Sepulang sekolah di tiap sorenya. Pulang menuju rumah dengan kereta yang melaju kencang. Langit jingga serta gedung perkotaan menjadi latar di saat berada di dalam kereta. Duduk sambil memandang ke bawah dalam alunan musik yang terdengar melalui sepasang headset. Seragam ini sudah terkena keringat selama beraktivitas dari pagi hingga sore.
Sembari dalam perjalanan pulang, Nia terpikirkan akan seseorang yang selalu ada dalam benaknya. Dia adalah orang yang selalu di idamkan. Laki-laki sebaya yang juga merupakan teman sekelasnya. Rasa suka sudah ada sejak lama. Namun dirinya sulit untuk mengungkapkan. Lantaran Nia adalah anak pemalu.
Kereta sudah setengah perjalanan. Nia masih memikirkan laki-laki itu sambil menunduk. Lalu perlahan matanya terpejam karena rasa kantuk yang datang secara tiba-tiba. Rasa kantuk yang baru saja dirasakan itu, seketika hilang seiring dengan tersentaknya Nia.
Melihat ke sebelah dan membuka mata secara lebar. Nia melihat seseorang sudah berada di dekatnya. Lebih tepatnya pada bahunya. Seorang laki-laki berseragam sekolah yang sama dengannya sedang menyandarkan kepalanya di bahu Nia. Coba untuk melihat ke arah wajahnya, dan akhirnya ia tahu. Ternyata laki-laki itu adalah orang yang di idamkannya selama ini.
Momen setengah perjalanan menuju stasiun pemberhentian dinikmati oleh Nia dengan berduaan bersama lelaki yang di sukainya. Ini momen yang tak terduga. Tetap diam dan jaga sikap agar tidak ketahuan akan perasaannya. Hingga kereta berhenti, Nia pun membangunkan laki-laki tersebut dan segera pergi.
Nia berhasil menahan debaran hati yang sedari tadi terguncang karena kehadiran dia. Walau begitu tetap saja Nia tidak mampu mengungkapkan perasaannya yang terpendam selama ini.
Mencintai dalam diam adalah pilihan dari seorang Nia yang sangat memiliki pemalu ini.
-----SELESAI-----