Ini masih menjadi misteri selama hidup Caselina.
Ia di perintahkan oleh sesepuh untuk rutin mendatangi sebuah bangunan kecil di dekat danau. Caselina heran mengapa harus dirinya. Dan mau tidak mau ia harus menuruti perintah mereka tersebut. Di Setiap jadwal yang sudah di tentukan, Caselina di anjurkan datang dengan membawa rangkaian bunga yang banyak di jumpai di area tempat tinggalnya.
Sore adalah waktu dimana Caselina tampak di sekitaran danau. Dengan membawakan rangkaian bunga, Caselina selalu di pantau dari jauh oleh beberapa orang penduduk. Tentu saja Caselina merasa terganggu. Tapi dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Lantaran mereka yang memantau Caselina dari jauh itu adalah orang suruhan para sesepuh.
"Sampai kapan aku harus melakukan ini terus? Bahkan aku tidak di beritahu masa berakhirnya kegiatan ini."
Gerutu Caselina yang ingin segera menyelesaikan kegiatan rutin yang dijalaninya.
Setelah meletakkan bunga, Caselina pun memberi hormat lalu pergi setelahnya.
"Bahkan bunga-bunga yang sebelumnya aku letak di sana masih ada dan jumlahnya sudah banyak sekali."
Caselina masih merasa keheranan.
Malam harinya Caselina tidur dengan nyenyak.
Bulan bersinar dan cahayanya menembus kain penutup jendela rumah Caselina. Wajah perempuan muda itu pun terkena cahaya, dan membuat dirinya bangun seketika.
Caselina duduk dan memandang ke arah cahaya bulan yang menembus ruang kamarnya.
Caselina berjalan secara perlahan dan melihat bulan lebih terang dari biasanya. Tak lama setelah itu ia menyadari bahwa ada sebuah cahaya lain terlihat di sekitaran danau. Melihat itu, Caselina pun bergegas pergi menuju sumber cahaya asing tersebut.
Berjalan di malam yang sudah larut, Caselina penasaran akan cahaya yang dilihatnya tadi. Dan hal itu membawanya pada sebuah tempat dimana dirinya sering datang kesana. Sebuah bangunan kecil dipenuhi rangkaian bunga telah di penuhi oleh cahaya yang berkilau.
Caselina sulit untuk mendekat, sebab sangat menyilaukan matanya. Butuh waktu beberapa saat sampai akhirnya cahaya itu memudar dan hilang dengan sendirinya. Caselina membuka pandangan dan melihat ke depan. Bangunan kecil itu tidak lagi bercahaya. Akan tetapi sekarang sudah terdapat sesuatu yang baru. Yaitu seseorang yang baru saja di lihatnya malam ini.
"Si...Siapa kau?"
tanya Caselina seiring merasa takut.
Perempuan itu memberanikan diri walau sudah dilanda rasa takut dan gemetaran pada sekujur tubuh.
Tiada jawaban dari orang yang berdiri tepat di depan bangunan itu. Dan saat dia mulai melangkah untuk mendekatkan diri pada Caselina, tiba-tiba perempuan muda itu pingsan seketika.
Membuka mata dan mengedipkan beberapa kali hingga pandangan mulai begitu jelas. Caselina melihat ada kaki seseorang di dekatnya. Dan ia pun menoleh secara perlahan.
Perempuan muda itu langsung beranjak dan terjatuh. Terkejut bahwa dirinya sedang berbaring di atas kaki orang yang baru ditemuinya itu. Kemudian Caselina bertanya sambil bergerak mundur.
"Kamu bertanya siapa aku? Sementara dirimu sedang asyiknya bergerak mundur. Kamu mau kabur ya?"
Mendengar perkataan itu, Caselina berhenti bergerak.
"Aku tidak kabur. Hanya..."
"Aku tahu kamu itu takut. Maaf sudah membuatmu terkejut. Tapi bisakah kita bicara sebentar? Pasti ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan padaku."
ucap orang asing itu pada Caselina.
Bangkit dan bergerak maju. Caselina berhasil duduk, tapi tidak terlalu berdekatan dengan orang tersebut.
"Aku tidak ingin terlalu dekat. Jadi segini saja sudah cukup."
kata Caselina yang beralih pandang.
Lalu keduanya mulai bicara secara empat mata.
Orang asing itu memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Dan diketahui namanya adalah Lacase.
Setelah itu menjelaskan tentang bangunan kecil yang selalu di kunjungi oleh Caselina tersebut.
Perempuan itu mendengarkan perkataan dari Lacase. Dan akhirnya dirinya tahu mengenai kegunaan dari bangunan yang selalu di datanginya.
