Dear diary
Kenapa semua orang mengatakan kalau aku gila? Salahkah jika aku punya teman khayalan? Apa aku tak boleh memiliki dunia imajinasi sendiri?
Kuakui, aku memang sedikit berbeda dari mereka. Tapi, aku suka hal-hal seperti itu. Harusnya mereka memahamiku ....
Hah ...
=•=•=
Dengan perasaan yang terasa sangat berat, kutuliskan beberapa kalimat di buku harian. Kalimat yang ingin kuteriakkan di depan semua orang. Tapi sayangnya, keberanianku tak cukup untuk menatap mata mereka semua. Tatapan mata penuh aura penindas.
"Hahh ... menyebalkan sekali."
Bruk!
Kujatuhkan tubuhku di ranjang empuk ini. Badanku merebah, menguasai hampir seluruh ruang di kasur. Kutatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
Pikiranku saat ini tengah memikirkan berbagai hal-hal 'aneh' lagi. Salah satunya membayangkan bahwa teman khayalanku sedang berbicara bersamaku.
Ah ya, aku Nishima Miyazono, gadis SMA yang memiliki kelainan. Selalu berimajinasi di mana pun aku berada. Semua orang menjulukiku 'Si gadis gila'. Tapi, ya sudahlah. Aku tak mempermasalahkannya, toh aku juga masih bisa membedakan mana yang baik dan benar, hmm ... mungkin.
Tling!
Secara tiba-tiba, muncul seekor kelinci berwarna putih. Kelinci itu memakai baju biru dan ekornya berwarna pelangi. Kini, dia tengah berdiri di atas meja kamarku.
"Heii, Cici! Kenapa kau muncul secara tiba-tiba?" tanyaku kepadanya. Kepada Cici, teman 'khayalan' yang kubuat.
Cici menggerakkan telinganya cepat. Ia lalu bertanya, "Hei hei, Nishima! Kenapa kamu kelihatan sedih begitu? Apa mereka mengataimu lagi?"
Cici melompat-lompat ke arahku. Di setiap lompatannya, terdapat jejak-jejak cahaya kecil seperti cahaya blink-blink. Benar-benar indah.
"Eh?" Aku tersentak kaget karena Cici mendarat tepat di dadaku.
Ia melompat-lompat di sana.
"Aaishh jangan sedih lagi. Kalau kalian bertemu mereka lagi, cukup katakan, 'Ya, aku memang gadis gila hahaha ... kalian sama sekali tak bisa menandingi kegilaanku!', aku yakin. Mereka pasti langsung berhenti mengejek dan justru malah mematuhimu," ujar Cici memberi saran.
Yah, seperti biasa. Dia memberi saran yang sama sekali tidak masuk akal. Huhh ...
Kutunjukkan senyum aneh untuk membalasnya. Kemudian, aku menambahkan, "Kalau aku bilang begitu, maka mereka pasti akan semakin mengejekku. Kau itu bagaimana sih, Ci?"
Cici melompat dari dadaku dan mendarat di dekat tangan kanan. Kelinci ajaib ini lagi-lagi menggerakkan telinganya secara cepat.
Dia bergumam, "Ahh aku tak tahu itu. Manusia memang memiliki pemikiran yang aneh. Aku binguuuuung sekali." Kelinci putih itu memegang dahinya dengan satu tangan kemudian melanjutkan, "benar-benar berbeda dengan duniaku."
Saat dia berkata begitu, seketika badanku serasa berhenti sesaat. Kuubah posisi badanku secepat kilat lalu dengan segera kutatap Cici yang tengah berdiri di dekatku.
"Duniamu? Kau ... punya dunia sendiri?" tanyaku penasaran diiringi rasa antusias yang mulai muncul perlahan. Mungkin, aku akan berteriak girang jika Cici menjelaskan lebih lanjut tentang dunianya.
Cici melompat, lalu mendarat tepat di depanku. Dia mengangguk. "Yaah, duniaku adalah dunia yang indah. Semua penghuninya ramah-ramah. Tak ada penghinaan hanya ada sapaan. Pokoknya duniaku itu indah banget, deh!" jelasnya sambil tersenyum lebar.
Ketika mendengarnya rasa antusias dalam tubuhku semakin menggebu-gebu. Pikiranku langsung tertuju kepada sebuah dunia indah dengan hamparan rerumputan hijau serta warna pelangi mendominasi. Terdapat banyak air terjun yang terbuat dari coklat serta kumpulan unicorn. Ahhh!
"Aaah aku jadi penasaran dengan duniamu ini. Hum, tapi ...." Pada saat yang bersamaan, aku langsung teringat tentang kebalikan dunia khayalan.
