Oleh Sermiati Ma’dika
Sebuah kisah yang berawal dari chatting, hingga akhirnya menjadi sepasang kekasih.
Senja kini kembali hadir memancarkan sinar keagungannya yang selalu di nanti oleh setiap insan. Entah mengapa, senja selalu menjadi lambang dari sebuah sajak. Ya mau bagaimana lagi, itulah takdirnya.
Namaku adalah Kemuning. Entah mengapa aku di beri nama itu, tapi semua nama pasti mempunyai artinya masing masing.
Sore ini, aku memtuskan untuk pergi ke rumah teman, lebih tepatnya sepupu. Soalnya, sudah lama aku tidak berjumpa dengannya. Setelah bersiap siap, aku langsung otw.
“Sudah di mana?” Tanya Rima sepupuku.
“Ini masih di jalan, kenapa?” tanyaku balik.
“Ohhhhh tidak apa apa, kalau sudah sampai telpon ya,” ucapnya lagi.
“Ok,” balasku lagi sambil mematikan ponselku.
Sepanjang perjalanan, aku terus memperhatikan kiri kanan. Siapa tau kan ada sesuatu yang bisa di beli untuk di makan. Soalnya dari tadi aku lapar sekali. Belum ada sesuap nasi pun yang mengisi perutku dari pagi. Aku malas sekali makan kalau pagi, entah kenapa aku pun tidak tahu, mungkin cacingan kali hehehe.
Sesampainya di rumah sepupuku, aku langsung membaringkan diri. Soalnya capek.
“Oiiii kenapa?” Tanya Rima.
“Capek aku,” jawabku dengan lesuh.
“Emang dari mana saja?” tanyanya lagi.
“Ya dari rumah, darimana lagi,” jawabku jengkel karena di tanya terus, soalnya aku lagi capek.
“Ya elah gitu ajah kok marah,” ucap Rima sambil membuat kopi.
Setelah cukup baring baringnya, aku pun bertanya pada Rima.
“Rima,” panggilku.
“Hmmm, kenapa?” jawabnya dari dapur.
“Ada makanan nggak, lapar aku,” tanyaku lagi.
“Ada, udah cepat sana makan. Nanti kamu mati di rumahku karena kelaparan,” jawabnya.
“Ya elah tega amat kamu bilang begitu,” jawabku sambil pergi ke dapur mencari sesuatu yang bisa di makan.
*******
Malam kini datang dengan membawa kegelapan, kami berdua pun larut dalam cerita masing masing. Soalnya dia sibuk sekali telponan dengan cowok, mungkin pacarnya. Aku pun juga memutuskan untuk menelpon pacarku. Soalnya, akhir akhir ini dia jarang sekali ada kabar.
Tut…tut…tut… sambungan telponnya berdering, namun tidak ada jawaban dari sana. Aku ulangi sekali lagi, dan akhirnya diangkat.
“Halo, kenapa?” jawab Revan dari sebrang.
“Selamat malam,” sapaku dengan lembut.
“Ia, malam juga. Kenapa?” tanyanya lagi.
“Maksud kamu apa? Salahkah kalau aku telpon pacar sendiri? Kok jawabannya gitu amat sih? Apa aku ada salah ya? Kalau ada, aku minta maaf,” ucapku dengan perasaan yang sangat sedih. Hati siapa coba yang tidak sakit mendapat jawaban seperti itu dari pacar sendiri. Aku Pun mulai bertanya baik baik, tentang mengapa dia seperti itu.
“Kamu kenapa sih? Kalau ada masalah, kamu bilang sama aku. Siapa tahu aku bisa bantu,” tanyaku. Lama dia terdiam, entah apa yang dia pikirkan.
“Kita akhiri hubungan kita sampai di sini saja ya,” jawabnya dengan pelan. Bagai di sambar petir, aku langsung lemas seketika mendapat jawaban yang tidak pernah aku duga. Lama aku terdiam, karena kaget mendapat jawaban seperti itu.
“Maksud kamu apa, jangan bercanda deh. Ini tidak lucu tahu nggak,” jawabku masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar barusan.
“Aku serius, aku mau kita putus,” jawabnya singkat.
