Hari ini sekitar pukul 16.30 hujan turun dengan lebatnya. Butiran air-air itu membasahi bumi membawah rahmat bagi alam dalam bentuk kehidupan. Suara guntur menggelegar dilangit abu Purba lingga memberi tanda pada semesta bahwa ialah penguasa jagat raya. Sedang itu dirumah ku, di dalam bangunan kayu dengan ukuran 5x7, terdengar suara ibu yang tak kalah menggelegar seakan ingin menyaingi guntur diluar.
" Bagaimana bisa kamu pulang kerja tapi tak membawah uang sepeserpun?? Kau tau Broto, uang sekolah Lira untuk semester ini belum dibayar, ditambah Mina yang sebentar lagi masuk SMA. Kita butuh uang Broto"
Ayah yang bersandar pada dinding rumah hanya mendengarkan omelan ibu tanpa berniat membalasnya.
" Kenapa tidak menjawab,,,?? Kamu capeh ? Aku lebih capeh Broto, menggosok baju dari satu rumah ke ruma lain. Sekali gosok bisa sampe satu lemari, belum lagi duit yang didapatkan cuman 20.000. Untung-untung kalo lansung dibayar, ada juga yang harus ditagih terlebih dahulu. Bukan hanya itu, aku juga harus mengurus pekerjaan rumah lainnya,,aishhh,,,Bagaimana kalau kita tukar posisi saja,,aku yang jadi tulang punggung dan kamu yang mengurus rumah???"
Kali ini ibu berdiri dihadapan ayah, tangannya berkacak pinggang dengan tatapan membunuh seakan ingin menerkam siapapun yang berada didepannya.
" Tidak bisa seperti itu Dina, bagaimana bisa kamu jadi tulang punggung sementara kamu sudah jadi tulang rusuk ku???
Ayah menjawab masih dengan kekehan, tak lupa menyeruput kopi hangat yang masih setia dalam genggaman tangan kokohnya.
" Tak bisakah kau serius sedikit saja Broto? Atau kamu mau batu ulek ini mendarat dikepala mu??"
Ayah hanya tersenyum kembali pada mode diamnya.
" pokoknya pulang kerja besok kamu harus bawah uang. Kamu janji Broto??"
" Puji Tuhan, kalo ada rezekinya"
Aku merasa kasihan dengan ayah, bagaimana tidak ia selalu di omeli ibu jika tidak membawah uang sepulang kerja. Apalagi dimasa pandemi ini sangat susah mencari penumpang bagi supir angkot.
" saya tidak meminta uang banyak Broto, bisa beli beras saja sudah cukup"
Kali ini suara ibu turun seoktaf, amaranya sudah agak redah. Ayah hanya menjawab ibu dengan sebuah senyuman kecil. Setelahnya mereka berbaikan kembali seperti tidak ada masalah sebelumnya.
Aku ikut tersenyum, bahagia rasanya melihat akur kembali. Dalam relung hati yang paling dalam aku memimpikan menjadi istri yang pekerja keras seperti ibu tanpa harus suka mengomel dan memiliki suami selembut ayah. Tetapi aku sadar, takdir tak merestui anganku.
---------------
Besoknya aku mengikuti ayah narik angkot. Seperti biasa senyum ceriah ayah dipagi hari menyapah siapapun yang berpapasan dengannya. Uhhh,,sungguh muliah ayahku.
" terminal Purbalingga "
Seorang kakek memasuki angkot dan disambut dengan senyuman hangat ayahku.
" iya pak, naik"
Setelah menunggu hampir 15 menitan jumlah penumpang bertambah menjadi 6 orang. ayah bergegas menjalankan angkotnya menuju terminal purbalingga.
" berapa biayanya nak"
Kakek itu bertanya pada ayah. Tangannya sibuk menghitung jumlah koin yang ia genggam. Beberapa kali ia memeriksa kantongnya, memastikan koin-koinnya sudah diambil semua atau belum.
" tidak usah pak,,untuk bapak gratis"
Ayah masih dengan senyum hangatnya menolak uang kakek tadi. Ayah tahu kakek itu tidak mempunyai uang.
