"Lenyapkan wanita itu sekarang juga!"
Puluhan penyihir mengelilingi wanita berambut panjang emas yang ditahan oleh segel. Wanita berambut panjang emas itu meringis kesakitan, saat salah satu penyihir memotong kedua sayapnya.
‘’ARGHHHH!’’
Sang penyihir melempar sayap setengah malaikat dan setengah iblis itu sambil membakarnya begitupun wanita tersebut.
Hanya butiran air yang mengalir dari sudut mata wanita di tengah kobaran api itu.
‘’Akhirnya keturunan terakhir dari naga iblis telah dilenyapkan!’’
Wanita berambut emas mengepalkan tangan disertai gertakan gigi.
‘’BROUGH!’’ kobaran api yang membakar dirinya tiba-tiba menjadi besar.
Melihat hal itu, membuat semua penyihir berjaga-jaga.
‘’Dasar manusia bodoh! Kalian telah melakukan dosa besar dengan membunuhku, setelah aku membantu kalian memenangkan perang suci ini! Oleh karena itu, dengarkan perkataanku baik-baik! Jika hari ini aku memang harus mati, maka baiklah! Tapi, aku akan lahir kembali dan membalaskan ketidakadilan ini kepada kalian semua!’’ seru wanita berambut panjang emas.
Setelah itu, api tersebut melahap dirinya bersama kedua sayapnya hingga tidak menyisahkan sedikit pun bagian tubuhnya. Mendengar perkataan wanita tadi, membuat semua penyihir tidak terlalu mempedulikannya dan memilih berpesta.
Di saat yang bersamaan, tampak seorang wanita yang membantu suaminya mendorong gerobak, setelah mereka mengambil kayu di dalam hutan.
Namun, wanita itu tiba-tiba meringis karena merasakan sakit di bagian perutnya.
‘’Akh!’’ ringisnya membuat suaminya menghentikan gerobak dan menghampirinya.
‘’Istriku! Ada apa?’’ cemas sang suami.
Wanita itu mencengkeram kedua tangan suaminya. Nafasnya mulai terengah-engah, hingga ia melihat darah ke luar dari kakinya. Melihat hal itu, sang suami membulatkan mata, dan segera menggendong istrinya ke gerobak.
‘’Bertahanlah!’’
Meskipun berat, pria itu berusaha menarik gerobak dan membawa istrinya keluar dari hutan. Wanita di atas gerobak, menarik dan mengeluarkan nafasnya berulang kali, sambil meringis. Rasanya, ia sudah tidak tahan.
‘’Oek! Oek! Oek!’’
Sang pria terhenti di tempatnya saat mendengar suara tangisan bayi. Dengan cepat, ia berbalik dan melihat bayi itu sudah keluar di sisi bawah istrinya. Ia menaruh pegangang gerobak dan berlari ke belakang.
Bayi itu masih menangis, membuat sang pria menggendongnya tanpa peduli kedua tangannya dipenuhi darah.
‘’Bayiku? Bayiku! Bayi kita telah lahir, Haruka! Dia berjenis kelamin perempuan,’’
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, saat dirinya tidak melihat ada sedikitpun respon dari istrinya.
‘’Haruka? Apakah kau baik-baik saja?’’
Pria itu meletakkan bayinya di samping dan membuncang tubuh istrinya. Ia memanggil istrinya berulang kali, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Saat itu juga, ia terpaku. Matanya mulai berkaca-kaca, dengan tubuh gemetar.
‘’Haruka?’’ panggilnya sekali lagi dengan suara parau.
Tubuh wanita itu tidak bergerak sama sekali, dan hanya terbaring di atas tumpukan kayu dengan wajah yang tenang. Ya, wanita itu telah meninggal beberapa menit yang lalu, setelah dirinya melahirkan.
Butiran air mengalir dari sudut mata sang pria, sambil ia memeluk tubuh istrinya. Tangisannya menjadi-jadi. Baru saja, mereka diberkahi kebahagiaan, tapi nyawa istrinya sudah terenggut.
