Dia Mengubah Kebencian ku terhadap Musim dingin.
***
Malam Yang dingin, Jefan Duduk di samping Perapian dengan di temani Secangkir Coklat panas Yang mulai mendingin. Sekarang tanggal 04 bulan Desember 2021
Musim dingin telah tiba dan Jefan sangat Benci ini. Nafasnya terasak sesak saat di musim dingin, dia juga tak tau Apa alasannya.
Jefan sedang merenung menatap keluar Jendela Rasanya ada yang janggal pada dirinya. Bukankah dia harus menyelesaikan Naskah Novelnya yang tertunda sejak kemarin? Tanpa Aba-aba Jefan bangun dari Tempat duduknya dan mengambil Mantelnya yang tergantung di Kursi.
Dia keluar dari tempat tinggalnya, Yaitu perumah Yang letaknya dipinggir kota Yang Tak Jauh dari Hutan. Ia berjalan di Trotoar sambil Merenung, Tak biasanya Jefan Seperti ini Biasanya dia akan mengurung diri di dalam rumah saat Musim dingin dan Keluar Jika Saat mendesak saja.
Kakinya berhenti di depan sebuah toko Bunga. Dia memasuki toko itu tanpa ragu
Tringgg
Suara lonceng yang menandakan bahwa pintu toko terbuka, Ia langsung di sambut oleh Seorang Gadis Yang sedang sibuk menata beberapa bunga di sampingnya.
"Selamat datang di toko kami, Apakah anda perlu Sebuket bunga?" Tanya Gadis itu Tersenyum ramah sambil membawa setangkai bunga di tangannya
"Ah. Ya?" Lamunan Jefan buyar, dia terkejut Bagaimana bisa dia berada disini? Jefan serasa sedang disihir, dia merasa beberapa detik Yang lalu masih berada di Ruang tamu rumahnya tapi kenapa sekarang dia berada di sini.
"Apakah anda perlu bunga? Bunga Camellia Sangat indah di musim Dingin" Gadis itu tersenyum sambil menyodorkan setangkai bunga Camellia Japonica Ke Jefan.
"Benarkah?" Jefan menerima setangkai bunga itu dan mengirup aromanya, Dia tak begitu paham soal bunga tapi yang ini terasa Sangat hangat. Dadanya yang biasanya sesak terasa lebih baik dan Nyaman
"Saya beli satu buket"
"Baiklah, Di antar atau Di tunggu?" Tanya Gadis Itu sambil berjalan mengambil beberapa bunga yang akan ia gunakan.
"Saya tunggu saja"
"Kalau begitu silakan duduk dulu" Sambil menunjukan Tempat duduk di dekat beberapa karangan bunga Yang terpajang di jendela toko.
Jefan berjalan Ketempat duduk itu dan Tepat saat dirinya ingin mendaratkan tubuhnya dia Kursi itu, Sedetik kemudian dia langsung berada di Ruang tamu Rumahnya. Apakah dia sudah gila?!
"Tunggu sebentar?! Apa yang terjadi?" Jefan linglung dan menatap sekelilingnya, bukankan dia berada di toko bunga tadi, kenapa Sekarang tiba-tiba di sini?
Di tengah Kepanikannya itu Matanya langsung tertuju pada Beberapa Tangkai bunga Camellia Yang sudah Berwadahkan Vas Di atas Meja Kerjanya. Bukan mimpi Ternyata.
Jefan Menggaruk Tengkuknya Yang Tidak Gatal "Aku tidak sedang berhalusinasi kan?"
_____________________________________________
Sudah 1 Bulan Berlalu, hari-hari Jefan masih biasa saja tak ada Yang berubah. Tapi satu yang membuatnya bingung, Bunga Yang Ia dapatkan Tak kunjung layu apakah Memang Selama itu?
Saat ini Jefan Berjalan-jalan di Hutan dekat rumahnya, Jujur dia Harus Mencari Ide untuk Melanjutkan Naskahnya Yang Sudah tertunda lama, Editor juga sudah Menghubunginya.
