Matahari bersinar terang, awan berjejer menunjukan cuaca cerah, anak-anak berlarian kesana kemari ditaman pujangga. Seorang gadis remaja berseragam SMA duduk sendirian termenung dipojok taman, sesekali dia bercermin dengan cermin kecilnya, begitu heran seperti tidak ingin melihat wajahnya sendiri, ia membuang cermin itu ketempat sampah. "menyebalkan" ia berucap lalu pergi dari taman itu.
sesampainya dirumah, ia masuk kamar dan membanting pintu kamarnya , terdengar suara sesenggukan didalam kamarnya.
"Bulan, ada apa, kenapa membanting pintu ?" tanya ibunya masuk kedalam kamar bulan yang ternyata tidak dikunci.
"ada apa nak? kenapa kamu pulang dari sekolah menangis? apa ada yang mengganggumu disekolah? katakan sesuatu pada ibu ." Bulan terus menangis dan kemudian merangkul ibunya "ibu, kenapa wajahku tidak secantik teman-temanku, kenapa aku hitam, pesek, rambutku keriting, dan mataku sangat bulat." kini ibu bulan mengelus kepala bulan dan berkata "nak mengapa kamu mengeluhkan apa yang diciptakan Tuhan, kamu cantik apa adanya nak kamu berharga kamu diciptakan oleh Maha sempurna." jawab bulan pada ibunya "cantik dari mana ibu, apa ibu sedang mengejek aku ?"
ibunya menggelengkan kepala "nak, kecantikan yang sejati bukan tentang apa yang dilihat oleh mata, namun kecantikan yang sejati terletak dari hati, kecantikan fisik akan pudar oleh usia dan waktu, namun kecantikan sejati adalah ketulusan,kejujuran serta kebaikan hati yang terpancar dalam kehidupan yang tidak akan pernah pudar, bersyukurlah nak apabila kamu memilikinya, kecantikan fisik mungkin membawa kepada dunia, namun kecantikan sejati akan membawamu kesurga." Bulan menghapus air matanya dan memeluk ibunya "Trimakasih ibu sudah mengingatkan bulan, bulan beruntung punya ibu yang bijaksana."
keesokan harinya, Bulan berangkat kesekolah diantar oleh ayahnya . Bulan sangat bersemangat tidak seperti biasanya. sesampainya disekolah tampak Albi sedang menunggunya, ya Albi seseorang yang disukai bulan sejak pertama kali masuk SMA dan kini bulan sudah kelas 11 , , Albi laki-laki yang baik pada semua orang, sikapnya yang hangat membuat Bulan sangat menyukainya..
"Ada apa bi, kamu menunggu siapa ?" tanya bulan pada albi "siapa lagi kalau bukan kamu lan, aku belum mengerjakan PR lan, pinjam bukumu dong." Albi memang baik pada semua orang namun pada Bulan, ia hanya baik karena ada maunya. Bulan ya lumayan pintar dikelasnya namun tidak pelit berbagi ilmu. Bulan langsung saja memberikan bukunya untuk Albi tanpa pertimbangan.
Tiba-tiba Rania datang menarik tangan Bulan, "ada apa si Ran, ? kok datang-datang menarik tanganku ? " tanya Bulan . Rania memegang tangan bulan dan berkata "lan jangan sedih ya lan, aku dengar berita pagi ini, ternyata Albi pacaran sama Alya anak kelas sebelah ." Rania yang memang sahabat bulan sejak kelas 10 mengetahui bahwa bulan menyukai Albi. Bulan meneteskan air mata lalu menyekanya " ya udah gapapa ran, kita masuk kelas aja yuk ." lalu mereka pun masuk kelas bersama .
Albi berjalan mendekati Bulan dengan menyodorkan bukunya "ini lan bukumu, terimakasih ya, nanti aku traktir kamu dikantin trus aku antar kamu pulang ya." jawab bulan tidak seperti biasanya "ngga usah bi, aku iklash kok bantuinnya, nanti aku pulang bareng Irfan aja ." sambil celingukan ternyata si Irfan situkang tidur bos berandal sekolah itu belum datang .
"kamu yakin pulang sama Irfan ? Irfan aja belum nongol, biasanya juga kamu pulang sama aku kok sekarang sama Irfan ?" tanya Albi penasaran.
Tiba-tiba Irfan muncul didepan mereka sambil meletakkan tasnya " Tenang aja lan nanti pulang bareng gue aja, udah loe urusin cewe loe aja bi jangan sana sini deh lu kurang asem banget lu, pergi sana loe !" Albi yang mendengar perkataan Irfan langsung pergi dengan rasa takut karena Rahasianya telah terbongkar. Irfan dan bulan memang cukup dekat , sikap Irfan dan bulan memang sangat berbanding terbalik . Irfan si berandal sekolah, pemimpin tawuran sekolah, si tukang bolos dan tukang tidur dikelas namun dibalik itu Irfan bertanggung jawab menjadi tulang punggung keluarganya ia mengurusi bisnis keluarganya sembari sekolah, sehingga Irfan kadang-kadang bolos sekolah . sedangkan Bulan siswi yang rajin dan pintar, ia sering menghabiskan waktunya diperpustakaan untuk membaca.