Bayi perempuan itu kembali menangis, membuat sang pria langsung menenangkannya. Ia meraih sebuah kain untuk menggendong bayinya, lalu kembali menarik gerobak berisikan kayu dan mayat istrinya. Hanya tangisan yang bisa ia keluarkan.
Setelah sampai di sebuah rumah kecil yang tidak memadai, sang pria menggali kubur di belakang rumahnya dan mengubur mayat istrinya. Tidak ada satu pun orang yang membantunya. Sebab, mereka hanya tinggal di dekat sungai hutan tanpa ada yang menghuni tempat itu.
18 tahun kemudian…
‘’Erina? Erina! Kau di mana?’’ teriak seorang pria kurus paruh baya.
Tampak seorang gadis berambut panjang emas yang berlari bersama seekor anjing. Ia membiarkan rambut panjangnya terurai sambil di terpa oleh angin.
‘’Woho! Aku sampai duluan!’’
Saat itu juga, pintu rumah terbuka, menampakkan seorang pria kurus paruh baya.
‘’Erina? Kau habis balapan lagi?’’
Gadis yang dipanggil Erina itu berbalik sambil tersenyum lebar.
‘’Ayah, sudah bangun?’’
Pria kurus paruh baya itu hanya menghela nafas. Semenjak putrinya itu berumur 4 tahun, Erina sering masuk ke dalam hutan dan melakukan balapan dengan piaraannya, sampai ke rumah mereka. Hanya membuang-buang tenaga.
‘’Sudah aku bilang, jangan berkeliaran selagi aku masih tidur, bagaimana jika ada seseorang yang menculikmu atau mencelakaimu?’’ cemas sang Ayah.
‘’Tidak akan, walaupun memang benar, aku akan menghajar mereka bersama Hiro! Iya, kan? Hiro,’’ tatap Erina ke seekor anjing berbulu hitam putih.
‘’GUK!’’
Erina terkekeh sambil menaikkan kedua alisnya, karena anjing bernama Hiro itu membetulkan ucapannya.
‘’Aku sudah menyiapkan sarapan untuk Ayah, mari!’’
Gadis itu menuntun ayahnya ke dalam. Rumah mereka hanya begitu kecil, sehingga ruang tamu, kamar, dan dapur menjadi satu di dalam. Kalau ingin mandi, mereka hanya menggunakan air sungai di belakang rumah. Makanan pun, tidak terlalu memadai.
Mereka menggunakan kayu bakar yang dijual ke kota untuk menghidupi perekonomian. Tapi, karena ayahnya sudah tua, sehingga Erina yang menggantikannya ke kota untuk menjual kayu bakar.
Butuh waktu setengah hari agar sampai di kota, sehingga Erina selalu pulang malam. Karena merasa cemas, membuat sang Ayah tidak menjual kayu bakar lagi, dan hanya mencari makanan dari dalam hutan.
Erina meraih daun dan meletakkannya di depan sang Ayah. Ia mengambil bubur dari mangkuk batu.
‘’Aku mendapatkan banyak buah apel jadi aku menumbuknya secara halus, semoga Ayah menyukainya,’’
Melihat makanan mereka, membuat pria kurus paruh baya menjatuhkan air mata. Erina yang melihatnya hanya bingung.
‘’Maaf, karena aku hanya bisa memberimu makanan seperti ini,’’
Mengingat dirinya yang berjuang keras menghidupi Erina semenjak bayi. Mengambil kayu di dalam hutan dan berjalan puluhan meter ke kota sambil membawa Erina. Dan sekarang, ia hanya bisa memberi makanan seperti ini kepada putrinya.
‘’Aku tidak apa-apa, selama masih bersama Ayah,’’ kata Erina berhasil membuat tangisan ayahnya semakin deras.
Gadis itu hanya tersenyum dan memberinya pelukan.
