Duduk di kursi tepian sungai itu. Ya, itu aku, Radit. Waktu itu aku menunggu seseorang yang dengan penuh semangat ia memaksa ku untuk mengantar dirinya di sebuah cafe di dekat taman.
"Din, tolong anterin gua ke taman sekarang. Doi ngajak gua ketemuan!" Seru nya penuh semangat waktu itu.
"Kok, gua lagi? Lha emang dia gak jemput?" Aku berusaha menolak.
"Dia bilang mampir habis kerja. Ayo buruan!"
Karena sebuah alasan, aku menuruti begitu saja dan dia meminta ku untuk duduk di sana hingga 2 jam. Sampai saat dia kembali, semua dalam pikiran ku kacau.
"Bagaimana hasilnya?" Aku yang penasaran menatapnya tajam berlari kencang dari kejauhan.
Itu semua diawali saat seorang anak laki-laki yang suka pada teman gadis nya.
Mungkin diusia yang masih tujuh tahun, tidak ada perasaan yang bisa dikatakan bohong. Aku benar-benar menyukai Dian. Gadis kecil yang tinggal bersebelahan rumah denganku dan menghabiskan waktu ku lebih dari 10 jam setiap harinya sejak kecil.
Saat kami beranjak remaja, layaknya seorang anak remaja pada umumnya, banyak anak seumuran kami yang sudah berpacaran. Mungkin itu yang sudah aku pikirkan, mengungkapkan perasaan ini yang sudah mengambang selama 10 tahun terakhir.
Namun, aku rasa waktu terlalu cepat untuk bisa aku imbangi.
"Dit, ada orang yang lo suka, gak?" Ucapnya di depan meja makan kantin saat istirahat.
"Hmm?" Aku yang terkejut mengangkat kepala, bodoh.
"Ih! Ku bilang, apa ada cewe yang kau suka?" Lanjutnya berisik dan mendekatkan wajah padaku.
"Ya... aku rasa tidak." Jawab ku memincingkan mata.
"Apa kau kenal Febri, kakak dari kelas dua belas bahasa?" Ia berbicara tampak penuh semangat.
Entah apa yang terjadi, aku terdiam sesaat dan kurasa kebohonganku itu akan berakibat buruk pada diriku sendiri.
"Ya, kurasa dia cukup terkenal. Jadi?" Aku yang masih belum paham.
"Apa kau mau membantuku mendekatinya? Aku rasa aku..." kalimat terakhirnya menampakkan wajah seorang gadis yang tersipu.
"Lho...? Kok gini?" Batinku yang tersadar.
Untuk pertama kalinya seumur hidup. Rasanya dada kiri ini nyeri dan sesak menjalar keseluruh tubuhku, saat itu juga.
Aku bertanya-tanya, ini penyakit apa. Namun akhirnya aku mengerti alasan paling tidak masuk akal bagi siapapun.
Dalam diam yang begitu lama, aku hanya tersenyum setiap kali dia menceritakan pria yang begitu dia sukai. Sampai tidak sadar itu berlalu hingga kelulusan kami.
Kami bekerja sampingan sambil kuliah dan masuk di universitas yang sama dengan pria itu. Entah kenapa pria itu tidak juga kunjung memiliki pacar atau apapun sejenisnya, rasanya itu seperti sebuah kesempatan besar untuk Dian.
Saat semua berakhir, senja menyinari sore hari saat aku duduk penuh rasa cemas di bangku itu.
Hati kecilku seperti diremas hancur dan pikiran ku kacau kemana-mana. Penuh pertanyaan apa yang akan terjadi setelah ini berakhir.
"Apa dia akan mengungkapkannya, dan aku akan di tinggal sendirian?
Apa dia akan pergi bersama dengan pria itu dan meninggalkan ku?"
Sampai pemikiran terakhir muncul dalam benak ini.
"Kalau dia pergi, bukannya tidak ada masalah? Benar, kan? Dian pasti akan bahagia dengan orang yang dia cintai.
Aku akan baik-baik saja. Itu pasti."
Setelah 2 jam aku menunggu, sampailah ia di kejauhan dan berlari dengan kencang ke arah ku.
Aku yang hanya tertunduk menatap ragu dirinya yang begitu kencang berlari.
Semakin tinggi aku mengangkat wajah dan berusaha melihat kenyataan. Senyuman lebar, begitu lebar tergores di bibirnya sambil terus berlari tanpa henti.
Namun, tidak hanya Senyuman yang aku lihat dari wajahnya waktu itu.
Air mata yang mengalir panjang, jauh lebih panjang dari senyumannya itu, berakhir membasahi jaket parasit yang aku kenakan.
"Dian! Ka-- kau kenapa?" Bibirku berbicara dengan sendirinya.
"Dia sudah di jodohin, Dit... dia-- dia bilang udah gak mau lagi sama gua... dia bakal pergi sama calonnya..." Dia menangis tersedu-sedu dalam pelukan ku.
Saat itu, aku tidak tau apa aku harus ikut sedih karena kesedihannya, atau aku harus bahagia juga karena kesedihannya.
Tidak ada jawaban yang bisa ku ambil, bahkan sampai saat ini.
Dian melahirkan seorang anak perempuan yang sama manisnya dengan dirinya. Setiap hari anak itu bermain bersama dengan anak putra kakak ku yang berusia 2 tahun lebih tua.
Dan aku? Aku belum menikah, aku merantau jauh dan hanya mendengar putrinya yang bernama Selly, bahkan sampai sekarang. Setiap kali aku mengingatnya, tidak pernah sekalipun aku merasa baik-baik saja.