Jefan duduk di salah satu Bangku yang ada di dekat Hutan, Tenang Di hutan itu tak ada Hewan buas karena Hutan itu adalah Hutan terawat. Banyak anak-anak Sekolah Yang akan mengadakan Kemping di sana Saat Musim panas. Jadi Jefan tak perlu takut Jika berjalan-jalan Di sana saat malam hari.
Udara Cukup dingin karena Hari sudah Hampir malam, Sayangnya Jefan tidak Mengenakan Mantelnya Yang Paling Tebal. Dia tak tahu akan berjalan-jalan sampai malam Danㅡ
"Lits! Jangan Berlari Keluar Hutan! Nanti Manusia akan melihat kita!"
ㅡBertemu dengan Makluk Aneh. Jefan Menatap Gadis Yang ada di Hadapannya Dengan Terkejut dan Juga Ada Seekor Kucing Yang dari tadi bermanja-manja di Kakinya.
Jefan Sedikit Heran, Bukan! Sangat Heran dengan Gadis Di hadapannya Ini, Di Suhu Yang Dingin Seperi Sekarang Kenapa Dia Dengan Santai Mengenakan Pakaian Yang tipis Namun Manis ini?
Jefan Menatap Gadis itu dengan Sintesis, Tubuh Mungilnya, Rambut Gelombang Yang Panjang Berwarna Pirang, Mata Sebiru Kristal, Kulit Yang Seputih Salju. Apakah Jefan Sedang Bertemu Dengan Vampie. Sama Seperti Yang ada Di Novel-novel Bertemakan Fantasi Yang Sering ia Tulis itu?
Sedetik kemudian Gadis itu Membuka Suara "Dia Bukan Kucing, Tapi Rakun" Ucapnya Sambil Mengambil Rakun Berwarna Putih itu dari Kaki Jefan. "Dan aku Bukan Vampir" Tambahnya Lagi Sambil Menampakkan Wajah Masamnya Ke Jefan
Wow Apakah Gadis di depannya Ini Sedang Membaca Pikirannya? "Ba-bagaimana? Kau Bisㅡ
ㅡSttt Apa Yang terjadi hari ini lupakan, Okey?" Ucap Gadis itu di Iringi dengan Tangannya Yang menjatuhkan Beberapa Serbuk Es Berwarna Perak Di atas Kepala Jefan, Jefan Langsung Merasa Termakan Oleh Cahaya dan Zling Dia Langsung Terbangun Di Ruang Kerjanya.
"Ah... Pasti aku Tadi Bermimpi" Ucap Jefan Sambil Mengusap Wajahnya Kasar. "Eh?ㅡ
Setitik Serbuk berwarna Perak mendarat di telapak tangannya
ㅡBukan Mimpi? Lantas, Apa Dia Penyihir?!" Semua pikiran buruk Menghantui Pikirannya. Sebab Penyihir di Pikirannya itu Akan Memasaknya Hidup-hidup dan Menjadikannya Ramuan Ajar Awet muda. Sungguh kekanakan sekali Pikiranmu Jef.
***
Setelah beberapa hari Semenjak Jefan Bertemu dengan 'Penyihir' itu dia Jadi Tak Bisa Tidur dengan tenang, Terjaga Sepanjang Malam Dan Hanya Tidur 2 sampai 3 jam Aja sisanya melek terus.
"Arghhhh Bisa Gila aku klo gini terus!" Jefan menyibak Selimut, Mengambil Mantelnya Lalu Pergi Keluar.
Berjalan Jalan Di Hutan di Siang Bolong Bukan hal Yang Buruk baginya, Hutan Juga Sudah Tertutupi Oleh Tumpukan Salju. Mungkin jika ia menyenggol pohon yang ada di sampingnya ia akan tertimpa Salju Yang banyak.
Di tengah perjalan Jefan, Teliangnya Tertusuk Oleh suara Nyanyian Yang sangat Tidak Merdu, Tandai itu 'Tidak'. Karena penasaran Jefan langsung Mencari Sumber suara Itu.
Jefan langsung terkejut dengan apa yang ia temukan ini, Seorang Gadis Menari di atas Danau Yang sudah Membeku dengan di Temani Seekor Kucing Berwarna Putih di bawahnya. Suaranya Memang Tidak Enak untuk di dengar tapi setiap Gerakan Dan Tawa Gadis itu Membuat Senyum Jefan Terlukis Tanpa ia sadari.