‘’Oh iya, Ayah, saat aku ke kota, ada pendaftaran untuk masuk ke sekolah sihir,’’ beritahu Erina.
‘’Sekolah sihir? Tapi kita tidak punya uang dan bajumu juga tidak layak untuk masuk ke sana,’’ kata sang Ayah.
Erina terdiam untuk sesaat hingga akhirnya tersenyum. Ia segera berdiri, membuat pria kurus paruh baya itu bingung. Gadis itu mengayunkan tangannya, hingga keluar api dari telapak tangannya.
‘’Erina! Kau mempunyai sihir api? Bagaimana bisa?’’
‘’Hehe, aku juga tidak tahu. Kemampuan ini keluar secara tiba-tiba waktu aku menemukan Hiro di hutan. Saat itu, ada hewan buas yang menuju ke arahku, dan tanpa sadar, api langsung keluar dari tanganku,’’
Akhirnya, sang Ayah mengerti, mengapa Erina selalu menyediakan air hangat untuknya dipakai mandi, jelas-jelas peralatan mereka tidak memadai.
‘’Tapi bagaimana, dengan biayanya?’’ tanya sang Ayah.
Erina tersenyum dan memberitahu ayahnya, kalau ia bisa menggunakan sihirnya untuk melakukan atraksi agar dirinya mendapat uang.
Mereka akhirnya mengunjungi makam Haruka di belakang rumah.
‘’Ibu, aku dan Ayah akan ke kota, doakan semoga kami semua dilindungi. Aku, Ayah dan Hiro akan pergi mengunjungi Ibu sesekali,’’
Beberapa hari kemudian, seperti yang dikatakan Erina, gadis itu berhasil mendapatkan uang sehingga ia membeli kontrakan di kota untuk ayahnya dan Hiro tinggal di sana.
‘’Kurasa, uangnya sangat lebih tapi baguslah, aku akan mengambil sedikit hanya untuk pendaftaran, dan sisanya Ayah yang pegang semua,’’
Setelah selesai membeli pakaian yang layak untuknya, Erina akhirnya masuk ke sekolah sihir. Di sana, ia menjadi siswa yang tiada tandingannya dan mendapat nilai yang tinggi. Semua orang juga menyukainya karena kecantikannya, bahkan para pengajar penyihir pun menjadikannya siswa favorit karena bakatnya.
Biasanya, semua orang harus melatih diri dan belajar untuk meningkatkan kemampuan. Tapi, berbeda dengan Erina. Dalam sekali penjelasan, gadis itu sudah memberikan hasil yang luar biasa, jelas-jelas masih tingkat latihan.
Di sekolah sihir tersebut, ada kelas khusus yang hanya boleh diikuti siswa elit ataupun siswa-siswa tertentu. Cuma 1 : 1000 orang yang bisa berhasil dalam kelas itu. Melihat bakat Erina, membuat para penyihir tinggi mencoba memasukkannya ke dalam kelas tersebut.
Erina tercengang, melihat ruangan itu berisikan siswa-siswa yang terbang lalu lalang menggunakan sayap di punggungnya. Dan orang-orang tersebut adalah kandidat terkuat dari sekolah sihir.
‘’Jika kau bisa memunculkan sayap milikmu, maka kami akan langsung menjadikanmu penyihir resmi seperti mereka!’’
Namun, entah kenapa Erina tidak bisa melakukan hal itu. Ia sudah mengeluarkan seluruh tenaganya, tapi tetap tidak bisa. Padahal semua orang bisa melihat ada bayangan sayap api yang keluar dari punggungnya, dan bayangan sayap itu kembali hilang.
Para penyihir mencoba memberinya keringanan sampai Erina bisa mengeluarkan sayapnya.
Beberapa hari kemudian, para penyihir kandidat dibawa ke tanah lapang untuk melatih kemampuan mereka. Erina juga diajak, meskipun ia belum bisa mengeluarkan sayapnya.