Bagai dipukul kenyataan, aku harus bisa menerimanya. Menerima fakta bahwa semuanya hanya imajinasiku saja.
Hmmmm sadarlah Nishima! Hah ... tapi ini semua hanya khayalanku saja. Cici juga, dia hanya teman khayalan yang kubuat. Mana mungkin aku mempercayainya.
"Hah ...." Aku menghela napas berat. Sedikit sakit rasanya. Andai saja aku bisa berimajinasi dengan nyata, tapi ya sudahlah.
Cici terdiam saat aku menghela napas. Tapi setelah beberapa saat, akhirnya dia mengeluarkan suara. "Nishima, apa kau ingin tau apa nama dunia yang kuceritakan ini?" tanya Cici dengan cara bicara cepat khasnya
Mataku yang awalnya memejam, langsung terbuka tatkala kelinci ini mengatakan hal itu. Aku diam sejenak, lalu mengatakan, "Tentu saja. Aku ingin melihat dunia indahmu itu. Emm ... tidak tidak. Maksudku, tidak."
Kurasa pandangan mereka tentang aku gadis gila memang benar. Ayolah, Nishima! Bangun. Jangan terjebak dalam dunia imajinasi ini.
Cici mendekatiku untuk yang kesekian kalinya. Yah, dia memang selalu begitu. Saat aku merasa sedih atau gelisah, Cici pasti akan muncul begitu saja. Dia mendekatiku dan lalu menghiburku. Makanya, aku sangat menyayangi Cici meski dia hanya teman khayalanku.
"Nishima, coba pejamkan matamu sebentaaaaaar saja. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu. Hum, tapi ini kejutan, jadi aku minta tutup mata, ya?"
"Tunggu, apa?"
Namun anehnya, hari ini dia tidak membuat lelucon atau menunjukkan wajah-wajah lucu, melainkan menyuruhku untuk menutup mata. Aku terkejut sekaligus bingung.
"Sudahlah. Tutup saja matamu!"
"O-oke." Walau sedikit ragu dengan tindakan Cici ini, tapi ya sudahlah.
Aku memejamkan mata untuk mengabulkan permintaan salah satu teman khayalanku itu. Tiba-tiba, aku merasakan tanganku dipegang oleh tangan kecil. Lalu, tanpa kusadari, tubuhku bergerak sendiri.
"E-eh? Cici, kenapa tubuhku bergerak sendiri? Di-di mana kamu? Aku takut ...," ungkapku seraya berteriak memanggil Cici.
"Nishima, aku di sini, tenanglah! Aku sengaja membuat tubuhmu bergerak sendiri. Ini memang bagian dari rencana. Jadi, diamlah," ujar Cici menerangkan.
Saat mendengarnya, rasa takutku pun berangsur-angsur menghilang. "Ah, o-oke."
Tubuhku bergerak sendiri lagi, walau aku masih sedikit tidak nyaman dengan ini, tapi kurasa Cici tak akan mengerjaiku.
Masih terus begitu, tubuhku masih bergerak sendiri. Namun, tak berselang lama setelahnya, tubuhku berhenti bergerak sendiri. Aku juga merasa bahwa sekarang aku bisa menggerakkan tubuhku.
"Baiklah, sekarang coba buka matamu!" perintah Cici berteriak nyaring.
Kubuka mata perlahan. Pandangan fokus mataku perlahan mulai terlihat jelas. Pada saat titik fokus mata telah jelas, barulah aku terkejut. Bagaimana tidak, aku melihat hamparan rerumputan hijau serta banyak tumbuhan dengan warna beragam, seperti warna pelangi. Dari kejauhan, samar-samar aku melihat sebuah air terjun besar yang berwarna coklat. Tapi, yang membuatku terkejut bukan itu saja. Aku semakin terkejut saat mataku menangkap pemandangan para unicorn tengah berkumpul serta memakan rumput bersama. Dan anehnya, ciri-ciri unicorn itu sangat mirip, tidak, bahkan sama persis seperti yang kubayangkan.
"Selamat datang di dunia kami, dunia imajinasimu, Nishima," ucap Cici sambil berteriak lagi.
Kepalaku menoleh ke arah Cici. "Dunia imajinasiku? Maksudnya?" tanyaku meminta penjelasan.
"Aigoo ... yaa, ini adalah dunia imajinasimu. Di sini, kau bisa melakukan apapun. Cukup bayangkan saja, maka imajinasimu akan muncul di depanmu." Dia menjelaskan padaku lagi.
"Hee ... sungguh?!"
