Gelap.
Sinar oranye dari satu-satunya api yang berkobar di atas obor menjadi bukti bahwa matanya masih berfungsi.
Dingin.
Selembar selimut tipis menutupi tubuhnya yang terbaring lemah. Rambut hitam panjang yang dulu berkilauan kini dibiarkan tergerai, tak terurus selama beberapa tahun.
Sunyi.
Suara tetesan air yang turun dari celah-celah atap bergema di penjuru ruangan. Sesekali terdengar gemerincing suara rantai dan borgol. Seolah mengingatkan dirinya, bahwa ia masih bisa bergerak.
Gadis itu adalah Viona Liez. Anak tidak sah keluarga Liez yang terkurung di ruang bawah tanah sejak kakek yang sangat menyayanginya meninggal dunia.
Entah sudah berapa tahun ia tinggal di tempat pengap, gelap, dan sempit ini. Viona bahkan tidak tahu apakah hari sudah malam ataupun siang. Bisa mendengar suara hujan dan petir saja ia sangat bersyukur.
Setiap hari, Viona hanya bisa terbaring dan mengalirkan energi sihir di tubuhnya. Ataupun mengubah karbon dioksida menjadi bola energi, lalu memakannya.
Jelas, siapa yang mau mengantar makanan ke tempat ini setiap hari?
Apabila energi sihirnya menipis, Viona akan kehilangan kesadaran. Butuh beberapa jam untuk pulih karena tubuhnya sangat lambat dalam menyerap energi sihir.
Namun hari ini, Viona merasa lebih sehat. Ia bisa menggerakkan tangannya dengan leluasa dan membuka mata lebih lama dari biasanya.
Gadis itu merasa senang sekaligus khawatir. Jika tubuhnya pulih dengan sempurna, orang itu pasti akan datang untuk membawanya pergi membuka kunci ruang harta.
Di tengah lamunannya, hembusan angin tiba-tiba muncul membuat kobaran api menjadi kepulan asap.
Gelap.
Kegelapan ini sangat pekat.
Gadis itu lupa untuk terkejut karena bernapas pun menyakitkan. Selimut tipis yang menyelimutinya tidak lagi berguna. Tubuhnya bergetar hebat karena hembusan angin yang terasa dingin.
Seketika, angin itu menghilang dan digantikan oleh kehadiran seorang pria dengan sayap hitam di punggungnya. Jas laboratorium putih bersih yang tersampir di bahunya sangat mencolok di antara kegelapan yang menyelimuti ruangan ini.
Viona, gadis yang masih berbaring di atas kasur itu menghela napas dengan lega. Ia sudah bisa bernapas dengan baik walau sesekali suara batuk masih terdengar.
"Apa... kabar, Azve?" suara Viona terdengar serak, tetapi ia memaksakan diri tuk berbicara.
Sudah lama sejak terakhir kali pria itu datang, sia-sia rasanya jika ia tidak berbicara dengannya.
Namun seperti biasa, Azve hanya diam tak menanggapi.
Viona mengerti, tentu saja. Untuk apa berbicara dengan penyihir rendahan seperti dirinya? Sebagai asisten laboratorium keluarga Liez, Azve hanya perlu menjalankan tugasnya.
Seperti yang seharusnya.
Namun, Viona ingin sekali mendengar suara orang lain. Apalagi suara baritone milik Azve yang dapat menggetarkan hati.
Azve melangkah mendekati Viona. Menutupi tubuh gadis itu dengan jas lab miliknya, lalu dengan kedua lengan khas prajurit, Azve dengan mudah mengangkat tubuh Viona ke pelukannya.
Viona mengalungkan kedua tangan yang terborgol itu ke leher Azve supaya dirinya tidak jatuh, walau hal itu tidak mungkin terjadi.
"Bisakah kita berjalan saja? Aku bisa muntah jika harus teleportasi," bisik Viona pelan saat perutnya mulai bergejolak karena pergerakan yg tiba-tiba.
