" jadi bagaimana Kisahnya? Kau berjanji akan menceritakan kisah itu kepada ku tadi "
Tere adikku yang berusia 9 tahun menagih janji yang sudah ku buat untuk menceritakan tentang misteri tak terpecahkan didesa ini.
" kau yakin ingin mendengarnya?? "
aku berpaling dari buku dongeng usang kesayanganku dan beralih menatap Tere.
" kalau aku tak yakin, tidak mungkin aku memintamu. Ayo ceritakan aku sungguh penasaran ".
Aku menarik selimut kecil disampingku, membaluti tubuh yang dari tadi kedinginan. Tere juga melakukan hal yang sama . Entah kenapa malam ini suasana desa cukup mencekam. Tadi sore hujan deras disertai angin kencang mengguyuri desa. Akibatnya lampu padam karena kabel penghantar arus listrik ke desa terputus di terjang pohon-pohon yang tumbang. Kejadian seperti ini sudah biasa dirasakan warga desa setiap musim hujan. Paling-paling tiga hari akan kembali seperti keadaan semula. Itulah sebabnya disetiap rumah disediakan lampu minyak, agar jika kondisinya seperti ini maka kami tidak harus tinggal dalam kegelaban. Yah,,meskipun tidak seterang lampu listrik tapi mau bagaimana lagi,,cuma itu yang kami punya.
" kau pernah mendengar kisah Pipo anaknya pak Burhan Kepala Desa kita??"
Aku menaikan selimut menutupi leher. Membiarkan diri dalam kehangatan.
" iya aku tahu,,yang meninggal karena digigit babi hutan itu kan??
Tere menjawab dengan berapi-api. Matanya melotot saking semangatnya. Rupanya dia sangat antusias dengan cerita ini.
" Nah, benar itu. Menurut kabar angin yang ku dengar katanya Pipo bukan digigit babi hutan karena tidak ada bekas gigitannya. Tetapi kata warga dia meninggal karena darahnya disedot penunggu pohon beringin di kaki hutan itu ".
Aku menghentikan cerita ku sebentar membiarkan Tere mencerna setiap kata-katanya.
" apa?? Bagaimana bisa ia menyedotnya?? Pakai sedotan kah??"
Aku memutar bola mataku jenuh. Makanya aku malas menceritakan apapun dengan Tere, ia selalu memikirkan hal-hal yang bukan pokok dari pembicaraan. Bagaimana bisa ia membahas sedotan disaat aku seserius ini??
" sudahlah,,aku malas membahasnya denganmu "
aku menampakan wajah kesalku, sedang Tere hanya terkekeh pelan mengelayut dilenganku.
" lanjutkan,,aku janji bakalan serius mendengarnya"
ia memajukan bibir bawahnya sedikit, membuat dirinya tampak imuttt untuk ku abaikan.
" ada juga beberapa yang mengatakan bahwa Pipo bukan dibunuh sama penunggu pohon beringin tetapi ia salah satu tumbal dari Sekolah Dasar Inpres Srinaga. Katanya setiap lima tahun di SD tersebut selalu ada anak-anak yang meninggal"
aku beralih melihat Tere yang dengan seksama mendengar ceritaku. Dari wajahnya aku bisa membaca ada keragu-raguan disana.
" lantas bagaimana menurutmu?? Kamu percaya??"
Giliran dia beralih menatapku, mencari jawaban dalam reaksi yang aku pancarkan. Aku menghela nafas sedikit sebelum menjawab pertanyaannya
" aku tidak tahu bagaimana kebenaran dari setiap cerita yang ku dengar. Tetapi jika kau menanyai pandanganku, aku tidak percaya dengan semua omong kosong itu. Aku orang yang rasional yang selalu menilai segala sesuatu lebih pada fakta yang kulihat. Aku tidak bermaksud mencemooh orang-orang yang percaya takhayul, aku paham setiap orang punya sudut dan cara pandangnya masing-masing. Aku menghargai itu "
Tere disampingku terdiam selanjutnya ia mengangguk kecil mengiyahkan ucapanku. Aku tidak tahu apakah otak kecilnya paham dengan maksud perkatakaanku.
" Kalau begitu menurut mu, kenapa dia meninggal?"
Tere mengangkat wajahnya sedikit, menatapku seolah-olah jawabanku adalah yang paling penting untuknya.
"aku akan menjawab pertanyaanmu. Waktu itu sekitar pukul 16.30 aku ke rumah pak Burhan mengurus Surat Keterangan Miskin untuk keperluan kuliahku nanti. Yang aku tahu mengurus surat tersebut tidak menggunakan biaya. Tetapi, sih tua bangka itu menyuruhku membayar 100 ribu untuk kertas, tinta dan tenaganya. Aku mana punya uang sebanyak itu? akhirnya kami membuat kesepakatan. Aku menjadi kekasih gelabnya dan ia memberikan surat itu dengan cuma-cuma. Kau tahu surat itu sangat penting bagiku jadi aku terpaksa menerima tawaran tersebut. Dia merangkulku dan membisikan kata-kata cinta dan tanpa kami sadari Pipo melihat apa yang kami lakukan. Setelahnya, Bocah rewel itu menangis mencari ibunya. Jika kau jadi aku apa yang akan kau lakukan?? "
Tere terdiam disampingku, mulutnya mengangah tak percaya dengan apa yang barusan aku katakan.
" Ja-di siapa yang mem-bunuhnya??"
ohhh rupanya Tere tak seantusias tadi. Suaranya bergetar hebat, tatapannya mengarah padaku mencari kebenaran dari apa yang aku ceritakan.
" Menurut mu siapa??"
aku memberikan senyum cantikku padanya,,senyum yang mungkin tak akan dia lihat lagi.
" Pak Burhan kah??"
aku mengelus lengannya lembut, mencoba menenangkan gadis kecil dihadapanku ini.
" Bukan sih tua bangka itu. Akulah yang melakukannya. Aku memberinya minuman yang mengandung racun Saga Rambat waktu itu sebelum dia pergi bermain dihutan. Hahaha,,,Cemerlangkan ide kakakmu ini?? itu hukuman untuk anak kecil yang rewel dan suka mencari tahu.."
aku melihat Tere disampingku sudah membeku,,nampaknya ceritraku membuat dia ketakutan. Aku mengecup rambutnya singkat, membelai sayang pada rambut halus yang dibiarkan terurai itu. Aku harus memperlakukan dia dengan sayang malam ini, karena besok dia tidak akan berada didunia ini lagi.
"Kamu Psikopat..."
----------------------------------------
end