Kehidupan sekolahku yang biasa saja tiba-tiba berubah ketika para murid baru itu datang.
Carla itulah namaku. Aku adalah seorang murid SMA biasa. Menjalani kehidupan SMA yang biasa. Tiba-tiba saja beberapa murid baru datang dan suasana di sekolahku mulai berubah. Mereka berlima yang terdiri dari 3 perempuan dan 2 laki-laki. Salah satunya yang paling tampan bernama Arthur.
Semenjak datang, mereka sangat terkenal karena membuat semua orang terpana akan kecantikan dan ketampanan mereka. Namun, suatu hari tersiar kabar bahwa setiap malam satu persatu murid di sekolahku mulai menghilang dan tak kembali lagi. Sontak semua murid langsung ketakutan.
Sahabatku bernama Sarah merasa sedikit curiga dengan para murid baru itu.
"Carla, aku merasa ada yang aneh sama mereka." ungkap Sarah padaku.
"Aneh,, aneh gimana?" tanyaku.
"Kemarin malam gak sengaja liat mereka ke sekolah. Pokoknya gerak geriknya mencurigakan banget." jelas Laura.
"Masa sih?" tanyaku tak percaya.
"Pokoknya kamu jangan deket-deket sama mereka. Aku ngerasa gak enak aja." ucap Sarah.
"Iya-iya kamu tenang aja." jawabku sambil tersenyum padanya.
______
Paginya, temanku Sarah yang biasanya tak pernah absen tiba-tiba saja tak masuk kelas. Kupikir ia punya urusan mendadak. Namun, salah seorang teman sekelasku mendekatiku dan bertanya.
"La.. temen kamu gak masuk ya?. Katanya dia hilang semalam. Apa bener?" tanyanya padaku.
"Hilang? hilang gimana maksudnya?" tanyaku tak mengerti.
"Masa gak tau sih dia kan jadi salah satu korban murid yang hilang." jelasnya padaku.
"Gak mungkin,, kamu cuma asal ngomong kan? gak mungkin Sarah hilang." ucapku tak percaya dengan perkataannya.
"Bener kok coba aja liat rumahnya." jelasnya lagi.
Aku langsung berlari meninggalkan sekolah. Aku berharap kabar itu hanya kabar bohong belaka. Dengan perasaan yang kacau, aku terus berlari hingga sampai di depan rumah Sarah. Aku langsung mendobrak pintu rumah Sarah.
"Sarah... Sarah... Sarah..." teriak ku berkali-kali. Namun tak ada jawaban dari dalam. Seketika hatiku hancur dan menangis di depan pintu rumahnya.
Tiba-tiba saja pintu terbuka. Terlihat seorang pria tua paruh baya membukakan pintu. Ia berdiri dengan mata sayu dan penuh kesedihan. Ia adalah ayah Sarah
"Sarah kemana om... Sarahh" tangisanku pecah.
"Sarah semenjak tadi malam hilang nak. Doakan saja semoga cepet ketemu. Jangan nangis nak Sarah pasti baik-baik saja." ucapnya menguatkan hatiku.
_____
Aku pulang dari rumah Sarah dengan keadaan mata yang masih sembab. Terfikir olehku mungkin saja dalang di balik semua ini adalah para murid baru itu.
Aku segera pulang kerumah dan membawa beberapa barang yang mungkin saja berguna dan langsung menuju ke sekolahanku. Terlihat dari kejauhan Arthur si murid baru itu tengah masuk ke dalam sekolah. Aku diam-diam membuntutinya dari belakang.
Ketika Arthur tengah memasuki sebuah kelas, aku langsung menyerang dan menodongkan stunt gum ke arah Arthur.
"Katakan dimana Sarah dan semua orang?" tanyaku padanya dengan suara lantang.
Seketika ia membalikkan keadaan dan menodongkan stunt gum kearah ku.
"ARGHHH" teriakku.
Seketika Arthur langsung menutup mulutku dengan tangannya yang lebar.
"Sssttt... diamlah." bisik Arthur di dekat telingaku.
Arthur mendorongku ke dekat pintu. Terlihat dari celah pintu sesosok makhluk mengerikan berwajah hitam dengan taringnya yang runcing seperti monster. Seketika tubuhku menggigil dan lemas. Setelah monster itu pergi, Arthur melepaskan genggamannya.
"A.. Apa itu tadi?" tanyaku gemetar ketakutan.
"Makhluk itu yang menculik para murid dan juga Sarah." ucap Arthur.
"Sarah? Bagaimana bisa?" tanyaku tak percaya.
"Sarah diam-diam mengikutiku dan tertangkap." jelas Arthur.
Tiba-tiba para murid baru itu datang menghampiri Arthur. Mereka bernama Winny, Lucy, Arsy dan Lucas.
"Arthur aku menemukan jalannya, itu berada di bawah meja kepala sekolah." ucap Lucas pada Arthur.
"Baiklah ayo kita bergegas." perintah Arthur.
"A.. Aku ikut." ucapku.
"Siapa dia?" tanya Winny.
"Namaku Carla. Aku ingin ikut menemukan Sarah."
"Hei kau telihat lemah. Kau hanya menghalangi jalan kami." sahut Arsy.
"Baiklah kau boleh ikut. Tapi kami tak akan peduli jika kau terluka." kata Lucas padaku.
"Te.. Terima kasih." ucapku sambil tersenyum pada Lucas.