"maaf ya fan, nanti ngga usah dianterin kerumah, tadi aku cuma alasan biar Albi pergi aja , nanti aq minta jemput ibuk aja." kata Bulan kepada Irfan.
" bukannya kamu suka sama Albi, kok kamu ngga mau dianter dia pulang?" tanya Irfan penasaran.
"Siapa bilang aku suka sama Albi, enggak kok ! lagian dia udah punya pacar." jawab Bulan mengelak.
"Bulan.. Bulan.. aku itu tau semua tentang kamu, ngga usah boong gitu, muka kamu itu ga bisa bohong, ya udah nanti aku anterin pulang, aku mau pergi dulu." sambil terkekeh dan berjalan pergi.
Sekolah hampir selesai namun irfan belum juga kembali kekelas,, " Dasar berandal, ucap Bulan dalam hatinya .
Bel tanda pulang telang dibunyikan, siswa-siswi berhamburan keluar, dan si irfan belum saja kelihatan.
Ternyata Irfan sudah menunggu Bulan diluar sekolah dengan luka memar diwajahnya.
"mana tas ku ? " tanya Irfan .
"tas apa, aku kira kamu pulang , kenapa itu muka kok tambah jelek begitu ? hahaha " ejek bulan.
"udah aku bela-belain jemput malah diketawain, ya udah ayo naik aku antar pulang, nanti biar aku suruh aceng ambil tas ku ." jawab Irfan.
"emang kamu abis ngapain fan ? kok kesekolah cuma naruh tas trus pergi, si Aceng, Danu dan teman-teman kamu juga pada gak ada, Pak Joko guru wali kita sangat marah tadi fan." kata Bulan.
"ya harusnya Pak joko itu bangga sama kita-kita lan, sekolah kita menang tawuran dari sekolah SMA Teladan, aku memang berbakat jadi pemimpin ya lan ." jawab Irfan bangga.
"Astaga fan, kamu itu gak pernah berubah ya, ya udah ayo pulang ." Jawab Bulan sambil membonceng irfan.
Sesampainya dirumah Bulan, Bulan mengajak Irfan mampir kerumahnya untuk mengobati memar diwajah Irfan. Irfan memasuki rumah Bulan untuk pertama kalinya, Irfan bertemu Ibu Bulan dan langsung memperkenalkan diri, mereka saling bercakap-cakap singkat .
"kenapa kok wajahnya nak irfan memar begitu ? apa habis jatuh atau bagaimana nak?" tanya Ibu Bulan.
"tidak apa-apa buk, hanya memar sedikit saja, biasalah buk anak laki-laki hahaha." jawab irfan sambil kebingungan mencari jawaban.
Bulan datang membawa baskom dan air hangat.
"ya udah ibuk tinggal masuk kedalam dulu ya nak."
kata ibu Bulan.
"iya buk silahkan..silahkan." jawab Irfan.
"Fan aku obatin lukamu trus kamu langsung pulang ya." kata Bulan.
"ngga diobatin juga nggapapa lan, hanya luka kecil saja kok." jawab Irfan.
"ya ngga boleh begitu Fan, harus tetap diobati, nanti bisa infeksi, makanya jangan suka berantem malah nyakitin diri sendiri kan, wajahmu jadi memar, jadi tambah jelekk ." kata bulan sambil mengompres memar Irfan .
"pelan-pelan lan ngompresnya, eh emang aku jelek ya lan?" tanya irfan penasaran.
"Jelek kalo berantem, kalau bolos, kalau melakukan hal buruk, kalau engga kayak gitu ya kamu harusnya ngga jelek Fan." jawab bulan.
"trus berarti aku ganteng ya lan harusnya? hahaha." jawab irfan tertawa.
"udah sana pulang, udah mau sore ini." jawab bulan mulai salah tingkah.
" iya ya lan aku pulang, trimkasih ya lan udah diobatin lukaku, kamu baik banget, walaupun aku terkenal anak nakal, tapi kamu tetap mau berteman sama aku bahkan peduli ke aku, andai aku punya pacar kayak kamu lan." kata Irfan.
"ngomong apa si Fan kamu, lagian ini cuma rasa trimakasihku ke kamu karena udah nganterin aku kok, jangan gombal gitu haha setauku banyak cewek-cewek cantik disekolah suka sama kamu kan Fan." jawab bulan sambil tersenyum.
