Namaku Liana,gadis biasa yang selalu terlihat murung,tak punya teman ataupun keluarga,bukan tak punya,tetapi aku merasa mereka tidak tepat bila disebut keluarga.
.
.
.
Sore itu aku berjalan di tengah gerimis menuju rumahku,berjalan pulang dari sekolah,sendirian seperti biasanya,menghanyutkan rasa letihku setelah duduk seharian.
Tak seperti biasanya ketika hanya kepala dan jemariku yang letih,kali ini aku merasakan rasa sakit di punggungku,rasanya sangat berat dan sakit seperti baru saja dipukuli,namun tidak ada yang memukulku hari ini,apakah ini efek ketika seseorang mulai menua?
Aku berjalan cepat agar segera sampai ke rumah,rasanya ingin sekali segera berbaring karena tubuhku terasa berat,dan setelah beberapa lama akhirnya aku sampai di depan rumah besar dengan pagar besi berwarna hitam itu.
Setelah masuk ke halaman,aku berjalan gontai menuju pintu,tanganku memegang gagang pintu yang terasa dingin dan segera memutarnya,tak seperti biasanya pintu ini terasa lebih berat saat ku dorong,mungkin karena aku terlalu letih hari ini.
Saat aku membuka pintu,aku menginginkan tempat yang sepi agar aku dapat segera menuju kamar dan beristirahat,namun jauh dari bayanganku,di balik pintu yang langsung menuju ke ruang tamu itu,telah berdiri sesosok wanita dengan gaun berwarna biru muda setinggi lutut,mata cokelatnya memandangku dengan kedua tangan dilipat didepan dada.
"Baru pulang? Kemana aja?" tanya ibu tiriku seolah sedang menginterogasi pembantu yang ketahuan mencuri.
"Baru pulang dari sekolah,ada jam tambahan" jawabku yang langsung berjalan melewatinya.
"Enak aja mau kemana? Karena kamu yang belum mandi,sana cuci piring,sekalian peralatan masaknya,jangan lupa lantainya disapu,mainannya Brian juga beresin,mama mau keluar" ucapnya sambil menahan tanganku.
"Mau kemana hujan hujan gini?" tanyaku dengan tatapan penuh curiga.
"Mau ngurusin urusan mama?" bentaknya mulai marah dengan hal kecil.
Aku tak memperdulikannya lagi,aku melempar sembarang tas ku di sofa dan langsung berjalan menuju ke dapur,melaksanakan perintah yang mulia satu persatu,karena jika aku tidak segera melaksanakannya maka dia akan mengadu ke pada ayah dan menyebutku pemalas,dan yang lebih membuatku kesal,ayah lebih percaya dengan ucapan istri barunya ketimbang memperdulikan anak kandungnya yang letih setelah pulang dari sekolah.
Dengan sangat berat,aku memaksa menggerakkan tubuhku untuk tetap bekerja,namun rasa sakit di bagian belakang tubuhku semakin menjadi,karena tak tahan aku menghentikan kegiatanku dan menuju ke kamar.
Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur,memejamkan mata sambil menarik rambutku sendiri,sungguh ini rasa yang sangat menyakitkan,apakah ini rasanya ketika orang akan menemui ajalnya?...sungguh aku belum siap untuk mati,ah..tidak mungkin aku sudah siap,lebih baik aku segera menemui ibu daripada terus hidup di tempat ini.
.
.
.
Aku membuka mataku,kelihatannya aku tertidur,aku merasakan tanganku tertindih tubuhku sendiri,sakit...seperti tertekuk namun kearah yang salah,rasanya sakit dan juga kesemutan.
Aku berusaha menarik tanganku dan sedikit mengibaskannya,namun rasa tertindih itu tidak hilang,jika bukan tanganku lalu apa?...apakah tanganku lebih dari dua?
Aku membangunkan tubuhku,segera berdiri dan melihat ke arah ranjangku,apakah aku menindih sesuatu?
PRANG!!!!
Lampu tidurku terjatuh dan pecah,mungkin aku tak sengaja menjatuhkannya,aku segera mengalihkan pandanganku ke arah lampu tidur itu,namun hal yang tak terduga pun terjadi,semua benda di belakangku berjatuhan,buku buku di meja belajar,boneka,dan beberapa vas bunga berjatuhan dan menimbulkan suara yang sangat bising.
"Apa yang terjadi? Apa yang ku lahkukan?"
Aku merasa panik saat benda benda itu berjatuhan,menoleh kesana kemari melihat keributan yang terjadi,dan saat aku sedang melihat ke sekeliling,aku terkejut saat melihat cermin di lemariku.
Aku melihat diriku,dengan benda putih di belakangku,aku mencoba memastikannya,mencoba meraba punggungku,aku berharap itu tidak benar,namun aku merasakannya ketika merabanya,apa ini!?...aku punya sayap?...tidak mungkin!!!