Cici mengangguk. Melihatnya seperti itu, membuatku semakin yakin. Yah, karena aku sudah menduganya saat melihat sekumpulan unicorn tadi.
Aku akan mencobanya. Mataku memejam, pikiranku mulai memberi banyak gambaran-gambaran. Tapi, yang ingin kulihat saat ini adalah ....
Tling!
Sama seperti cara munculnya Cici, imajinasiku yang satu ini keluar. Kelinci itu tak berbohong, ternyata aku memang bisa mewujudkan seluruh imajinasiku di tempat ini.
Ketika asap ajaibnya mulai memudar, barulah kami bisa melihat sosok yang kubuat. Eh kalau memang benar, maka dia pasti akan ....
Yah, sesuai yang kubayangkan, muncullah seorang laki-laki berwajah rupawan. Namun, aku sangat terkejut saat melihat seluruh bagian tubuhnya.
"Halo, Nishima!" sapa laki-laki hasil imajinasiku tersebut.
"HEEEEEEEEEE?!" Teriak nyaringku tak bisa terhindarkan.
Aku kaget karena melihat dia yang hanya memakai baju, tapi tak ada sehelai kain pun yang menutupi bagian bawahnya. Sontak, reflek aku langsung berpikir. Memikirkan imajinasi agar dia bisa memakai celana.
Tling!
•=•=•
"Nishima, tak kusangka ternyata kau gadis mesum," ucap Cici seraya memasang wajah kaget.
"Heee? Tidak! Bukan begitu. Aku hanya lupa membayangkan celana untuknya, a-aku tak bermaksud membuatnya begitu, tau!" Tak terima dihina begitu, tentu saja aku membantah.
Namun, sepertinya Cici tak mempedulikanku. Dia melompat menjauh dariku, sambil berkata, "Ya terserah deh. Aku ingin bertemu dengan teman-temanku dulu, kalian di sini berdua saja, ya? Daah~"
Dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya, heeii apa dia ingin kujewer?
"Ci-Cici kembali sini! A-Aku bisa membuatmu menghilang dari dunia ini, kau ingat, kan? Hei, Ci!" Tak peduli berapa kali aku berteriak. Cici tetap saja melompat-lompat menjauh dari posisiku saat ini.
Kelinci itu ... hmp! Benar-benar menyebalkan.
"Cici ... grhhh ...."
"Nishima?" Sebuah teguran dan pegangan tangan berhasil membuatku terkejut. Aku langsung menoleh ke belakang, ternyata laki-laki tadi lah yang memanggilku.
Dia tersenyum manis, mata biru dan alis lentiknya seolah memintaku untuk memandanginya setiap saat, heei ... ini membuatku sedikit merasa panas. Laki-laki ini sangat tampan, terlalu tampan, aku terlalu berlebihan.
"He? A-ah, i ... iya. Kenapa?" Walau badanku panas serta pipiku memerah, aku masih berani untuk menatap matanya. Ahh, aku bisa mati terpesona kalau masih di sini.
"Etto, kamu belum memberiku nama. Nishima, tolong berikan aku sebuah nama. Agar kamu bisa memanggilku," pintanya serius.
"E-eh?"
Aku belum memikirkan namanya. Tapi, aku juga tak bisa menolak permintaanya.
"Ee-ehh, Kurosewaa," gerutuku geram. Membingungkan.
"Kurosewaa? Aahh nama yang bagus. Jadi, panggil saja aku Kuro, Nishima," kata laki-laki itu.
"Ah ya, Kuro–tunggu, apa?"
=•=•=
Begitulah, laki-laki itu–
Ehm, maksudku Kuro memiliki nama sendiri. Meski, aku sebenarnya tak sedang memberi nama. Tapi, ya sudahlah.
Kuro dan aku berjalan mengelilingi dunia ini. Postur tubuhnya yang cukup tinggi membuatku merasa gugup. Tak tahu kenapa, aku merasa seperti sedang berdiri di samping pacarku.
Uh, aku terlalu halu.
"Nishima, apa kau mau mencoba rasa coklat dari air terjun ini?" tanya Kuro sembari menatap aliran sungai berwarna coklat kental.
"Tidak. Aku tak suka coklat," jawabku menyangkal.
Aku tak ingin terus terjebak dalam keadaan ini. Berdiri di samping laki-laki tampan ternyata tak seindah yang kubayangkan.
Byur!
Entah darimana asalnya, tiba-tiba banyak coklat cair jatuh dan membasahi bagian kepalaku. Eehh apa ini?!
"Pftt ... Nishima, bagaimana rasa coklatnya? Enak, kan?" Dia bertanya.
Hmp, di saat seperti ini dia masih bisa bertanya.