"Tapi aku gak suka sama mereka lan, bagiku kamu lebih cantik dari mereka semua." Jawab Irfan sambil tersenyum.
"Irfan, Gombal mu ngga masuk akal, jelas-jelas aku ini ngga cantik kulit ku aja hitam kok haha." jawab Bulan tertawa.
"Tapi hati kamu cantik lan, sangat cantik." jawab Irfan serius.
" Sudah sore ini Fan, cepat pulang, sana pulang." kata Bulan mengalihkan pembicaraan sambil mendorong Irfan untuk keluar rumahnya dan langsung menutup pintunya.
"Eh bulan, kok main tutup aja pintunya, aku pulang lan." Kata irfan sambil berjalan menuju motornya dan langsung pergi.
Semenjak kejadian itu, Bulan dan Irfan semakin dekat, mereka sering pulang bersama dan belajar bersama, Irfan semakin berubah karena berteman dengan bulan, Irfan mulai mematuhi peraturan sekolah dan tidak pernah bolos sekolah. Irfan menyadari bahwa dia semakin menyukai bulan, Bulan pun merasakan hal sama, namun sahabatnya Rania ternyata menyukai Irfan sudah sejak lama, dan Bulan baru saja mengetahuinya.
Akhirnya, Bulan menjauh pelan-pelan dari Irfan, Irfan pun tidak mengerti kenapa Bulan sedikit berubah dan jadi sering menghindarinya. Hingga suatu hari, Rania menyatakan perasaanya pada Irfan, namun Irfan menolaknya dengan alasan bahwa dia menyukai orang lain. Rania pun menyadari, bahwa orang itu adalah Bulan sahabatnya sendiri. Rania akhrnya menyerah dan mengatakan pada Irfan, bahwa Bulan menjauhinya selama ini untuk menjaga perasaan Rania, Rania sengaja memberi tahu Bulan tentang perasaanya agar dia menjauhi Irfan. Irfan memang disukai banyak perempuan walaupun dia Bos Berandal sekolah tapi Irfan sosok yang bener-benar idaman wanita sekolahnya, selama ini Bulan tidak peduli tentang hal itu karena Bulan memang berniat berteman saja, tapi ternyata sahabatnya sendiripun menyukai Irfan, sehingga terpaksa membuatnya harus menjauh kedua kalinya dari orang yang dia suka untuk orang lain. Irfan yang mengetahui hal tersebut, langsung menemui Bulan, dan mengajak nya ketaman sekolah saat jam istirahat sekolah.
" Ada apa fan mengajakku kesini tiba-tiba? aku ada urusan penting , kalau ngga ada masalah serius aku pergi ya ." kata Bulan pada Irfan di taman sekolah.
"Aku mau ngomong hal penting lan, sangat penting." jawab Irfan.
"Hal penting apa fan? apa ada masalah?" tanya Bulan.
"Ada lan, masalahnya Aku suka sama kamu lan? jangan menghindar dari aku lan" jawab Irfan tanpa rasa malu, padahal ditaman sekolah banyak siswa siswi .
"kamu ngomong apa fan, jangan bercanda lah fan, aku masuk kelas dulu ya ." jawab Bulan berusaha menghindar .
" aku udah tau semua lan, kamu ga perlu menghindar, Rania udah cerita semua sama aku, kamu mau kan jadi pacar aku ? aku bener-bener sayang kamu lan dan ingin menjaga kamu." kata Irfan menahan Bulan dan langsung mengutarakan perasaannya.
"Tapi fan... maaf fan, aku ngga bisa." jawab Bulan sambil menunduk.
"kenapa lan? " tanya Irfan penasaran dengan rasa kecewa.
" Aku belum ingin pacaran fan aku mau fokus belajar dan Rania itu sahabat aku, aku gak mungkin menyakiti dia dengan pacaran sama kamu." jawab Bulan dengan mata berkaca-kaca.
"Baik lan aku mengerti maksudmu dan aku tau kamu, aku akan tetap jaga kamu lan, dan siapapun yang ganggu kamu akan berhadapan sama aku, aku juga akan jaga hati ku buatmu, kamu ga perlu jawab apa-apa lan, aku tau kamu lan, dan kamu gak boleh menolak untuk ini." kata Irfan sambil tersenyum.
Bulan tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Dan akhirnya mereka tetap bersahabat namun saling tau hati mereka dan saling menjaga hati mereka, Rania pun berusaha mengiklaskan Irfan, dan menjalin hubungan dengan orang lain, Rania masih tetap bersahabat dengan Bulan dan mendukung jika Irfan dan Bulan berpacaran, namun Bulan dan Irfan tetap nyaman apabila mereka bersahabat, mereke lebih fokus belajar bersama untuk melanjutkan pendidikan mereka selanjutnya ditingkat perguruan tinggi.