Sejak kecil Suga sering sekali mendengar berbagai dongeng dari neneknya. Sebab mereka hanya tinggal berdua di sebuah desa jauh dari kota. Dulu sekali, dongeng merupakan hal yang wajib Suga dengar sebelum tidur. Menyenangkan, bahkan terkadang bisa menembus ke alam mimpi. Dongeng favorit Suga adalah dongeng tentang Dewi Selena, moonchild. Entah kenapa Suga senang sekali mendengar dongeng itu meskipun sudah mendengarnya berkali-kali.
Tapi Suga ini sudah tumbuh selayaknya remaja usia dua puluh tahun. Suga tak lagi mempercayai dongeng semenjak neneknya meninggalkannya beberapa tahun silam. Suga memutuskan pindah di kota yang padat, melanjutkan pendidikannya sekaligus bekerja paruh waktu untuk biaya hidup.
Di sebuah balkon kost, dimana Suga tinggal sekarang. Ia menatap bulan, sudah hampir pukul satu malam tapi sepertinya mata Suga benar-benar sulit terpejam. Tiba-tiba teringat neneknya, jika dulu Suga sulit tidur maka neneknya akan membacakan sebuah cerita pengantar tidur, paling sering Suga dengar adalah moonchild. Terbukti ampun sebab biasanya sebelum cerita itu selesai Suga pasti sudah terlelap.
Mengingat kembali masa lalu nya, Suga jadi sadar jika dirinya ternyata hanya mendengar setengah kisah dari moonchild, tidak pernah sampai habis sebab sudah terlelap lebih dulu.
Memilih tak menghiraukan, Suga kembali menatap bulan. Terlihat bulat sempurna di bulan purnama. Suga tersenyum kecil, andai saja neneknya masih ada mungkin Suga masih mempercayai dongeng-dongeng tersebut. Sedikit penasaran dengan Dewi Selena yang katanya sangat cantik.
Merasa udara semakin dingin Suga akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Tidak terlalu besar tapi lapang karena Suga tidak menaruh banyak barang disini. Mencoba tertidur dengan merebahkan diri, memejamkan mata. Ia ingat besok ada ujian penting, jadi Suga harus tidur sekarang.
Tak lama sampai sebuah cahaya mengganggu Suga yang terlelap, silau bahkan Suga yang terpejam sampai menutup area matanya dengan tangan. Angin berembus lumayan kencang, cahaya itu belum juga pudar, Suga penasaran sekali tapi tak bisa membuka mata sebab silau.
Hingga perlahan cahaya tersebut berangsur-angsur meredup, menampakkan Suga yang masih tetap pada posisinya.
"Bukalah matamu, lihatlah aku, aku di depan mu." Suga terkejut begitu suara lembut menggema bagai nyanyian dalam konser, tapi sangat lembut. Perlahan Suga membuka tangannya dan matanya. Awalnya sedikit kabur tapi perlahan terlihat jelas sosok yang berdiri di depannya.
Suga sontak mundur saking terkejutnya. "S-siapa kau?" Tanya Suga takut, tentu saja.
Di depannya berdiri dengan anggun sesosok mirip perempuan, tapi terlalu fiksi jika dianggap manusia. Tubuhnya indah, wajahnya cantik terlebih gaun putih panjang yang bagian bawahnya mengabur seperti gumpalan awan. Rambutnya hitam legam, dengan netra biru safir. Tak lupa sayap putih membentang indah.
"Aku Selena. Moonchild."
Suga mengusap matanya berulang kali. Tapi sosok itu tak juga hilang dari pandangannya. Tersenyum anggun menenangkan. Suga tidak munafik, gadis ini sungguh cantik kalau saja tidak ada sayap dibelakang punggungnya, tapi sayapnya juga indah. Persis seperti wanita dalam dongeng.
Tunggu.
Suga ingat sekali ia baru saja terpejam. Ia yakin sekali ini alam mimpinya sebab tadi ia sempat melihat bulan. Mengingat dongeng-dongeng dari neneknya. Bahkan sempat mengira-ngira bagaimana sosok Selena.
"Tidak mungkin." Suga terkekeh, ya walaupun mimpi tapi ia cukup puas bisa melihat Selena. Sekarang tidak perlu susah-susah membayangkan.
Selena tersenyum, ia mengayunkan tangannya hingga keluar sebuah cahaya yang menuju ke arah Suga. Tapi terasa seperti sengatan listrik ketika menyentuh kulit Suga.
"aakhhh." Suga mengusap tangannya yang seperti tersengat listrik.
"Lihat, ini nyata, bukan hanya mimpi." Ucap Selena seolah tahu isi pikiran Suga. Suga mengamati kulitnya, ada sedikit bekas memar kebiruan disana. "Tidak mungkin." Ucap Suga lagi, ia mencoba mengais akal sehatnya. Dunia sudah canggih, semua tidak berdasarkan dongeng, sekarang semua hidup dengan sains.
Selena kembali mengeluarkan cahaya yang sama, kembali mengenai kulit Suga hingga membuatnya memekik. "Hey, itu sakit." Gerutu Suga.
