~Kebahagiaan besar datang dari hal-hal kecil yang tidak kita duga-duga~
-Cerita ini berdasarkan imajinasi penulis saja. Bila ada kekurangan dalam segi penulisan dan penyusunan kata. Mohon maaf. Untuk itu, please like, Coment, and share agar penulis dapat terus melakukan yang terbaik untuk menyenangkan para pembaca. Terimakasih-
.
.
.
~
Aku memiliki Gitar yang diberi nama Minsu. Bagiku, Ia adalah benda yang paling berharga di dunia. Ayahku seorang pecinta musik. Sedangkan Ibu dan Kakakku pandai bernyanyi. Tapi Aku...sama sekali tidak tertarik dengan dunia musik. Aku sering mendengarkan lagu-lagu dari berbagai mancanegara dengan Genre yang berbeda-beda. Meski begitu, aku merasa tidak cocok untuk terjun kedalam dunia musik seperti kakakku. Karena aku lebih suka menghabiskan waktuku dengan bermalas-malasan.
Dihari ulang tahun ku yang ke-15, Kakakku satu-satunya menghadiahkan ku sebuah Gitar yang ia beri nama Minsu.
'Heh. Emang dia peliharaan?? Pake dikasi nama segala'.
Aku memang tidak terlalu senang dengan pemberian kakakku. Namun ia berkata kepada ku bahwa kelak Gitar itu akan sangat berguna.
Sejak Minsu hadir dalam kehidupan ku, entah kenapa Aku jadi sering meluangkan waktuku untuk bernyanyi dan belajar memainkannya bersama kakakku, Vellia.
Hari demi hari berlalu. Aku jadi sangat pandai bermain Gitar. Kak Vellia juga tiada henti-hentinya memuji suaraku yang menurutnya sangat merdu. Sudah jelas bahwa Aku sangat bahagia. Hingga...
.
.
.
Brukk!
Wiu..Wiu..
Vellia! Tidak Mungkin!
Kakak!
Saat Aku berumur 16 tahun, kakakku pergi untuk selamanya. Ia meninggal karena kecelakaan tunggal yang menimpanya saat hendak ke studio rekaman untuk Lagu dan Album pertamanya. Ia juga sudah lama menantikan hal ini. Namun kenapa?!!? Kenapa harus sekarang Ia pergi meninggalkan ku, Ibu dan Ayah untuk selama-lamanya!?!! Ini tidak adil! Sangat tidak adil!. Ia baru maju beberapa langkah untuk mencapai mimpinya. Kenapa harus terhenti sampai disini?!. Sudah pasti Aku dan Keluarga ku sangat kacau pada saat itu.
3 hari setelah kematian kakakku, Aku menghampiri kamar tidurnya. Aku melihat ada sebuah Buku di atas meja belajarnya. Buku itu berisi Lagu-lagu ciptaan kakakku sendiri. Air mataku tak bisa berhenti mengalir saat membaca setiap kalimat yang tersusun di halaman akhir Buku itu.
'Untuk Adikku tercinta Vello~ Terimakasih karena telah menghiasi kehidupan kakakmu yang cantik ini. Kakak sangat bangga. Karena adik kesayangannya kakak sudah mahir bernyanyi dan bermain Gitar. Jadi, semua lagu ini kakak siapin selama berbulan-bulan khusus buat kamu sebagai hadiah. Semoga kamu suka♡. Love Kakak Tersayang. Vellaria Minsu Cahyono.'
"huu.huu.huu. Kakak!!!!"
.
.
.
.
.
Setahun kemudian.
~
(Di Ruangan Kelas 2A SMA Mawar Merah)
Di jam istirahat sekolah, teman-teman ku sangat sibuk membicarakan tentang Lomba yang akan diselenggarakan pada Hari Ulang Tahun Sekolah ku, yang ke-23. Waktunya tinggal 1 Minggu lagi.
Ada bermacam-macam Lomba. Mulai dari membaca puisi, menari hingga bernyanyi. Ketika mereka sibuk membahasnya, Aku memilih untuk tidak peduli. Lagipula tidak ada lomba yang membuatku tertarik untuk ikut berpartisipasi.
