Pertemuan malam itu membuat hatiku merasa tidak tenang, saat itu Bayu berpamitan untuk mengambil wajib militer selama 2 tahun. Firasatku sudah tidak seperti biasanya, aku merasa ada sesuatu yang akan mengubah takdir kita.
"assallamuallaikum Mel?" ucap Bayu dari luar rumah
"waallaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh nak Bayu, ada apa ya?" jawab ibuku menyambut masuk kedalam rumah
"Meli nya ada Bu?" tanya Bayu sambil menganggukkan kepalanya
"Ada nak Bayu, mari masuk dulu. Ibu panggilkan Meli dulu." ajak Bu Mira ibu dari Meli
Bu Mira pun masuk kedalam kamar Meli dan memberitahu bahwa diluar ada Bayu tengah mencarinya.
"Meli!" panggil Bu Mira mendekati anaknya
"iya Bu" jawab Meli tersenyum ke ibunya
"Itu ada nak Bayu diluar, lagi nyari kamu. Sana gih temuin dulu, siapa tau ada hal penting yang mau dia sampaiin" ucap ibu Mira ke putrinya
"iya Bu, Meli keluar dulu." jawab Meli berdiri melangkah keluar kamar menuju ruang tau menghampiri Bayu
"Tumben malem-malem dateng gak ngabarin dulu, biasanya telfon dulu atau chat." ucap Meli dari belakang
"ini Mel, ada yang mau aku sampaiin ke kamu." ucap Bayu gugup untuk memulai pembicaraannya
"Mau ngomong apa? bilang aja gak usah bikin orang penasaran gitu!" tanya Meli penasaran
Bayu pun menjelaskan prihal dia ingin melanjutkan wajib militernya ke Meli, Meli pun mengerti dengan keputusan Bayu dan mendukungnya.
Sudah beberapa bulan semenjak kepergian Bayu untuk wamil (wajib militer) Meli setiap malam selalu melamun di jendela rumahnya sembari memandang rembulan dan bintang-bintang di langit malam.
Ibunya menyadari kegalauan puterinya itu dan mencoba menghiburnya, karna ibu Mira juga faham dengan perasaan puterinya itu tidak mendapat kabar dari Bayu pacarnya yang sedang menjalani wamil.
"Ndok kamu tuh lagi ngapain to, dari tadi ibu perhatiin kok melamuuun terus. dah sini bantuin ibu cuci piring dulu." pinta ibu Mira dengan lembut ke putrinya.
"gak apa-apa Bu, iya Meli cuci piring dulu." ucap Meli sambil memanyunkan bibirnya melangkah menuju dapur seperti orang lemas tak bertenaga.
Sudah 1 tahun tapi Meli belum juga mendapat kabar dari pacarnya itu, bahkan saat Meli pergi menemui keluarga Bayu. keluarga Bayu pun jarang memberi kabar ke Meli dan seolah-olah mereka menyembunyikan sesuatu dari Meli, Meli pun tidak menyadari apa yang tengah disembuhkan oleh keluarga kekasihnya itu. Meli masih 1 desa dengen kekasihnya itu, hanya butuh 15 menit untuk berjalan kaki dari rumahnya menuju rumah Bayu.
"kamu apa kabar Bayu, gimana keadaan kamu sekarang. Apa kamu sama memikirkan aku juga seperti aku yang tengah memikirkanmu di setiap malamku." batin Meli sambil melamun
"kenapa kamu gak pernah ngasih kabar ke aku, bahkan keluarga kamu sekarang rasanya sudah berbeda dari dulu yang sangat dekat denganku seolah-olah menjauh dariku. Apa aku punya salah padamu atau keluargamu." timpal lagi
Beberapa hari kemudian tanpa sengaja Meli mendengar perbincangan dari beberapa tetangga keluarga Bayu jika Bayu disana memiliki kekasih yang tidak lain adalah anak dari atasannya (komandan). Meli pun terkejut dan masih tidak percaya, mana mungkin Bayu tega melakukan hal seperti itu padanya.
Meli mencoba memberanikan diri datang kerumah Bayu untuk bertanya kepada kedua orang tuanya Bayu tentang hal yang sebenarnya Bayu alami di tempat wamil.
"Assallamuallaikum Bunda." Salam Meli dari depan rumah orang tua Bayu.
"Waallaikumsallam." Teriak ibu Bayu dari dalam rumah sambil berjalan keluar.
"Siapa sih jam segini datang bertamu, disiang bolong begini" Batinnya
Saat ibu Retno melihat Meli didepan pintu, dia mulai memperlihatkan senyum ramahnya itu ke Meli walaupun batinnya tidak.
"Eh... Meli, ada apa nak Meli siang-siang main kesini?" Tanya ibu Retno dengan ramah dan senym sinisnya itu mulai mengubah suasana.
Meli pun merasakan kecanggungan yang membuat aneh batinnya, dia berfikir kenapa sikap ibu Retno sekarang sepertinya sudah tidak seramah dulu.
"Nak Meli mau ngomong apa cepetan, ibu mau lanjut masak." Tegas ibu Retno memainkan bola matanya kesamping.
"Meli cuman mau tanya Bu, gimana kabar Bayu sekarang? Meli sudah lama gak pernah tau kabarnya, mas Bayu juga gak pernah telfon Meli Bu." Ucap Meli.
