Hallo para badut, apa kabar? Semoga kalian para badut dan orang yang kalian hibur selalu sehat ya..
Kali ini gua punya cerita tentang seorang badut penghibur yang suka sekali menghibur orang yang disukainya. Tapi, harapan gak selalu sesuai harapan atau ekspektasi..
Soo.. langsung aja ke ceritanya.
HAPPY READING~
__________________________________________________
Hai, gua Bagas.
Muhammad Bagas Alfathala, adalah nama lengkap gua. Gua tinggal di Jakarta, dan gua adalah seorang Mahasiswa di salah satu Universitas disana.
Keseharian gua sama seperti mahasiswa pada biasanya. Pergi ngampus, ngerjain skripsi, dan tugas lainnya yang sampai gua males buat sebutin satu persatu. Abis ngampus gua selalu pergi ke ruang band di kampus gua. Biasa lah, hobi gua main musik.
Abis itu, gua selalu luangin waktu buat kumpul sama temen tongkrongan gua. Tapi gak banyak, cuma ada 6 orang yang selalu ada disana sepulang ngampus. Mereka adalah Dimas, Rifaldi, Theo, Reani, Ririn dan juga gua. Mereka semua adalah teman teman yang asik, ramah, lucu, dan terpercaya. Haha, kalau soal solidaritas udah gak usah di ragukan. Salah satu diantara kita ada masalah, semuanya pasti bantu walaupun awalnya sering diolok olok dulu. Dan ketiga cowok temen gua itu, mereka juga temen bermusik gua juga.
Diantara dua temen cewek yang suka nongkrong bareng, gua udah lama banget suka sama Reani, tapi gua gak bisa ungkapin perasaan gua karena..
Satu. Dia itu sahabat gua, dan gua gak mau hancurin hubungan persahabatan kita hanya karena keegoisan gua.
Dan kedua. Dia udah punya pacar, jadi itulah alasannya gua gak bisa ungkapin perasaan gua, dan gua samasekali gak punya sedikitpun kesempatan untuk itu.
Tapi sampai suatu hari di tongkrongan, Reani cerita soal pacarnya yang baru saja selingkuh. Dan Reani terlihat sangat sedih dan menangis tersedu sedu atas kejadian itu. Kita semua berusaha untuk menenangkan Reani supaya tidak lagi bersedih. Tapi usaha kita sia sia, Reani tetap saja menangisi pacarnya yang udah selingkuhin dia.
Sekitar 30menit berlalu, akhirnya Reani berhenti menangis, walaupun dengan mata yang masih memerah karena menangis.
"Makasih ya guys, aku mendingan kok udah cerita sama kalian."
Kata Reani..
Kita semua disana ikut senang karena Reani akhirnya kembali tersenyum, dan suasana kembali leluasa untuk dicairkan...
****
Sebelum gelap kita berpisah dan kembali ke rumah/tempat tinggal masing masing. Reani diantar pulang oleh Ririn dengan motornya kembali ke rumah Reani.
Gua balik ke kos'an dan lanjutin tugas yang belom selesai. Kopi dan Rokok sudah hampir habis, tapi tugas masih belum terlihat akan habis. Sampai terdengar suara ketukan pintu kos'an gua.
Tok tok tok!
Betapa kagetnya gua, setelah liat kalau yang ternyata datang adalah Reani dengan wajah yang sama seperti saat di tongkrongan.
"Re, kenapa lu kesini? Trus kenapa lu nangis?"
Tanya gua ke Reani.
"Gas, gua mau curhat sama lu, boleh kan?" Hiks~
Kata Reani sambil usap air mata di pipinya.
Tentu saja gua terima permintaan Reani, dan mengajaknya untuk mengobrol diluar supaya tidak dicurigai aneh aneh oleh penghuni kos lainnya. Kemudian Reani mulai bercerita, yang ternyata tentang pacarnya yang selingkuh itu. Reani menceritakan semua yang terjadi setelah bubar nongkrong tadi sore. Reani juga menanyakan gua, apakah gua mau jemput dia buat ngampus setiap hari, alasannya karena dia gak bisa bawa motor dan orang yang biasa antar jemputnya sekarang udah gak ada lagi karena selingkuh. Saat itu gua sama sekali gak bisa nolak permintaan Reani. Perasaannya kini bercampur aduk, antara sedih dan emosi yang dirasakan Reani. Sesekali ia terdengar memaki maki pacarnya yang selingkuh itu.
Melihat keadaan Reani yang sangat kacau saat itu, gua memberanikan diri untuk bersikap tegas dan mengatakan...
"Re, semua keputusan yang kita pilih itu pasti ada resikonya, apapun resikonya, kita harus kuat buat melewatinya. Kita harus bisa Move on!"
Kata gua sedikit kurang PD.
Mendengar itu, Reani terlihat muali berfikir...
"Gas, kalau kita pacaran lu mau gak?"
Kata Reani serius.
Mendengar apa yang ditanyakan Reani, pada saat itu juga jantung gua berdebar kencang, badan seketika keringat panas dingin, pandangan melihat kesegala arah. Semaksimal mungkin gua mencoba untuk tetap santai, dan tidak boleh terlihat hawatir.
"Apa, pacaran? Kita maksud lu?"
Tanya gua memastikan ucapan Reani.
"Iya, kita"
Jawab Reani singkat.
Disitu gua berfikir sangat keras. Gua tau, Reani mencoba jadiin gua sebagai pelariannya. Tapi disisi lain, gua juga suka sama Reani, dan dengan keadaannya yang hancur, gua lagi lagi gak bisa nolak...
"Ya tentu, kalau itu bisa bikin lu kembali bahagia, kenapa enggak?"
Jawab gua dengan senyum yang gua buat tulus.
****
Semua permintaan Reani gua penuhi, setiap hari gua jemput dia di halte dekat rumahnya. walaupun pulang ngampus/dari tongkrongan Reani selalu nolak gua buat anter kerumahnya. Dia selalu bilang, gak mau terlalu ngerepotin gua, dan dia selalu pulang bareng Ririn. Semua teman tongkrongan gua udah tau hubungan gua sama Reani, dan mereka selalu mendukung kalau itu memang demi kebaikan.
Udah hampir 2 bulan hubungan gua sama Reani, dan kita berhubungan sangat baik. Kita sering jalan bareng, foto bareng, bahkan Reani selalu mengabadikan setiap momen kebersamaan kita, melalui foto ataupun video, kemudian mengunggahnya di sosial media.
Gua tau, itu semua hanya caranya berlari dari kenyataan. Tapi selama itulah hati gua hancur, menyadari kebohongan tapi membiarkan diri sendiri dibohongi oleh kata kata manis dan pernyataan cinta. Tapi saat hati gua hancur mengingat apa yang sebenarnya terjadi, hati gua kembali utuh sepenuhnya setelah melihat dia tersenyum bahagia karena cinta tulus yang tidak pernah dia ketahui ini.
Sehancur apapun hati gua, akan kembali utuh saat bersama Reani, dan semua yang gua tau tentang Reani, biarlah gua sendiri yang tau dan biarlah gua sendiri yang hancur disini... 🤡💔