"Aku terjebak dengan sebuah perasaan yang salah dan hubungan yang tanpa arti." Ucap Rona yang tengah berdiri sendiri di atas bukit sambil memperhatikan matahari yang tengah menenggelamkan diri.
Rona tersenyum menikmati hamparan pemandangan yang amat dia kagumi. Dia sangat menyukai sunset, apalagi di tambah dengan pepohonan hijau serta danau yang ikut andil dalam keindahan alam itu.
Semilir angin menghampiri, siraman mentari sore mewarnai kebahagian dan membuat nyaman. Itulah yang membuat Rona menjadi jatuh cinta dengan sunset. Dan juga..
"Sunset, aku tau waktu kamu hanya sebentar untuk menemaniku. Tapi aku tau setiap hari kamu akan selalu ada untukku. Dan aku tau kemana pun aku pergi aku pasti bisa menemukanmu, karena kamu tak akan ke mana-mana. Oleh itu aku sangat mengagumimu, selain keindahan mu yang membuatku nyaman. Itulah alasan-alasanku yang selalu menyempatkan diri untuk merenung bersamamu. Tapi Sunset, Adakah seseorang yang akan sama sepertimu?" Ucap Rona sendirian.
Rona menyisihkan lengan bajunya dan memperhatikan jam di tangannya, waktu menunjukkan pukul 18:00 WIB.
"Astaga? sudah 20 menit aku duduk di sini, aku harus segera kembali. Kalau tidak dimarahin nih aku." Ucap Rona yang kemudian kembali ke tempat kerjanya.
*Di depan ruang kelas*
Rona berjalan mengendap-ngendap supaya tidak ketahuan oleh Hendry. Dia adalah pemilik dari bimbel tempat Rona bekerja.
"Bagus, ini yang katanya lima menit?" Ucap Hendry yang tiba-tiba.
Rona menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Ma.. maaf Pak, tadi keterusan. Maaf."
"Sebegitu Nya tiap hari minta izin sepuluh menit hanya untuk liat Sunset." Ucap Hendry.
Hehehe. Rona berjalan mendekat ke arah Hendry dan memperlihatkan hasil dari jepretannya tadi. Rona selalu mengambil foto sunset untuk diabadikan, dan tak lupa Ia selalu menunjukkannya pada Hendry.
Tak lama kemudian terdengar suara adzan maghrib. Hendry yang tadinya duduk di sebelah Rona segera bangkit dan berkata.
"Kamu jaga anak-anak, mereka lagi ngerjain tugas yang kuberi tadi. Aku mau ke Masjid dulu." Ucap Hendry dan berlalu dari pandangan Rona.
Rona hanya mengangguk kagum pada Hendry. Pasalnya Hendry adalah tipe idealnya, Dia tinggi, pinter, publik speaking nya bagus, mandiri, dan juga ganteng. Yang tak kalah penting dia sangat taat dalam beribadah. Hendry benar-benar ideal baginya. Rona menyukai Hendry sejak pertama kali Ia mengajar disini.
Hendry pun balik lagi ke sebuah ruko miliknya setelah menjalankan sholat maghrib.
"Na, kamu gak sholat?" Tanya Hendry yang masih dalam keadaan menggunakan peci.
Rona ternganga melihat wajah Hendy yang ganteng itu karena wajahnya adem banget untuk di lihat.
"Na.. Woi kenapa bengong?" Tanya Hendry lagi.
"Hehehe.. Maaf Pak, wajah bapak mengalihkan pikiranku." Jawab Rona spontan
Hendry mengernyitkan keningnya dan meninggalkan Rona.
"Duh, susah banget si ngedeketin Pak Hendry." Gumam Rona dalam hati.
*Pagi hari di kampus*
Rona duduk diam di kursi sambil menunggu kedatangan dosen. Dia tak sadar seorang temannya bernama Alex sedang menatap wajahnya sedari dia tiba tadi.
"Ssstt.. Rona, coba noleh ke kiri." Bisik Lily sahabatnya Rona yang duduk di sampingnya.
"Hoam.. Apaan si Ly, aku masih ngantuk nih." Toleh Rona menghadap ke sahabatnya itu.
Lily mengambil bukunya dan menuliskan sesuatu yang bertuliskan. "Liat tu si Alex dari tadi natap wajahmu terus."
Menyadari hal itu, Rona pun menoleh ke kiri. Seketika Alex pun memalingkan wajahnya seolah tak melihat ke arah Rona.