Akhirnya aku ikut masuk ke rombongan mereka. Kami menuju ke ruang kepala sekolah. Saat meja di geser, terlihat anak tangga menuruni ruangan itu. Gelap dan sempit. Kami hanya menyalakan dua obor.
"Kemana kita pergi?" tanyaku pada mereka semua.
"Hutan Arandel." sahut Arthur.
"Bukankah itu sangat jauh dari sini?"
"Benar. Tapi lewat tempat ini hanya butuh beberapa menit untuk sampai." ucap Arthur padaku.
Beberapa menit kemudian, sampailah ke tempat hutan itu. Terlihat lebat dan hijau. Kami semua bergegas masuk lebih dalam ke hutan itu. Menurut Arthur, sarang monster itu berada di dalam jantung hutan.
"Baiklah kita bersiap-siap dulu sebelum berangkat" ucap Arthur.
"Siap-siap apa?" tanyaku tak mengerti.
"Ambil senjata yang bisa kamu gunakan" jawab Arthur sambil membuka tas yang di bawa Lucas beberapa waktu lalu. Di dalam tas itu terdapat senjata tajam berupa pedang, panah, tombak, dan senjata tajam lainnya.
"Kupikir panah cocok untukmu" ucap Arthur sambil memberikan panah dan busur kepadaku.
"Eemm aku gak terlalu bisa memanah" ucapku lirih.
"Aku yang akan mengajarimu" jawab Arthur.
Sebelum berangkat, aku belajar memanah terlebih dahulu. Arthur membimbingku dengan berdiri di belakangku dan mengajariku posisi memanah yang benar. Seketika anak panah yang kulepaskan melesat jauh ke depan tepat mengenai sebuah pohon.
"Terima kasih, ternyata tak terlalu sulit memanah" kataku pada Arthur sambil tersenyum bahagia.
"Tentu saja" balas Arthur dengan senyumannya yang terlihat sangat cerah.
Senyumannya membuatku terpesona. Dia terlihat semakin tampan saat tersenyum.
"Hei ayoo..!!!" teriak Winny dengan nada sinis.
"Te.. tentu" ucapku terbata-bata.
Kami semua menuju ke hutan lebih dalam. Terlihat dari kejauhan sebuah gua dengan ukuran yang tinggi dan sangat besar. Semua orang terlihat waspada dan bersiap siaga dengan senjata yang mereka bawa.
Kami semua berhati-hati dan masuk ke dalam. Sangat gelap. Hanya ada sedikit cahaya yang berasal dari dalam gua. Terdengar sedikit suara raungan dari dalam.
_____
Perlahan-lahan kami sampai di dalam gua itu. Terlihat sebuah perapian kecil di sudut gua. Di dekat tempat itu terdapat sebuah kurungan dan beberapa orang di dalamnya tengah tertidur.
"Itu mereka" bisik Lucas pada kami semua.
"Kita harus bersiap. Perlahan dekati dan bebaskan mereka." ucap Arthur dengan nada lirih.
Beberapa orang berjaga-jaga dan yang lainnya bersiap menyelamatkan semua orang yang di tawan.
Tak sengaja Ginny menginjak sebuah batu yang licin dan terpeleset. 'Braakkk' suara keras itu terdengar oleh monster itu. Dari kejauhan monster itu langsung berlari dan menghampiri kami.
Ternyata monster itu tak hanya satu. Ada sekitar sepuluh monster yang berada di gua itu. Seketika semua orang langsung waspada dan bersiap untuk menyerang.
Aku yang tak terbiasa dengan situasi ini gemetar karena ketakutan.
"Carla kamu bisa. Jangan gugup." ucap Arthur sambil menggenggam tanganku.
"Baik." seketika ketakutanku sedikit mereda ketika Arthur melihatku dengan tersenyum dan menyemangatiku.
_____
Semua orang langsung mengayunkan senjata mereka dan menyerang. Arthur tengah sibuk memerangi tiga ekor monster dengan pedangnya yang panjang dan tajam. Aku berusaha mengeluarkan semua orang dari kurungan yang dibuat monster itu.
Secepatnya aku langsung menggunakan batu yang besar dan kembuja pintu itu. Semua orang seketika terbangun dan segera keluar dari tempat itu. Saat itu hanya aku yang menjaga para tawanan keluar. Seekor monster tiba-tiba datang mendekat.
"Kumohon... Kumohon.." kataku sambil membidikkan anak panah pada monster itu. Anak panah itu ternyata melesat mengenai mata monster itu dan monster itu tak mengejar lagi.
Sesampainya di luar gua, para murid baru itu langsung menyusul di belakang. Tak terkecuali Arthur. Ia tiba-tiba memberiku sebuah anak panah bermata kan emas.
"Apa ini?" tanyaku padanya.
"Itu anak panah yang bisa menembus apa saja. Aku yakin kau hebat. Kumohon cobalah meruntuhkan gua itu." jawab Arthur.
"A.. Apa aku bisa." ucapku khawatir.
"Aku percaya padamu."
"Baiklah."
Aku yang tak tau cara kerja anak panah itu mencoba memikirkan taktik yang bisa kugunakan. Para monster yang berada dalam gua mulai berdatangan dan berusaha keluar dari tempat itu.
Terlintas dipikiranku dengan cepat cara meruntuhkan tempat itu. Yaitu mengarahkan anak panah ke langit dan anak panah akan turun secara vertikal dan mengenai atap-atap gua.
Seketika dinding-dinding gua ikut ambles dan mulai meratakan monster-monster itu. Semua orang tersenyum melihatku begitu juga Sarah dan Arthur.
~TAMAT~