Namaku Karina namun banyak yang memanggilku Nana. Yah, karena indah nama panggilannya. Aku memiliki seorang pacar yang bernama Reza.
Reza memelukku dengan erat karena dia rindu denganku. Dia mencium bibirku sekilas dan beranjak pergi. Dia memang suka menciumiku tanpa permisi.
"Kamu mau kemana?"tanyaku sambil ikut berdiri. Ada sesuatu yang dipikirkannya.
Reza berbalik badan dan tersenyum manis. Seketika aura ketampanannya semakin bertambah. "Aku mau ke sebuah tempat. Kamu bergabunglah dengan teman-teman. Sampai jumpa!!"
Reza melambaikan tangannya dan naik ke motor sport. Melajukan dengan kecepatan tinggi membuatku ingin memarahinya.
"Reza, kamu jangan ngebut dong. Ish, awas kamu kalau ketemu aku lagi. " Ancamku. Berjalan menuju kearah teman-teman yang berada tidak jauh dari jangkauan.
"Nana, pacar lo mau kemana?"tanya Adit salah satu temanku yang dekat dengan Reza.
Aku duduk di samping Elina sambil menyeruput minumannya. Aku kesal karena pacarku sendiri. Dia kadang menyenangkan kadang pula mengesalkan.
"Nggak tahu. Eli, pulang yuk!?"
Elina mengernyitkan dahinya bingung. Padahal dia baru saja duduk di kursi. Masa pulang ke rumah secepat ini. "Sini dulu. Na, gue kok curiga sama pacar lo. "
Aku menoleh kearahnya dan tidak mengerti ucapannya. Dia menghela nafas dengan kasar. Entah apa maksud yang diucapkannya. Membuatku bertanya-tanya saja.
"Reza, sering banget izin pulang. Juga sering bawa pisau atau.. apa gitu. Kalau nggak percaya, coba cek tasnya, " Ucap Elina diangguki Adit dan Wildan.
"Pisau? Gue akan coba cari tahu. " Aku lagi-lagi minum minuman milik Elina.
"Kesel ya kesel. Tapi nggak usah minum punya gue lah!?"kata Elina dengan nada yang sedikit meninggi.
***
Keesokan harinya, aku melihat Reza berkumpul dengan teman-temannya. Yah, inilah kesempatanku untuk mencari tahu apa isi tasnya. Kebetulan kelas juga lagi sepi.
Srek
Buku-buku, pulpen, HP dan ada sebuah kantong plastik. Aku langsung curiga begitu melihat kantong plastik tersebut. Seperti ada sesuatu di dalamnya.
Mataku melebar ketika melihat pisau tajam dengan sebuah cairan yang berwarna merah. Dan cairan tersebut adalah darah manusia atau hewan.
"Aku kenyang banget!!"ucap teman sekelas ku.
Aku langsung menutup kembali kantong plastik tersebut. Kubuat tas Reza seperti semula. Lalu menidurkan kepala menghadap ke tembok.
"Na, gak istirahat?"tanya salah temanku. Dia tidak terlalu dekat denganku.
"Eng.. enggak. Eh, iya gue mau istirahat. " Bergegas keluar kelas menuju ke kantin. Mereka tidak mencurigaiku kan? tanyaku dalam hati.
***
Aku melihat Reza dengan sebuah kantong plastik. Dia sedang menuju ke sebuah rumah kosong yang beberapa hari tidak ada yang menghuni.
Ku ikuti langkah kaki lebar Reza dan sampai kulihat beberapa orang yang sedang diikat dengan tali. Bahkan banyak luka lebam di wajah dan tubuh lainnya.
"KALIAN HARUS DIBERI PELAJARAN!!" kata Reza dengan emosi yang memuncak. Dia menusukkan pisau kepada semua orang yang diikat.
Nana terkejut sambil menutup mulutnya dengan rapat. Dia tidak percaya kalau pacarnya itu seorang pyschopat. Reza, kenapa kamu lakuin itu? tanyaku dalam hati. Aku menggeleng kepala cepat.
Tes..tes..
Darah mengalir begitu deras di tubuh dua orang tersebut. Mereka berdua mendapatkan luka yang amat dalam. Keduanya mati karena kehabisan darah.
"Reza!?"panggilku dengan berani.
Reza menoleh ke arahku dan otomatis melepaskan pisau yang ada di tangannya. Dia menggeleng kepala tidak percaya. "Nana, maafkan aku. "
"Apa? Maaf? " Tangisku pecah karena tidak kuasa menahan air mata. "Kamu pikir aku suka melihatmu membunuh orang? KAMU BRENGSEK.!!"
Aku hendak berlari namun Reza memelukku erat. Berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Reza. Namun pelukan itu malah semakin kuat.
"Maafkan aku telah berbuat menjadi seperti ini. Aku hanya ingin memberi mereka pelajaran karena telah membunuh ayahmu. " katanya yang kudengar samar.
***
Aku membuka kedua mata sambil mencari tahu dimana sekarang. Kulihat lukisan yang kukenali milik Reza. "Reza, kamu berengsek. "
"Nana, aku tidak berniat melakukannya. Tolong, maafkan aku telah membunuh mereka. "
"Tidak akan pernah. Mulai sekarang kita putus saja!!"kataku dengan pasrah.
"Tapi bagaimana dengan mamamu?"tanya Reza membuat terdiam sejenak.
Mama menyuruhku untuk menikah dengan Reza. Begitu juga dengan pesan terakhir papa untukku. Walaupun aku sakit hati dengan Reza, aku tidak bisa memutusnya.
"Aku tidak akan putus denganmu. Asalkan kamu mengabulkan permintaanku"pintaku.
"Oke aku kabulkan. Apa yang kamu minta?"
"Aku ingin kamu berhenti membunuh orang. "
Reza memelukku erat dan mencium puncak rambut panjang ku. Dia begitu menyayangi dan mencintaiku. Kami adalah pasangan yang sempurna.
"Aku berjanji padamu!!"kata Reza. Maaf, aku tidak bisa melakukannya batin Reza yang merasa bersalah. Hal ini terjadi karena semasa kecilnya dulu.