Gadis Yang sedari tadi merasa ada Yang Menatapnya Langsung menghentiakan Aktifitasnya Itu, Lalu Berjalan Menuju Tempat Jefan Berdiri. "Apa ini? Kau menginga ku?" Tanya gadis itu sambil Menatap Jefan Bingung.
Jefan Yang tadinya Fokus Menatap Gadis itu Langsung menggelengkan Kepalanya Spontan lalu menatap Gadis itu Ramah. Jefan bukan tipikap orang Yang akan biacara duluan tapi entah kenapa untuk Sekarang dia sangat Penasaran dengan Gadis ini.
"Aku Jefan. Senang bertemu denganmu gadis Penyihir" Ucapnya Sambil Menyodorkan Tangannya Ke Gadis Berusurai Pirang Itu.
"Aku bukan Penyihir dasar manusia Bodoh!" Jawab gadis itu sambil mengambil beberapa gumpalan salju dan Menghantamkan nya Tepat Di wajah Jefan. "Akhhh" Latah Jefan sambil memegangi Wajahnya Yang dingin terkena salju
Gadis itu langsung tersentak dengan apa yang Ia lakukan lalu mebantu Jefan membersihkan Wajahnya Yang terdapat beberapa Salju Di sana. "Oh Maaf! Aku tidak sengaja! Oh ASTAGA!!" Ricuh gadis itu sendiri Yang Mendapat Senyum Kecil dari Jefan.
"Oh Astaga Apa Kau Baik-baik saja? Aku Sungguh tak Sengaja!" Ucapnya lagi
"Aku baik-baik saja" Jawab Jefan Seadanya Sambil Menatap Lekat Gadis di depannya
"Syukurlah kalau begitu. Dewa akan marah Jika Aku melukai Manusia" Ucap Gadis Itu lagi Sambil mengatupkan Telapak tangannya Lalu Menatap Ke Atas.
Dewa? Jefan hanya bisa menatap Gadis Yang ada didepannya dengan Heran. "Jika Kau bukan Penyihir, Lalu apa?" Tanya Jefan Yang Langsung Mendapatkan Tatapan Terkejut dari Gadis itu.
"Aku Elf Musim dingin. Senang bertemu denganmu Tuan Manusia" ucap sambil menambahkan Senyuman bodohnya.
'Elf? Apakah ada Makluk seperti itu Zaman Moderen ini?' Jefan Bergelud dengan Pikirannya.
"Ada~ Tapi kami lebih senang berdiam diri di hutan, karena manusia itu terlalu Egois" Jawab Gadis Elf dengan memainkan beberapa serbuk salju Dia Tangannya
"Benarkah Nona Elf? Sepertinya Manusia Yang ada di depanmu ini masih Belum sepenuhnya Percaya"
"Wow apa lagi Yang harusku lakukan agar tuan Manusia Percaya?" Ucap gadis Elf itu di depan wajah Jefan.
"Seperti Ini?" Gadis itu mengayunkan tangannya dengan santai, Perlahan salju-saljiu di bawah mulai naik ke atas dan Berputar-putar di atas telapak tangan Gadis itu. "Atau Seperti Ini?" Gadis itu menginjakan kakinya di danau dan Seketika Es-es yang tadinya beku langsung Pecah. "Yang Seperti ini?" Lalu Salju pun Berjatuhan Dari Langit
Jefan hanya bisa Tercengang, Sambil Menatap Apa Yang ada Di sekitarnya. Jadi selama ini dia tidak sedang bermimpi?!
"Baiklah Cukup Nona Elf, Manusia Ini Percaya" Ucap Jefan sambil Meminta Elf Yang ada dihadapannya Untuk Menghentiakan Badai Salju Yang Sedang Terjadi Ini. Sedetik kemudian Badai Salju langsung Berhenti, Dalam satu Jentikan Jari.
"Baiklah Tuan Manusia, Karena aku tak tahu Kenapa Sihirku tak Berkerja pada. Aku mohon kau berjanji untuk tutup mulut"
"Bagaimana kalau aku memberi tahu ini ke manusia lain?"
