Pukul 22:00
Di tengah kamarku yang diterangi oleh lampu yang agak redup karena hampir rusak, aku sedang melakukan suatu hal, yaitu membuat salah satu karakter game favoritku menjadi hidup!
'Apa? Kamu tidak sedang bergurau kan?' Pasti itulah pertanyaan pertama yang ada di dalam benak kalian.
Itu yang tak kalian tahu selama ini, satu-satunya teman sekolahku memberikan salah satu mesin penemuannya yang bertahun-tahun ia rahasiakan kepada dunia padaku, mesin untuk membuat karakter game menjadi hidup, demi menghibur diriku yang direndahkan...
Sebenarnya aku adalah salah satu korban bully di kelas, juga temanku yang memberikan mesin tersebut padaku. Kami berdua dibully karena... ah tidak tidak, aku tidak mau membahasnya, itu justru akan membuat hatiku sakit sebab aku akan semakin teringat kembali dengan kejadian ketika aku dibully, dan membuat jalan cerita yang aku arungi saat ini semakin buruk, biarlah ini jadi rahasia.
Saat ini, aku segera membuat salah satu karakter game favoritku menjadi hidup, dengan harapan ia dapat langsung mengusir berbagai hal menyakitkan dalam hidupku.
Aku benar-benar tak kuat atas rasa sakit yang terus saja menghantui aku.
Tapi aku takkan mengakhiri hidup begitu saja.
Aku menghubungkan HP milikku ke mesin itu. Setelah itu aku langsung mengirim foto karakter game favoritku yang telah aku screenshot ke mesin itu. Selesai!
Sebuah sinar putih muncul 1 detik kemudian, hampir menerangi seluruh kamarku. Mesin itu bergetar hebat, memproses.
5 menit kemudian, sinar putih itu meluncurkan karakter game favoritku itu. Entah bagaimana cara mendeskripsikan kegembiraan aku saat itu. Intinya aku begitu gembira hingga melupakan hal-hal menyedihkan dan menyakitkan yang ada dalam diriku.
Ia hadir di sini...
Ia benar-benar hadir
Ia... penghibur aku, telah hadir
Tepat di depanku
Bersiaplah 'tuk menghalangi
Rasa sedih dan sakit
Dalam tiap jahitan demi jahitan
"Seseorang memanggil untuk 'LONJAKAN'?" Suara robot terdengar nyaring di depanku.
⭐⭐⭐
Beberapa hari yang lalu...
Eh tunggu.
Aku lupa untuk memperkenalkan diriku.
Namaku Izzam, umurku 15 tahun, kelas 3 SMP. Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku, juga satu-satunya temanku, dibully oleh murid-murid sekelasku.
Satu-satunya temanku itu bernama Ezra, ia memahami betul perasaanku, toh dia juga senasib denganku. Ezra memberitahu bahwa sebenarnya ia selalu didampingi oleh manusia virtual bernama Nana, Hero dari game Mobile Legends. Nana lah yang selama ini menghibur temanku itu, dikala temanku mengalami hal-hal yang membuat dirinya sedih akibat dibully. Ezra seolah merasa hidup kembali ketika dihibur oleh Nana. Ketika Ezra melihatku seperti ini, ia pun ingin membuat diriku sama seperti dirinya, memiliki makhluk virtual sebagai sang penghibur.