Seperti biasa, Azve tidak menanggapi. Dia bahkan hanya melirik Viona singkat dan tidak memberikan ekspresi apapun.
Gadis itu tersenyum tipis. Ia menutup mata sambil bersandar pada dada bidang pria itu, menikmati langkah demi langkah perjalanan menuju laboratorium yang berjarak ratusan meter jauhnya.
Perjalanan mereka diisi dengan kata-kata yang dilontarkan Viona. Azve hanya diam dan terus menggendong gadis di pelukannya sambil berjalan melewati hutan.
"Azve, maukah kamu membantuku kabur?"
"..."
"Setelah kupikirkan, aku tidak masalah seumur hidup di borgol oleh alat sihir ini, sungguh. Aku hanya perlu terus mengalirkan energi di tubuhku, kan?"
"..."
"Kalau Azve mau, aku bisa menghancurkan brankas itu sekaligus. Jadi mereka tidak akan membutuhkanku lagi."
"..."
"Jika aku berhasil, mungkin aku akan lumpuh selamanya." Viona terkekeh pelan, "apa bedanya dengan keadaanku sekarang, kan?"
"..." Azve tiba-tiba berhenti melangkah membuat Viona mengangkat kepalanya.
"Kenapa?" tanya Viona bingung, tidak biasanya pria itu berhenti di tengah jalan. Gadis itu menatap Azve penuh harap, mengira bahwa akhirnya pria itu mau menerima ajakannya.
Azve menunduk menatap mata gadis itu, mata yang dalam dan sebiru lautan.
Tatapan Azve berubah tajam, "Keluar dari sana, penguntit!"
Sihir angin miliknya keluar begitu saja. Membuat beberapa pohon disekitar hampir tercabut dari tanah.
Untungnya atau sayangnya, Azve memasang sihir pelindung. Sehingga Viona yang berada di pelukannya tidak terluka sedikitpun. Tapi tetap saja, ia kesulitan bernapas karena sangat dekat dengan sumber angin itu sendiri.
Tangannya meremas bahu Azve, "A-zve... berhenti-ugh!"
"Betul apa kata Viona, Azve. Hentikan sihirmu atau gadismu akan mati kehabisan napas."
Suara familiar terdengar di tengah kencangnya hembusan angin. Seorang pria dengan tubuh ramping berjalan dengan santai mendekati Viona dan Azve. Seolah sihir angin milik Azve hanya udara tenang yang tidak akan mempengaruhinya.
Azve memberikan lapisan perlindungan ganda pada Viona. Gadis itu pun perlahan mengatur napasnya hingga normal.
Azve kemudian mengalihkan pandangannya, mata kedua pria itu saling bertemu. Saling melempar kebencian yang telah dipendam selama bertahun-tahun.
Pria misterius itu berdiri menatap Viona dan Azve, "Bagus, Azve. Kamu akhirnya menghianati keluarga Liez demi gadis itu. Bagus sekali," ia bertepuk tangan singkat, mengapresiasi tindakan berani Azve terhadapnya.
Senyuman miring tercetak di wajahnya, "aku bisa dengan mudah menemukan jalur pelarian kalian. Harusnya kamu melepaskan alat sihir itu dulu supaya tidak terlacak olehku, Azve. Sikap ceroboh tidak pernah lepas darimu, ya?"
Azve hanya diam dan terus menerus menghalau pria itu dengan sihirnya. Sedangkan Viona, gadis itu menatap wajah serius Azve dengan lekat.
"Azve, menghianati keluarga Liez demi aku?" pikir Viona sambil menatap Azve yang masih fokus pada pria itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya gadis itu di dalam hati. Perasaan Viona tidak menentu. Ia merasa senang karena Azve diam-diam membantunya, merasa sedih melihat pria misterius itu hadir kembali di hidupnya, dan merasa bingung akan situasi yang terjadi saat ini.
"Dengar, aku tidak akan melaporkan ini kepada kepala keluarga jika kalian mau melakukan kesepakatan denganku."