Begitu Erina menginjakkan kaki ke tanah, tiba-tiba sebuah peristiwa muncul di matanya. Dilihatnya, orang-orang berperang hingga titik darah penghabisan, hingga seorang wanita yang sayapnya dipotong lalu dibakar begitupun dirinya.
‘’Eh? Tadi itu apa?’’ kata Erina tersadar.
Jantungnya langsung terasa sakit, membuat salah satu penyihir membantunya. Gadis itu merasa tidak enak, dan memilih beristirahat. Ia hanya melihat teman-temannya terbang lalu lalang sambil mengeluarkan kekuatan mereka.
‘’Jika aku memiliki sepasang sayap, maka aku bisa terbang bebas di langit, seperti mereka,’’ kata Erina merasa iri.
Tidak ingin tertinggal dengan pelajar lainnya, membuat Erina berlatih sekuat tenaga untuk membangkitkan sayapnya. Dan usaha kerasnya pun tidak sia-sia. Terlihat sepasang sayap dari punggungnya menjulang ke atas.
Semua penyihir tinggi beserta penyihir pendiri terdiam di tempat melihat sayap milik Erina. Sayap yang memiliki 2 warna berbeda, yakni setengah putih dan setengah hitam. Saat itu juga, semua diingatkan oleh sosok pemilik sayap yang sama.
‘’Itu sayap setengah malaikat dan setengah iblis,’’
‘’Aku tidak menyangka bisa melihatnya secara langsung,’’
Tanpa membuang waktu, penyihir pendiri dan penyihir tinggi langsung melingkari Erina dan memberinya segel. Semua dikejutkan, terutama gadis itu.
‘’A-Ada apa ini?’’ tatap Erina.
Ia bingung, kenapa mereka malah memberinya segel? Bukankah seharusnya mereka bangga karena dirinya berhasil membangkitkan sayap miliknya?
‘’Akhhhhhh!!’’
Erina meringis kesakitan menerima berbagai serangan. Gadis itu berusaha meminta penjelasan, tetapi semua orang di sana tidak memberinya ampun.
‘’Wanita itu benar-benar lahir kembali! Kita hampir ditipu olehnya dengan memasuki sekolah sihir kita, dia harus segera dilenyapkan!’’ seru salah satu penyihir pendiri.
Mata Erina membulat besar mendengar dirinya akan dihabisi. Dalam sekejap, ia menggunakan sihir apinya dan meloloskan diri.
‘’Cepat kejar dan tangkap dia!’’
Erina benar-benar bingung, padahal ia hanya membangkitkan sayap miliknya, dan setelah berhasil, kenapa para penyihir itu memandangnya dengan tatapan marah dan berusaha membunuhnya?
•Rumah Kontrakan•
‘’BUGH!’’
Erina menerobos masuk ke dalam kontrakan dan segera membawa ayahnya pergi begitupun Hiro, anjingnya.
Sang Ayah kaget melihat sayap tumbuh di punggung putrinya, apalagi Erina membawanya terburu-buru.
‘’Itu mereka!’’ seru salah satu penyihir melihatnya.
Erina membawa ayahnya dan Hiro terbang pergi, sambil dikejar puluhan penyihir. Mereka saling berkejaran. Para penyihir pendiri memberinya serangan, dan Erina berhasil menghindar. Namun, satu serangan mengenai sayapnya, membuat Erina terjatuh dan melindungi ayahnya dan Hiro.
‘’Ayah, tidak apa-apa?’’
‘’Ya, tapi ada apa ini? Kenapa mereka mengejarmu? Lalu sayapmu?’’
‘’Aku juga tidak tahu, tapi mereka berusaha membunuhku, Ayah,’’
Mata sang Ayah membulat besar. Tanpa membuang waktu, ia berdiri dan menarik Erina pergi. Kedua orang itu berlari bersama anjing mereka. Tapi karena sayap milik Erina berat, membuat gadis itu tidak sanggup berlari lagi.