"Inilah mesin yang kupakai untuk menciptakan makhluk virtual, Iz." Temanku memberikan aku sebuah mesin yang ukurannya 2x lebih kecil dari CPU komputer, mesin yang dapat menghidupkan makhluk virtual. "Nama mesin ini adalah 'Penghidup Makhluk Virtual'. Makhluk virtual yang akan dihidupkan dapat 'mengcopy paste' kemampuan yang sama seperti dengan yang ada di dalam game. Ia dapat menembus benda apapun, termasuk benda paling tebal sekalipun. Ia tak kenal lapar sehingga tak butuh makan, dan tak kenal lelah sehingga tak butuh tidur. Dan makhluk virtual ini dapat berpikir layaknya manusia." Begitulah penjelasan dari Ezra. "Ingatlah selalu, jangan sampai mesin ini terlihat oleh siapapun, hanya kita berdua saja yang boleh tahu, aku belum siap untuk memperkenalkan mesin ini kepada seluruh dunia!" Perintah Ezra. "Siap" Ucapku. "Tapi kau tak akan bisa melihat dan mendengar suara makhluk virtual itu sebelum kau memakai ini." Temanku memberikan aku 2 benda kecil, mirip softlens, tetapi benda ini lebih tipis daripada softlens. "Pakailah itu di matamu jika kau ingin melihat dan mendengar suara makhluk virtual." Ucap Ezra lagi. Aku terdiam sejenak, mengambil benda itu, kemudian memakainya, memasangnya di mataku. Aku terkejut seketika, aku melihat Nana di samping kiri Ezra, yang tak pernah aku lihat sebelum aku memakai benda yang mirip softlens ini di mataku. "Soal benda yang kau kenakan di matamu sekarang, aku masih belum menemukan nama yang bagus." Ucap Ezra padaku. "Dia lah yang menghiburku selama ini, Iz. Dikala aku sedih karena murid-murid sekelas kita membullyku, ia akan memelukku dengan erat. Kau harus lihat ini, Iz!" Ezra langsung memberikan pelukan kepada Nana, Nana pun membalas pelukan tersebut, tentunya menembus badan Ezra. "Cieee..." Aku tertawa. "Hei, kita cuma teman, tau!" Ketus Ezra. "Benar!" Timpal Nana, tak terima kalau mereka berdua saling berpacaran. Aku mengangguk, iyain aja deh.
Sekitar 12 menit Ezra menjelaskan tentang cara memakai mesin Penghidup Makhluk Virtual tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa bahasa yang akan makhluk virtual itu ucapkan adalah Bahasa Indonesia saja, jadi tak perlu khawatir karakter yang akan kita hidupkan itu akan berbicara bahasa lain.
⭐⭐⭐
Kembali ke kejadian sekarang.
Karakter yang dikeluarkan mesin itu sedang berdiri gagah di hadapanku, aduhai, keren sekali... Mataku seolah-olah mengeluarkan bintang yang berkilau, hehe.
Jika kalian ingin tahu, karakter yang aku hidupkan itu berupa robot bernama Surge, diambil dari bahasa Inggris yang artinya "Lonjakan", Hero dari game Brawl Stars.
"Hai, kamu siapa?" Tanya Surge padaku, tentunya dengan suara robot.
Aku pun memperkenalkan diriku.
"Hai, Izzam. Senang bertemu denganmu." Surge terlihat gembira, aku pun demikian.
Kami berdua tertawa dan mengobrol ria, tak perlu khawatir ibu dan ayahku melihatku seperti ini, toh mereka berdua sedang tidur dengan nyenyak, lelah selepas kerja.
Berjam-jam kami bersenang-senang, dan aku pun lelah. Aku beranjak tidur, sedangkan Surge hanya "pura-pura" tidur di sampingku.
Aku tak sabar kembali bermain bersama Surge esok hari.
⭐⭐⭐
Pukul 06:42
Aku dan Surge sedang berjalan menuju sekolahku. Kaki Surge terlihat menembus aspal jalan, kan dia makhluk virtual, apa aja bisa ditembus, udah kayak hantu aja ya, hehe.
"Siap menjalani hari, Surge?" Kataku dengan penuh semangat, sebab Surge ada bersamaku untuk menikmati hari dengan menyenangkan.
"Tentu saja, Izzam!" Surge juga terlihat semangat.
Kami berdua berjalan bersama, membelah jalan yang disambut langit dan matahari pagi dengan amat semangat. Aku bahagia memiliki teman seperti Ezra, yang memberikan mesin itu sehingga membuat aku ceria seperti ini. Juga Surge tentunya, yang menemaniku dan menghibur aku.
Tinggal 100 meter lagi aku dan Surge tiba di sekolah.
⭐⭐⭐
Ternyata...
Ini bukanlah hari yang menyenangkan
Ini justru hari yang "paling" buruk...
Menyedihkan...
Daripada hari lalu yang sudah aku lalui
Sungguh
Tangisan mengalir tiap langkah
Tanda kesedihan...
Kesedihan sebab peristiwa barusan
Tapi bukan karena ia tak mampu hibur aku
Saat pelajaran pertama, aku ketahuan berbicara dengan Surge di kelas oleh salah satu murid sekelasku yang sering membully aku, lalu dia tertawa terbahak-bahak, bilang kalau aku sekarang memiliki teman khayalan sebab aku tak punya teman. Tak hanya itu, ia juga mengumumkan bahwa aku telah memiliki teman khayalan ke seluruh murid kelas lain saat istirahat. Itu sebabnya aku menyebut hari ini adalah hari yang paling buruk, daripada hari lalu yang sudah kujalani.