"Dewa akan marah karena kau, Mengingkari janjimu!" Ucapnya dengan penuh Penekanan. Lagi pula jika Jefan ingin Membocorkannya, Emang ke siapa dia Akan Memberi tahu, Anjing Ke sayangannya Yang ada di Rumah? Tentu tidak bukan.
***
Sudah 3 minggu berlalu Setelah Pertemuan Jefan Dengan Nona Elf. Dia Jadi lebih sering keluar rumah dari sebelumnya, Ya karena Rakun milik Nona Elf selalu Mencarinya Ke Rumah. Jadi dia harus Mengembalikan Rakun berkedok Kucing Itu Ke pemiliknya di hutan, Dan Juga Setelah Bertemu Nona Elf Jefan Mejadi lebih Senang
karena Nona Elf sering bercerita Tentang Dunia Fantasi Yang Entah ada di mana itu. Tempat dimana Para Elf tinggal dan lain sebagainya.
Saat ini Jefan dalam perjalanan ke hutan Untuk Mengembalikan Rakun Yang Di Beri nama Lits ini ke Pemiliknya. Ya Sejujurnya sampai saat ini Jefan Belum tau Nama Dari Nona Elf, Dia Juga Nyaman Memanggil Gadis Bersurai Pirang Itu dengan Sebuatan
''Nona Elf!"
Yang merasa terpanggilpun langsung menoleh dengan tatapan berbinar-binarnya.
"Astaga! Aku mencarinya ke mana-mana!" Ucapnya sambil mengambil Lits dari tangan Jefan. "Dia menggrogoti Pagar rumahku lagi, Nona" Ucap Jefan sambil Duduk di samping Gadis itu.
"Harusnya Kau mengikat nya agar tidak kabur" tambah Jefan
"Itu tidak boleh! Dewa akan marah jika aku tak memberi ke bebasan pada Lits" Ucapnya sambil menjatuhkan Beberapa Serbuk berwarna Perak di atas kelapa Lits
Jefan hanya bisa mengngguk paham karena ia Sudah biasa dengan Ucapan Nona Elf ini Tentang Beberapa Peraturan di Dunia Fantasinya. Alih-alih Kembali menatap Gadis di Samping nya itu
Mata Jefan tiba-tiba tertuju pada rambut pirang Gadis ini. Kenapa ada Hitam nya?
"Tunggu Nona Elf. Ada apa dengan Rambutmu ini, Apakah Cat Pirangnya sudah Menghilang?" Ucap Jefan sambil Memegang Segelai rambut Yang Mulai Menghitam
Gadis Itupun Langsung Heran dan Memegangi Rambutnya. Benar ada beberapa helai Yang Menghitam, Apakah Pertanda itu pertanda buruk?
"Aku tidak mengecatnya, bodoh! Ini warna rambut asli ku!"
"Lantas, Kenapa ada warna hitam? Rambutmu Yang Sebelumnya Indah Terlihat aneh Sekarang" Tanya Jefan dengan wajah penuh Pertanyaan.
"Karena ini sudah Kehendak Dewa" ucap gadis itu dengan mengelus-elus bulu Lits Yang Tertidur di Pangkuannya sambil Menatap Ke arah Langit
Apa lagi Yang di sembunyikan Gadis ini? Batin Jefan.
Tiba-tiba salju turun.. Jefan Yang Ke hutan dengan Pakaian Seadanya langsung Merinding Merasakan Hawa dingin. Dia juga sedikit Heran Dengan Nona Elf, bagaimana bisa dia Mengenakan Pakaian Setipis itu dibawah Terpakan Hujan Salju Ini.
"Baiklah Nona Elf, Seperti Cuaca tak Mendukung Kita Untuk Mengobrol Lebih lama" Jefan bangun dari Tempatnya Duduk tadi "Anda ingin Pergi Tuan Manusia?" Tanya Gadis itu Yang Mengkuti Jefan Yang Bangun dari Duduknya.
"Iya.. Apakah Nona Elf tidak pulang?"
"Kemana aku harus pulang Tuan manusia?" Tanya Gadis itu Sambil Menyilangkan Tangannya di dada.