"Jadi kau masih mengira ini mimpi, apa perlu aku menyengat mu lagi?" Selena mengangkat tangannya menghadap ke atas, diatasnya mengambang sebuah cahaya dengan bentuk bulat seperti bola. "Tapi mungkin jika terkena yang ini kau tidak hanya tersengat, tapi juga terbakar." Suga membulatkan mata.
"Tidak, tidak hentikan. Aku percaya." Ucap Suga kemudian. Selena menghilangkan cahaya tersebut.
"Tapi jujur saja ini sangat tidak masuk akal, kau datang darimana?"
Selena tersenyum lalu dengan sekilat mata kost suga menjadi sebuah ruangan mirip kamar dengan nuansa Eropa yang mewah, mirip sebuah kerajaan. Banyak lukisan klasik di dinding. Suga sampai terperangah dengan lantai yang seperti terbuat dari awan. Dirinya sendiri tengah terduduk di kasur empuk yang dua kali lebih besar dari kasur nya di kost.
"Ini dimana?" Semua menjadi semakin tidak masuk akal. Terlebih lagi ketika Suga mengamati Pakaiannya. Pakaiannya terlihat seperti raja-raja Eropa.
"Aku menculik mu, ini rumah ku." Ujar Selena. Dengan sekejap mata Selena mendekat ke arah Suga. Selena mengusap pelan wajah Suga, tangannya begitu lembut sampai Suga diam tak berkutik.
"Apa kau masih berfikir diriku hanya fiksi?" Suga terpaku sesaat dengan netra biru safir yang seakan menampilkan perputaran galaksi di dalamnya.
"Tapi bagaimana bisa? Kau hanya dongeng." Selena menjauh, tiba-tiba sayapnya seperti terserap masuk ke dalam punggungnya, gumpalan awan di sekitar bawah gaun Selena berubah menjadi kaki dengan sepatu kaca putih. Memejamkan matanya Selena seperti sedang memanggil seseorang.
Tak lama pintu terbuka, Suga semakin terkejut mendapati wanita tua yang nampak bercahaya wajahnya. Memakai gaun putih dan di belakang punggungnya terdapat sayap putih seperti Selena.
"Nenek?" Suga semakin bingung dengan keadaan. Perlahan Nenek Suga mendekat ke arah Suga. Melakukan hal yang sama seperti Selena, menyerap sayapnya masuk ke dalam punggungnya. "Cucu ku Suga, apa kabar?" Suga segera berlari menghampiri sang nenek. Memeluknya erat sekali. Sudah bertahun-tahun tidak bertemu.
"Nenek, aku merindukan mu." Ucap Suga tanpa peduli apakah di depannya ini nyata atau sekedar ilusi Selena.
Nenek Suga melepas pelukan cucunya. Berganti memegang kedua lengan Suga. "Suga, semua yang nenek ceritakan tentang moonchild bukanlah omong kosong." Suga menautkan alisnya tanda kebingungan.
"Nenek mu adalah salah satu manusia bulan. Ia ditugaskan untuk menjaga mu." Ujar Selena sembari mendekat ke arah mereka.
"Apa?"
"Suga, Semua yang Selena katakan adalah sebuah kebenaran."
"Tapi untuk apa?" Selena dan nenek Suga saling berpandangan untuk sesaat sebelum tersenyum menatap Suga yang kebingungan.
"Karena kau lahir dari moonchild yang jatuh cinta pada manusia."
"Ayah mu adalah salah satu moonchild, ia bertugas di bumi untuk mengetahui keseimbangan bumi. Bersama beberapa moonchild lainnya. Tapi ayah mu berbuat kesalahan dengan jatuh cinta dan menikahi manusia. Padahal jelas-jelas setiap moonchild sudah memiliki jodohnya masing-masing."
Suga tertegun, bukan karena terkejut tapi ia bingung. "Maksudnya bagaimana sih?" Selena menjentikkan jarinya hingga terdapat sebuah layar seperti hologram di dekat Suga. Menampilkan adegan seperti sebuah film.
"Dia ayahmu, dan ibumu. Mereka menikah tanpa peduli dunia mereka berbeda. Populasi moonchild selalu genap, sebab kami semua lahir dengan jodoh. Tapi karena ayah mu menikahi manusia, jumlah kami menjadi ganjil. Itu sebabnya setiap moonchild yang jatuh cinta dengan manusia akan dihukum."
Layar kembali berubah menunjukkan seorang wanita paruh baya tengah melahirkan. "Dari pernikahan terlarang itu lahirlah dirimu, keturunan campuran. Kesalahan mereka juga berdampak padamu. Itulah sebab nya kau tak pernah tau dimana orang tua mu sejak kecil. Kau dibesarkan dan tumbuh dengan pengawasan kami."
"Jadi?"
"Dengan kata lain, Kau harus menanggung kesalahan ayah mu sekarang."
Suga sebenarnya agak mengerti sebab melihat layar. Semua kejadian terinci seperti sebuah film.
"Aku?"
"Iya, Dan kebetulan sekali ayah mu adalah jodoh ku, sehingga sekarang aku kehilangan jodohku." Selena mengibaskan tangannya hingga hologram itu menghilang.
"Lalu apa yang kau inginkan dari ku?" Tanya Suga.
Selena menatap Suga. Mengamati dari bawah sampai atas.
"Kau harus menggantikan ayahmu menjadi jodohku."