Cukup gunakan satu peluru,dan tembak dirimu sendiri. Hanya orang mati yang tidak akan di benci lagi. Jika kau masih hidup, jangan pernah khawatir akan setiap orang yang membencimu.
Eouny Jeje
***
Seorang pria tampak berdiri mengangkat pistolnya dan mengarahkan moncong itu beredar acak pada setiap kepala yang bersandar di dinding. Dia memandang setiap orang bergantian, dan merasa konyol akan dirinya sendiri. Dia telah menawan teman baiknya sendiri, dan juga beberapa orang asing yang baru saja dia kenal. Dia menawan setiap orang dengan acak. Karena, kesabarannya telah mencapai pada titik batasnya.
"Laki-laki yang tidak merasa takut adalah laki-laki yang tidak peduli dengan cinta."
Pria itu mengangkat salah satu alisnya, "Aku adalah Joker. Tidak pernah jatuh cinta. Tidak memerlukan cinta pula. Jantungku hanya untuk berdetak mendorong napas keluar dari hidung. Namun, jantung itu tidak akan pernah tersentuh pada setiap kebaikan orang. Karena, aku dengan mudah mengetahui setiap orang yang berkedok!"
'Dorr!'
Satu peluru tertembak ke langit-langit, membuat setiap mata bergindik ketakutan. Ada dua kubu yang saling berhadapan, dan terlihat saling mengukir amarah. Namun, tidak berani menatap kepada Joker, sang empunya pistol.
"Kamu tidak bisa menjual mimpi kepada seseorang yang telah melewati mimpi buruk."
Joker berjalan berputar dengan kaki pincang yang bergerak keliling memeriksa setiap teman yang baik padanya.
Setiap kaki tangan tawanan itu di belenggu oleh rantai yang kokoh. Setiap mulut tawanan itu di bekap dengan plester ketat yang mengunci setiap gerakan bibir mereka. Hanya, setiap mata milik mereka yang merekam setiap gerakan sosok pria yang berdiri dengan tatapan ingin membunuh.
"Tutup mata kalian!"
Setiap mata bergerak enggan menutup matanya.
"Yang tidak menutup matanya. Maka, dia akan lebih dulu mati!"
Setiap orang yang tertawan segera menutup matanya. Raga setiap orang terlihat bergetar takut, dan tidak satupun berani membuka matanya.
"Akhirnya kalian menutup mata karena takut akan kematian."
Joker tersenyum miris. Tatapannya sangat ironi, dan dia bertanya pada setiap tawanannya, "Apa kalian mengenal diriku?"
Hening. Tidak ada satu jawaban. Hanya raga gemetar, dan kepala yang tertunduk.
Joker mengetuk tongkatnya ke lantai, dan berkata dengan suara rendahnya, "Perkenalkan sedikit anarki. Mengacaukan ketertiban yang ada, dan semuanya menjadi kacau. Aku seorang agen kekacauan."
Lalu, tangan kanan Joker mengangkat tongkat miliknya teracung ke udara, dia mengedarkan setiap tongkat ke setiap tawanan yang terjebak di dinding kiri, "Aku adalah orang yang memegang kata-katanya. Namun, kalian tidak pernah mempercayainya."
Tangan kanan Joker berputar dan mengarah acak pada setiap tawanannya yang terjebak pada dinding kanan, dan dia berkata, "Aku adalah orang yang jujur. Takut untuk berbohong. Namun, kalian menuduhku pembohong."
'Pletak!'
Joker menjatuhkan tongkatnya, dan mengambil pena dari saku kemejanya, dan 'Tik' dia menekan tombol pena dan mendengus kemudian, "Namun, kala penaku berbicara. Kalian satu demi satu berkata jika aku adalah sang peyindir."
'Tik!'
Joker kembali menekan tombol pena. Menarik mundur ujung tombol pena dan menjatuhkannya ke lantai.
"Pena itu, benar-benar lebih kuat daripada pedang! Oleh itu, aku membuangnya."
Joker tersenyum aneh. Dia mengangkat moncong pistolnya ke arah lubang langit yang sama, dan berkata pada dirinya sendiri, "Aku hanya tertawa di luar. Senyumku hanya sedalam kulit. Jika kamu bisa melihat ke dalam, aku benar-benar menangis. Kamu mungkin bergabung denganku selama satu minggu."
Joker terbahak selanjutnya. Lalu, duduk berjongkok dan menulis di tanah dengan moncong pistol.
'Dead' tulis Joker.
Usai menulis, dia terbahak kembali, hampir mengeluarkan air mata pada setiap sudut matanya yang menyipit, menahan mendungnya hujan.
Merasa bulir air mata itu akan turun. Joker segera menyeka setiap sudut matanya, dan berkata kembali ,"Kalian menertawakanku karena aku berbeda. Aku menertawakan kalian karena kalian semua sama. Tidak berani menjadi diri sendiri!Bergerak karena di pengaruhi orang lain. Pada dasarnya kalian baik hanya untuk diri sendiri. Karena, kalian mendapatkan keuntungan."