Wow Fakta apa lagi Yang harus Jefan Ketahui. "Apakah nona Elf tak punya Rumah?" Tanya Jefan.
alis Gadis itu langsung berkerut, Tunggu apa dia tak tau apa itu Rumah? "Tempat apa lagi itu? Apakah di tempat itu terdapat Beri?" Tanya Gadis itu.
Jefan Sedkit Tercengang. Lantas Selama Ini saat dia Tinggal dan Dimana Dia tidur dan makan?!
"Apa? Tunggu sebentar. Lantas Dimana Ada tidur Nona?" Tanya Jefan berusaha menenangkan Kekhawatiran nya ini
"Permisi tuan manusia, Elf tak Akan tidur disaat mereka Bertugas. Itu sama dengan mereka meremehkan tugas dari dewa!" Jelas Gadis itu sambil menatap Jefan
"Apakah Nona tidak Mengantuk? Atau lapar?" Tanya Jefan
Gadis itu hanya Menggelengkan Kepalanya Lalu kembali Memainkan salju di tangannya
"Apakah Nona Elf tak Kemberatan Jika, Manusia ini Mengundang Anda Ke Rumahnya?"
* * *
Seperti Ini pertama Kalinya Nona Elf memasuki Rumah Manusia, Matanya dari tadi Tak Usai Melihat-lihat Benda Yang ada didalam Rumah Jefan.
Jefan sendiri sedang didapur mengambil beberapa Buah Beri Juga Cemilan Yang di inginkan Oleh Nona Elf dan Minuman? Ia tak tau Elf bisa minum atau tidak.
Saat Jefan Kembali ke ruang tamu, Binggo Nona Elf Tak ada disana. Jefan cepat-cepat meletakan Nampan Yang ia bawa di Atas Meja lalu mencari Gadis Bersurai Pirang itu ke Penjuru Rumah, Bahkan Di Loteng Sekalipun dan tak ada.
"Wow! Apa ini?!"
Perhatikan Jefan Teralih saat ada Suara Yang Familiar Terdengar dari Ruang Kerjanya. Ia cepat-cepat ke sana mengecek apakah ada orang Yang Ia dari di sana, Dan Benar Nona Elf sedang duduk di Kursi Kerjanya Yang Berputar-putar itu.
Jefan Cepat-cepat Menghentiakan Putaran Itu Agar tidak Terjadi Sesuatu Yang tak di inginkan. Dia Melihat Wajah Gadis didepannya Yang Tertawa Bahagia dengan Rambut Yang Berantakan
"Tuan manusia! Dimana anda mendapatkan Benda ini? Sangat Menenangkan!" Serunya sambil Mengenjot-enjot di Kursi Itu.
"Nona Elf, Kursi Itu bisa Rusak jika kau terus Bergerak-gerak" ucap Jefan Frustasi melihat Kelakuanku Gadis Satu Ini. "Aku sudah Membawa beberapa Buah baeri Seperti Yang Kau Minta Jaㅡ
Tanpa Mendengar Ucapan Jefan gadis itu langsung pergi keluar dengan buru-buru, Meninggalkan Jefan sedirian Di Ruangannya
ㅡdi kau boleh keluar memakannya" Lanjutnya sambil Melirik sekilas Jika bunga Yang ada di Vas sudah layu beberapa. Jefan langsung meraih Empat Bunga Yang sudah Layu Itu lalu Membawanya Keluar untuk di Buang.
Namun saat ingin membuangnya Nona Elf mencegahnya. Dengan mulut Yang masih penuh dengan Baeri, dia Berjalan Mendekati Jefan Yang Berada di dapur no
Gadis bersurai Pirang Itu mengambil Bunga Yang sudah Layu Itu dari tangan Jefan
"Bunga apa ini?" Tanya Nona Elf ke Jefan dengan Mata Yang masih fokus Pada Bunga Itu.
"Camellia" Jawab Jefan
"Camellia? Itu Namaku!" Ucap gadis itu sambil Menatap Jefan
"Camellia?" Ia juga baru tau nama Nona Elf Ternyata Camellia toh
Nona Elf mentap Jefan dengan tatapan Bingungnya. Dari mana tuan manusia tau namanya? "Nama bunga itu Camellia, Jangan Ge'er Manusia ini baru saja tau namamu Nona Elf" Ucap Jefan mencairkan Suasana Yang tadinya Mulai Canggung.
