Anindya seorang perempuan yang masih muda, yang mempunyai bakat seni tari. Dari kecil ia selalu menjadi kebanggaan kedua orangtuanya. Namun nasib tidak berpihak kepada perempuan itu.
Suatu ketika ada musibah yang menimpa keluarganya hingga menyebabkan semua kegagalan dalam hidupnya. Tidak bisa sekolah dan juga dijauhi pacar karena tidak memiliki apa-apa sekarang ini.
"Anin kita putus saja aku sudah punya kekasih yang baru." Bagai disambar petir Anindya hanya bisa terima nasib. Dirinya kini sudah bukan pelajar sekolah lagi. Semuanya sudah habis tak tersisa.
Keluarganya sekarang pindah ke pinggiran kota, karena di sini sudah tidak bisa menanggung biaya hidup. Anindya putus sekolah dan mencari kerja untuk membantu kedua orangtuanya yang mulai sakit sejak peristiwa itu.
Hanya berbekal ijasah SMP Anindya melamar pekerjaan. Menjadi seorang buruh di restoran pinggiran kota. Bakat tari yang dimilikinya mulai ia salurkan di restoran ini.
Terkadang ada yang menyewa restoran untuk acara dan Anindya bisa mengisi acara tersebut. Untung saja pemilik restoran itu baik hati membuat dirinya lebih percaya diri.
"Besuk akan ada yang menyewa restoran kita untuk acara tahunan. Kamu bisa mengisi acara dengan tarian kamu dan jika bisa tambah dengan nyanyian."
"Baik pak besuk saya siap-siap."
"Yang punya acara masih muda jadi jangan kamu kecewakan dia."
Keesokan harinya Anindya berangkat dengan hati senang. Bonus untuk menari dan bernyanyi akan dia dapatkan. Ini akan merubah hidupnya sedikit demi sedikit.
Terlihat semua sudah siap demikian juga dengan Anindya. Puncak acara akan segera di mulai. Sosok wanita cantik naik ke atas podium.
"Hari ini adalah hari bahagia saya, saya akan umumkan acara ulang tahun ini dengan pertunangan saya dengan calon suami saya."
Terlihat sosok tampan yang ikut naik ke podium. Terkejut hanya itu yang bisa Anindya lakukan. Laki-laki diatas sana yang selalu.menghiasi hari-hari.
Rindu, sakit hanya itu yang Anindya rasakan. Ternyata selama ini mereka sudah menjalin hubungan sejak bersamanya.
"Hanya aku seorang yang merindukannya, sedangkan dia tidak."
Laki-laki itu mendengar Anindya yang sedang berusaha menguatkan hatinya," hai apa kabar? Lama tidak jumpa."
Sapaan yang datar seolah selama ini hanya Anindya saja yang mencintainya. Mengapa dia hadirkan perasaan itu jika hanya ingin dia hempaskan. Sakit ... dan sangat sakit sekali.
Pulanglah Anindya jangan kamu lemah. Ingatlah laki-laki tidak hanya dia seorang. Ingat perjuangan kamu demi keluarga masa depan menanti jangan berputus asa.
Pulang ke rumah disuguhkan oleh pemandangan yang membuatnya syok. Kedua orangtuanya pingsan dan ditunggu para tetangga. Panik hanya itu sekarang yang dia rasakan.
"Aku sudah panggil dokter kemari Anin, kita tunggu saja." Tetangga baik hati mengulurkan tangannya untuk memanggil dokter karena tahu kondisi Anindya yang seorang diri.
Dokter datang dan memeriksa kedua orangtuanya. " Maafkan saya harus bilang, orangtuamu sudah meninggal."
Duarr ... bagai di sambar petir mendengarnya. Lemas yang Anindya rasakan. Bahkan air matanya tidak mampu keluar.
"Sabar Anin, kami akan membantumu mengurus semuanya." Para tetangga yang baik hati menolong Anindya mengurus pemakaman kedua orangtuanya.
Sekarang Anindya hanya tinggal seorang diri. Bingung apa yang akan dilakukan untuk bertahan dan bersemangat untuk hidup.
Semenjak kejadian itu, Anindya menyibukkan dirinya dengan kegiatan yang menghasilkan uang dan juga kegiatan sosial. Dengan sering ke panti asuhan dan bermain jika ada waktu luang.
Hidupnya lebih berarti sekarang ini, hatinya yang kosong tidak lagi dia tangisi. Sosok yang selalu datang pada setiap harapan yang dulu, hingga kini belum juga terganti.
Anindya sangat merindukan laki-laki itu. Cinta pertama yang tak terbalas. Sulit sekali menghilangkan namanya yang sudah terpatri biarpun dia sudah bukan miliknya lagi.