“Tapi kenapa, salahku apa? Aku minta maaf kalau aku ada salah,” jawabku sambil menangis.
“Kamu tidak ada salah, aku minta maaf. Tapi aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini,” jawabnya lagi.
“Apa kamu sudah ada seseorang yang di sukai? Kenapa tiba tiba minta putus?” tanyaku dengan rasa sakit yang sudah memuncak.
“Aku tidak selingkuh, hanya saja aku sudah malas pacaran. Aku mau fokus kuliah dan kerja. Maaf kalau selama ini aku banyak salah sama kamu. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita ini,” jawabnya dengan santai.
Aku sudah tidak tau harus berbuat apa lagi. Pikiranku benar benar kacau. Aku terus saja menangis dan tidak menyangka hubungan telah kami jalin selama 2 tahun kandas begitu saja tanpa alasan yang masuk akal.
“Oke, kalau itu memang keinginanmu, aku akan turuti. Hari ini kita putus,” jawabku dengan putus asa sambil mematikan telepon.
Aku Pun, menangis sejadi jadinya di kamar sepupuku. Aku sangat mencintai dan menyayanginya dengan tulus dan tidak pernah terpikirkan olehku untuk berpaling darinya. Tapi apa hendak di kata, takdir berkata lain. Hubungan kami harus kandas di tengah jalan, tanpa aku tahu penyebabnya dengan pasti.
Di tengah tengah aku sedang terpuruk, tiba tiba hp ku berdering dan muncul satu nama di layar hp. Bintang, dia adalah orang yang baru aku kenal lewat chat. Bukan apanya, aku mengenalnya karena berteman di facebook dan aku yang chat duluan. Bukan bermaksud apa apa, aku chat dia hanya untuk mengajaknya bergabung dengan bisnis yang sedang aku jalankan. Soalnya, kalau di lihat dari foto profilnya di facebook sepertinya kami satu daerah.
Aku pun mengangkat telepon di saat sedang menangis. Ketika aku mengangkat teleponnya, dia pun kaget melihat aku yang sedang menangis.
“Halo, kamu kenapa? Hei apa kamu sakit, kenapa kamu menangis?” tanyanya dengan lembut.
“Kak, aku putus dengan pacar aku,” aku memanggilnya kakak, karena ku lihat di profilnya dia kakak satu tahun dariku. Dan entah mengapa, aku cerita ke dia kalau aku baru di putus dengan pacarku. Seakan akan, aku sudah lama mengenalnya.
“Lah kok bisa dek?” Tanya kak Bintang dengan lembut.
“Aku juga tidak tahu kak, tiba tiba saja dia minta putus tanpa alasan yang jelas. Dia bilang, dia tidak mau pacar pacaran duluh, dia mau fokus sama kuliah dan kerjanya. Terus untuk apa dia pacaran kalau ujung ujungnya seperti ini,” jawabku seakan akan sudah kenal lama dengan kak Bintang.
“Sudah, jangan nangis terus. Laki laki seperti itu tidak perluh di tangisi. Mungkin ada yang lebih baik yang Tuhan sedang persiapkan untukmu. Jadi kamu harus semangat. Ya sudah, kakak mau kerja duluh. Nanti kakak telepon lagi kalau kakak sudah selesai bekerja. Kakak tutup telponnya duluh ya dek, kamu yang kuat. Ingat masih banyak orang yang lebih baik dari dia. Jangan nangis terus. Kakak tutup duluh ya telponnya,” ucapnya panjang lebar sambil memberikan nasihat untuk tidak larut dalam kesedihan.
“Oke kak, kakak semangat ya kerjanya,” jawabku sambil tersenyum.
“Oke dek, na gitu dong senyum. Kan manis kalau senyum. Kakak tutup ya teleponnya dek. Daaa, ingat jangan nangis terus, nanti kakak tidak fokus kerja loh,” ucapnya sambil tersenyum dan mematikan teleponnya.
Aku Pun menarik napas dan tersenyum untuk melupakan semua yang terjadi hari ini. Walaupun menyakitkan, tapi aku akan berusaha untuk bisa melupakannya. Kejadian hari ini adalah sebuah pembelajaran, bahwa sesuatu yang kita miliki suatu saat bisa saja pergi. Jadi, jangan terlalu bersedih. Sebuah hal yang menyakitkan yang sedang menimpa kita adalah proses untuk kita menjadi lebih baik lagi. Jadi, anggap saja ini adalah proses bagi saya untuk lebih baik lagi kedepannya.
