Tepat Pukul 12 Siang Aku Berjalan di Taman Dekat Rumahku, Menenangkan Pikiran dan Melupakan Semua Yang Pernah Terjadi. Mengingat-ingat di mana Letak Kesalahanku dan Berujung dengan Minta Maaf, Lagi.
Jangan tanya Kenapa harus ada kata lagi. karena Ini sudah ke-20 kalinya Aku Bertengkar dengan Orang Tua ku dan berujung aku yang Mengalah. bilang saja aku durhaka, Bilang aku Egois dan Bilang aku tak tau Balas Budi. Tapi ... Aku juga Lelah.
Lelah harus Mengalah dan Bersikap Menurut, Bagaikan Hidupku Ini berada di Tangan Mereka. Aku juga Ingin hidup dengan Menempuh jalan Yang aku inginkan, Bermain seperti anak lain dan Jalan-jalan ke pasar malam sambil Memakan Permen kapas dengan kedua tangan Orang tuanya Menggenggam Tangan anaknya Seolah-olah itu adalah Anugrah dari Tuhan Yang sangat Berharga.
Jangankan di Di gandeng, Sampai Umurku 18 Tahun saja aku Tak pernah Merasakan bagaimana rasanya di Gandeng dan di pandang dengan tatapan Sedu. Hanya ada Tatapan Yang menuntutmu agar Bisa Segalanya.
Aku Lelah Harus Ikut Kelas piano di Akhir Pekan, Aku lelah harus Ikut kelas Menari di Hari Minggu dan Juga Aku Ingin Punya teman. Berjalan-jalan di Akhir pekan Sambil Berbelanja di Bazar Kelihatannya sangat Menyenangkan
Terkadang aku Iri dengan Anak-anak lain Yang Bisa Bersenang-senang dengan Teman-temannya. Di saat Mereka Bersenang-senang di saat Yang Bersamaan aku pasti sedang terpuruk dengan semua Jadwal Les, Studi, Latihan dan lain Sebagainya.
"Haruskan di Akhiri Sekarang?" Aku Menatap Layar Ponselku Yang terdapat pesan masuk dari Dia.
'Lin? Kamu kemana, aku udh cari ke rumah kok gak ada?'
Ah. Aku Lupa Sekarangkan Jadwalnya Kursus Bhs Inggris. Pasti Jefan Nungguin Aku Di Depan Rumah. Jefan adalah satu-satunya Temen Gua Yang Ada Di Kelas Kursus Bhs Inggris, Dia Ramah dan Baik. Dia Sering Jemput Aku kalau mau Kursus
kedua orang tua ku gak tau kalau dia sering jemput aku. karena mereka terlalu sibuk untuk memperhatikan Hal Yang seperti itu.
Aku Mengangkat tanganku dan Mengetik Satu Persatu Kata lalu mengirimnya
'Maaf Jef, Aku Gk bisa Dateng hari ini'
'Aku gk enak badan'
Bohong. Ini ke-dua Kalinya aku Berbohong Ke Jefan, Jujur aku Gk sanggup Untuk kasi tau Yang Sebenarnya ke dia. Karena aku Selalu Bercerita tentang Keluarga ku Yang sangat Menyayangiku dan sangat Menyenangkan. Menyedihkan sekali aku ini
Sejujurnya aku iri dengan Keluarga Jefan, Mereka sangat Ramah dan Menyenangkan. Aku tahu itu Saat Mampir ke Cafe milik Kakaknya, Di sana aku tak sengaja bertemu dengan ayah dan ibu Jefan Yang Sedang Berkunjung sambil Membawakan kakaknya Makanan.
Mereka memintaku untuk gabung bersama, Awalnya aku malu Tapi Jefan langsung memaksa. Hangat itu adalah istilah Yang Tepat Untuk mendeskripsikan Hal Yang aku rasakan saat itu.
Itu Juga Kali pertama aku makan malam dengan Seseorang, bukan banyak Orang. Itu hal yang paling membahagiakan dalam Hidupku, dan tak akan ku lupakan.