Joker kembali berdiri, dan berkata, "Tersenyumlah, karena membingungkan orang. Tersenyumlah, karena lebih mudah daripada menjelaskan apa yang membunuhmu di dalam."
Joker berjalan dengan kaki terpincang-pincangnya dan dia berdiri di posisi menengahi dua kubu tersebut, "Hanya ada lima peluru tersisa. Namun, kalian begitu banyak."
Joker mengangkat satu alis, "Aku akan menyingkirkan orang-orang yang terbaik dulu. Sisanya. Terkadang aku malas menjadi hakim untuk orang yang tersisa. Karena di tegurpun, tidak akan memiliki otak untuk mengerti. Mereka hanya tau amarah, tanpa mengerti segala sesuatu di balik rencana seseorang yang bekerja menuduh hanya untuk melindungi dirinya sendiri."
"Karena setiap orang pandai membela dirinya sendiri. Namun, jika kau ingin menuduh orang lain. Kau harus memiliki bukti. Bukan sekedar perasaan."
Joker menahan napasnya sejenak, menenggelamkan isak miliknya,tersenyum ironis, "Sekarang aku melihat sisi lucunya. Sekarang aku selalu tersenyum!"
"Terkadang kamu harus memainkan peran sebagai orang bodoh untuk membodohi orang bodoh yang berpikir mereka membodohimu. Tetapi, yang terjadi adalah tragedi. Aku belum mencuri. Namun, di tuduh mencuri. Aku belum membunuh. Namun, aku telah memegang pisau berdarah."
Pistol terangkat ke udara.
"Jangan membuka mata. Aku akan membunuh sekarang! Yang berani membuka matanya, dan merasa dirinya adalah sosok yang berada di posisi benar. Buka matanya."
Setiap tawanan merapatkan matanya. Setiap kedutan mata bergetar. Namun, setiap kelopak itu telah mereka berikan perekat dengan kuat. Apapun yang terjadi.
"Siapa yang berani? Ayo buka mata kalian, dan lihat bagaimana pistol ini akan membunuhmu lebih awal."
Joker memejamkan matanya, dan memberi waktu menunggu setiap mata yang berani terbuka menantangnya.
Setelah cukup lama terdiam dalam kebisuan dan kegelapan mata yang tertutup. Joker membuka matanya, dan menemukan dua tawanan di kanannya membuka matanya, dan dua tawanan di kiri membuka matanya pula.
Joker tersenyum. Mengambil senapan yang telah dia sembunyikan di belakang punggungnya. Lalu, matanya menyipit pada lubang keker senapan, dan menargetkan setiap mata yang terpejam.
'Door! door! door! door!'
'Arg!'
'Door! door! door! door!'
'Aaaarg!'
'Door! door! door! door!'
'Aaaarg!'
Tembakan dan teriakan meringis terdengar silih berganti.
Setiap kata yang terpejam jatuh membuka mata hanya untuk meraba dada jantung telah berlubang, dan menatap pada sang penembak, seakan setiap mata itu bertanya, "Kami sudah menurut perintahmu. Namun, mengapa kau membunuh?"
Empat orang yang terlihat membuka mata sebelumnya. Meraba dada kirinya . Setiap jantung mereka tetap berdetak. Tidak ada lubang. Tidak ada darah yang mengalir. Hanya saja, darah tawanan terbunuh terlihat mengalir dan menggenangi tanah.
"Hanya cukup satu orang untuk menumbangkan ribuan prajurit pengecut, dan kita biarkan raja untuk terus hidup dengan rasa malunya."
Joker tersenyum tipis, dan berkata, "Gunakan logikamu memandang teman. Teman yang baik, menghukum untuk mengajari. Teman yang baik, mengancam untuk menyelamatkanmu. Teman yang baik, memisahkan untuk merangkulmu lagi. Menghadapi penjilat itu tidak perlu banyak wajah yang terlihat. Karena, dia akan malu sendiri. Memukul seseorang yang sendirian,adalah pengecut."
'Pletak!'
Senapan di jatuhkan ke tanah, dan mengambil pistol kembali. Dia memutar kotak peluru. Seakan memastikan ada sisa lima peluru.
'Krek-krekk!!' Kotak peluru masuk dalam rumahnya, dan dia mengangkat satu alis lagi. Seakan tiada ketakutan dalam hidupnya.
"Ada lima peluru!Jadilah saksi untukku! Kau boleh membenciku jika aku pernah menyakitimu. Tidak perlu menghajar diriku untuk menunjukkan kesalahanku. Seorang Joker mampu menyakiti dirinya sendiri. Jika, dia tidak memegang kata-katanya. Namun, juga mampu menyakiti setiap orang yang berani menyakiti orang sekitarnya."
'Door!'
Joker menembak kaki kirinya. Tidak ada raut sakit dalam setiap mimik wajahnya.
'Doorr!'
Joker menambahkan kaki kanannya kembali. Rautnya tenang. Namun, sepasang lututnya harus jatuh luyut menyentuh tanah, dia kehilangan kekuatan untuk berpijak.
"Sepasang kaki ini mendapat hukuman sendiri. Agar dia berhenti berjalan, mencari mangsanya."