"Oh...itu, ibu juga gak tau nak. Bayu juga jarang kok telfon ke rumah, dia kan sekarang sibuk sama kerjaannya." Jawaban ibu Retno membuat Meli merasa ada yang disembunyikan.
"Gitu ya Bu." Ucap Meli lesu tak bertenaga memanyunkan bibirnya.
"Ya sudah, ibu mau lanjut masak ya nak Meli." Jelas ibu Retno mengusir Meli.
"Iya Bu, kalo gitu Meli pulang dulu. Assallamuallaikum." Meli pun pergi meninggalkan rumah Bayu.
Bu Retno pun masuk kedalam setelah dia melihat Meli pergi jauh, dia kembali melanjutkan pekerjaan rumahnya.
dalam batinnya
"Anak ini gak ngerti-ngerti apa, sudah di abaikan masih saja datang kesini bikin kesel aja."
Beberapa bulan kemudian Bayu pulang kerumahnya membawa calon isterinya menemui kedua orang tuanya. Kabar bahwa Bayu akan segera menikah pun menyebar dimasyarakat desanya, kabar itu pun terdengar sampai ketelinga Meli dan keluarganya.
Hati Meli hancur berkeping-keping seketika, dia mengurung diri dikamar seharian tanpa makan dan minum. Ibu dan bapaknya sangat khawatir dengen keadaannya, mereka mencoba menenangkan Meli dari balik pintu kamar puterinya itu.
"Ndhok, cah ayu..." panggil ibu Mila dari balik pintu.
"Biar dia tenang dulu Bu, jangan diganggu dulu." ucap bapak Bagas meminta isterinya untuk memberikan ruang ke puterinya itu.
"Tapi pak!" ucap ibu Mila dengan wajah yang penuh kekhawatiran dengan puterinya, dia takut jika puterinya itu bertindak gegabah. Dia takut jika puterinya itu sampai bunuh diri.
"Ibu pergi saja dulu, biar bapak yang nenangin Meli." rayu pak Bagas terhadap istrinya itu.
Bu Mila pun pergi melanjutkan pekerjaan rumah beres-beres yang belum selesai itu. Sedangkan pak Bagas mencoba masuk kekamar puterinya itu menggunakan kunci cadangan, dia merayu puterinya dan menasihatinya.
"hik..hik..hik..hik..hik..hikk.." tangis yang mulai melemah karna seharian tidak makan dan minum.
"Cah ayu, tenang dulu ndok. Bapak boleh ngomong?" tanya pak Bagas keputerinya
"hik..hik..hik..., boleh pak." air matanya mulai mengering
"Mungkin kalian itu memang tidak berjodoh, tenang ya ndhok, yang sabar. Ikhlaskan dia bahagia dengan caranya sendirian, kalo kamu ikhlas Allah pasti akan membalas ketulusan kamu dengan lebih baik juga nantinya." ucap pak Bagas membuat tangis puterinya semakin kencang tak terkendali.
"hik..hikk..hik...whaaaa, huwaaa😭😭😭😭😭😭😭." tangisnya pun tak terbendung.
"keluarin semuanya, nangis aja ndhok. Supaya kamu bisa lega." sembari menepuk-nepuk punggung puterinya
setelah menangis Meli pun tertidur lelap karna kelelahan, pak Bagas tetap menjaga puterinya yang tengah tertidur dan membelai rambut puterinya sembari menembangkan lagu supaya puterinya itu lebih tenang.
Ibu Mila melihat dari pintu dan menahan tangisnya, dia masuk mendekati suaminya dan mulai mengeluarkan air matanya melihat nasib perjalanan hidup puterinya itu yang berjuang menunggu Bayu selama ini.
Meli pun datang ke acara pernikahan Bayu dan isterinya, Meli mengucapkan selamat kepada Bayu padahal hubungan mereka selama ini belum ada kata putus. Bayu merasa canggung saat melihat Meli menghadiri pernikahannya, sedangkan Meli sudah tidak ada perasaan lagi karna dia sudha mengikhlaskannya.
Bayu meminta maaf ke Meli karna sudah menduakannya dan menikahi wanita lain padahal mereka dulu sudah sempat bertunangan. Meli pun mengucapkan kalo semua itu Tuhan yang mengatur semua, jodoh maut gak ada yang tau. disaat itu pula Meli mengembalikan kalung dan cincin pertunangan yang dulu pernah Bayu berika kepadanya.
Memang sakit ketika kita melihat orang yang kita cintai dengan ketulusan menghianati kita dan berpaling menikah dengan wanita lain, mengikhlaskan itu berat. Tapi tanpa mengikhlaskan kita akan terkurung di masa-masa suram. Dengan ikhlas dan tetap menerima keadaan, sadar diri itu lebih baik.
Aku ikhlasin dengan apa yang sudah tuhan rencanakan untukku kelak, aku tidak berharap terlalu lebih. Karna berharap terlalu tinggi itu akan menyakitkan jika tidak bisa terwujud.
Meli tersenyum menarik nafas panjang memandang langit yang sepertinya ikut bahagia meliahnya sudah membuka senyum cerianya lagi, dia pun melangkah pergi meninggalkan kediaman Bayu.
terimakasih sudah menyempatkan mampir membaca karyaku🤗
jangan lupa dukungannya ya. like and coment 😉
masukan kritikan-kritikannya juga ya🤗🙏🏻