"Linn!!!" Lamunan ku buyar karena teriakan dari Suara Yang Familiar mendarat di telingaku. Tiba-tiba tanganku tertarik lalu Membuatku Sontak Menghadap ke Belakang dan Dekapan hangat siapa ini? Kehangatannya Ingin membuatku tak ingin Melepaskannya.
Itu Jefan... Dia Menemukanku Di taman saat dalam perjalanan pulang dari rumahku. Dia benar-benar mengira aku sedang tak enak badan, lalu berniat mengantarku pulang ke Rumah Itu lagi.
Tanpa aku sadari air mataku jatuh. Dengan Bodohnya aku Menangis Di Dekapan Jefan, dia Yang masih bingung hanya bisa menenangkan aku yang tak berhenti menangis. Pada Akhirnya Dia Membawaku ke Arah Motornya lalu memintaku untuk naik
"K-kamu mau bawa aku kemana?" Ucapku sambil Mengusap Air mataku Yang dari tadi Tak Kunjung Berhenti, Hidung dan Mataku sudah Sangat merah. "Tempat Yang Mungkin Membuatmu Merasa lebih baik" Jawabnya Sambil Memakaikanku Helm
***
Jadi ini Tempatnya... Sebuah Galeri Seni. Sebenarnya Jefan Mencari ku bukan Untuk Kursus Bhs Inggris Melainkan, Ke Sini. Dia mendapatkan Tiket itu dari Kakaknya, Kakaknya Tak Bisa Pergi Tapi Cafe Terlalu Ramai. Jadi dari pada ke buang Lebih baik Jefan Yang ambil kan?
"Aku Gak terlalu Suka Ke tempat Kayak Gini"
"Awalnya Memang Begitu, Tapi Kamu bakal Menikmatinya Jika di jalani" Ucap Jefan Sambil Menarik Pergelangan Tanganku
Jefan Berkeliling Mengajakku dan Menjelaskan makna-makna lukisan Yang ada di Hadapanku dengan Bermodalkan Selebaran Yang Di Berikan Sebelum Masuk Ke Dalam Galery.
Dan Tibalah di lukisan Terakhir.
"Yang Ini Namanya Starry Night, gambaran kehidupan yang telah dijalani seseorang yang menyimpan banyak kisah suka dan duka, tapi indah" Jeda "Ia percaya pada harapan, tapi juga berusaha menerima realita" Ucap Jefan Yang Membuatku langsung Terdiam dan Menatap Lukisan Yang ada Di depanku.
Ucapannya Membuatku Teringat akan Suatu Hal Yang Hampir aku lupakan. Hari dimana Aku Terbangun di Rumah sakit Saat Umurku Masih 8 Tahun, Aku Mendapati Ibuku Yang Tertidur di Samping Tempatku Berbaring. Wajahnya Sangat Pucat dan Tak terurus, Ayah Juga ada di sana.
Aku Tak Terlalu Ingat bagaimana Bisa aku Berada Di sini, Yang pasti Saat Melihat aku Yang Mulai Sadar Ayahku Langsung Bangun dari Sofa Tempatnya duduk lalu Membangunkan Ibuku.
Keduanya langsung Berpelukan sambil Mengeluarkan Air mata Dan Menatapku dengan Tatapan Khawatir. Aku Tak Terlalu Ingat akan Hal itu, Tapi Hatiku Sangat Hangat Jika Mengingatnya lagi.
Dan lagi-lagi aku Menetaskan Air mataku. Mengingat-ingat Semua Kenangan Yang Pernah aku Lewatkan Bersama Kedua Orang Tua ku. Hari di mana aku Lulus Masuk Ke sekolah Favorit, Hari di mana aku Menang Olimpiade Fisika.
Semua Itu Berkat Kedua Orang tua ku. Cara Mereka Memang salah Untuk Mendidik ku, Tapi Itu adalah Jalan untuk Membuatku Sukses di Masa depan.
Terimakasih Untuk Jefan Karena Menyadarkan ku, Bahwa ada satu Potongan Fuzzle Yang Telah Hilang.