"Kuro, apa itu kau yang melakukannya?" Aku berbalik tanya. Serius, ini sama sekali tidak lucu.
Alisku mengerut, tanganku mengepal. Bersiap melawan Kuro yang tengah terdiam mematung.
"Nishima, jangan marah begitu dong. Aku hanya bercanda tadi," ucap Kuro seolah merasa tak bersalah. Apa dia tak bisa melihat coklat di tubuhku ini, hm?
"Aigoo, aih–huhh ... kenapa aku tak bisa memarimu? Ya sudahlah, pokoknya cepat bersihkan coklat ini. Lengket taauuu huh!" suruhku.
Kuro mengiyakan, "Baiklah." Ia berjalan mendekatiku yang tengah berusaha menyingkirkan noda-noda coklat lengket ini. Namun, tiba-tiba, aku mengalami kejadian tak terduga.
Cup.
Kuro menempelkan bibirnya di bibirku dan lalu berlari secepatnya. Ia juga berteriak, "Bibirmu terlalu cantik, Nishima! Aku tak bisa menahannya. Maaf, ya!"
Ehh ... loading. Aku tak mengerti apa yang dia bicarakan, karena aku masih dalam keadaan kaget. Namun, setelah aku menyadarinya ...
"HEEEE, KUROO!!"
=•=•=
Kami berkejar-kejaran di tengah-tengah hamparan luas rerumputan. Tak peduli meski penduduk sekitar sedang memperhatikan kami. Perasaanku yang awalnya kesal seketika berubah. Sekarang aku mengejarnya bukan karena ingin memukul melainkan ingin tertawa. Entah kenapa, dengan hal begini saja aku sudah merasa bahagia.
"Hahaha ... sudah, Nishima. Aku capek hahaha," ungkapnya kemudian merebahkan diri di rerumputan. Tampak, dia sedang menghela napasnya berkali-kali.
Aku juga melakukan hal yang sama dengannya.
"Hah ... pemandangan di sini indah sekali." Sembari menatap langit biru dengan gradasi warna pelangi, kuucapkan kata-kata kekaguman. Yah, dunia ini sangat indah. Cici memang benar.
Tanpa kusadari, tercipta garis lengkung di bibirku.
"Nishima. Ada yang ingin kukatakan padamu. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya, apa benar teman-temanmu mengejek karena kamu suka berimajinasi?" Kuro mendadak bertanya. Ia menanyakan hal-hal yang kupikir sedikit serius.
Aku menatap matanya yang seolah ingin meminta jawaban. Aku tak bisa menahannya. Tatapanku beralih, yang awalnya menatap Kuro kutarik untuk menatap langit lagi. "Itu ... yah, memang benar. Mereka juga menjuluki gadis gila karenanya," kataku menerangkan.
Kuro terdiam untuk beberapa saat. Lalu, dia mengubah pandangan matanya juga. "Haha, jangan dengarkan mereka. Tetap lakukan saja apa yang bisa membuatmu bahagia. Karena ini hidupmu, kamu lah yang berhak memilih mana yang ingin kamu lakukan dan mana yang tidak. Intinya ikuti saja kata hati nuranimu." Kuro berbisik lirih di antara kami. Kutatap dia yang saat ini sedang tersenyum. Aku tak percaya ternyata Kuro memang setampan itu.
"Aissh jangan melihatku seperti itu! Nanti kalau kamu menyukaiku, gimana?"
Sontak, aku terkaget. Dia ini ...
"A-Aku tidak melihatmu kok, jangan geer deh, hmp!"
"Ahahaa, ya deh iya. Um ... ah ya, aku ingin mengatakan satu hal lagi," ucap laki-laki itu.
"Apa?"
Namun, bukannya menjawab, Kuro hanya menatapku. "Itu ...."
=•=•=
Tak kusangka, hari sudah semakin menggelap. Tapi, Cici bilang kalau lima jam di sini sama dengan tiga puluh menit di kehidupan nyata. Yah, kelinci menyebalkan ini mengajakku pulang. Katanya, dia tak mau membuatku dimarahi oleh ibuku hanya gara-gara bermain di dunia imajinasi.
Antara setuju dan tidak setuju. Ucapan Cici ada benarnya juga.
"Heii, laki-laki tampan! Kami ingin pulang dulu, daadaahh!" teriak Cici sambil melambaikan tangan ke Kuro.
"He? Maksudmu, Kuro tidak ikut?"