Ketika aku pulang ke rumah sambil menangis, ditemani Surge yang kasihan melihatku dan mencoba menghiburku, tiba-tiba saja seseorang berlari menghampiriku dan memanggilku.
"Izzam... Izzam..."
Aku menoleh ke arah sumber suara, ternyata itu Ezra.
"Ya, ada apa?" Tanyaku penasaran.
Ezra memberitahu sesuatu padaku dan Surge. Ketika Ezra selesai berbicara, aku dan Surge mengangguk. Kemudian kami bertiga berkunjung ke rumahku.
Sesampainya di rumahku yang sepi sebab kedua orangtuaku pergi bekerja, kami bertiga menuju kamarku yang cukup berantakan. Ezra mengambil mesin itu, kemudian membongkarnya, lalu memasukkan benda seperti persegi panjang tipis ke dalam mesin, lalu memasang kembali mesin itu.
"Surge, berdiri di sini." Kata Ezra sambil menunjuk salah satu lantai kamarku.
"Siap." Ucap Surge.
Ezra mulai menekan tombol dalam mesin itu, tapi bukan tombol untuk menghidupkan karakter. Cahaya berwarna biru muda menyirami Surge. 5 menit kemudian, cahaya biru telah redup, proses telah selesai.
"Sekarang kau coba, Surge!" Perintah Ezra.
Surge mengangguk, tapi ia malah terlihat kecewa.
Surge mencoba mengambil salah satu novel milikku, ia bisa menyentuhnya!
Sebenarnya saat perjalanan pulang tadi, Ezra memberitahu bahwa kemarin ia menemukan cara agar makhluk virtual dapat menyentuh segala benda, oleh sebab itu kami bertiga datang ke rumahku, lalu mengubah mesin tersebut untuk dapat membuat makhluk virtual dapat menyentuh segala benda.
"Ini benar-benar buruk." Surge mengeluh.
"Buruk apanya?" Ezra mengernyitkan dahi, bingung.
"Aku sekarang tidak bisa menembus ke sana kemari seperti dulu lagi, aku jadi tidak leluasa."
"Hoho, aku justru membuatmu seperti ini karena aku memiliki ide yang cemerlang."
"Ide apa?" Surge masih terlihat kecewa.
Ezra memberitahu ide tersebut padaku dan Surge. Seketika, Surge mendadak ceria, aku pun demikian. Benar, Ezra, itu benar-benar ide yang cemerlang. Aku tahu sekarang kenapa Ezra membuat Surge seperti ini.
Semoga rencanamu itu dapat berjalan lancar, Ezra.
⭐⭐⭐
Esok harinya, aku pergi ke sekolah, bersama Surge.
Sekarang masih jam 06:15, tapi hampir seluruh murid sekelasku sudah berada di dalam kelas.
Aku memberanikan diri 'tuk masuk.
"Hei, lihat. Siapa yang datang." Salah satu murid sekelasku itu menghampiriku, begitu juga dengan yang lainnya.
"Heh Cherry (Nama ibunya Izzam), di mana teman khayalan kau itu, bukankah kau lebih senang mengobrol dengannya." Timpal yang lainnya.
"Mungkin teman khayalan Cherry sudah mati." Timpal yang lainnya lagi.
Mereka tertawa.
Kepalaku menunduk ke bawah. Surge sedang mengambil spidol papan tulis, bersiap menulis di papan tulis.
"Dia... ada di sana..." Aku berkata pelan, sambil menunjuk papan tulis.
Surge menulis "Lonjakan, lonjakan, LONJAKAN." di papan tulis. Setelah menulis tulisan itu, Surge sengaja menjatuhkan spidol yang tadi ia gunakan ke lantai.
"AAAAA.... HANTU..." Mereka terlihat panik, lalu lari terbirit-birit, hendak meninggalkan kelas. Gagal, karena pintu kelas tiba-tiba tertutup, dan yang menutupnya adalah Nana, Nana juga dapat menyentuh benda sekarang. Tidak hanya menutup, tetapi juga menahan pintu itu terbuka oleh teman-teman sekelas aku.
