Terik matahari yang menyengat tak membuat langkah Vincent surut. Ia sudah berjanji ke Diane akan membelikannya cincin sesuai dengan yang ia impikan selama ini.
Janji yang sepele namun akan membuat Vincent sangat berdosa jika ia tak mampu memenuhinya. Toko yang ia tuju berjarak sekitar lima kilo dari rumahnya, sayangnya karena Vincent tak punya kendaraan maka ia menuju ke toko tersebut dengan berjalan kaki. Ia bisa saja menyetop kendaraan umum, namun mengingat dana yang ia siapkan hanya cukup untuk membeli cincin maka ia memilih untuk berjalan kaki.
Kini Vincent telah tiba di toko tersebut, tanpa menunggu lama seorang pria tua dengan tubuh berlemak datang menemui Vincent saat ia sedang asyik memperhatikan sejumlah cincin cantik yang terpajang di etalase.
"Ada yang kamu menarik hati kamu, nak?." Tanya pria tersebut.
"Yang ini pak!." Kata Vincent sambil menunjuk sebuah cincin yang dihiasi berlian berwarna biru keemasan ditengahnya.
"Oh itu cincin yang sangat cantik." Pria tersebut kemudian mengeluarkan cincin itu dari etalase sambil menyebutkan harganya. Vincent kemudian mengeluarkan uang dari dompetnya, setelah ia hitung dan pas dengan harga yang disebutkan tadi ia kemudian menyerahkan uang tersebut.
Setelah menerima uang dari Vincent, pria tua tersebut kemudian memasukkan cincin itu ke dalam sebuah kotak kecil yang diselimuti kain halus berwarna hitam.
"Pasti wanita yang akan menerima cincin ini sangat spesial buatmu." Kata pria tersebut sambil menyerahkan kotak cincin itu ke Vincent.
"Sangat sangat spesial pak!." Vincent kemudian memasukkan kotak cincin itu ke dalam saku bajunya.
"Terima kasih sudah berbelanja di toko ini." Kata pria tua itu yang disambut Vincent dengan anggukan halus sambil tersenyum.
Vincent melangkah dengan girang, langkahnya terasa ringan karena hatinya yang bahagia. Kali ini tujuannya adalah langsung ke rumah Diane, jarak yang cukup jauh terasa dekat bagi Vincent.
"Tunggu aku Diane, cincin idamanmu sudah ada."
Setelah menempuh jarak sekitar tiga kilo dari toko tadi, saat ini Vincent sudah berdiri di sebuah rumah. Ia segera memencet bel, setelah beberapa saat pintu rumah tersebut dibuka oleh seorang pria muda berkaos cokelat, pria itu bernama Lancelot yang merupakan kakak tertua Diane.
"Selamat siang kak Lancelot, apa Diane-nya ada?." Tanya Vincent dengan sopan.
"Ada apa kamu ingin bertemu dengan Diane?." Tanya Lancelot penuh selidik.
"Ada sesuatu yang ingin saya berikan pada dia." Jawab Vincent.
Lancelot memandangi Vincent dengan seksama.
"Tunggulah sebentar!." Kata Lancelot kemudian berbalik meninggalkan Vincent di depan pintu.
Tak lama kemudian seorang gadis cantik berpostur tinggi dengan lekuk tubuh yang mampu membuat lelaki manapun terpesona datang menghampiri Vincent. Gadis itulah Diane, Gadis yang membuat Vincent sering tidak bisa tidur saat ia membayangkan senyumnya.
"Ada apa Vincent?." Tanya Diane acuh tak acuh.
"Aku hanya ingin memberikanmu sesuatu." Vincent kemudian mengeluarkan kotak cincin yang ia simpan di dalam saku bajunya. Kotak cincin itu kemudian ia serahkan ke Diane.
Perlahan Diane membuka kotak cincin itu, wajahnya terlihat sumringah setelah melihat isi kotak tersebut. Namun ia kemudian menutupnya kembali lalu memandang sinis ke Vincent.
"Lalu?." Tanya Diane singkat.
"Itu cincin yang kamu idamkan, bukan?." Vincent balik bertanya.
"Maksudmu apa Vincent?, Apa kamu berharap aku akan menerimamu setelah kamu memberikanku barang ini?." Diane mengerutkan alisnya.
"Seharusnya begitu, tapi kalau kamu keberatan maka aku tak punya lagi alasan apa-apa."
Lelaki yang sangat aneh, memberikan cincin cantik namun tak mau tegas menyatakan perasaannya. Diane hanya terdiam memandangi Vincent sambil menimang-nimang kotak cincin yang ada ditangannya.
"Terima kasih untuk cincinnya, namun kamu belum layak untuk menjadi pendampingku." Kata Diane sambil menyerahkan kembali kotak cincin itu ke Vincent.
"Jadi?." Tanya Vincent sambil menerima kotak cincin dari Diane dengan enggan.
"Pulanglah, bawa saja cincin itu." Diane dengan ketus berkata.
"Tapi aku sudah berjanji untuk membawakanmu cincin yang kau idamkan ini!?." Vincent berusaha untuk menenangkan emosinya.
"Lupakan janji itu, anggap saja itu cuma candaan." Diane kemudian menutup pintu rumahnya dan tidak memberikan Vincent untuk berkata-kata lagi.
Desiran angin hanya menuai dingin kedalam tubuh Vincent, ia terpaku dalam diamnya. Kotak cincin berkain hitam halus itupun telah jatuh dari tangannya.