Aku dibuat terkejut ketika teman-teman ku menatapku.
"ini orang kenapa pada liatin Gue sih?" Gumamku dalam hati. "Apa?!!" Kataku.
"Lu bisa Vel main Gitar?!" Tanya Tasya padaku.
"Gak!" Jawab ku tegas sembari menatap Jimi dengan tajam. Aku tahu bahwa Jimi lah yang memberitahu mereka tentang aku yang bisa bernyanyi dan bermain Gitar. Selain karena tetangga, Jimi adalah sahabat karib ku. Mereka semua menginginkan ku untuk ikut lomba bernyanyi. Tapi aku menolak.
(Dirumah)
Malam ini, Aku sangat merindukan Kakakku. Aku berjalan pelan menuju ruangan tempat ia dulu menghabiskan waktu untuk bernyanyi. Ketika membuka pintu, kulihat ruangan itu dipenuhi debu. Semua kerinduan yang kurasakan, ku luapkan di ruangan itu. Aku pun menangis.
Saat hendak keluar dari ruangan itu, Aku melihat Gitar pemberian kak Vellia. Aku tidak bisa menolak keinginan hatiku untuk mengambil dan memainkannya. Aku menyanyikan salah satu lagu ciptaan kak Vellia yang ia tulis dalam Buku yang kutemukan setahun lalu di atas meja belajarnya. Setelah selesai bernyanyi, Aku terdiam sejenak. Tiba-tiba Aku melihat ada sesuatu yang tertulis di Gitar tersebut. 'Apa ini? Kenapa Aku baru menyadarinya?'. Tulisannya sangat kecil. Aku sampai mendekatkan wajahku ke Gitar itu.
'Teruslah Bernyanyi'. Kata-kata yang tertulis pada Gitar itu, membuatku langsung menangis histeris. Ayah dan Ibuku yang sangat terkejut langsung berlari dari ruang keluarga ke tempatku berada dan menenangkan ku. Aku akhirnya menyadari bahwa inilah yang di inginkan Kakakku saat ia memberikan Gitar ini padaku. Namun aku malah membenci hal-hal yang seharusnya tidak kubenci setelah kematiannya. Termasuk Minsu. Gitar yang selama ini ada di rumah ku.
.
.
Setelah kejadian kemarin malam, aku memutuskan untuk mengikuti Lomba bernyanyi di sekolah ku. Teman-teman ku langsung menyambut gembira kabar tersebut.
~
Hari demi hari berlalu... Kini, saat yang dinanti-nanti telah tiba.
"Sekarang Nomor urut ke-5 atas nama Vellonso Thomi Cahyono dari kelas 2A.". Ketika Aku mendengar namaku di panggil, ada sedikit rasa takut yang menyelimuti diriku. Tapi Aku kembali mengingat pesan kakakku yang menginginkanku untuk terus bernyanyi.
Aku pun memilih untuk menyanyikan lagu ciptaan kakakku berjudul 'My Guitar'.
🎶'Ketika Ku rindu, Ku bernyanyi dengan Gitarku. Ketika Ku menangis tersedu-sedu, Ku bernyanyi dengan Gitarku. Ketika banyak waktuku untuk tersenyum, Ku bernyanyi dengan Gitarku. Terimakasih telah ada untuk menemani hari-hari ku. Kehadiran mu membuat luka di hatiku, Pupus.'🎶
Prak! Prak! Prak!
Suara tepuk tangan meriah meramaikan suasana lomba bernyanyi hari ini. Aku terkejut. Karena tiba-tiba ada begitu banyak orang-orang yang datang untuk menyaksikan penampilan ku. Mereka seperti tak menyangka bahwa seseorang yang begitu dingin seperti ku bisa bernyanyi. Bahkan kulihat Bu Anggi si Gurru Killer disekolah ku, terharu dengan penampilanku. Aku pun tersenyum bahagia dengan mata berkaca-kaca.
Aku menatap langit... Membayangkan wajah kakakku yang sedang tersenyum.
'Kak...Aku telah menemukan diriku yang sebenarnya. Terimakasih.'.
.
.
.
.
.
TAMAT.