Camellia kembali mengerutkan alisnya "Apa Itu Ge'er?" Astaga Pertanyaan apa lagi ini?!
"Sudah lupakan saja" Ucap Jefan Lalu merebut Bunga Yanh Sudah layu itu dari Camellia dan Membuangnya di Tong sampah.
Camellia mengerucutkan Bibirnya Dan Manatap Punggung Jefan dengan Kesal. Dia hanya ingin tau! Dia langsung berjalan dan dengan sengaja Menghantamkan Bahunya Ke Jefan.
"Baik. Tuan manusia, terima kasih atas Jamuanmu hari ini Semoga Mimpimu indah!" Ucap Camellia Sebelum Beberapa Serbuk Perak Mendarat di Kepala Jefan.
* * *
Jefan bangun dari tempat Tidurnya membuka matanya Lebar-lebar lalu Melihat ke Sekelilingnya. Saat ini Dia Berada di Kamarnya dengan Pakaian tidurnya, Tidurnya Terasa Nyenyak bahkan Sangat Nyenyak.
Jefan melirik ke arah Jam dingding lalu, Terkejut. Sekarang Sudah Jam 9 dan dia harus Bertemu dengan Editor nya Pukul 09.30 apakah 30 menit Cukup untuk bersiap-siap dan Pergi ke Pusat Kota?
Tanpa pikir panjang Jefan langsung buru-buru Pergi ke Lemari Untuk Mengganti Bajunya dengan Kemeja, Jangan salahkan Dia kalau dia tidak Mandi, Waktu Untuk Bersiap-siap 10 Menit jika Di tambah dengan Mandi dan perjalan dari pinggir Kota Ke Pusat Kota Itu 20 menit sampai 25 menit. Jika dia Telat sedikit saja Editor Ada Memakannya lagi Seperti Bulan lalu. Tentu saja Omelan dan Semua Hewan di Kebun Binatang akan di Absen Olehnya, Itu Terdengar Lebih Mengerikan dari pada Neraka.
* * *
Setelah Pertemuannya dengan Editornya Jefan langsung Pulang Ke rumah dan Dengan tak Sengaja Menemukan Lits Di depan Rumahnya Yang Seperti Biasa Menggrogoti Pintu pagarnya
Jefan Meraih Rakun itu lalu bertanya kenapa dia berada di sini lagi? Lits terlihat sangat panik dia dari tadi Berdesis sambil Menunjuk Arah Hutan. Kenapa ini?
Rakun itu langsung melompat turun dari gendongan dan Berlari Ke Hutan, Jefan Yang Bingung pun hanya bisa Mengikuti Dari Belakang.
Saat sampai di Hutan Dia langsung Mendapati Camellia/Nona Elf sedang Duduk di atas Salah satu batang Pohon Yang sudah tumbang. Ada Yang aneh dari penampilannya, Oh Kemana Pergi rambut Pirang Yang Indah Itu? Semua Menjadi Hitam.
"Nona Elf?" Jefan sedikit ragu untuk Mengucapkan 2 kata itu.
Gadis di depannya pun Menoleh Ke Belakang, dengan Tatapan Sedu dan Sayunya Itu. Oh tidak, Kemana Perginya Nona Elf Yang Selalu Tertawa dan Tersenyum Itu?
"Tuan Manusia? Apa yang anda lakuanan di sini?" Ucap Camellia Sambil memegangi Rambutnya Yang Perlahan Berubah Menjadi Warna Hitam Itu.
Jefan Hanya Menatap Camellia Dengan Sedikit Terkejut, Lalu Lits Lagi-lagi Menggrogoti Kakinya Seperti Meminta Pertolongan. "A-ada apa dengan Rambutmu? Apakah semua baik-baik saja?" Tanya Jefan di ikuti dengan di Yang Menduduki Tempat di sebelah Camellia.