"Heh, kamu ya Ly. Mana ada pun. Jangan ngadi-ngadi lah dia mah temen kita." Ucap Rona lagi pada Lily.
*Mata kuliah pertama selesai*
Semua mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan yang ada di kelas A berbondong keluar. Waktu yang diberikan untuk istirahat hanya sekitar 30 menit saja, karena itu tak ada satu pun mahasiswa yang tertinggal di kelas kecuali Rona dan Lily. Mereka harus memanfaatkan waktu istirahat itu untuk ke kantin ataupun kegiatan lainnya.
Rona membongkar tasnya untuk mencari sebuah benda kecil yang berisi tugas-tugasnya yang belum kelar. Krasak krusuk bunyi yang di sebabkan oleh Rona membuat Lily yang ada di sampingnya terganggu.
"Cari apa si Na, dari tadi juga bising kali lah." Ujar Lily yang sambil memainkan ponselnya.
"Ini.. Cari flasdisk.. Makalahku belum di print, matilah aku."
"Lah belum kelar? Astaga." Ucap Lily sambil mengangkat terbalik tas Rona dan mengeluarkan semua isi yang ada di dalam tas itu.
"Lily.." Teriak Rona.
Lily pun berlari keluar kelas sambil tertawa terbahak-bahak.
"Dasar, punya teman gini amat si, kan berantarakan semua." Gerutu Rona kesal sambil memungut isi tasnya yang tengah berserakan di lantai.
Satu per satu tangan Rona memungut buku serta alat tulis itu untuk di masukkan kembali ke dalam tasnya. Namun Ia tak melihat sama sekali adanya flashdisk di sana. Matanya nanar ke sekeliling bawa kursi untuk memastikan kembali kalau-kalau mungkin Ia kurang jeli dalam mencarinya. Tapi sayangnya flashdisk itu tidak ditemukan.
"Kamu cari ini?" Ucap Alex yang tengah berdiri di depan pintu.
Rona pun bangkit dari jongkoknya dan menoleh ke arah suara yang menyahutinya barusan. Ia melihat Alex yang tengah berdiri tegap sambil memegang flashdisk miliknya. Lalu Ia pun tersenyum bahagia.
"Alex? Iya itu punyaku. Kenapa bisa ada di kamu." Ucap Rona sambil melangkahkan kaki ke arah Alex.
Rona menengadakan tangannya untuk meminta flashdisknya. Tapi Alex hanya diam saja.
"Lex, sini flashdisknya."
"Coba ambil kalo bisa." Ucap Alex.
"Hah? Ih.. Sini dibilangin nanti waktu istirahat habis, aku mau ngeprint nih." Ucap Rona sambil mencoba ambil flasdisk di tangan Alex.
Alex merasa puas saat tangan Rona mencoba mengambil flashdisk itu tapi tidak berhasil di ambilnya. Dia mencoba untuk sedikit bermain dengan Rona dengan meninggi-ninggikan tangannya supaya flashdisk itu tidak bisa digapai oleh Rona.
"Lex.. Udah ya, aku udah capek. Ini waktu istirahat sisa 10 menit lagi. Iya kalau di tempat print gak rame kalau rame gimana? manalah sempat pinter." Teriak Rona yang sudah kesal dengan Alex.
Hahaha Alex tertawa puas.
"Yaudah, kita ngeprint di luar aja yuk? di sini mah rame. Aku anterin ya." Bujuk Alex.
"Iya si, kalau ngeprint di tempat Pak De pasti rame." Gumam Rona dalam hati.
"Ok, tapi jangan yang jauh-jauh. Nanti kita telatnya lama, gak dibolehin masuk lagi sama dosennya."
"Ok." Jawab Alex.
Rona dan Alex pun keluar dari kelas dan menuju ke parkiran. mereka berdua keluar dari area kampus dan mencari tempat print. Alex yang menyetir motor hanya diam sambil melihat-lihat tempat untuk ngeprint. Sementara Rona di belakang kebingungan, ini tempat print kenapa pada tutup?
"Gimana ni Lex? Pada tutup. Matilah aku." Teriak Rona di belakang.
"Sabarlah kita cari lagi tempat yang lain." Jawab Alex.
Lima menit kemudian, keduanya turun dari motor dan berjalan ke arah sebuah warnet untuk ngeprint.
"Pak, mau ngeprint. Nama filenya tugas lima." Ucap Rona sambil menyodorkan flashdisknya itu.