Bangunan kecil itu berfungsi sebagai tempat penghormatan pada arwah pendahulu yang berkorban di masa lalu.
Setelah itu Caselina bertanya pada laki-laki yang duduk di sebelahnya.
"Lalu kenapa hanya aku yang mendatangi tempat ini? Sesepuh menyuruhku datang kesini di waktu yang sudah di jadwalkan. Belum lagi harus di pantau setiap pergi kesini. Bisakah kamu jelaskan padaku?"
Lacase menghela nafas sekejap. Kemudian merespon pertanyaan dari Caselina tadi.
"Berarti ada pesan yang belum tersampaikan padamu. Jika pendahulumu mati dan belum menyampaikan pesan itu padamu, maka kamu harus mendatanginya dan bertemu dengan pendahulumu itu." ungkap Lacase.
"Dan bunga-bunga ini hanya sebagai penghormatan saja kan?"
"Bukan hanya itu. Bunga-bunga tersebut berguna untuk mendatangkan pendahulumu ke dunia ini."
"Jadi begitu ya. Tapi kenapa butuh banyak sekali? Bahkan di taman bungaku sudah tinggal sedikit yang tersisa."
kata Caselina sembari memikirkan sisa bunga di tamannya.
Beberapa saat kemudian...
Lacase meminta Caselina untuk mengulurkan sebelah tangannya.
"Ini buat apa?" tanya Caselina.
"Ikuti saja perkataanku. Dan ada sesuatu yang harus aku lakukan." jawab Lacase.
Setelah itu tangan Caselina dipegang erat oleh Lacase. Perempuan muda itu merasakan sedikit rasa sakit dan perlahan mulai meringis kesakitan.
Usai mengulurkan tangan, rasa sakit yang di alami Caselina tadi dalam waktu sekejap hilang begitu saja.
"Sudah selesai. Sekarang kamu tidak perlu datang ke bangunan itu lagi. Karena aku telah menyampaikannya padamu."
Lacase berdiri dan mengajaknya bersalaman.
"Mau bersalaman sebelum aku pergi?"
Caselina memandang tangan Lacase dan mendekatinya.
Dan...
Caselina malah memeluk laki-laki itu. Pelukan begitu erat dan meneteskan air mata. Terdengar suara tangisan terisak-isak dari Caselina. Lacase diam sembari mengelus kepala perempuan itu.
Setelah menangis dalam waktu cukup lama.
Caselina pun menampilkan senyumnya dan bersyukur bahwa dirinya bisa bertemu kembali dengan sang pendahulunya. Yaitu ayahnya sendiri, Lacase.
Perpisahan menjadi akhir dari pertemuan mereka berdua. Caselina mengucapkan selamat tinggal pada Lacase. Begitu pula sebaliknya.
Esok harinya, Caselina mendatangi para sesepuh dan memberitahu bahwa dirinya mendapatkan pesan tadi malam. Pesan itu kemudian dibaca oleh mereka dengan kemampuan khusus lewat tangan Caselina.
Mereka semua terkejut dengan pesan yang di dapatkan oleh Caselina. Dan ucapan terimakasih pun terdengar. Perempuan itu tidak tahu kenapa mereka berterima kasih. Dan hal itu pun di jelaskan oleh sesepuh padanya.
Kini Caselina tahu dan turut berterimakasih pada ayahnya.
Di masa lampau, Laki-laki bernama Lacase itu adalah orang berpengaruh di kawasan tempat tinggalnya. Dan telah mengorbankan nyawanya demi seluruh penduduk dari ancaman sihir hitam yang dulunya sempat membuat orang-orang ketakutan. Namun, pada masa itu Lacase menghilang tidak tahu entah kemana.
Kini sihir hitam itu sudah hilang beserta para penyihirnya. Ternyata Lacase adalah orang yang melawan para penyihir dan menghilangkan sihir-sihir itu. Dia dikenang sebagai pahlawan oleh para penduduk meskipun baru diketahui aksinya di masa ini melalui Caselina.
Di suatu sore kawasan tepi danau. Caselina berdiri sambil memegang beberapa bunga cantik. Ia mengenang momen waktu itu. Pertemuan satu malam yang sangat berharga. Sulit terlupa bagi dirinya.
"Ambang rasa aku alami. Antara senang dan sedih. Tapi pada intinya aku merindukanmu yang sudah berada di dunia yang berbeda. Suatu saat kita bisa bertemu lagi kan?"
"Aku harap demikian. Dari Caselina untuk sang pahlawan."
tutupnya seraya meletakkan bunga di tempat yang mana ayahnya yaitu Lacase duduk ketika itu.
-----SELESAI-----