******
Di saat aku sedang asyik melihat lihat video lucu di facebook, tiba tiba saja hp ku berdering dan muncul subuah nama di layar hp. Ya siapa lagi kalau bukan kak Bintang, orang yang baru aku kenal beberapa jam yang lalu.
“Halo dek, lagi ngapain?” Tanya kak Bintang dari seberang.
“Ini lagi duduk duduk saja kak, kenapa?” tanyaku balik.
“Oohhh ada yang sudah move on nih, hehehe. Nah gitu dong senyum, kan manisnya menenangkan hati,” ucapnya dari seberang. Sumpah, entah mengapa aku merasa aneh saat pertama kali melihat kak Bintang lewat video call.
Walaupun hanya sebagian mukanya yang nampak karena dia tutup sarung, tapi rasanya ada yang aneh dalam diriku. Masa ia secepat itu aku melupakan Revan. Sebenarnya aku masih sangat mencintai dan menyayanginya, tapi mau bagaimana lagi, aku harus berusaha melupakan dia.
Dua hari berlalu, aku merasa semakin dekat dengan kak Bintang. Hehehe bukannya aku secepat itu berpaling ya, tapi memang aku harus berusaha untuk melupakan Revan.
Di saat aku sedang duduk duduk melamun memikirkan tentang bagaimana caraku untuk cepat melupakan Revan, apalagi dia adalah pacar pertama, tiba tiba ada chat masuk.
“Selamat siang dek, lagi apa. Sudah makan?” tulis kak Bintang.
“Ini lagi duduk duduk kak, kenapa?” tanyaku.
“Sebenarnya ada yang ingin kakak mau katakan, tapi nanti malam saja ya,” balas kak Bintang.
“Emang kenapa kalau sekarang kak?” tanyaku lagi.
“Nggak apa apa dek, sudah duluh ya, kakak mau lanjut kerja duluh. Nanti malam kakak akan mengatakan sesuatu,” balas kak Bintang.
“Ok kak, semangat ya kerjanya,”balasku lagi.
Aku Pun memikirkan perkataan kak Bintang tadi sembari terus termenung.
*****
Malam pun tiba, dan aku siap siap untuk kuliah. Setelah menyiapkan semua materi yang akan masuk, akupun mulai belajar. Malam ini dosen hanya memberikan tugas dan menyuruh kami mengerjakan tugas itu dan di kumpul minggu depan.
Malam ini adalah malam minggu, dan aku hanya bertemankan sebuah sepi yang seakan akan tengah mengejekku. Ya mau bagaimana lagi, aku pun tidak menyangka akhirnya jadi seperti ini.
“Selamat malam dek, lagi sibuk?” sebuah pesan masuk dan itu dari kak Bintang.
“Selamat malam juga kak, ini baru selesai belajar. Oh ia kak, tadi kakak mau bilang apa?” balasku.
“Emmmm tapi kamu jangan mikir macam macam dan jangan marah ya dek,” balas kak Bintang.
“Ia aku janji, mau bilang apa kak?” tanyaku.
“Kakak mau bilang kalau kakak suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacar kakak,” balasnya.
“Emmmm gimana ya kak, aku nggak mau,” balasku.
“Kenapa tidak mau dek?” balasanya.
“Ya karena kakak ungkapinnya lewat chat. Coba ungkapin langsung,” balasku.
Setelah aku mengatakan itu, kak Bintang langsung nelfon dan mengungkapkan perasaannya. Aku terima saja cintanya kak Bintang, siapa tau dialah jodoh yang di kirim Tuhan untuk memulihkan hati yang telah patah.
Malam ini adalah tanggal 24 Oktober 2020 tepat jam 9 malam, dan aku jadian dengan kak Bintang. Aku memberinya nama Little Bee, karena aku suka saja dengan nama itu.
Cinta memang rumit, susah di pahami dan susah di jelaskan. Tapi itulah kenyataannya, walaupun rumit, tapi semua orang selalu mendambakannya.