Mereka mencoba meninggalkan ruangan kelas, sia-sia.
Semua berjalan sesuai rencana.
Inilah ide Ezra yang disampaikan kemarin. Aku tahu sekarang kenapa Ezra menyuruh kami berdua melakukan ini, agar mereka takut pada kami.
Bila kalian bertanya tanya dimana Ezra sekarang, jawabannya adalah ia bersembunyi di kamar mandi.
Aku bergegas bersembunyi di bawah meja guru, sedangkan Surge sedang melakukan aksinya.
Surge mengeluarkan serangan miliknya yang berupa lemparan jus, persis seperti di dalam gamenya ke salah satu murid sekelasku itu, lalu murid yang terkena lemparan jus itu langsung terbanting. Jus yang sudah terkena salah satu murid tadi membelah menjadi dua, terkena dua murid sekelasku yang lainnya, lalu terbanting.
Mereka semakin ketakutan, tapi Surge tidak menghentikan aksinya. Surge mulai mengeluarkan ultinya yang berupa lompatan. Setelah ia mendarat dari lompatan, seluruh ruang kelas bergetar, meja dan kursi acak-acakan, murid-murid sekelasku terjatuh semua. Tak hanya itu, kemampuan Surge meningkat setelah menggunakan ultinya.
Itulah lonjakan yang dimaksud, ketika Surge melakukan ulti, kemampuannya meningkat. Sekarang dia sudah masuk tahap kedua, pergerakannya bertambah cepat.
Surge dapat membanting seluruh murid sekelasku dengan waktu yang cepat sekarang berkat pergerakannya yang bertambah cepat itu. Surge kembali mengeluarkan ultinya.
Surge masuk tahap ketiga, jarak penyerangan dapat bertambah dua kali lipat. Tapi itu tak penting sekarang, toh jarak Surge dan murid-murid sekelasku tidak jauh-jauh amat. Setelah menyerang kembali hingga membuat mereka semakin ketakutan, Surge mengeluarkan ultinya kembali, ini yang terakhir kali.
Serangan jus dari Surge kini dapat membelah menjadi enam. Soal keadaan kelas, wah, sudah mirip seperti kapal pecah, meja dan kursi semakin acak-acakan, jam dinding, bingkai foto presiden, dan papan tulis jatuh ke lantai!
Tiba-tiba saja pintu kelas terbuka, dari luar.
Orang yang membuka pintu tersebut adalah... guru bahasa Inggris kami, sekaligus wali kelas kami, ia terkenal galak di seluruh sekolah ini.
Kalian pasti sudah bisa membayangkan, betapa marahnya guru bahasa Inggris itu.
⭐⭐⭐
Seluruh murid sekelasku yang sudah berada di sekolah dibawa ke lapangan oleh guru bahasa Inggris kami, mereka susah payah memberi tahu kepada guru itu bahwa ada suatu makhluk tak kasat mata yang melakukannya, guru itu tetap tidak percaya.
Hanya aku dan Ezra yang selamat.
Aku menemui Ezra di kamar mandi dengan gembira, bilang kalau rencana kita berhasil.
"Yeah, bagus Izzam, aku amat bangga padamu." Puji Ezra. "Berterimakasih lah pada dia juga, dialah yang membuat murid-murid sekelas kita ketakutan tiada karuan." Aku menunjuk Surge. "Ah iya, terimakasih Surge."
"Sama-sama."
Keesokan harinya, dan seterusnya, mereka enggan membullyku dan Ezra lagi, teringat kejadian yang "menyeramkan" bagi mereka itu.
Ezra tiada henti-hentinya mengembangkan mesin Penghidup Karakter Virtual menjadi lebih baik dan canggih tentunya.
Dan di masa depan, pada tahun 2049, Ezra mulai memperkenalkan mesin itu pada dunia. Mesin itu nanti akan diperjualbelikan. Dan saat itu juga, Ezra akan diangkat menjadi penemu.
~ TAMAT ~
Follow IG ku: @rainhard.frealdo
Follow MLBB ku: TheCircleOfFire. ID: 635724455
Jangan lupa untuk membaca cerpen karya saya yang lain di bawah ini ya :) 👇🙏
Jangan lupa juga untuk membaca novel pertama saya: "Dunia Langit". 🙏🙏