Bulan hampir bulat penuh malam ini, cahayanya terpantul di permukaan kolam Bsalm. Cekungan air sedalam lima meter itu dibuat oleh para Warlock yang berhasil melarikan diri setelah kalah dalam pertempuran melawan penyihir putih, sekitar dua ribu tahun yang lalu. Para tetua menggunakan mantra kuno untuk menggabungkan energi, membuat kolam itu menjadi semacam sumber kekuatan bagi penerus mereka. Sejak saat itu pula para penyihir hitam hanya bisa bersembunyi di Drudess, lembah kelam yang terasing dari Athios, dunia para penyihir.
Sebuah kastil berdiri kokoh tidak jauh dari kolam Bsalm. Bangunan megah itu memiliki ribuan kamar yang cukup untuk menampung seluruh ras Warlock dan Summoner yang telah menyatakan sumpah setia pada Orca, sang Raja Kegelapan.
Telah hampir tengah malam, namun satu-satunya ruangan tertinggi dalam kastil masih menyala terang. Seorang pria sedang memerhatikan sebuah peta yang terbentang di hadapannya dengan teliti. Garis tulang rahang yang kokoh itu beberapa kali bergerak kaku, sementara buku-buku jarinya memutih karena mengepal terlalu kuat.
"Dasar tidak berguna!" raung pria itu, mengempaskan seluruh benda yang ada di atas meja hanya dengan kibasan tangan kanannya.
"Ampuni kami, Tuan Orca!" Lima prajurit bayangan yang berpakaian serba hitam segera berlutut dengan wajah hampir menyentuh lantai.
"Jangan pernah kembali sebelum menemukan Ksatria Suci yang dimaksud oleh peramal Nimfe!" Pemimpin penyihir kegelapan generasi ke-20 itu menyipitkan matanya, lalu berkata dengan penuh penekanan. "Keluar!"
Kelima orang itu tidak berani mengangkat wajah mereka, hanya terus menunduk sambil berjalan mundur.
"Dari mana kau temukan makhluk tak berguna seperti itu?" Orca mendengkus ke sambil menatap tajam wajah Sheron, sahabat sekaligus tangan kanannya.
Penyihir berambut pirang itu memutar bola matanya, mulai kehilangan kesabaran.
"Mereka yang terbaik," jawabnya tak mau kalah, "Jika sampai sekarang belum ditemukan, itu berarti pelindungnya memang sangat hebat."
Orca mencibir, rambut hitam sepinggangnya berkibar tertiup angin yang berembus melewati jendela. Manik matanya sekelam malam, bersinar seperti cahaya kematian.
"Kalau itu yang kau sebut terbaik, dua ribu tahun kemudian pun, kita masih akan terus terkurung di sini."
Sheron tertegun, tidak berani untuk membantah lagi. Ia hanya mendesah pelan, lalu berjalan menuju pintu.
"Sebelum purnama darah berlalu, Ksatria Suci itu sudah akan berada di altarmu," ujar Sheron sebelum menutup pintu.
Orca membatu, berdiri di bibir jendela seraya menatap lurus ke angkasa. Seulas senyum misterius menghiasi wajahnya yang suram.
Tujuh hari lagi, purnama darah. Jika kali ini terlewat, entah apakah ia masih bisa mengalaminya lagi nanti.
***
Orca berdiri di sisi timur kastil, menatap hamparan padang belantara yang dipenuhi beragam jenis penyihir. Dari jendela timur inilah ia mengawasi para Warlock yang sedang berlatih di bawah arahan ketua pasukan masing-masing, sementara beberapa Summoner dan Enchanter merapalkan mantra dan sihir dari buku yang sama tuanya dengan usia kolam Bsalm.
"Tuan."
Teguran itu mengejutkan Orca, ia berbalik mencari sumber suara. Permukaan kulitnya bersinar keperakan ditimpa cahaya matahari, manik hitamnya mengerjap sekilas memantulkan kilat kemerahan di irisnya. Raut wajah dan postur tubuhnya masih terlihat seperti manusia yang berusia 27 tahun, meski sesungguhnya ia telah berusia hampir lima abad.
"Ada apa?" tanyanya pada seorang pengawal yang sedang membungkuk hormat padanya.
"Master Sheron meminta saya menyampaikan kabar, ritual bulan darah sudah bisa disiapkan."
"Panggil peramal Nimfe!" Seringai lebar menghiasi wajah Orca.
"Baik."
Orca melangkah menuju lemari dan mengeluarkan jubah kebesarannya, juga sebuah mahkota berhiaskan batu painite dan garnet. Untuk beberapa saat, ia mematung di depan lemari. Sungguh tak menyangka jika Sheron akan menemukan Ksatria Suci tepat waktu. Malam ini, purnama darah akan bersinar selama dua jam. Tidak kurang dan tidak lebih.