Sebelum Azve mengatakan apapun, pria itu kembali berbicara. "Berikan inti sihir Viona kepadaku, maka aku akan melepaskan kalian."
Viona terkejut mendengar ucapan kakak tirinya, Victor Liez.
Bagaimana tidak? Jika Viona memberikan inti sihirnya maka ia tidak akan bisa menggunakan sihir selamanya. Dan apabila hal itu terjadi, cepat atau lambat borgol dan rantai sihir yang mengikat tangannya akan menelan seluruh sihir di tubuh Viona. Dalam arti lain, Viona akan mati.
Sihir angin Azve semakin tajam, ia mencoba mengoyak tubuh Victor tanpa rasa ampun. Namun, pria itu dengan mudah menangkis angin berbentuk jarum yang menghujaninya menggunakan sihir api.
"Ayolah~ aku tidak ingin bertengkar dengan kalian," tatapan Victor beralih ke Viona. Ia melirik lengan Azve yang setia memeluk tubuh adiknya.
"Bagaimana, adikku? Kamu mau kan memberi kenang-kenangan untuk kakakmu ini?"
Viona tertegun menatap mata biru Victor, mata yang lembut dan penuh perhatian, mata yang pernah menatap Viona dengan penuh kasih sayang. Namun, semua itu berubah setelah kakek meninggalkan warisan yang hanya bisa dibuka oleh sihir Viona.
Sayangnya atau untungnya, sihir Viona sangat sedikit. Gadis itu pun harus mengalami lumpuh di seluruh tubuhnya jika harus menggunakan seluruh energi sihirnya.
Saat itu, Victor masih menjaganya. Bahkan pria itu menentang ayahnya sendiri supaya tidak memaksa Viona untuk mengeluarkan seluruh energi sihirnya.
Tapi suatu hari, Victor meninggalkannya di ruang bawah tanah itu. Dan tidak pernah menemuinya lagi, hingga saat ini.
Namun, Victor tetaplah kakaknya. Ada darah yang sama mengalir di nadi mereka. Salah satu sudut hatinya menginginkan supaya pria itu kembali seperti dulu lagi. Walaupun Viona tahu, hal yang pergi tidak akan pernah kembali.
"Kamu tidak butuh sihir itu, Viona. Kamu selalu bilang padaku, kamu benci sihir itu. Sihir itu membuat kamu tidak punya teman. Sihir itu juga membuat ayah tidak mengakuimu. Kamu ingin membuang sihir itu, kan? Karena itu, berikan inti sihirmu padaku."
Tangan Victor terulur ke arah Viona. Mata gadis itu menatap telapak tangan penuh luka sayatan dimana-mana. Itu sangat berbeda dengan tangan yang sering memegang tangannya, tangan hangat yang selalu menjaganya.
Viona berpikir, "Benar, dia bukan lagi kakakku sejak pria itu meninggalkanku ke ruang bawah tanah."
Dengan penuh tekad, Viona menatap langsung mata Victor. "Aku memang membenci sihir ini," ucapan Viona membuat senyuman tipis terbentuk di bibir Victor. Namun kemudian Viona melanjutkan, "tapi sekarang, sihir itu bagian dari hidupku. Aku tidak akan semudah itu memberikannya pada orang lain."
Senyum Victor pun luntur. Ia tertawa terbahak-bahak seraya menyisir rambutnya dengan jari-jari dari depan ke belakang.
"Lucu sekali, adikku." Padangan Victor menjadi tajam, "kalau begitu, jangan salahkan aku karena menggunakan kekerasan."
Dalam sekejap, Victor menghilangkan sihir angin Azve yang membatasi ruang geraknya. Menembakkan beberapa panah api untuk memecah sihir perlindungan Azve, Victor melesat mendekati Viona. Tangannya terulur meraih puncak kepala Viona untuk menarik inti sihir, namun Azve bergerak menghindar lebih cepat.
Victor menembakkan panah api ke arah mereka berdua. Sayangnya Azve bisa menghindari serangan Victor.