"Ok dek." Jawab Bapak-bapak pemilik warnet itu sambil mengambil flashdisk milik Rona.
Rona dan Alex duduk di kursi depan untuk menunggu print an itu selesai.
Twing.. Sebuah pesan masuk di ponsel milik Alex.
"Lex, Bapak gak bisa masuk hari ini. Tolong kamu sampaikan juga ke yang lain ya. Makasih."
Pandangan Alex seketika beralih ke wajah Rona setelah dari layar ponselnya itu.
"Kenapa si Lex, ada tahi mata ya di mataku?" Tanya Rona heran karena dilihatin oleh Alex.
"Gak ada Na, cuma kata Pak David dia gak bisa masuk hari ini." Ucap Alex dengan ekspresi wajah datar.
"What? Apa?" Ha.. Hu.. Rona menarik napasnya dengan pelan untuk meredahkan emosinya.
"Kesel aku tu kesel tau gak? aku udah begadang ngerjain tugasnya, pulang ngebimbel aku bela-belain untuk ngerjain ini tugas. Eh mala.. Dahlah." Keluh Rona.
"Yaudah kamu ikut aku aja yuk?"
"Kemana?"
"Udah, ayo ikut."
*Di kebun penuh dengan pohon*
Mata Rona mengerling ke arah Alex menandakan Ia tak menyukai tempat ini.
"Apaan ini? Hutan? Ngapain coba ngajak aku ke hutan." Gerutu Rona sambil turun dari motor.
"Udah ikut aja, ayo jalan." Ucap Alex.
"Ngajak kok ke hutan, mau teriak-teriak gitu hah?" Ucap Rona sambil mengikuti langkah Alex dari belakang.
Setelah berjalan sekitar 3 menit terdapat pemandangan laut biru dari hutan itu. Angin sepoi-sepoi yang menghapiri pun terasa sangat segar.
"Gimana?" Tanya Alex sambil senyum.
Rona yang tadinya kesel dan marah-marah. Kini dia tersenyum bahagia melihat keindahan alam yang belum ternodai oleh manusia.
"Wah, ini si gila. Keren." Ucap Rona sambil mengacungkan jempolnya.
Keduanya sama-sama tersenyum lalu tertawa bahagia. Mereka duduk di sebuah pohon yang tumbang sambil memperhatikan laut biru serta pulau kecil yang ada di sana.
"Eh ada tangga? Kita bisa turun?" Tanya Rona.
"Itu tangga dari tanah, nanti kamu jatuh. Udah gak usah. Di sini aja.
"Tapi di bawah ada pantainya Lex." Bujuk Rona.
"Na gak boleh. Aku takut kamu kenapa-napa, kamu tau gak si rasa khawatir?"
"Ala kamu tu Lex.. Lex.. Ngapain coba kamu khawatirkan aku?"
"Na, coba tatap mataku." Pinta Alex.
Hahaha.. Rona tertawa mengejek, lalu menatap mata milik Alex.
Keduanya saling menatap mata, tatapan Alex sangat dalam seperti ingin mengungkapkan sesuatu. Sedangkan tatapan Rona adalah tatapan yang hanya biasa saja.
"Rona.. Aku menyukaimu." Ucap lirih Alex.
Mulut Rona ternganga membentuk huruf o, Ia seakan tak percaya dengan pendengarannya barusan.
"Hah? Apa?" Tanya Rona untuk memastikan.
"Aku menyukaimu Rona." Ucap Alex lagi.
"Menyukai sebagai teman? atau begimana nih?"
"Hah! Rona, aku menyukaimu sebagai perempuan, sebagai perempuanku." Ucap Alex dengan nada yang sedikit agak di tekan.
"Jadi kalau kamu menyukaiku, aku dan kamu harus gimana?" Tanya Rona dengan polosnya.
"Hah!" Keluh Alex sambil mengusap mukanya dengan tangannya.
"Cukup.. cukuplah seperti ini aja, jangan berubah padaku. Kalau aku telpon diangkat, kalau aku chat dibalas, kalau kamu butuh pertolongan datanglah padaku, kalau kamu butuh bahu untuk bersandar juga datanglah padaku. Teruslah bergantung padaku." Ucap Alex dengan lirih.
Rona yang tadi menatap mata Alex kini ia tertunduk.
"Yaudah, ayo pulang. Nanti kamu mau ngajar kan?" Tanya Alex.
"Iya, ayo."