Aku merasa panik atas apa yang terjadi pada diriku,mungkin sebagian orang akan merasa senang ketika memiliki sayap,dan memikirkan hal yang menyenangkan yang akan mereka lahkukan dengan sayap,tapi tidak denganku,aku merasa panik,dan memikirkan apa yang akan terjadi padaku nanti,apa yang akan dipikirkan orang orang disekitarku tentangku,mereka akan menyebutku iblis dan memajang diriku serta sayap sialan ini di tengah kota.
Aku tak tau apa yang harus kulahkukan,di tengah kekacauan di dalam kamar aku terdiam,menatap cermin yang memantulkan bayanganku yang telah menjadi manusia aneh yang memiliki sayap.
"Liana!! Tadi mama suruh apa? Malah tidur!!"
Lamunanku terpecah ketika mendengar teriakan itu dari lantai bawah,seketika jantungku berhenti namun dengan cepat berdetak dengan sangat cepat,aku sangat panik,apa yang akan dia lahkukan ketika melihat kamarku berantakan,dan terlebih lagi,dengan benda putih berbulu di punggungku ini,apakah dia akan menjualku!?
Ditengah kepanikan itu aku merasakan angin dingin masuk dari jendela kamarku,daun jendela itu terbuka dengan sendirinya memunculkan jari lentik berkulit putih,disusul tubuh tinggi yang tanpa permisi masuk ke dalam kamarku.
"Si..siapa kau!?" tanyaku semakin panik.
"Hai Lian,aku Ken...mari ikut bersamaku ke tempat seharusnya kau berada"
Kata itu..terucap lembut dari bibir Cherry pria tampan berkulit putih yang masuk ke kamarku bak seorang pencuri itu,dia membungkukkan badanya dan mempersilahkanku untuk meraih tangannya,pria itu membungkuk sopan memperlihatkan sepasang sayap indah berwarna putih di punggungnya.
"A..apa kau malaikat? Apa aku sudah mati?"
Dia berdiri di hadapanku,dan menampakan tubuh atletis yang lebih tinggi dariku,dia terkekeh mendengar pertanyaanku.
Seketika aku teringat kemudian aku menoleh ke belakangku dan melihat sayap milikku,sama..ini sama... dia juga memiliki sayap yang sama,apakah dia juga mengalami yang aku alami?
"Ayo ikut denganku" ucapnya sambil meraih tanganku.
"Kemana? Aku tidak bersedia!" bentakku sambil menarik tanganku dengan cepat.
"Liana!!" ibu tiriku mengacukan pembicaraanku dan Ken,aku kembali panik ketika mendengar langkahnya menaiki tangga menuju ke kamarku.
"Tidak bersedia? Apakah kau ingin tetap hidup di tempat seperti ini? Tempat yang tidak kau sukai? Terlebih lagi dengan sayapmu itu,kau akan dijadikan sebuah pameran" ucapnya melirik ke arah pintu.
"Ta...tapi kemana kita akan pergi?"
"Ke dunia atas" ucapnya singkat.
"Ke akhirat!? Aku benar benar mati!?" ucapku terkejut.
"Konyol...dunia atas adalah dunia bagi peri seperti kita,berada di atas awan,melayang dan tersembunyi,agar manusia tidak bisa menemukannya walau dengan radar atau roket sekalipun" jelasnya.
"Peri! Kau peri? Aku peri? Bagaimana mungkin aku menjadi peri,aku tidak baru saja disambar pertir atau tersiram zat kimia,bagaimana mungkin aku menjadi peri"
"Ibumu seorang peri,jadi melahiran peri cantik seperti dirimu"
"Ibuku? Peri? Tidak mungkin!" ucapku sangat tidak yakin.
"Ya ibumu adalah peri,dia rela memotong sayapnya demi bersama dengan ayahmu,dan karena memotong sayapnya dia tidak berumur panjang"
"Jadi karena itu ibuku meninggal" gumamku.
Aku masih tidak mengerti,namun aku tidak mempermasalahkannya,karena aku juga sudah muak dengan dunia yang ini,dan setelah dia mengajakku untuk kedua kalinya aku pun menyetujuinya.
"Bagaimana kita akan kesana?"
"Tentu saja terbang,kan kita punya sayap"
"Tapi..walau punya sayap,tetapi aku tidak bisa terbang"
"Aku yang akan membawamu terbang,dan juga mengajarimu terbang" ucapnya sambil memberikan tangannya.
"Ayo..sebelum dia sampai di ruangan ini" ucapnya ketika mendengar langkah ibu tiriku semakin dekat.
Aku cepat cepat meraih tangannya sebelum ibu tiriku membuka pintu dan melihat dua makhluk yang memiliki sayap berada di ruangan ini,dia menuntunku keluar dari jendela,dia mengepakkan sayapnya dan terlihat melayang di luar jendela kamarku.