Mendengar pertanyaan Jefan Camellia hanya bingung harus menjawab apa, Tugasnya akan Segera Selesai Jadi Otomatis dia akan kembali ke sisi dewa.
"Karena ini sudah Kehendak Dewa.." Ucapnya dengan Menatap Langit. Jefan hanya bisa diam mendengar dan melihat Camellia Yang Kelihatannya Tampak sedih dan Bingbang.
"Jika kau Ingin bercerita, silakan Manusia Ini akan dengan Senang hati Mendengarnya" Ucap Jefan Dengan mengeluarkan Ponselnya dari Saku. Dia ingin Memasang Mode Senyap untuk Sementara, Jikalau Editor Menelpon untuk marah-marah Karena Naskahnya Belum Semuanya Ia Serahkan.
Tapi sepertinya Nona Elf tertarik dengan Benda Berbentuk persegi panjang Tipis itu, lihat saja dia langsung mentatap Benda itu dengan Berbinar-binar
"Benda apa lagi itu tuan Manusia?" Ucapnya sambil menunjuk ke arah benda yang bernama Ponsel itu
"Ini? Ponsel, kau ingin melihatnya?" Tanya Jefan Sambil Menyodorkan Ponselnya dan di Balas Dengan Anggukan Yang Antusias Oleh Camellia.
"Bagaimana Cara Kerjanya?" Sambil menekan-nekan layar dengan acak
"Kau bisa Melihat wajahmu sediri di dalam sini" Ucap Sambil Memencet Apk Kamera
Dangan terkejut, Camellia Hampir saja Melepar Benda itu menjauh darinya Karena Menampakan Wajah Secara Tiba-tiba, Jefan hanya Bisa Tertawa melihat tingkah laku Gadis satu Ini.
"Tuan manusia! Lihat tadi ada Wajah orang Didalam Benda ini!"
"Itu Wajahmu Nona"
"Benarkah? Kenapa tadi Terlihat Begitu Menyeramkan" Ucapan Camellia Membuat Jefan Terkekeh Kecil
"Coba tekan ini" Jefan Mengarahkan Ponsel Itu Kedepan Wajah Camellia dan..
'Cekrek'
Lalu Jefan Memperlihatkan Hasil Gambar Yang baru Yang baru Ia Jepret itu.
"Wow! Benda Yang Hebat! Apa lagi yang bisa dilakukan oleh benda ini?"
Lalu Jefan Menjelaskan Beberapa Fitur Yang ada di Ponselnya, Seperti menelpon, Media sosial, Dan lain sebagainya. Tapi sepertinya Nona Elf Lebih Tertarik Untuk Selfi dari pada Lainnya.
__________________________________________
Tanpa Jefan Sadari satu bulan Telah berlalu, dan Selama satu Bulan Ini Dia tak Menyadari Bahwa Musim dingin Tak Seburuk Yang Ia Kira. Walaupun Musim Semi akan datang Dalan Beberapa hari ke depan.
Saat ini Jefan Sedang Dalam Perjalan Ke Hutan Dengan Membawa Beberapa Buah Baeri kesukaan Nona Elf Terbungkus Di Dalam Keranjang di temani Dengan Setopeles Madu, Ya Itu Juga Kesukaan Nona Elf.
Sesampainya Dia Di Hutan, Dia Di sambut Dengan Lits Yang Berlari Ke arahnya dan Di belakangnya ada Camellia Yang Mengikuti.
"Hai Tuan Manusia. Apakah kau sudah Membawanya?"
Jefan Tersenyum Dan Memperlihatkan Keranjang Piknik Yang ada di Tangan Kanannya. "Apakah Nona Elf Berpikir aku akan Melupakannya?" Mereka langsung duduk di Tempat Biasa.
"Musim Dingin akan Segera Berakhir.."
"Ya.. Musim semi akan Datang Sebentar lagi. Wah, Aku Tak pernah Membayangkan kalau Musim dingin Semenyenangkan ini"
"Apakah Tuan manusia akan senang Kalau Musim dingin Cepat Berlalu?"
