesai mereka membawaku, katanya untuk makan bersama keluarga. Aku masih bingung, keluarga mana yang mereka maksud, 'apakah ibu tiriku menganggapku keluarga? Aku tidak sudi. Apakah Bapak, Ah ... benarkah Bapak mengajakku untuk makan!' pikiranku sedikit senang.
Saat kedua pelayan membuka pintu kamar, aku tertegun, sepertinya aku berada di dunia berbeda. Tempat ini begitu besar dan megah. Lampu gantung yang terang dan indah, Aku berdiri di atas tangga dan melihat lantai bawah ada banyak orang yang sedang melihatku dengan tersenyum.
Aku berpaling melihat ke kanan dan kiri, kedua pelayan tertunduk tak berani menatapku. Ada apa ini!
"Tuan Putri, silahkan turun. Semua orang sudah menunggu," ucap salah satu pelayan.
Aku berjalan turun menapaki tangga, ketika sampai, aku bingung tak ada satu orang pun yang aku kenal. Mereka semua berdiri menatapku, sepertinya ada jamuan makan karena banyak macam makanan tersedia di atas meja yang sangat panjang.
"Selamat datang kembali Tuan Putri Elena." Seorang pria paruh baya berkata dan menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
Aku tak mengerti apa yang dia katakan, lalu seorang wanita menghampiri dan memelukku.
"Elena ... sayang ... Aku sangat merindukanmu." Wanita itu memelukku dengan sangat erat seperti pelukan ibuku dulu."Sudah lama Kau tertidur, sudah banyak tabib kami datangkan dari segala penjuru untuk mengobatimu, tapi tak ada yang bisa. Sebuah keajaiban tiba-tiba Kau bangun dan lihatlah, Kau semakin cantik," lanjutnya.
Semakin membingungkan 'Ada apa sebenarnya?' pikiranku kacau hingga dua orang pengawal membawa paksa seorang wanita dengan keadaan yang menyedihkan, tangan dan kakinya di rantai, seluruh tubuhnya penuh dengan bekas cambukan.
Aku pun bertanya, "Siapa dia?"
"Dia adalah Selir Amonia, kejahatannya adalah meracuni seluruh anggota kerajaan, termasuk Baginda Raja dan Permaisuri Ratu kerajaan Abony. Beruntung Tuan Putri masih bisa selamat."
"Tuan Putri Elena, hukuman apa yang pantas untuk pengkhianat seperti dia," ucap lelaki paruh baya itu, sepertinya dia punya jabatan penting di kerajaan ini.
"Tuan Putri Elena ... maafkan saya, tolong ampuni saya." Wanita yang mirip sekali dengan ibu tiriku memohon ampun sambil berlutut di kakiku.
Ada perasaan senang dalam hatiku, melihat dia menderita seperti yang kurasakan selama ini. Apakah Tuhan memberikan aku kesempatan untuk membalasnya?
Tiba-tiba perhatianku tertuju pada seseorang yang berdiri tak jauh dibelakangku. Wajahnya sangat mirip dengan lelaki yang berada di kamar ibu pada malam itu.
Aku berjalan mendekati tahanan wanita itu, sedikit menundukkan kepalaku karena dia duduk tak berdaya.
"Aku akan mengampuni asalkan kau mengatakan sejujurnya mengapa kau melakukannya dan siapa orang yang membantumu." Aku berbisik padanya, agar dia mau buka mulut.
Mimik wajahnya seketika berubah, ada secercah harapan di wajahnya, hingga dia menunjuk seseorang.
"Dia ... Pangeran Theo. Dia yang menyuruhku melakukan semua ini agar Dia bisa menjadi raja di kerajaan Abony dan Dia berjanji akan menjadikanku Ratu satu-satunya di kerajaan ini. Dia yang memberikan aku racun untuk membunuh keluarga kerajaan."
"Kurang ajar Kau!" Lelaki itu mendekat dan memukul selir Amonia, "Berani-beraninya Kau menuduhku, dasar wanita iblis," lanjutnya.
"Hentikan! Kau pikir aku bodoh tidak tahu semuanya. Pengawal, cepat! seret mereka ke dalam penjara bawah tanah. Jangan ada yang memberi mereka makanan. Aku ingin melihat mayat mereka membusuk di sana," perintahku dan langsung pengawal menyeret mereka.
"Tuan, tuan Puteri. Kau sudah berjanji akan melepaskanku kalau aku jujur," teriak wanita itu mengiba.
"Apakah Kalian mendengar kalau Aku berjanji akan melepaskannya." Aku menatap mengitimidasi orang-orang disekiling ruangan ini dan mereka menunduk tak menjawab.
"Cepat! Bawa mereka."
Aku tersenyum melihat penderitaan wanita iblis itu, dia tak pantas untuk hidup untuk saat ini ataupun di masa yang akan datang.
Aku, Putri Elena telah membalaskan penderitanmu Rika, kini tak ada lagi yang berani jahat kepadaku karena sekarang aku berkuasa.
Putri Elena penguasa kerajaan Abony, tahun 1915.