Pagi ini Lula bangun dengan wajah yang begitu cerah seperti baru saja habis bermimpi kesukaannya. Namun ya layaknya orang bangun tidur, Lula pun begitu dimana rambutnya super duper berantakan dan kusut. Rambut yang panjang itu tergerai sampai pinggangnya dengan amat berantakan.
Seperti biasa ia akan membersihkan dan merapikan tempat tidurnya. Tapi tidak dengan dirinya. Setiap pagi ia selalu mengabsen anak anaknya. Tau siapa anaknya?
"Nana, njun, icung....." Dan seterusnya.
Lula yang merupakan anak kpopers, tentu saja kamar itu dipenuhi dengan barang barang idolanya.
Seperti yang ia lakukan sekarang, mengabsen semua PC bias yang ia punya. Kamar Lula memang rapi pake banget, tapi tidak dengan dirinya, bahkan orang kampung itu sudah tau dengan Lula yang seperti itu. Tau kenapa? Alasannya.....
Flash back beberapa pekan lalu.
"La.... Temenin emak pegi ke pasar yuk."
"Males mak. Minta temenin kakak aja sana atau gak adek deh."
"Gak bisa Lula. Kakakmu harus siap siap pergi kerja. Kalo adek lagi ngerjain tugas."
"Lah sepagi ini kok ngerjain tugas. Alah pasti boong tuh bocah."
"BOONG DARI MANANYA LULA. KAN SEMALEM ADEKMU LAGI SIBUK MENGHAFAL JADI MINTA TOLONG KAMU BUAT KERJAINNYA. TAPI APA?! KAMU MALAH ASIK TIDUR SAMPE NGELINDUR OPPA OPPA KAMU TUH."
"Tau nih. Mana buka Alan pake kena iler segala lagi. Bau jigong dah buku Alan..." Roceh adiknya.
Alan adalah adik Lula berjenis kelamin perempuan. Baru menginjak kelas lima SD.
"Ye maaf. Namanya aja ngantuk mak, Lan. Ya udah Lula cuci muka dulu."
Lula pergi ke kamar mandi menggosok gigi dan cucu muka. Lalu setelahnya keluar.
"Yuk mak." Ajaknya.
"Lah nih anak, gak ganti baju dulu?"
"Gak osah. Lagian kan cuma ke pasar. Ya kali mau pake baju bagus."
"Ya gak juga. Tapi...."
"Udah lah mak ayo pegi. Ntar Lula berubah pikiran loh. Lagian mau pake baju apa aja kalo cantik ya tetep cantik." Sombongnya.
"Huwweelk... Gila ya, masih pagi aja udah ekspektasi aja. Sadar bok sadar.... wajah kayak jalan tol aja bangga." Alan dengan julidnya.
"Yak!!! Bocah gak ada akhlak lo ya."
"Dari pada kakak, gak ada malu."
"Kurang ajar lo ya. Gw slepet juga lo."
"Udah udah.... Berantem aja terus. Lula ayo."
Sepanjang perjalanan Lula membawa keranjang. Yah dia memang bukan anak yang sangat berbakti, namun tidaklah salah untuk berlajar berbakti. Itulah yang ia lakukan sekarang.
Berjalan di belakang emaknya dengan membawa keranjang belanjaan. Dan itu Lula lakukan sampai emaknya selesai berbelanja.
"Wah... Sekarang Ibu Yanti udah punya pembantu. Berarti pak Alex sukses ya bu kerjanya. Lain kali kalo udah punya pembantu suruh aja pembantunya ke pasar. Ibu di rumah aja." Ucap ibu ibu yang ada di pasar saat Lula dan emaknya hendak pulang.
"Pembantu?" Ulang emaknya.
"Iyah lo bu. Terus kasih juga bajunya yang agak bagusan bu."
"Tap... Tapi saya gak punya pembantu bu."
"Loh yang di belakang ibu itu siapa dong?" Tunjuknya pada orang yang ada di belakang bu Yanti.
"Oalah... ini anak saya bu bukan pembantu."
"Lah kirain. Abis nya saya jarang liat dan lagi gayanya..." Ucap ibu itu terpotong sebab melihat Lula dari atas sampai bawah.
Bagaimana tidak, dandanan kian yang memakai baju daster, sandal jepit, rambut yang digulung dan di jepit, serta wajah tanpa bedak sedikit pun.
Lula yang melihat si ibu pun seperti melihat mangsanya. Matanya menampakkan ketidaksukaan gara gara dikatai sebagai seorang pembantu.
Namun tiba tiba lewat lagi satu orang laki laki di samping mereka.
"Neng Lula, abis di kejar anjing ya?" Tanya nya, yang tentu saja membuat Lula kebingungan dan mengerinyitkan dahi.
"Loh emang kenapa mang?"
"Tuh liat, bagian bawah baju eneng robek robek."
Lula dengan cepat langsung memeriksa bajunya. Dan benar saja baju daster yang panjangnya setengah betis itu, bawahnya sudah robek seperti di gigit oleh sesuatu.
"Emakkk... Kok gak bilang Lula sih?! Malu mak..."
"Lah tadi emak mau bilang, tapi kamu langsung aja nyerocos. Salah siapa dong?"
Lula yang sadar itu langsung menatap ke arah pasar. Begitu banyaknya orang yang ada di sana, dan dengan artian mereka juga melihat Lula seperti ini. Semua orang tiba tiba langsung menatap Lula.
