"Berhenti..!" teriak seseorang dari kejauhan. Suara itu mulai lenyap dalam sepinya lorong ini. Seakan-akan kau akan segera menghilang dari dunia ini. Pandangan ku mulai gelap, pendengaran mulai tidak jelas lagi, dan tenaga ku mulai lemas setelah masuk pintu ini.
*********
"Hahaha.. apa kalian percaya dengan cerita lorong waktu?" tanya Bronis pada kami. Kami hanya tersenyum akan ucapan itu. Seakan-akan cerita itu hanya sebuah olok-olokan.
Aku :"Lorong waktu? hm.. gak mungkin ada kayak gitu," ucapku tak percaya.
Raka :"Iya, gak ada. Kalo dalam novel ada," jawabnya sambil menggoda Bronis.
Namaku Lepan, aku masih berusia belasan tahun. Aku sering bercerita hal-hal yang aneh dengan teman-temanku. Kami bertiga teman sepermainan, tapi masih ada si Astu yang lagi pergi ke rumah neneknya.
Bronis :"Kalo ada kisah yang nyata apa kalian masih gak percaya?" tanyanya kembali.
Raka :"Memang beneran ada ceritanya?" wajah masih tak percaya.
Bronis :"Ada," ucapnya.
Aku :"Coba ceritakan dulu." ucapku.
Dia pun bercerita tentang seorang anak yang menghilang setelah masuk ke sebuah rumah kosong. Dirumah itu ada lorong menuju pintu paling dalam dan dia pun menghilang setelah masuk pintu itu. Pintu kokoh yang tak ada yang tau dibaliknya ada apa.
Cerita yang dibilang Bronis mulai membuat kami kembali berpikir. Terasa nyata sekali yang dituturkan oleh Bronis.
"Bagaimana ceritanya? seremkan." ucap Bronis. "Ya seakan-akan lorong itu menelan bocah itu," ucap Raka.
Aku hanya diam saja sambil berpikir, benarkah ada lorong waktu? apa itu cuma cerita buatan saja.
"Gimana kita ke rumah kosong yang disamping sekolah aja besok?" usulku. Mereka saling memandang dan mulai diskusi. "Baik lah, sampai besok" ucap Bronis dan Raka juga setuju.
Hari ini kami akan ke rumah kosong sebelah sokolah kami.
"Sudah sampai, ayo masuk. Tapi siapa yang duluan?" ucap Bronis sambil memasang wajah kawatir.
"Aku aja dah, takut dah kau ya," ucap Raka sambil maju duluan.
"Kamu paling belakang aja," ucapku memberitahu Bronis.
Krett!!
"Permisi," ucap Raka habis buka pintu. "Ih.. serem amat sih rumah. Kotor lagi tak ada yang nyapu." kata Bronis yang mulai gak jelas. "Dah nyapu aja dulu biar bersih Nis," ucapku menggodannya.
Kami masuk ke dalam ruangan. Keadaan panas, bau tak enak, sedikit gelap, dan kotor yang pasti. Pojok ada 1 pintu yang sedikit aneh dan membuat kami tak berani mendekat.
"Itu ruangan apa ya?" ucapku. "Itu Lorong hantu gak sih? serem dah," si takut kumat lagi (Bronis).
"Kalo takut jangan dibuka dah," Raka dengan wajah biasa aja.
"Dah diam aja aku aja kesana, oke." ucapku sambil berjalan mendekat.
Semakin ke dalam semakin bau pengap yang tercium. Membuat hidungku susah bernafas. Yang lain masih dibelakang melihatku.
"Aku masuk dulu ya, permisi," ucapku sambil membuka pintu.
krett!
Deg Deg Deg!
Detak jantung ku seketika mendebar. Keseimbangan tubuhku mulai goyah. Sesuatu yang membuat diriku terkejut setelah membuka pintu. Yang lain melihat ku sempoyongan.
"Kenapa Lepan?" suara yang tidak tau siapa yang bicara. Pandangan mulai gelap dan pendengaran ku mulai hilang.
"Apa aku akan menghilang?" batinku.
Bgrug!
Bersambung.