Cici mendongak untuk menatapku. "Aishh, jangan. Kau tak boleh membawa makhluk buatan imajinasimu ke dunia nyata. Karena dia hanya bisa hidup dalam imajinasimu. Dengan kata lain, jika kau mengajak laki-laki ini, umm ... maksudku Kuro, yah. Jika kau mengajak Kuro ke dunia nyata, maka dia akan lenyap. Bukan hanya di dunia nyata, tapi juga imajinasi." Cici menjelaskan panjang lebar.
Ternyata begitu ....
"Ahh, aku mengerti. Ummm ...." Yaah, padahal aku ingin berlama-lama bercanda dengannya. Hah ...
"Hei, Nishima." Di saat aku sedang tertunduk sedih, Kuro memegang kedua bahuku. Dia kembali berbisik. "Jangan sedih, kita masih bisa bertemu kok. Asal kamu membayangkanku, maka aku akan ada. Sudahlah, ayo senyum!" ungkapnya lirih.
Sesuai yang dipinta olehnya, kepalaku menegak. Kubuat senyuman dalam suasana hati senduku.
"Nah, begitu baru bagus. Ya sudah, pergilah. Jaga dirimu baik-baik, ya."
Aku menganggukkan kepalaku dua kali. Masih dengan senyum yang sama, kulambaikan tangan di udara. Sementara Cici membuat portal berwujud seberkas cahaya. Cahayanya semakin besar, semakin besar hingga menutupi semuanya.
=•=•=
"Hahh?!" Secepat mungkin, kubuka mataku. Warna putih dari langit-langit kamar adalah benda pertama yang kulihat.
Ehh tunggu dulu, bukankah aku tadi sedang bersama Kuro? Cici mana Cici? Aisshh aku pasti bermimpi lagi. Aaahh aku memang kacau.
Kuacak-acak rambutku karena saking kesalnya.
Tapi, semuanya terkesan sangat nyata. Bagaimana bisa ini hanya mimpi aarghhh. Kesal kesal aku kesal.
=•=•=
Di sekolah, aku duduk di bangkuku seperti biasa. Dan tiba-tiba tiga orang gadis datang menghampiriku. Hah, mereka adalah anak-anak yang sering memprovokasi dan membully. Mereka jugalah yang suka mengejekku gadis gila.
"Hei, Gadis Gila. Pftt ... kau masih bisa kembali ke sekolah? Setelah kami membuatmu diejek satu sekolah? Woww ... kau punya nyali yang besar," ucap salah satu dari mereka kemudian melanjutkan, "ah ya, mana teman imajinasimu itu? Apa dia tidak mau membelamu? Ihh kasihan hahahaha!"
Kali ini, aku tak akan membiarkan mereka semakin menginjakku. Aku ingat perkataan Kuro saat itu.
'Itu, kalau mereka memang mengejekmu lagi, kau tinggal bilang ...'
"Yah, aku memang suka berimajinasi. Aku memang suka berkhayal. Aku memang suka berbicara sendiri. Memang kenapa? Apa itu salah? Kurasa, itu lebih baik daripada kalian yang hanya suka mencampuri urusan orang lain. Apa kalian tak punya pekerjaan sendiri?" Aku mengucapkan kalimat Kuro saat itu, tanpa tertinggal satu katapun.
Tiga gadis itu seketika terdiam. Mereka tak bisa menjawab. "Kau ... sejak kapan–ah sudahlah. Ayo kita pergi dari sini, huh!"
Akhirnya, mereka berjalan pergi meninggalkanku. Yah, ternyata ucapan Kuro memang berhasil.
"Woaaah sugoii, Nishima, kau berani melawan mereka. Aishh aku benar-benar salut kepadamu!"
"Iyaa, kukira kau hanya gadis lemah. Tapi setelah melihat tadi, pandanganku tentangmu langsung berubah. Hebaat!"
Prok! Prok! Prok!
Tepuk tangan bergema di seluruh sudut ruangan kelas kami. Semua murid bertepuk tangan untukku. Aku tersenyum saat melihatnya.
"Hah?!" Namun, saat aku melihat ke arah jendela. Aku melihat seorang laki-laki tampan sedang tersenyum. Ia sangat familiar bagiku. Yah, dia adalah Kuro, tapi mengenakan seragam sekolah. Di pundaknya terlihat seekor kelinci putih. Kurasa, dia Cici.
Melihat mereka, membuatku semakin bahagia. Tak memedulikan fakta bagaimana bisa Kuro ke sini, tapi intinya aku sangat bahagia.
Dari mereka aku mulai belajar, aku tak perlu takut berimajinasi. Karena ini diriku, hanya aku yang berhak menentukan pilihanku. Aku akan menjalankan apapun yang menurut hatiku benar. Terima kasih, Kuro.
- Tamat -