Aku sedikit kesal dengan ayah, bagaimana tidak?? Jika terus-terusan menjadi orang baik bagaimana dengan nasib ayah sendiri. Kasian ayah kalau diomeli ibu lagi hari ini. Tapi sepertinya ayah tidak terlalu memikirkannya. Bahkan wajahnya berubah dan terlihat setingkat lebih bahagia daripada tadi. Hmm,,,sebahagia itu menolong orang.
Rupanya hari ini jumlah penumpang ayah lumayan banyak, aku bersyukur untuk itu. Ku tatapi ayah yang setia memegang kemudi, keringat bercucuran di pelipis yang sebentar lagi keriput itu. Meski begituh rasa lelah tidak mengurangi keramahannya.
Hari ini cuacanya cerah, tidak seperti kemarin. Ini mengingatkanku pada panorama dunia yang tak selalu permanen. Air mata tidak selamanya bergelinang dimatamu, begitu juga tawa tak selalu menghiasi wajahmu. Boleh saja hari ini kamu merasah duniamu adalah yang paling tidak beruntung tetapi keesokannya kamu mensyukuri untuk apa yang telah kau lalui. Seberat apapun Beban yang ada dipundakmu, suatu saat akan terasa ringan, entah karena ada pundak lain yang membantu menopangnya atau juga karena Pundakmu sendiri yang semakin kebal dengan jenis beban apapun.Yah, begitulah hidup. Ada banyak gelombang dan likuan yang mendewasakan.
Aku tersadar dari lamunan singkatku dan kembali menatap hamparan pemandangan diluar sana. Gunung yang tinggi menjulang, langit yang tak pernah lepas dari rasa kagumku pada keindahan, sungguh luar biasa ciptaan Tuhan.
------------------------
Kemarin aku mengikuti ayah narik, dan kini aku ingin mengikuti wanita yang kusapa ibu itu. Dia berjalan beberapa meter didepanku. Hari ini kami hendak ke pasar loak dekat desa untuk membeli beberapa kebutuhan rumah. Kami berjalan dalam diam menikmati suasana desa di pagi hari. Burung-burung berterbangan melewati sawah petani yang sebentar lagi siap dipanen. Aroma kopi yang berasal dari kedai disamping jalan menyeruak menggoda lidah. Aku memperhatikan ibu sekilas, ekspresinya datar dan tatapannya senduh jauh kedepan. Entah apa yang berada dalam pikirannya, yang pasti dia sedang tidak baik-baik saja. Meskipun ia adalah wanita yang suka mengomel tetapi dia adalah orang paling peduli yang pernah kukenal. Dia menyayangi ayahku dan aku tahu itu.Cara setiap orang mengungkapkan sayang berbeda-beda, tidak harus dengan kata-kata manis. Aliran sungai yang membelah hamparan sawah nan luas membawahku pada kenangan masa kecil. Sungai yang berkelok riah disana menjadi saksi indahnya masa kecilku. Dulu aku bersama dengan teman ku Meri dan Denis sering menghabiskan waktu sore hari bersama di sungai ini. Sekedar untuk memancing ikan atau mencari batu-batuan yang berwarna - warni. Pernah sekali aku berantem dengan Meri hanya karena dia mengambil batu yang seharusnya milikku. Setelahnya Denis datang untuk meleraih tetapi belum sempat melakukan apapun kakinya malah digigit kepiting sungai. Aku dan Meri bukannya membantu tetapi malah tertawa dan setelahnya berbaikan kembali. Aku tersenyum kecil mengingat masa kecilku yang sangat bahagia. Tiba-tiba aku jadi terkenang Denis dan Meri. Apa kabar mereka, apakah mereka baik-baik saja?? hmm intinya tidak seburuk nasibku tentunya.