"Dulu seperti Itu, tapi setelah Bertemu Nona Elf Seperti manusia Ini sedikit Sedih"
"Kalau Begitu Terimakasih atas Jamuan dan Kebaikan anda Selama ini Tuan Manusia" Ucap Camellia Sambil Meletakan Baeri Yang dari tadi ia makan. Jefan hanya bisa Mengerutkan alisnya Bingung
"Apa yang kau bicarakan Nona Elf? Kau bertingkah seolah ingin pergi dan gak akan kembali"
Camellia hanya tersenyum mendengar Ucapan Jefan Itu. Dia berdiri dan mengayunkan tangannya, Bermain dengan Serbuk-serbuk Perak Itu
"Satu fakta Yang belum Pernah aku Beritahu pada kau Tuan Manusia" Ucap Camellia Yang Mengundang Rasa Bingung Di Wajah Jefan
"Jika Seorang Elf Telah Selesai Melakukan tugasnya, Ia akan Kembali Ke Tempatnya Di sisi dewa dan Akan Pergi Disaat Tugas Berikutnya datang" Jefan sedang Berusaha Mencerna Satu Persatu Kata Yang Di Ucapakan Oleh Camellia.
"Tu-tunggu! Apa maksudmu.." Jefan Membulatkan Matanya Saat Barhasil Mencerna Semua Yang di Maksud Oleh Nona Elf
'Musim dingin akan Berakhir, Otomatis Camellia harus Kembali. Kembali sama dengan Pergi dan pergi sama dengan Tak akan Kembali?!'
Serbuk Perak Yang dari tadi dimainkan Oleh Camellia perlahan Memakannya, Sedikit demi sedikit Tubuhnya Menghilang
"TUNGGU!" Jefan meraih tangan Camellia Yang Belum Termakan Serbuk Perak Itu. Air matanya Pecah, Entah Kenapa hatinya terasa sangat sakit jika Nona Elf pergi Begitu saja, Tanpa Tau apa Yang ia Rasakan saat ini.
Jefan bergumam-gumam sendiri sambil Menatap Camellia "Tolong Jaga Lits, aku akan kembali Di Tahun-tahun berikutnya"
Hati Jefan Merasa Sedikit Lega, Bahwa Camellia akan Kembali nantinya.
"Janji. Manusia ini paling tak suka Jika Janjinya di Ingkari" ucap Jefan Sambil Menyodorkan Jari Kelingkingnya ke Camellia
Itu dibalas oleh Camellia Dan Sedetik Kemudian Hilang. Nona Elf sudah Termakan habis Oleh Serbuk Perak itu dan Hanya Menyisakan Gelang Berwarna Perak ke Merahan, Oh Itu gelang Pemberian Jefan Minggu lalu.
Selesai...
______________________________________
Beberapa Tahun Kemudian...
Tik..
Tik..
Tik..
Tik..
Seorang Pria Sedang Duduk Di Meja Kerjanya Sambil Mengetik Naskah Novel Di Laptopnya. "Huft~ apakah END yang Seperti Ini akan Membuat Kak Yohan Marah?"
Pria Itu meregangkan Tubuhnya sambil Berbicara Dengan Orang Yang duduk di Sofa Ruang Kerjanya
"Kenapa Anda Bertanya Pada Saya? Tuan Manusia"
"Ayolah Nona Elf, Ini Kisah Kita. Kau tak tau bagaimana aku Menangis selama 2 Hari setelah Kepergian mu itu" Ucap Pria itu sambil Berjalan Mendekati Gadis itu, Yang masih Sibuk dengan Baeri Dimulutnya
"Harusnya Kita tak Pernah Bertemu, Tuan Manusia"
"Kau Berharap Seperti itu? Aku sudah Merawat Lits Seperti Yang Kau Minta. Lihat Sekarang saja dia Sudah Gemuk sampai Tak Bisa Bergerak dari Tempat Tidurnya itu" Ucapnya Sambil Duduk di depan Gadis Bermata Biru Kristal itu.
Hari-hari Yang buruk sudah berlalu, Kenangan Yang Menyakitkan Sudah Tertutup dengan Kenangan baru Yang menyenangkan.
END
* * *
Jangan lupa klik tombol di samping Ya
╰( ・ ᗜ ・ )➝
Terimakasih Telah Membaca Cerita Gabut dari Author.