"Ayo..." Ucapnya untuk kesekian kali.
Sebelum ibu tiriku sampai,dia menggendongku dan membawaku terbang,ini membuatku sangat gugup,gugup karena terbang tanpa pengaman dan juga gugup karena dipeluk seorang lelaki tampan.
Kami terbang melewati gedung gedung tinggi dan terbang semakin ke atas,mungkin sekarang ibu tiriku sudah masuk ke dalam kamar dan melihat ruangan itu berantakan,namun dia tidak akan bisa memarahiku.Ya...karena aku tidak ada disana.
"Kau takut terbang?" tanyanya.
"Ti...tidak!"
"Jantungmu berdetak cukup kencang,aku sampai bisa merasakannya...aku takut dia akan lepas dari tempatnya" ucapnya membuat lelucon yang sama sekali tidak lucu.
Aku segara membatasi tubuhku dan tubuhnya dengan telapak tangan,tidak tau saja bukan karena takut,jantungku berdetak kencang karena kau,sialan kenapa aku tidak bisa terbang sendiri.
"Kita sudah sampai" ucapnya setelah sekian lama kami terbang dengan canggung tanpa obrolan.
"Disini sudah pagi?" tanyaku heran,bukannya tadi masih gelap?
"Bukannya memang seharusnya sudah pagi,tadi masih gelap karena matahari belum muncul,dan sekarang matahari sudah muncul"
Ternyata begitu,memang seharusnya sudah pagi...
Aku merasa kagum ketika melihat dunia yang dia bicarakan tadi,yang kubayangkan adalah dunia yang seperti di dalam dongeng,namun kenyataanya agak berbeda,ini seperti dunia manusia bisa namun sangat rapi,rumah rumah berbentuk sama itu tertata rapi,dengan warna warni berbeda yang menjadi pembedanya,tidak ada jalan semen atau beton,jalan jalan tersusun rapi dari batu batu oval yang halus.
Aku melihat banyak orang disana,ada yang membawa keranjang penuh buah,ada yang menggendong anak kecil bersayap,semuanya memiliki sayap,mereka saling tersenyum dan terlihat bahagia,tidak ada kerusuhan,semuanya damai,seperti dunia mimpi.
"Kenapa?" tanya Ken mengejutkanku.
"Ah..ti..tidak"
"Kau tidak ingin turun? Apakah kau suka terbang" tanyanya yang membuatku tersadar kami telah sampai dipermukaan.
"Oh ahh..iya" ucapku gugup dan langsung melompat turun.
"Disini banyak orang,kenapa kau yang menjemputku? Apakah hanya kau yang tidak punya pekerjaan,jadi diminta membawaku kesini?"
"Konyol sekali..aku diperintah membawamu kesini bukan karena aku tidak memiliki pekerjaan,tapi karena aku adalah pasanganmu"
"Beruntung sekali pasanganku ada di dunia manusia,aku jadi bisa berkunjung kesana" ucapnya tersenyum.
"Hah!? Apa? pasangan?" ucapku terkejut.
"Ya...setiap peri telah ditakdirkan memiliki pasangan,sayap setiap pasangan sama...dan bisa merasakan satu sama lain,sayapku tiba tiba menemukan pasangannya..jadi aku segera mencarinya" jelasnya.
Ternyata begitu,syukurlah dia datang sangat cepat,jadi tidak ada yang melihatku dengan sayap ini,dan jika diperhatikan mereka semua memang memiliki sayap yang berbeda,dari warna dan bentuknya semuanya berbeda,mungkin memang sayap menentukan pasangannya.
"Selamat datang Liana,kudengar Ken menemukan pasangannya..." ucap seseorang berparas cantik dengan sayap emas,dia membawa karangan bunga berwarna putih dan meletakkannya di kepalaku dan Ken secara bergantian.
"Ini Ratu Elenor,pemimpin dunia atas" ucap Ken.
"Selamat datang" ucap Ratu Elenor ramah sambil membungkukkan badannya,ratu ini sangat rendah hati...
Aku membalas salamnya dengan membungkukkan badanku,Ratu Elenor menjelaskan semuanya kepadaku,Ken terus menemaniku saat Ratu mengajakku berkeliling.
Setelah beberapa lama,aku terbiasa hidup didunia baru ini,hidup dengan pasangan periku,Ken mengajariku terbang dan mengajariku beberapa hal tentang peri dan dunia atas,semuanya berjalan lancar hingga aku bisa melupakan dunia lamaku.
.
.
.
Karena sebuah sayap yang tiba tiba muncul,aku bertemu dengan peri tampan yang membawaku pergi dari kehidupan lamaku,menunjukkan siapa jati diriku dan darimana asalku,kini aku hidup bersama dengannya di dunia dongeng,dunia yang indah dan sangat damai... seperti yang ku impikan ketika aku masih kecil.
---TAMAT---