Aku mencintainya bukan sejak pandangan pertama, tapi setelah berteman selama 1 tahun dengannya. Aku mengenal pribadinya dari orang-orang yang dekat dengannya. Tapi aku tak pernah punya keberanian untuk menyatakan perasaanku. Aku menunggunya, sampai dia mencintaiku dan menyatakannya padaku. Selama 1 tahun aku menunggu itu, tapi hal yang ku tunggu sepertinya tidak akan terjadi.
Dia Mahenra putra, mahasiswa yang mungkin terlihat biasa saja. Setelah 1 tahun berteman dengannya, aku jatuh hati padanya. Tentu karena perhatian yang selalu dia perlihatkan. Walaupun aku sadar sikapnya memang begitu pada semua orang. Namun, karena perasaan cinta ini juga aku menjauh darinya. Setelah 1 tahun menunggu, akhirnya aku memutuskan untuk melupakan perasaanku. Disaat itu juga aku menyadari kalau dia dekat dengan seseorang.
Aku tidak ingin merasa sakit lebih dalam, karena itu aku menjauh dan tak ingin dekat lagi dengannya. Aku berusaha sebisa mungkin untuk melupakan dia.
Melupakan perasaan cintaku padanya. Selama dua tahun aku menghapus perasaanku, dan selama itu juga aku dan dia tidak lagi saling bertukar kabar.
Tepat seminggu sebelum aku melaksanakan Ujian akhir. Dia datang dan menyatakan perasaannya padaku. Perasaan ku kini tak lagi sama, walaupun mungkin masih ada rasa yang tersimpan dalam hatiku, tapi itu tidak lagi seperti dulu.
Perasaanku sudah mati karena waktu yang lama. Aku sendiri yang menguburnya.
"Aku mencintaimu sejak dulu" Kata yang kembali membuat hatiku gunda.
Aku masih tak berani untuk menatapnya. Aku juga tahu kalau dulunya dia sedang berusaha mendekati seseorang. Walaupun bukan dari dia yang mengatakan itu secara langsung.
Gosip hari itu sudah menyebar luas di seluruh angkatan ku. Tak terkecuali aku yang lebih dulu mencintainya.
Di tepi danau ini aku hanya bisa terdiam, kembali berusaha menahan perasaanku. Cinta dan perasaanku yang sudah lama mati. Kini kembali menggoda hatiku.
"Sekali lagi..... Aku mencintaimu dari dulu" Katanya kembali terucap.
"Apa kau yakin dengan perasaanmu? Ku harap ini bukan pelampiasan saja" Kata penolakan yang terucap dariku.
"Aku sangat yakin....apa kau mau jadi pacar ku?"
Dengan berani dia mengatakan itu. Aku yang sejak tadi tidak menatapnya, kini berbalik dan ku tatap dia.
"Maaf.... Aku tidak bisa.... Alasanku mencintai bukan karena itu. Jika pacaran adalah tujuanmu, maaf sepertinya aku bukan orang yang tepat untukmu"
Tanpa banyak kata aku menolaknya. Aku tahu saat ini dia mungkin saja hancur. Tapi maaf perasaanku kini benar-benar sudah mati. Dia mengajak aku berpacaran.
Aku menganggap cinta itu baik, bagiku sekarang sudah lewat masanya untuk bermain-main. Aku hanya butuh kepastian dan kesungguhan.
Aku berharap dia menyerah dan tidak lagi mengganggu ku.
Dihari aku ujian akhir, semua teman angkatan ku datang, kecuali dia. Ada rasa lega dan ada juga rasa penasaran. Apa mungkin dia sudah menyerah karena penolakan ku seminggu yang lalu.
Mungkin memang itu yang terbaik. Meskipun sebenarnya perasaan ku padanya mulai kembali. Setelah dua tahun aku berusaha menghapus nya. Sekarang hanya butuh waktu 1 minggu rasa itu tumbuh kembali.
Aku mengalihkan semua perasaanku pada hal yang lain. Aku tidak lagi ingin menunggunya atau berharap padanya. Setelah ujian, aku harus menunggu selama 1 bulan untuk acara wisudah di kampus.
Meskipun aku tidak lagi rutin datang ke kampus, tapi entah bagaimana aku selalu saja bertemu dengan dia.
Dia tampak baik-baik saja setelah aku menolaknya. Bahkan sekarang dia masih saja terus mengikuti kemanapun aku pergi. Aku merasa risih karena saat ini hati dan pikiranku sedang tidak sejalan.
Aku masih menyimpan rasa untuknya, tapi pikiranku terus menolaknya. Hari ini ketika dia kembali mengikutiku.
"Kau baik-baik saja?" Dia tampan khawatir
"Tolong belikan aku minum" Ku minta bantuannya.
Yang sebenarnya hanya alasan agar aku bisa pergi jauh darinya. Aku berlari sejauh mungkin dan disinilah aku, di tepi danau tempat aku menolaknya.
Aku duduk dan menangis, aku tidak paham dengan keinginanku sendiri. Aku masih tertunduk dan ku dengar suara kaki mendekat.
"Ada apa? Apa aku melakukan kesalahan" Suara yang tidak lagi asing bagiku
Aku menyeka air mata dan langsung berdiri. Aku masih tidak menjawab pertanyaannya.
"Maaf kalau aku membuatmu tidak nyaman. Ini minum dulu"
Dia memberiku air yang ada di tangannya. Tapi aku tidak mengambilnya. Aku menutup wajahku dengan tangan dan menangis lagi. Tepi danau yang sepi membuat suara tangisan ku semakin jelas.
Dia mendekat dan memelukku. Aku tidak paham lagi dengan diriku. Tapi ku akui memang sekarang ini aku sudah jatuh cinta padanya untuk kedua kalinya.
Dia memelukku dengan erat dan terus berusaha agar aku bisa tenang. Saat merasa lebih tenang, aku terdiam dan masih dalam pelukannya.
"Aku tahu alasanmu menolak ku hari itu. Aku juga tahu kenapa kau menjauh dariku dua tahun yang lalu" Katanya sambil melepaskan pelukannya.
"Aku salah.....karena tidak menjelaskan padamu dua tahun yang lalu. Dan aku salah karena baru datang dan membuatmu menunggu sangat lama" Katanya lagi.
Aku masih terdiam dan tak tahu harus berkata apa. Apa mungkin aku mengaku saja tentang perasaanku padanya.
"Saat hari ujianmu aku tidak datang, karena aku memilih untuk bertemu dan mengenal lebih jauh keluarga mu, bahakan dihari kau menolak aku. Aku datang pada orang tua mu"
"Apa yang kau lakukan?" Aku tidak yakin dengan apa yang dia katakan.
"Mungkin sudah saatnya ku katakan. Aku mencintaimu. Apa kamu mau menemani aku menjalani hidup"Dia berlutut tepat dihadapanku.
Apa benar yang aku lihat saat ini. Aku takut kalau semaunya hanya hayalan ku saja.
"Aku mencintaimu. Maukah kau menerima lamaran ku" Dia meyakinkan aku.
Perasaanku sekarang benar-benar tumbuh kembali. Perasaan cintaku padanya yang dulu sempat mati kini tumbuh kembali di hatiku. Aku hanya mengangguk dan menangis lagi.
Dia berdiri dan kembali memeluk aku. Dia berhasil membuatku dua kali mencintainya.