--------------------------------
Jam sudah menunjukan pukul 18.00 WIB. Ibu bersama dengan dua adikku lagi asyik-asyiknya membuat kue di dapur. Dua Minggu lagi natal telah tiba. Suasana desa yang biasanya biasa-biasa saja akan berubah dalam beberapa hari ke depan. Aroma kue kering serta berbagai makanan Natal memenuhi Desa Kecilku. Rumah-rumah sudah dihiasi dengan lampu dan kandang natal. Senandung Gloria In excelsis Deo menggemah menambah haru suasana natal. Anak-anak masih sibuk dengan petasan dan kembang api. Tak luput juga dengan kaum bapak-bapak yang masih setia dengan kopi sorehnya sambil bengcengkerama dengan tetangga sekitar. Suasana natal yang mengaharukan. Aku berdiri dipojokan kamar meneteskan air mata sedikit demi sedikit. Aku menangisi nasibku sendiri. Malam itu pukul 19.00 WIB aku meninggalkan rumah orang tua ku, menuju rumahku sendiri. Berlama-lama disana hanya akan membuatku menangis lagi. Aku tidak mau bersedih untuk nasib na'as yang menimpah diriku. Bukannya aku tidak bahagia melihat mereka bahagia. Aku bahagia, sangat malah.
--------------
Aku terbangun dari tidur lelapku. Tampaknya hari ini suasana tempat kediamanku tidak seperti biasanya. Aroma melatih dan kamboja menyeruak begitu saja. Sepertinya hari ini akan kedatangan banyak tamu. Lilin-lilin menyala indah dibeberapa rumah disampingku. Aku mendelik ke arah nenek yang rumahnya berada di sampingku mengisyaratkan pertanyaan.
" kita akan kedatanga banyak tamu, keluarga kamu juga akan datang sebentar lagi.Biasalah mendekati Natal"
Nenek yang berada disamping ku menjelaskan. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Di tempat kediamanku ini orang-orangnya cukup banyak hanya saja sebagian besar berusia sekitar 60 tahunan keatas. Jarang sekali ada anak-anak, dan ini membuatku kesepian.
Aku tertegun sebentar melihat siapa yang mengunjungiku. Disana berdiri seorang lelaki berusia 40 tahunan dan disampingnya seorang perempuan beserta dua orang remaja putri. Mereka adalah keluarga ku. Ibu menyalahkan lilin yang ia bawah sementara ayah menyiram bunga dan air mawar pada rumahku. Aroma khas yang disukai semua penduduk ditempatku.
Aku melihat mereka satu persatu, wajah senduh yang tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ibu sudah terisak-isak dibahu ayah, sedang itu ayah memeluknya memberikan penguatan. Aku tahu mereka merindukanku sama seperti aku merindukan mereka.
" ohh,, Mira anakku yang malang"
Ibu terisak sambil merabah pusara didepannya. Akupun ikut terisak tak kuat menahan semuanya.
" ibu ada kabar bahagia nak,, Mina lolos di sekolah Negeri yang terkenal itu,,,seluruh biayanya ditanggung negara,,, sedangkan Lira ia dapat peringkat satu dikelasnya.
Kamu harus bangga sama adik-adik mu ndo"
Aku tersenyum bahagia mendengar perkataan ibu, adik-adikku yang cerdas semoga selalu bisa membahagia kan orang tua.
" Seandainya yang ditabrak mobil 5 tahun lalu itu ibu bukan kamu,,pasti sekarang kamu sudah menjadi gadis yang ayu,,,,"
Aku hanya tersenyum dengan mendengar penuturan ibu,,bagaimanapun aku senang aku yang tertabrak bukan ibu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup kedua adikku tanpa ibu dan bagaimana nasib ayah tanpa omelannya.
" sudahlah,,,setiap orang punya nasibnya masing-masing. Semuanya sudah ditentukan yang diatas"
Ayah menenangkan ibu yang tengah menangis.
" kita sekeluarga berdoa semoga Mira beristirahat dalam damai "
Setelahnya mereka pergi dan aku kembali kesepian. Setidaknya aku bahagia, karena sekarang aku bisa beristirahat tanpa memikirkan kedua orang tua ku bertengkar karena uang sekolah anak-anaknya belum lunas.