Saat itu juga, para penyihir berhasil mencapai mereka. Erina dan ayahnya dipisahkan, bahkan Hiro yang hanya seekor anjing pun ditahan dengan segel agar tidak lepas.
‘’Erina!’’
‘’Ayah!’’
‘’Guk!’’
Puluhan penyihir kembali menyegel gerakan Erina dan memandangi sayapnya. Sayap setengah malaikat dan setengah iblis, yang hanya bisa dimiliki oleh keturunan naga iblis. Mereka kembali melihat sayap itu, sayap yang dianggap malapetaka bagi semua orang.
‘’Lepaskan putriku! Aku bilang lepaskan! Kenapa kalian berusaha membunuhnya? Aku akan melaporkan kalian!’’
Karena pria kurus paruh baya itu tidak mau diam sejak tadi, membuat salah satu penyihir membungkamnya. Mata Erina membulat besar, melihat ayahnya mengeluarkan darah dari sudut bibirnya. Ya, mereka membunuhnya tepat di depan mata kepala Erina sendiri.
‘’AYAH!!!!!’’
‘’Uhuk! E..ri..na,’’
Pria kurus paruh baya itu terjatuh ke tanah yang sudah tidak bernyawa lagi.
‘’Ada baiknya dia dilenyapkan agar tidak membuka mulut,’’
Hal yang sama dilakukan kepada anjingnya. Hiro juga dibunuh, padahal cuma seekor anjing yang tidak bersalah. Melihat hal itu, kobaran api langsung keluar dari tubuh Erina, bersamaan hempasan dari sayapnya, membuat semua penyihir terlempar.
‘’Beraninya kalian…’’
Erina menggertak gigi disertai tangan mengepal. Butiran air matanya terjatuh, melihat mayat Ayah dan anjingnya.
Flashback.
Ribuan tahun yang lalu, seekor naga kuno bernama Hycros membuat kekacauan di negeri tempat para dewa dan iblis tinggal di antara umat manusia.
Naga tersebut memakan buah kekuatan dari tempat dewa dan tempat iblis, sehingga membuatnya melahirkan keturunan yang memiliki sayap setengah malaikat dan setengah iblis. Akhirnya, semua menakutinya.
Karena kekacauan tersebut, salah satu keturunannya memberontak dan meminta bantuan para dewa dan penyihir turun tangan untuk melenyapkan naga iblis beserta saudaranya yang lain.
Perang suci dimulai, hingga akhirnya naga iblis berhasil dilenyapkan. Meskipun sulit, ia terpaksa menerimanya. Namun, di tengah-tengah kejadian tersebut, para penyihir melanggar perjanjian dan membunuh keturunan terakhir dari sang naga iblis.
‘’Dasar manusia bodoh! Kalian telah melakukan dosa besar dengan membunuhku, setelah aku membantu kalian memenangkan perang suci ini! Oleh karena itu, dengarkan perkataanku baik-baik! Jika hari ini aku memang harus mati, maka baiklah! Tapi, aku akan lahir kembali dan membalaskan ketidakadilan ini kepada kalian semua!’’ seru wanita berambut panjang emas.
End flashback.
Seperti orang yang dirasuki, sayap setengah malaikat dan setengah iblis miliknya membesar menjulang ke atas. Ia akhirnya mengingat semuanya. Tubuhnya bersinar dan pakaiannya berubah.
Terlihat seorang gadis berambut panjang emas mengenakan mahkota dan perhiasan emas di bahu, leher, lengan, pinggang dan pergelangan kakinya.
Erina membuka matanya yang sudah merah menyala. Para penyihir di bawah memandangnya tidak percaya. Mereka benar-benar melihat wanita itu kembali.
‘’Sudah sejak lama kita tidak bertemu, kurasa waktunya aku meminta keadilan,’’ tatap Erina.
Para penyihir bersamaan mengeluarkan sihir ke arah Erina. Sedangkan, gadis itu, mengayunkan tangannya ke depan.
‘’Waktunya membersihkan para pendosa,’’ kata Erina.