Viona mengeratkan pegangan pada leher Azve, matanya menutup tidak ingin melihat perubahan lingkungan yang begitu cepat karena pergerakan Azve yang melesat seperti angin.
Perkelahian mereka menyebabkan hutan terbakar dan dengan cepat menyebar karena perpaduan sihir api dan angin.
Asap mulai membumbung tinggi, membuat siapapun yang melihatnya akan penasaran sumber dari asap hitam di udara.
Victor berdecak kesal. Mau tidak mau, pria itu mengarahkan sihirnya pada kaki Viona.
"Akh!" teriakan Viona membuat konsentrasi Azve terganggu. Pria itu menatap kaki Viona yang mulai terbakar, fokusnya beralih untuk mengurung api dengan sihir pelindungnya kemudian melemparkan api itu jauh-jauh.
Hal itu tidak diabaikan begitu saja oleh Victor. Ia menembakkan panah api dan membuat Azve menghindar dengan tergesa-gesa sehingga beberapa panah tertancap di punggung dan kakinya. Ia pun tidak menyadari pohon besar yang penuh dengan panah api telah di depan mata.
Berada di antara panah api yang melesat dan batang pohon penuh dengan panah api, Azve menggunakan sisa energi sihirnya untuk membuat sihir pelindung yang menghalau panah api di udara. Mengorbankan punggungnya tertancap panah api.
"Ugh!" Punggungnya terbakar, tubuhnya terasa terkoyak membuat darah keluar dari mulutnya.
Viona merasakan cairan menetes di wajahnya sehingga ia membuka mata. Matanya membulat melihat keadaan Azve yang memprihatinkan. "Tidak...Azve..."
Darah merembes keluar dari tubuhnya, pakaiannya sobek dan terdapat bekas terbakar. Namun pria itu masih berusaha memeluknya dan tidak ingin melepaskannya.
Air mata jatuh di pipi Viona, "Tidak... ini salahku... Azve... maaf."
Azve menatap Viona yang berlinang air mata, kali ini wajah tanpa ekspresi pria itu berubah lembut. Ia bahkan tersenyum tipis mencoba menenangkan gadis itu, "Jangan menangis Viona, ini bukan salahmu... aku baik-baik saja."
"Ayolah... jangan lupakan aku," Victor terbang mendekati keduanya dengan ekspresi cemberut, "kalian tidak kasihan padaku yang masih melajang di umur 30 tahun, huh? Pamer kemesraan di depanku membuat hatiku sakit!"
Azve mencoba menghalau Victor supaya tidak mendekat lebih jauh, tapi sihirnya melemah. Dengan mudah Victor menepis sihir angin Azve lalu mendekat tuk mencekik leher pria itu.
"Tidak... hentikan... Kak Victor lepaskan Azve!!" Viona berteriak, ia tidak bisa bergerak karena kedua tangannya masih memeluk leher Azve dan sihirnya mulai kacau. Pandangannya kabur karena air mata dan aliran energi di tubuhnya tidak normal.
Victor tersenyum miring, "Jika saja kamu mau bekerja sama sejak awal, Azve tidak akan terluka."
Tangan kiri Victor yang bebas menyentuh puncak kepala Viona dengan lembut, "Anggap saja inti sihirmu adalah bayaran untuk perhatianku selama ini, adikku."
Pandangan Viona semakin gelap ketika inti sihirnya mulai di tarik oleh Victor dari puncak kepalanya, tapi ia tetap berusaha untuk sadar dan menarik kembali inti sihirnya.
"Le-paskan tanganmu da-ri Viona!" ujar Azve dengan suara tercekat. Ia berusaha menggerakkan kakinya yang mati rasa untuk menendang Victor tuk menjauh, tapi itu tidak berhasil.
"Selamat tinggal adikku," suara lembut Victor terdengar jelas di tengahnya kegelapan yang menyelimuti Viona, "dan Azve... terimakasih telah menjaga Viona selama ini."
"Tidak! Viona!"
Setelah itu, Viona tidak mampu lagi mempertahankan kesadarannya.
- Tamat -
POV Azve yes/no?