Anif adalah anak kecil yang cerdas dan tekun menuntut ilmu, anif hannyalah cucu dari kakek tua miskin ahli ibadah Jabar namanya, yang di kenal oleh masyarakat sebagai seorang yang dermawan. Tidak tanggung-tanggung walau dia dalam kekurangan, namun saat sedang di hadapannya ada seorang yang lebih kurang darinya dia pasti akan langsung menolongnya tanpa berpikir panjang.
Dikala itu ada seorang pengemis muda yang singgah di depan rumah mereka, keluarlah anif bertepatan dengan datangnya pengemis itu.
“Kaka mengapa kamu singgah di tangga rumah ku ini!” Tanya anif kepada pemuda itu.
“Maafkan saya dik, saya lelah setelah meminta-minta.” Jawab si pengemis muda ini, terlihat jelas wajahnya yang sedang lelah.
“kakak lihat saja rumah ku ini yang sudah sangat tua tetapi masih berdiri kuat, tetapi mengapa Kaka yang masih muda yang tidak sekuat seperti rumah ku ini, apakah Kaka malas untuk berusaha.”
Merasa tersinggung si pengemis pergi tanpa kata-kata meninggalkan anif. Saat itu juga sang kakek yang baru pulang bertanya kepada cucunya.
“Siapakah tadi itu!” tanya sang kekek.
Anif menceritakan kejadian yang telah terjadi. Sang kakek tersenyum mengetahui sikap dari cucunya itu.
“Anif kakek ingin memberikan mu satu tugas!”
“Tugas, apa itu kek!”
“carilah satu keindahan syurga di dalam dunia ini. Apa kamu sanggup!”
“syurga itu bukannya hanya ketika kita meninggal kek barulah kita bisa jumpai.”
“Memang benar anif, tetapi kakek ingin kamu mencarinya di dunia ini.”
Setelah menerima perintah sang kakek, anif sesegera mungkin mencari dimana letak syurga itu, dia mencari dimana-mana. Tetapi hanya luasnya lautan yang ada di pantai yang dia pikirkan bentuk syurga itu.
“Sangat indah, apa mungkin ini yang dikatakan oleh kakek yah!”
Lalu anif pulang bertemu kepada sang kakek, “kakek lautan terlihat indah, maka lautan termasuk syurga di dalam dunia ini.” Ucapnya dengan harapan jawaban itu benar.
Sang kakek membenarkan jawabannya, namun bagi sang kakek walau benar jawabannya belumlah tepat. Dia pergi lagi mencari keberadaan syurga yang di maksudkan sang kakek, dia terus mencari.
Dan sekali lagi menemukan syurga yang berbentuk Alam yang indah yang berada di sekelilingnya, Dan dia kembali pulang. Tetapi sang kakek belum lagi puas akan jawaban anif.
Anif menyerah dengan tugas yang sang kakek berikan, namun sang kakek tidak ingin anif berhenti sebelum dia mendapatkan seperti apa syurga yang kakek inginkan.
“kakek ingin kamu mencari lagi. Kakek yakin kamu pasti akan mendapatkannya.”
Anif terlihat putus harapan, dia terlihat sudah tak bersemangat, “apa sih syurga yang di maksudkan kakek! Dari tadi aku tidak melihatnya.”
Sesaat itu anif melihat pengemis muda itu lagi di seberang jalan sedang meminta-minta, kondisinya terlihat mengasihankan. Lantas anif hendak menghampirinya, namun ketika anif mendekat pengemis itu malu kepadanya memalingkan wajahnya.
“Kaka, belum makan yah!” tanya anif.
“kamu kok bisa disini!” tanya kembali si pengemis.
“Iya kak, saya di beri tugas oleh kakek saya untuk mencari syurga.”
“...?”
Saat dia melihat ternyata anif sudah pergi. Tak beberapa lama anif kembali membawa makanan dan minuman, Sipengemis menyembunyikan wajahnya.
“Kaka ini aku bawakan makanan dan minuman. Lihat sini dong kak.”
“Bagaimana bisa aku melihatnya, aku malu dengan ucapan mu dik.”
“Kaka maafkanlah aku yang keterlaluan mengatakan itu kepadamu, maukah kakak memaafkan aku!”
Sang pengemis memaafkan serta menerima pemberian dari anif. Anif pulang dengan perasaan senang serta tenang.
Sesampai di rumah, sang kakek bertanya, “dimana syurga itu! Apa kamu sudah menemukannya.”
“anif bingung ingin menjawab apa, namun anif menceritakan saat dia jumpa kembali kepada si pengemis itu.”
Lagi-lagi sang kakek tersenyum membuat anif merasa bingung.
“anif ketahuilah cucuku, itulah yang kakek maksudkan, membuat orang lain merasa bahagia hingga mereka tersenyum. Itulah bentuk suasana syurga di dalam hatimu dan perasaan terasa tenteram, senang, dan damai. Maka janganlah sesekali kamu membuat orang lain merasa sedih apa lagi tersakiti karna lisan maupun perbuatan mu, biarkanlah urusannya bersama Tuhan saja, karna kita sebagai seorang hamba hanya harus berbuat baik dan menasihati dengan yang baik-baik pula tanpa kekerasan sama sekali.”
“Baik kakek, ternyata anif tidak tahu soal ini.”
“karna kamu masih kecil, harus banyak belajar lagi.”