Genre: Romansa.
-Cerita ini berdasarkan imajinasi penulis saja. Bila ada kekurangan dalam segi penulisan dan penyusunan kata. Mohon maaf. Untuk itu, please like, Coment, and share agar penulis dapat terus melakukan yang terbaik untuk menyenangkan para pembaca. Terimakasih-
.
.
.
"Pah. Mah. Alya berangkat dulu ke kampus.." Ujar Alya yang sudah stay dengan motornya.
"Loh? ga sarapan dulu?" Tanya Mama Alya.
"Ga sempet mah.. Nanti Alya telat. Dah..." Sambung Alya yang langsung meninggalkan halaman rumah.
.
.
Hai. Namaku Alya. Aku adalah seorang mahasiswi jurusan Kesenian. Entah kenapa setelah tamat SMA, aku malah memilih jurusan ini. Padahal dulu saat sekolah, aku sangat menggemari olahraga. Apa mungkin karena dia??
.
.
.
2 Tahun yang lalu.
~
Pada semester 1 ketika aku sudah kelas 3 SMA, sekolah ku di datangi oleh seorang Guru baru. Ia adalah Pak Yoon. Ia adalah seorang Guru seni budaya. Aku ingat saat itu satu sekolah heboh akan kedatangannya. Selain karena merupakan Guru baru di sekolah, Ia seperti seorang model. Tinggi, berkulit putih, dan sangat tampan. Aku pun ketika saat pertama melihatnya, Jantung ku berdetak kencang seakan ia hendak keluar dari dalam tubuhku.
Deg!
~
Jam pelajaran terakhir di kelasku adalah Seni Budaya. Yang benar saja! ternyata Dia lah yang menggantikan Bu Inggit untuk mengajar Seni Budaya di kelasku. Saat ia memasuki kelas, kulihat semua pipi gadis-gadis di kelasku merona. Bahkan ada yang matanya sampai melotot. Ani sahabatku, juga tersenyum licik seakan-akan ingin melahap Pak Yoon. Tapi Aku? tak usah ditanya. Aku hanya menikmati suasana sambil sekali-kali melirik Pak Yoon.
'Heuh. Mau gue jungkir balik, atau loncat-loncat..Dia ga bakal bisa gue miliki' Gumamku dalam hati. Tanpa kusadari aku tenggelam dalam lamunan. Hingga 1 halaman Buku ku penuh dengan coretan yang tidak jelas. Pak Yoon tiba-tiba menghampiri ku.
"Karyamu bagus. Tapi sayang hanya membuang-buang waktu". Ujar Pak Yoon.
"Ehh Ayam Ayam!" Teriak ku. Aku sangat terkejut.
"Ehehe. Maaf Pak. Karya yang mana ya pak?" Tanyaku.
"Itu.. Coretan di buku mu itu."
Hahaha.
Kelas yang tadinya hening. Kini sangat ramai akibat ulahku. Aku sangat malu.
~
Hari-hari pun berlalu...
Pak Yoon yang dikenal tampan dan berkharisma itu, ternyata seseorang yang sangat cuek. Bahkan sahabat ku Ani dan beberapa gadis-gadis lain di sekolah ku, sudah mulai mengalah akan kehendak mereka untuk mendapatkan hati Pak Yoon.
Meski begitu, Pak Yoon adalah Guru yang baik dan profesional. Aku ingat ketika pena ku kehabisan tinta. Karena aku adalah orang sangat tidak suka untuk meminjam barang orang lain, jadi aku memutuskan untuk tidak mencatat materi. Lebih baik Aku berpura-pura menulis saja. Pak Yoon langsung berjalan ke Arahku dan meletakkan pena yang sudah ia tuliskan namanya, di atas mejaku.
"Manusia ditakdirkan untuk berinteraksi dan saling menolong satu sama lain. Jadi jangan malu untuk dibantu dan jangan lupa untuk membantu." Katanya padaku dengan lembut.
Deg! Deg! Oh tidak jantung ku!
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya ia memperhatikan ku. Ia pernah beberapa kali membelikan ku minuman dan memberiku catatan tentang ringkasan materi pelajaran. Bahkan kami berdua sempat dikira pacaran. Sudah pasti kamu berdua membantah. Aku sempat tidak pernah mengerti maksud dari perhatian nya padaku. Yang ada di benak ku hanyalah... bahwa Ia adalah Guru Seni Di Sekolah Ku. Hingga pada akhirnya...
"Oke siswa-siswi sekalian. Mumpung karena materi hari ini telah selesai dan waktu masih ada setengah jam lagi, bagaimana kalo saya nyanyikan satu buah lagu?" Ujar Pak Yoon yang seketika membuat semua teman satu kelasku berteriak kegirangan. Gerald si ketua kelasku pun disuruhnya untuk mengambil gitar sekolah di Ruang Guru. Ia pun bernyanyi. Ternyata.... Suaranya sangat merdu dan hampir membuatku meneteskan air mata. Kira-kira lirik lagunya begini:
'Mungkin kau tidak tau bahwa sejak pertama melihatmu, aku sudah jatuh cinta padamu. Tapi kurasa, kita tak ditakdirkan untuk bersama. Karena waktu dan ruang kita berbeda.'
Prak Prak! Kami satu kelas langsung memberikan tepuk tangan meriah kepada Pak Yoon, ketika ia selesai menyanyikan lagunya. Bahkan Lili yang duduk dibelakang ku, sudah banjir air mata. Mungkin saja karena lagu yang Pak Yoon nyanyikan sesuai dengan yang ia rasakan. Hihihi.
Hari Ujian Akhir Semester ganjil pun tiba...
.
.
.
Hari Pembagian Raport semester ganjil juga tak terasa sudah tiba. Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa Pak Yoon sudah 5 bulan mengajar di sekolah ku.
Ketika Aku hendak mengambil motorku keluar dari tempat parkir dan bergegas pulang, tiba-tiba Pak Yoon menghampiri ku dengan 1 kotak kecil yang tak kutahu apa isinya.
"Ini untukmu. Alya." Ujarnya sambil mengulurkan kotak kecil itu padaku.
"Ini apa Pak?" Aku~
"Nanti buka nya di rumah aja." Jawab Pak Yoon. Aku melihat Pak Yoon mengepalkan tangannya. Matanya berkaca-kaca dan wajahnya sedikit memerah.
"Pak??" Tanyaku Pelan. Kedua pasang mata kami saling bertatapan.
"ehehe. Sepertinya di semester genap nanti, saya tidak bisa mengajar lagi, Alya" Jawabnya.
"Loh? Kenapa Pak?". Tanyaku sedih.
Lalu Pak Yoon menjawab, "Bulan depan, Saya harus melanjutkan studi S2 saya ke Amerika. Kamu harus belajar yang giat. Biar bisa lulus di ujian akhir nanti. Jangan telat makan. Jangan malu untuk minta tolong...Dan..". Tak terasa Air mata ku berlinang. Entah kenapa hatiku terasa sangat sakit. Seperti teriris-iris. Aku tidak bisa menahan perasaan ku dan tiba-tiba memeluknya. Ia pun membalas pelukan ku dengan erat.
"Aku mencintaimu."
.
.
.
~
Ya. Aku rasa memang dia lah alasan ku mengambil jurusan seni di kampusku. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik agar bisa seperti dia. Ku harap kami bisa bertemu kembali dan berbagi kisah senang dan sedih kami.
TAMAT