Lula yang malu, langsung lari terbirit birit untuk pulang. Ia meroceh dijalan gara gara kebodohannya pagi ini.
'Pantes aja nih betis dari tadi dingin banget, tak kirain emang cuacanya. Tapi nyatanya malah robek.' Batin Lula menjerit dan menangis.
Flash back off~~
Lula mengabsen serta menghitung satu per satu anaknya dengan teliti sambil dibersihkan kalau kalau ada debu yang menempel di sana.
"Satu.... dua..... tiga.... ........ empat puluh tujuh ...... lima puluh..... lima puluh lima." Hitungannya
"Heih.... Kan kemarin gw hitung lima puluh enam. Yang satu nya mana terus foto siapa ya?"
Lula kembali meneliti PC itu satu persatu menghitung dan mengingat gambar apa yang tak ada.
"Akhhh.... Emakkk..... Anak Lula ilang emakkk" Teriak Lula dari kamarnya. Ia mencari sampai ke kolong tempat tidur. Kembali mengacak acak album dan meja belajar itu mencari sesuatu yang ia cari.
"Ya allah... Astagfirullah Lula. Kamu kenapa teriak teriak terus itu kamar kenapa diberantakin?"
"Anak Lula ilang mak. Si nono." Masih sibuk mencari dan tak lupa juga dengan tangisannya.
"Anak apa sih La? Kamu aja belom nikah masa udah punya anak."
"Lah emak kayak gak tau kak Lula aja. Maksud kak Lula tuh, foto kertas itu loh mak." Celetuk Alan.
"Enak aja lo bilang kertas. Bagi lo itu keras. Tapi bagi gw itu cogan dan duit Lan."
"Cuma foto aja kamu ribetin." Ucap emaknya.
Sudah seharian Lula mencari foto biasnya, dan sudah seharian juga ia menangis tersedu sedu. Benar benar nampak seperti orang gila. Bahkan karna frustasi ia tak mandi sama sekali.
Ia berbaring di ranjang tempat tidurnya sambil memainkan hpnya. Mengotak atik hp itu, hingga ia bosan lalu mematikannya. Ia memandang dirinya dari pantulan layar hitam hp itu. Menatap lekat dirinya, namun ..... ada yang lain tampak dari pantulan hp itu.
"Itu.. Itu....."
Gbrak....
Lula bangun dan langsung berlari ke luar rumah.
"Heh!! Sape sih yang jail banget. Nono!!!! Tunggu emak ya.. hiks hiks. Emak dateng No."
Lula melihat foto itu tergantung di pohon kelapa yang tingginya hanya setinggi rumah. Ntah siapa yang iseng menggantung foto itu di salah satu dahan daunnya.
Pok..
"Adohhhhh.... " Teriak seseorang dari bawah.
Orang tersebut tak sengaja tertimpa buah kelapa, sebab berada di bawah batang itu.
Ia menoleh ke atas, bagaimana bisa kelapa yang belum tua sudah jatuh tanpa ada angin.
"Allahhuakbar.... Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!" Jeritnya.
"Hehehe.... Maaf Pak RT, Lula gak sengaja."
"Lula... Lula.. Ngapain kamu di atas. Kalo pengen kelapa minta aja sama Pak RT, atau gak bisa pake kayu. Gak usah naek Lula, bahaya. Ayo turun." Roceh Pak RT, yang memang sudah jadi kebiasaannya setiap hari pergi ke kebun yang ada di pinggir rumah Lula. Sebab kebun itu adalah miliknya.
Mendengar teriakan dari samping rumah, emak Lula langsung melesat ke luar rumah untuk melihat ada apa.
"Loh Pak RT, kenapa pak?"
"Itu buk, si Lula. Masa naik pohon kelapa, mana gak pake tangga pula." Ucap pak RT.
Eman Lula menoleh ke atas untuk melihat putrinya itu. Dan benar saja ia masih berada di atas, dengan tampilan seperti penunggu pohon.
"Astaga Lula... Kamu bikin emak kaget aja!! Turun kamu!!! Malu maluin."
Brukh...
Dengan secepat kilat Lula turun dengan membawa foto kesayangannya.
Emak Lula yang tak enak hati dengan Pak RT pun meminta maaf.
"Maaf ya pak, anak saya memang rada aneh." Sambil mesem tersenyum.
"Kamu ngapain La di atas?" Lanjut emaknya dengan menggeplak bahu Lula.
"Ishh... Sakit mak. Lula cuma mau ambil foto ini doang kok. Lagian siapa sih yang iseng yang ingin anak Lula." Sambil menunjuk nunjuk foto yang ia pegang.
"Cuma mau ambil foto? Terus kamu naik sampai jatuhin kelapa di atas kepala bapak La."
Tentu saja kalimat itu sukses membuat Emak Lula malu dan marah.
"Ya Lula kan udah minta maaf pak. Lagian bapak kenapa di bawah juga."
"Kamu bukannya minta maaf malah nyalahin balik. Sini kamu!!!"
"Akhhh.... Sakit mak."
Teriak Lula, karena telinganya di jewer.
Selesai sudah pencarian foto anaknya pagi menjelang siang itu.
"Nah, kan bagus tuh. Anak anak emak dah kumpul." Memandangi meja belajarnya yang rapi, bersih, dan tentunya lengkap foto biasnya.
"Hn... Tapi masih ada yang belum terselesaikan. Siapa yang udah berani lakuin ini he?!!!!" Gumamnya dengan wajah serius.
.
.
.
.
🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