"Anda memanggil saya, Tuan?" Seorang penyihir wanita dengan rambut keperakan berdiri di belakang Orca. Seluruh kain yang melilit tubuhnya berwarna kelabu, sama seperti bola matanya.
"Apakah ini sesuai?"
"Ya."
"Kristal Obsifhium?"
"Sudah lengkap."
"Segera siapkan segalanya. Sebelum tengah malam, kita sudah harus berangkat ke gunung Mort."
"Baik."
Tangan Nimfe terangkat di sisi kepala Orca dengan kedua mata terpejam. Titik-titik putih di wajahnya bersinar saat ia melafalkan mantra. Kilatan cahaya menyambar, menghubungkan jemari Nimfe dengan mahkota Orca, membuat benda itu perlahan melayang dan mendarat di atas kepala pria itu. Pemimpin penyihir kegelapan itu ikut memejamkan mata saat merasakan pusaran energi merangsek memasuki tubuhnya.
“Kumpulkan pasukan!" perintah Orca sembari membuka mata. Manik hitam kelam yang memikat itu kini telah semerah darah.
***
Serigala melolong dari sela-sela pohon pinus, di bebukitan dan pegunungan. Seluruh ras Warlock dan penyihir pendatang berkumpul di depan kolam Bsalm, menanti aba-aba dari tuan mereka.
Orca berdiri di puncak kastil, memperhatikan purnama kedua pada bulan ini, purnama darah. Tepat jam 12 malam nanti, seluruh planet dalam tata surya akan berada pada satu garis lurus dengan matahari, peristiwa yang hanya terjadi setiap 500 tahun sekali.
"Siupha." Orca menggumam pelan, lalu dalam sekejap tubuh kekar itu telah berada di depan kolam Bsalm.
"Tuan." Sheron memimpin pasukan dan memberi salam pada Orca. "Tinggal menunggu perintah Anda."
"Lakukan."
"Na íste ischyroí." Suar keemasan muncul di telapak tangan Sheron, membentuk sebuah portal yang semakin membesar.
Seringai di wajah Orca melebar ketika melihat puncak gunung Mort di depannya. Pelan tapi pasti, ia melangkah melewati lingkaran dimensi ruang dan waktu. Seluruh pasukannya mengikuti dengan patuh.
Seorang pemuda berpakaian putih telentang di atas altar dengan tangan dan kaki yang terikat kuat. Jika dilihat dari dekat, altar itu berbentuk lingkaran dengan bintang pentagon yang menyatu. Kristal Obsifhium terlihat berkilat di bawah cahaya bulan, berurutan di tiap titik kaki bintang.
"Kau memang tidak pernah mengecewakan," puji Orca.
Sheron tersenyum simpul dan menjawab, "Apa pun untuk Anda, Tuan."
"Segera mulai!" perintah Orca pada peramal Nimfe ketika melihat purnama mulai memerah, seakan menetes dari pekatnya malam.
"Namanya Ryzio Dhighory," ujar Sheron pada peramal Nimfe. Ia menunjuk Ksatria Suci yang masih tidak sadarkan diri.
Peramal Nimfe mengangguk, tanda mengerti. Tak menunggu lama, ia segera merapal mantra, "Sera, se esénia, Ryzio Dhighory!"
Kristal Obsifhium di sekeliling Ryzio berpendar, suar merah dan hitam terpancar dan melesat lurus menuju jantungnya.
"Arrgh!" Ryzio meraung keras, tubuhnya bergetar tak terkendali.
Peramal Nimfe memejamkan mata, ia mengacungkan tongkat di tangan kanannya tinggi-tinggi, lalu mengarahkannya pada Ryzio.
"Kristá sσule, elάτε nίσω!"
Bum.
Suara ledakan disertai gempa membuat tanah di sekitar gunung berguncang hebat. Tubuh Ryzio melayang dan berputar, kemudian tubuh itu perlahan turun, kaki kanannya lebih dulu menjejak tanah. Maniknya semerah darah, sama seperti Orca. Helai rambut keunguannya terserak di pundak dan punggung. Ia menghadap Orca, kemudian berlutut dengan patuh.
"Buka gerbang Helios!" titah Orca.
Ryzio menggerakkan kepalanya pelan, lalu bangkit. Wajahnya menengadah dengan kedua tangan terentang lebar.
"Ossium!" teriaknya dengan lantang.