Keduanya pun keluar dari di atas pantai itu.
*Di ruang bimbel depan*
Rona duduk sambil menunggu jam tiga untuk mengajarkan matematika pada anak-anak SD yanh belajar di sana. Ia masih memikirkan ucapan dari Alex.
"Aku bingung harus gimana, aku hanya menyukai Alex sebagai teman tapi aku gak mau kehilangan dia. Dan juga orang yang ku sukai ada di sini." Gumam Rona dalam hati.
Tiba-tiba keluar seorang pria dari kelas bimbel dengan menampilkan wajah berserinya. Rona menatapnya.
"Dia lah orang yang ku sukai." Ucap Rona lagi dalam hati.
"Rona, tumben udah dateng. Biasa kamu datangnya mepet." Sapa Hendry lalu ikut duduk di kursi yang ada di sebelah Rona.
Deg! "Kenapa ya tiap kali dia mendekat aku selalu gugup gini, ingin menjauh tapi nyaman di dekatnya. Sehari saja tak melihat wajahnya rasanya seperti ada tuntutan dari hati. Gumam Rona lagi dalam hati.
Alex meronggoh tasnya seakan mencari sesuatu dan ingin diberikannya pada Rona. Melihat hal itu Rona jadi salah tingkah.
"Besok kan hari ulang tahunku, apa dia mau ngasih aku sesuatu?" Gumam Rona dalam hati sambil senyam senyum.
"ini." Ucap Hendry sambil menyodorkan sebuah kertas yang sangat bagus.
Rona tersontak kaget melihat tulisan undangan pernikahan.
"Datang ya, awas kalau gak datang." Ujar Hendry.
*POV Rona*
Rasanya sekarang aku seperti benar-benar terjatuh disebuah jurang yang teramat dalam. Hatiku yang biasa menari-nari kini tercabik-cabik kesakitan saat menatap wajahnya. Di ujung pelupuk mataku sedang menahan genangan air agar tak membanjirkan diri.
Aku memasang senyum yang terpaksa demi menutupi rasa sakitku. Surat undangan yang ku genggam ini, ingin rasanya ku robek tapi tak bisa.
"Selamat ya Pak." Ucap Rona lirih lalu menuju kelas untuk mengajar.
*Di kamar Rona*
Malam hari di kamar, Rona mengingat berbagai percakapan dan juga perhatian yang bikin dia salah tingkah dengan sikap Hendry selama ini.
"Kamu namanya Rona? Ayo saya antar ke kelas untuk mengajar."
"Baik, Pak." Jawab Rona.
*Usai kelas pelajaran Matematika*
"Ini saya beli ayam geprek dua, kamu mau?" Tanya Hendry.
"Maulah Pak, makasih ya Pak. Ini loh kesukaan saya. Bah kayaknya pedes nih."
*Pulang ngajar*
"Rumah kamu di mana? biar saya antar ini udah malam." Ucap Hendry.
"Gak jauh kok dari sini. Bapak benaran mau antar saya?" Tanya balik Rona.
Aku pun di antar oleh Hendry, lalu hari berikutnya pun sama. Ia selalu mengantarku pulang karena katanya khawatir aku kenapa-napa.
Tapi memang beberapa bulan terakhir dia tidak lagi mengantarku pulang.
Ku kira selama ini perhatian-perhatian kecil yang ia berikan padaku adalah hal yang istimewah tapi ternyata dia hanya menganggapku adik dan itu tak lebih. Bagaimana bisa aku memiliki perasaan dengan orang yang salah, orang yang hanya berharap memiliki adik sepertiku? Kenapa aku tak memiliki perasaan dengan Alex saja, yang benar-benar mencintaiku.
Aku terisak sendirian di kamar dan Tring.. Ponselku berbunyi sebuah pesan masuk.
"Kami di depan rumahmu."
Aku heran, kenapa Alex ke rumahku malam-malam gini? Semoga Ibu sama Ayah udah tidur pikirku.
Dengan berat hati aku membangkitkan diri dari rebahan dan mulai berjalan lalu membuka pintu kamarku.
Pip.. Suara terompet.
"Happy birthday Rona." Ucap Alex, Lily dan juga Ayah Ibuku dengan serentak.
Aku sangat terharu dengan kejutan ini. Terima kasih ya Allah, terima kasih Ayah dan Ibu, terima kasih sahabatku dan terima kasih Alex. Terima kasih kalian hadir di saat aku sedang tak baik-baik saja.