Rezeki Tidak Salah Orang
Aku seorang guru honor, tempat mengajarku dekat dengan rumah. Saat itu aku baru melahirkan anak pertama yang berusia 4 bulan. Lamaran CPNS dibuka, aku dan teman-temanku mencoba mengikutinya, aku mencoba mengikuti CPNS Kemenag tapi yang dibutuhkan hanya satu orang. Niat awal aku mengikuti tes tersebut hanya untuk mengetahui soal-soal CPNS karena Depdikbud akan buka CPNS juga. Salah srorang temanku mengatakan kepadaku" kamu terlalu percaya diri mengikuti tes CPNS, yang diterima cuma satu, itu jatah orang dalam " ujarnya. Ada rasa kecil hati tapi aku tetap mengikutinya. Teman setiaku yang bernama Adah menemaniku mengantarkan lamaranku dan dia juga melamar dengan jurusan yg sama yang kami ambil. Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, kami pun mengikutinya. Semua perlengkapan yg kami bawa dikumpulkan, hanya seperangkat pena yg boleh dibawa ke dalam ruangan. Saya duduk di depan. Saat itu teringat orang tuaku yang sudah tua, dalam hatiku , aku ingin sekali mengangkat derajat orang tuaku, karena belum ada anaknya yang lulus pns. Aku igin sekali membuat orang tuaku bahagia, ada anaknya yang lulus pns. Aku mencoba mengerjakan soal-soal dengan teliti hingga selesai soal tersebut ku kerjakan. Setelah semua peserta ujian keluar, aku meminta soalnya kepada panitia untuk ku bahas di rumah, tapi dengan kasar pengawas itu menjawab " bawa saja milikmu jangan membawa yang bukan milik Anda". Ujar pengawas tersebut. Jelas saja aku sakit hati dan berkata dalam hati, " entah samanya nasib kita nanti, saya juga bisa pns seperti Anda", saya pun pulang bersama Adah.
Di tengah perjalanan saya ditelepon oleh teman mengajar saya, " bagaimana ujian tadi? Susah atau gampang? Saya sambil bercanda saya jawab kalau soalnya mudah sekali, kayaknya saya lulus cpns deh", ujar saya. Kami pun tertawa-tawa. Benar kata orang tua, berbicaralah yang bagus-bagus karena ucapan itu adalah doa. Hari yang tunggu-tungu pun tiba, pengumuman cpns . Hati kecilku berbicara kalau aku lulus tapi aku merasa tidak percaya diri untuk melihat pengumuman teringat ucapan temanku. Aku memutuskan tidak mau melihat pengumuman, sementara temanku yg bernama Yuyud sangat semangat untuk melihat penguman karena dia wisuwan terbaik di jurusannya. Di pagi hari saat itu pengumuman, aku hanya bilang kepada suami, " Hari ini pengumuman bang, kalau mau lihat pengumuman lihatlah, aku yidak mau melihat pengumuman itu" suamiku pun berangkat kerja yaitu berjualan jelontong di pajak. pagi itu aku les mengajarku kosong jadi aku menyetrika pakaian di rumah, karena penghasilan kami kecil, semua pekerjaan rumah, aku yang membereskannya. Ternyata Kepala sekolah dan teman kerjaku menelepon aku tapi aku tidak mendengar suara telepon, karena rumahku dekat dengan sekolah, temanku datang untuk memberitahu kalau aku lulus ujian CPNS, aku tidak percaya namun temanku katakan kalau kamu tidak percaya, kamu langsung saja ke kantor Kemenag. Ternyata suamiku dan abang iparku melihat pengumuman di koran kalau namaku dan nomor ujianku tertera. Aku mengucapkan Alhamdulillah ya Allah, Aku yang tidak pintar, tidak punya deking, tidak punya uang tapi aku bisa lulus murni tanpa uang, Alhamdulillah, kalau Allah berkehendak semua bisa terjadi, Kun Faya kun, maka jadilah.
Aku hanya menerapkan patuh pada orang tua dan selalu rendah hati ( tidak boleh sombong).