Kilat menyambar, cahaya merah terang berpendar di sekeliling purnama. Seluruh pasukan tertegun, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Orca mundur beberapa langkah, menatap lingkaran hitam yang mulai terbentuk di dari purnama di atas sana. Melingkar dan membesar, membentuk sebuah portal dari dunia kegelapan.
Altar tempat Ryzio berpijak ikut berpendar, membiaskan cahaya merah kehitaman. Bunyi gemuruh yang keras terdengar, seakan ada ribuan tapak kaki yang sedang berlari dari dalam sana. Tak lama kemudian, satu per satu makhluk dari dunia kegelapan muncul.
Sesosok makhluk melesat kencang dari gerbang Helios. Ia memekik dan mengepakkan sayapnya, berputar di atas pasukan Orca. Tengkorak bertanduk dengan mata semerah darah menyusul tak lama kemudian. Tangan-tangan berwarna kelabu itu menggapai, berebut untuk keluar dari portal. Shir--anjing neraka--merangkak keluar dengan tatapan ganas, mengendus dan meraung.
Orca terbahak melihat makhluk-makhluk itu berkumpul dan bersujud di bawah kakinya.
"Panggil lebih banyak lagi!" perintahnya pada Ryzio.
Bum!
Ledakan keras menghancurkan sisi Altar. Ryzio terpental beberapa meter, bajunya koyak.
Orca menyeringai, menatap sepasukan penyihir putih yang hanya berjarak beberapa tombak dari tempatnya berdiri.
"Maafkan kelalaian saya, Tuan," ujar Sheron. Mereka semua terlalu fokus melihat ritual purnama darah hingga mengendurkan kewaspadaan.
"Lexie," ujar Orca, menatap sinis pada pemimpin penyihir putih yang sedang bersiap melancarkan serangan lanjutan. "Sudah cukup terlambat," ejeknya lagi ketika melihat Ryzio telah berdiri di tengah altar dan membuka kembali gerbang Helios.
"Belum terlambat untuk membunuhmu," balas Lexie, "érchome!"
Kilatan cahaya putih melesat dengan cepat ke arah Orca. Ia menghindar dengan cepat, kemudian memberi perintah pada pasukannya.
"Serang mereka!"
Para Warlock dan Summoner menyerbu tanpa ragu. Tengkorak-tengkorak berlompatan, menghambur ke arah para penyihir putih yang telah memasang kuda-kuda untuk bertarung.
Orca tersenyum sinis melihat kekuatan mereka yang cukup imbang. Purnama darah memang memberikan energi tambahan bagi para pengikutnya, berbeda dengan penyihir putih yang mengandalkan blue moon sebagai sumber kekuatan. Ia sendiri bisa merasakan aliran energi yang berasal dari purnama darah merasuki setiap sel dalam tubuhnya. Jadi, ketika melihat Lexie dan beberapa pasukan menerjang ke arahnya, ia hanya mendengkus dan memberikan serangan balasan.
Pertempuran berlangsung sengit, masing-masing kubu berusaha mengincar kelemahannya lawan. Beberapa kali Orca hampir terkena mantra sakti milik Lexie, untungnya ada Sheron dan peramal Nimfe yang selalu melindunginya.
"Ahsés!" Tangan kanan Orca teracung ke depan, meluncurkan cahaya hitam pekat ke arah Lexie.
Tak disangka, Nafheya--putri Lexie-- menangkis dan menggunakan mantra itu untuk membalikkan serangan. Orca berkelit dan menghindar. Sudut matanya menangkap kilatan perak dari sisi lain. Ia menjejakkan kaki lalu melayang di udara.
"Ukh!"
Pekikan teredam dari altar mengalihkan perhatian Orca. Ternyata yang diincar oleh Nafheya adalah Ryzio. Kedua tangannya terkulai, luruh seiring tubuhnya yang kehilangan cahaya kehidupan.
Orca melihat seringai kepuasan di wajah Lexie, seketika ia terbahak. Suaranya dalam dan mengerikan.
"Dia putramu," ujar Orca dengan wajah yang dipenuhi senyum sarkastik.
"Apa maksudmu?" tanya Lexie penuh kewaspadaan.
"Kau baru saja membunuh putra kandungmu," ejek Orca, "seharusnya kalian memiliki semacam ... ikatan batin?" Senyuman di wajahnya semakin lebar tatkala melihat Lexie memucat.
"Hancurkan mereka semua!" teriak Orca, memanfaatkan kondisi Lexie yang masih linglung untuk menguasai peperangan. Tidak masalah Ryzio mati, makhluk kegelapan telah cukup banyak masuk melalui gerbang Helios.
"Kita akan menguasai Athios!" pekiknya lagi sebelum menerjang ke arah Lexie.