Di panti asuhan dia habiskan waktunya untuk bermain dan mengajak mereka melakukan kegiatan yang positif. Anindya seorang penari dan penyanyi hanya itu yang bisa dia ajarkan kepada mereka.
Saat tengah sibuk memberikan pelajaran menyanyi, terdengar keributan di ruang depan hingga membuat aktivitas terhenti.
"Anak-anak ada yang datang, ayo Salim dulu dengan tuan dan nyonya pemilik panti." Pengasuh panti asuhan sudah memberikan instruksi. Dan semua yang ada pergi ke ruang depan untuk menyapa tamu mereka.
Deg ... laki-laki itu lagi yang datang. Mengapa mereka selalu bertemu? Bahkan Anindya sudah berusaha keras untuk melupakannya.
"Hai ... ketemu lagi di sini. Kamu ikut jadi pengasuh mereka juga? Syukurlah mereka mendapat sosok yang tepat jadi kami tidak perlu khawatir."
Pengasuh? Jadi Anindya hanya dianggap sebagai pengasuh buat anak-anak ini. Sakit lagi hati Anindya mendengarnya. Tergores luka yang sudah terbuka. Perih dan sangat menyesakkan dada.
Mengapa dia harus menyimpan rasa ini untuk laki-laki yang jelas bukan miliknya lagi. Wanita yang ada di samping lebih bermartabat dan kaya. Dia tidak ada apa-apa dibandingkan dengan wanita itu.
"Anin tunggu! Aku ikut berdukacita atas meninggalnya ibu. Kamu baik-baik saja bukan selama aku tidak ada?" Laki-laki ini mengapa berkata seolah masih memperhatikan Anindya?
Kelu dan bisu hati Anindya, rasanya sangat hambar dan tidak lagi ia rasakan kehangatan yang seperti dulu. Rindu yang bertepuk sebelah tangan tidak mendapatkan balasan.
Pulang ke rumah yang sepi sepertinya bukan pilihan yang terbaik. Hanya akan menambah kenangan pahit dengan kedua orangtuanya. Apalagi baru saja bertemu dengan orang yang sangat dia rindukan.
Berjalan tidak terarah membuat Anindya tiba di sebuah super market. Menikmati kopi panas dan cemilan sendiri hingga ada yang menepuk pundaknya.
"Hai ... sendirian?" Percakapan hangat terjadi ternyata dia adalah dokter yang sudah memberikan pertolongan saat kedua orangtuanya meninggal.
"Jadi sekarang kamu sendirian saja?" terjadi negosiasi yang akhirnya mencapai kesepakatan.
Dokter muda itu sedang mencari istri karena saat ini dipaksa menikah dengan orang yang sangat dia benci. Dan Anindya akan menjadi calon istri kontrak untuknya selama satu tahun.
Malam itu Anindya akhirnya pulang bersama dokter kerumahnya. Dia akhirnya diperkenalkan oleh dokter di dahapan kedua orangtuanya sebagai calon menantunya.
Dokter itu mempunyai adik perempuan dan ternyata dia adalah istri dari laki-laki yang selama ini sangat dirindukannya.
Saat jamuan makan malam mereka semua berkumpul, dan Anindya bertemu lagi dengannya. "Hai kita ketemu lagi, ternyata diam-diam kamu sudah punya pacar rupanya. Semoga bahagia bersama kakak ipar ku."
Pernikahan berjalan dengan lancar. Kedua mempelai tidak memperdulikan apa yang nanti akan terjadi. Masing-masing mempunyai alasan untuk menjalani pernikahan ini.
Satu bulan berlalu Anindya menjalani pernikahan tanpa dasar cinta. Setiap hari ia melakukan kewajiban sebagai istri kecuali dalam hal hubungan fisik. Mereka sudah sepakat untuk tidak melakukan kontak fisik selama belum ada perasaan di hati masing-masing.
Hingga akhirnya suami Anindya pulang dalam keadaan mabuk setelah menghadiri acara pesta temannya. Di dalam kicauannya dia sangat mendambakan Anindya menjadi istrinya secara utuh.
"Mengapa di hatimu masih ada laki-laki lain Anindya? Mengapa? Apa kurangnya aku sampai kamu selalu merindukan dia? Dia adik ipar ku Anindya!"
Sesak nafas rasanya, mengapa semua bisa ketahuan oleh suaminya. Darimana dia tahu? Lebih baik melepaskan dan pergi? Atau memperbaiki kesalahan yang sudah terjadi.
Malam yang kelam sepi dan bisu menjadi saksi sebuah janji seorang Anindya yang tersakiti.
Like coment ***thanks U ❤️❤️