Di suatu Desa yang indah. Aku hidup dengan damai di sana. Pohon yang rimbun, sawah yang hijau, angin yang sejuk, dan kicauan burung.
Namaku Chiku, aku anak seorang petani di Desa itu. Kehidupan sederhana, selalu menemaniku. Aku masih berusia belasan tahun, yang beda cuma aku suka berpetualang di bukit dekat Desa.
Walau cuma sendirian untuk berpetualang, aku masih menikmatinya.
Kali ini aku akan berpetualang ke bukit lagi. Selain untuk mencari buah-buahan, aku juga sering mencari suasana baru. Petualangan di bukit kali ini sedikit berbeda dari yang kemarin. Kalo kemarin aku cuma sampai setengah bukit, kalo sekarang aku mau sampai di puncaknya.
Aku juga gak sendirian sekarang. Aku ditemani oleh hewan kesayanganku, si kucing. Jangan meremehkan kucingku, dia sudah ahli dalam mengikutiku, pulang ke rumah, mancing, dan nyolong lauk.
***
Pagi hari di depan rumahku. Aku sudah siap-siap pergi setelah mengisi perut dengan ubi bakar. Alat yang aku bawa: tas, air minum, dan tongkat. Tidak lupa bawa si kucing.
"Pak, aku ke bukit dulu ya Pak," ucapku kepada Bapak yang sedang bersiap pergi ke kebun. "Iya nak, nanti hati-hati. Jangan pulang sore, nanti gak tau jalan lagi," kata Bapak.
Aku udah sering naik bukit jadi gak mungkin lupa jalan, kecuali jalan itu belum pernah aku lalui.
"Aku pergi dulu Pak, nanti kalo ada buah aku bawa pulang" ucapku sambil berjalan menjauh dari rumah.
Perjalanan kali ini sungguh sedikit berbeda dari yang lalu. Kucing mengikuti dari belakang, dia ikut dengan perut yang penuh. Jadi gak bakal lapar lagi.
Bukit bagian bawah. Areanya luas sekali, pohon rimbun, dan juga banyak orang yang sering kemari saat siang. Makanya aku berangkat pagi biar gak ketemu orang.
Petualangan dimulai sekarang. Menaiki jalan yang menanjak. Jalan yang lika-liku menghiasi jalanku.
Mengikuti alur pohon tumbang, naik pohon buat lihat pemandangan, dan nyari buah yang pasti.
Aku berpetualang sendirian bukan berarti gak punya teman, cuma kalo bersama mereka habis nanti kebun orang. Mereka suka sekali minum air kelapa, sampai-sampai pernah dikejar sama yang punya pohon kelapa. Gimana gak marah, kelapa yang mau ditunggu biar lebih tua udah habis di petik duluan.
Makanya aku gak ngajak mereka. Kalo kalian nanya apalah kamu gak takut sendirian? jawabku gak lah, kan hari masih pagi.
Tapi memang ada cerita dibukit yang aku lalui saat ini. Dalam cerita banyak suara-suara yang aneh terdengar saat malam. Ada penampakan orang yang bisa terbang. Api berjalanlah, kucing makan kayu, suara tangisan anak kecil, dan suara lonceng.
Tapi itu kan cuma cerita, yang bisa diubah-ubah orang. Gak semua hal bisa kita percayai dari cerita. Toh sekarang aku masih aja santai jalan di bukit ini.
***
Setelah menghabiskan beberapa menit, sekitar 30 menit. Barulah aku sampai di tengah bukit masih belum di puncak. Tapi tenagaku masih oke kok.
Jalan yang aku lalui sekarang sedikit berbeda. Suasana masih licin karena jarang ada orang yang sampai di puncak.
Dengan semangat aku berjalan santai naik bukit ini. Jangan lupakan si kucingku yang setia mengikutiku walau jalan yang dilalui sulit, bukan meninggalkan saat tau dia sedang susah.
Air sisa setengah, tongkat masih utuh, dan aku sambil makan buah-buahan di sana.
Perjalanan jauh tidak membuatku lelah karena aku menikmatinya. Walau susah, ya harus tetap berusaha.
Ahirnya, aku sampai di puncak bukit itu. Suasana yang sejuk, kicauan burung, dan pohon buah juga ada. Melihat pemandangan awan yang menutupi Desa di sebelah sana sungguh indah.
Tidak sia-sia aku berpetualang sampai di sini. Sayang sekali aku belum punya kamera yang bisa menyimpan momen ini.
Sampai di sana tidak lupa aku mengumpulkan buah-buahan yang akan aku bawa pulang. Serasa aku tidak ingin pergi dari sana karena suasana yang menyenangkan.
Walau sudah siang tapi aku tetap merasa sejuk di puncak ini.
Saatnya memetik buah. Setelah banyak memetik buah, aku melihat 1 buah yang spesial. Dia berada di ujung cabang, dari warna merah yang sungguh menyilau, dapat di katakan buah itu pasti manis.
"Wah.. buah yang indah. Pasti enak ini kalo di makan," ucapku yang sudah naik pohon itu. Pohon yang bercabang besar ini membuat ku berani memetik buah itu.
Setelah setengah cabang aku lewati, siapa sangka cabang itu bergoyang.
Goyangan yang tidak beraturan dan angin yang keras seketika membuat aku kehilangan keseimbangan.
"Astaga, kenapa ini." ucapku yang sudah sedikit panik. Bagaimana tidak panik, di bawahku adalah jurang.
Hal yang tidak diinginkan tetap terjadi. Aku terpelesat, yang membuat aku bergelantungan gak jelas.
Karena kurang persiapan, membuatku melepas tangan. Kalian tau apa yang terjadi? aku terjatuh ke jurang itu. Walau buah itu ikut jatuh dan kau membawanya.
Aku sudah roll depan di jurang itu. Tubuh kesakitan karena benturan di tanah, pikiran kacau balau, dan sempat-sempatnya makan buah.
Jatuhnya diriku saat itu berakhir dengan benturan kepala dengan batu yang membuatku lupa dan tidak sadar lagi.
***
"Argh..sakit sekali kepalaku," batinku. Tubuh yang berkeringat dingin, tangan yang bergemetar, dan suara kucing di samping tempat tidur ku.
"Kenapa aku bisa disini? seharusnya aku sudah tak bernyawa saat terjatuh itu" ucapku suara kecil. Kepala yang sakit membuat ku tak bisa mengingat dengan jelas.
Saat aku melihat ke meja. Buah yang aku makan itu ada di sana.
"Inikan buah yang membuat aku terjatuh, kenapa bisa disini?" ucapku bingung sendiri.
Yang paling mengejutkan adalah tanggal saat ini. Tanggal sekarang aku terbangun adalah tanggal kemarin sebelum aku pergi. Bisa dibilang aku kembali ke hari yang lalu.
Setelah aku tenang dalam kebingungan itu. Esok hari aku tetap naik bukit dan bekas yang aku buat itu semua ada di sana.
Buah itu hilang, bungkusan buah , dan tongkat masih di sana.
"Apakah aku hidup kembali?" pertanyaan dalam hatiku.
Tamat.
Kasih Like dan Komentar, biar bisa bikin cerita yang lebih menarik. 😁