Joker berlutut,dan memandang setiap teman yang tersisa meringis, dan menangis di balik plester yang menutup mulut mereka, "Kalian menangis?"
Joker tertawa dan berkata kembali dengan lantang, "Teman baik akan menangis untuk temannya yang pandai menyiksa diri untuk menolong yang lain. Namun, teman palsumu hanya berpura-pura simpatik dan pergi setelah itu. Oleh itu, aku tidak pernah mengijinkan mereka mengetahui kebenaran di depan mata mereka."
Joker mangangkat pistolnya dan menembakkan telapak tangan kirinya. Tangan kirinya berlubang dan lunglai menyentuh tanah. Cairan merah menetes bercampur dengan debu.
"Tangan ini belum pernah mencuri. Namun, aku menembaknya. Karena, telah di tuduh mencuri."
'Pletak!' Pistol di jatuhkan ke tanah dekat tangan kiri miliknya.
Tangan kiri Joker yang berlubang, perlahan merayap meraih pistol dengan setiap cairan merah bercampur aduk dengan tanah, dan dia pun meraih Psitol dengan sekuat tenaga melawan sakitnya lubang yang tercipta dalam daging telapak tangannya. Dia menggengam pistolnya dan mengarahkan pada telapak tangan kanannya.
'Dorr!'
Tangan kanan itu turut berlubang. Setiap mata terlihat menjerit sakit dan merah. Namun, setiap mulut mereka telah terkunci.
'Pletak!'
Tangan kiri Joker kehilangan kekuatannya, dan pistol itu pun jatuh ke tanah.
"Tangan kanan ini ku tembak. Karena, baru saja aku belajar membunuh setiap teman baikku. Aku menembaknya karena mereka tidak memiliki pendirian akan apa yang mereka punya."
Joker menahan napasnya. Seakan memberikan setiap rasa jeda akan setiap lubang yang tercipta. Perlahan tangan kanannya merangkak menggali seluruh kekuatan dalam tangan kananya. Dia menggenggam pistol itu dan mengacungkannya pada keningnya.
"Aku pikir hanya cinta yang datang tanpa alasannya. Ternyata benci pun bisa datang, tanpa alasan."
'Dorrr!'
Joker menembak kepalanya sendiri. Raga itu pun terhuyung ke belakang. Keningnya berlubang menembus hingga batok kepala terbelakang. Sepasang matanya membola dan pedih. Namun, kehidupannya merangkak hilang perlahan bersama dengan satu kalimat yang dia bisikkan untuk dirinya sendiri.
"Cukup gunakan satu peluru,dan tembak dirimu sendiri. Hanya orang mati yang tidak akan di benci lagi. Jika kau masih hidup, jangan pernah khawatir akan setiap orang yang membencimu. Tetaplah benar, walau mereka berusaha menjatuhkanmu."
Tidak lama kemudian. Seorang pria di balik pintu menatap nanar dari setiap celah pintu. Setiap tangannya tidak terbelenggu. Begitupula dengan kakinya, dia menahan napasnya. Terisak dan lari kemudian.
"Akulah yang terlalu pengecut untuk mengaku salah. Aku adalah si penghasut itu. Namun, aku harus mengakui kau layak lilin yang menerangi kegelapan dengan membakar dirinya sendiri. Aku membenci dirimu sebesar aku membenci masalaluku."
Pria itu menghentikan langkahnya, dia menyeka air matanya. Memandang langit, seakan ada wajah Joker yang menghias di sana dan tersenyum padanya. Senyuman itu tulus.
"Andai kau masih hidup, apakah kau akan memaafkanku? "
Pria itu menggelengkan kepalanya, dan berkata lagi pada langit biru, "Kau pergi dengan cara terbodoh, terdamai, dan adil. Menghukumku dengan siksa batin yang panjang. Oleh itu, kau membiarkan tetap hidup menyesal. Seharusnya, aku dengan gagah berani berhenti saat itu juga."
Sosok di langit terlihat nyata dan membuka suaranya dan berkata padanya, "Karena kau tidak berani berkorban. Maka, aku-lah yang berani menanggungnya. Agar kau ingat, teman baik tidak akan meludah pada wajah temannya."
***
Matahari bersinar malu-malu. Silaunya datang berusaha menembus gorden merah pekat itu.
Dorrr!
Pria itu bangun. Dia segera duduk dan menatap sekitar, dan meraba jantungnya.
"Untuk aku tidak mati. Hanya mimpi menjadi Joker!"
Pria itu pun jatuh kembali dan berbaring melanjutkan tidurnya. Tanpa dia menyadari jika pria yang di sebutnya sahabat itu berdiri di balik pintu, dan tersenyum dengan wajah putih pucat.
"Aku mengakui kesalahanku. Oleh, tiada sahabat terbaik seperti dirimu."
Lalu, pria itu hilang dari balik pintu.
***
Cerpen ini terinspirasi dari Quote Joker yang telah saya kutip dalam beberapa dialog di atas. Semoga menjadi cerita yang mampu menginspirasi tentang persahabatan.